Geger Ada Aplikasi yang Bisa Mencatat Pahala dan Dosa Manusia

 


 

Jagat dunia maya digegerkan adanya aplikasi yang bisa mencatat pahala (amal baik) dan dosa (amal buruk) manusia di Google Playstore. Namanya Aplikasi Raqib Atid. Nama aplikasi tersebut terinspirasi dari nama dua malaikat pencatat amalan baik dan buruk manusia, Raqib dan Atid.

 

Dalam keterangan di Play Store, pengembang aplikasi adalah Mahmud Fauzi. Untuk kolom ‘About this app’, dituliskan aplikasi dibuat untuk membantu penggunanya menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Aplikasi Raqib Atid akan membantu pengguna mencatat kesalahan dan kebaikan tiap hari dan memberi ringkasan serta grafik kesalahan serta kebaikan tiap hari. Pantauan VIVA Digital, Minggu, 10 Mei 2020, aplikasi tersebut sudah diunduh lebih dari 5.000 kali.

 


 

Saat aplikasi dibuka akan ada dua tab, yaitu Dosa dan Pahala. Pada bagian Dosa dituliskan sejumlah perilaku seperti ghibah atau membicarakan orang lain, bicara kotor, membantah orangtua, dan ingkar janji.

 

Untuk tab Pahala terdapat aktivitas positif seperti zikir, salat, sedekah, membantu orang, membaca Alquran, serta puasa. Pengguna juga bisa menambahkan kegiatan lain pada tab Dosa dan Pahala.

 

Akan tetapi, pengguna hanya bisa menambahkan amalan pahala dan dosa. Mereka tidak dapat menghapus jumlah yang sudah di submit. Fitur lainnya yang ada di aplikasi ini adalah Total dan Start.

 

Fitur Total akan terlihat diagram amalan baik (pahala) dan amalan buruk (dosa) manusia. Adapun fitur Start, akan disajikan grafik pahala dan dosa manusia. Grafik ini juga bisa dilihat setiap perbuatan manusia dan ditampilkan setiap hari.[viva]

 

@geloranews
10 Mei 2020

 

***

Syarat Diterimanya Amal

Amal yang akan diterima Allah subhanahu wa ta’ala memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Hal itu telah disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Kitab-Nya dan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut.

 

Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

 

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 5)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

 

“Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Dari kedua dalil ini sangat jelas bagi kita bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Kedua, amal tersebut sesuai dengan Sunnah (petunjuk) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda,

 

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

 

“Barang siapa melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

 

Dari dalil-dalil di atas, para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, amalan itu tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Yang Penting kan Niatnya?

Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan, “Yang penting kan niatnya.”

 

Tidak demikian. Harus ada kecocokan amal itu dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Kalau istilah “yang penting niat” adalah benar, niscaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam), bahkan kesyirikan, tidak bisa kita salahkan karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya.

 

Hal ini akan mengundang banyak pertanyaan. Di antaranya apabila seseorang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan istrinya, apakah perbuatannya bisa dibenarkan?

 

Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah benar?

 

Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar?

 

Tentu jawabannya adalah tidak.

 

Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan. Keduanya menjadi penentu diterimanya amalan itu.

 

Oleh karena itulah, sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Bagaimana cara saya beramal?

 

Jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas.

 

Masalahnya tidak sekadar memperbanyak amal, tetapi benar atau tidaknya amal tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلًا

 

“Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup agar menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.” (al-Mulk: 2)

 

Muhammad bin ‘Ajlan berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396)

Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan yang paling baik amalnya, tidak mengatakan yang paling banyak amalnya. Maksudnya adalah amal itu dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diucapkan oleh Imam al-Hasan al-Bashri.

 

Kedua syarat di atas merupakan makna dari kalimat “Laa ilaaha illallah – Muhammadar rasulullah.”

 

Ditulis oleh Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

https://asysyariah.com/akankah-amalku-diterima/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 404 kali, 1 untuk hari ini)