Sri dan suaminya. (Sumber foto: Tribun Jateng)


PEKALONGAN – Geger! Warga Kabupaten Pekalongan dihebohkan dengan adanya pengakuan seorang wanita yang mengaku sebagai utusan Tuhan dan memiliki sebuah kitab suci.

Wanita itu merupakan warga Karangdadap, Kabupaten Pekalongan bernama Sri Hartati (47). Sri sendiri masih berstatus pegawai negeri sipil (PNS), dan mengajar di SDN Karangdadap.

Sri mengaku mengalami perjalanan spiritual yang luar biasa sejak jatuh sakit pada 2009 silam. Bahkan dokter sudah memvonisnya hanya mampu bertahan hidup maksimal selama satu minggu.

“Dokter sudah menyerah, dan saya dipulangkan ke rumah setelah divonis hanya bertahan satu minggu,” jelas dia, saat ditemui di rumahnya, Desa Kalijambe, Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan, Jumat (3/6/2016), dikutip dari Tribun Jateng.

Kondisi kesehatannya saat itu menurun drastis, bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Sehingga mandi cuci kakus (MCK) pun dilaluinya di atas ranjang.

Tubuhnya terasa dingin, sakit pada bagian perut sebelah kanan, dan bagian punggungnya tercium aroma busuk.

Namun pada 2009-2010 itulah, tiba-tiba pengalaman spiritual itu muncul yakni anak dan suaminya Agus Triharyanto mengalami kerasukan makhluk halus.

“Suami saya kalau kerasukan itu sampai muntah-muntah. Setelah kerasukan, saya dipegang dan sembuh dari penyakit saya pada 2010,” jelas dia.

Sejak saat itulah, muncul ayat-ayat berbahasa Arab dari kepala, dada dan punggungnya setiap merasakan kesakitan. Ayat-ayat itu langsung diartikan dan ditulis menggunakan bahasa latin sehingga mudah untuk dipahami.

“Kalau saya menulis menggunakan bahasa Arab takutnya salah diartikan, makanya menggunakan bahasa latin,” ujarnya.

Ayat-ayat tersebut, kini sudah dibukukan dan diberi nama Alkitab Na’sum yang berjumlah 317 halaman.

Beberapa di antara buku-buku itu sudah diminta sejumlah masyarakat yang mempercayainya bahkan sudah sampai ke Jakarta.

“Buku ini dari perjalanan spiritual dari 2010 sampai November 2015, yang terbaru 2016 ini belum sempat dibukukan. Buat yang mau minta ya saya kasih, ada tamu saya dari Solo, Semarang, Batang, dan Jakarta,” jelas dia. (KRN 2/*)/ KORANRIAU.NET, 03/06/16 – 20:04

***

Hukum Seseorang yang Mengaku-ngaku Nabi dan Rasul

Hukum bagi seseorang yang mengaku-ngaku Nabi atau Rasul adalah kafir, keluar dari Islam. Atau dengan kata lain murtad bila sebelumnya dia muslim, dan harus dibunuh oleh penguasa bila ia tidak bertobat sebagaimana dibunuhnya Musailamah Al-Kadzdzab dan Al-Aswad Al-’Anasi. Nabi n bersabda:

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

Barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah dia.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)

Dengan perbuatannya, ia telah mengganti agamanya walaupun tetap berbaju Islam. Dia dihukumi kafir, karena dengan pengakuannya sebagai Nabi berarti ia telah mendustakan ayat-ayat Allah l dan hadits-hadits Nabi n yang shahih bahkan mutawatir dalam hal tertutupnya kenabian dan kerasulan dengan Nabi Muhammad bin Abdillah Al-Qurasyi. Pada kesempatan sebelum ini, telah kami nukilkan ucapan sejumlah ulama yang menghukuminya sebagai kafir, semacam ucapan Abu Hanifah, Al-Qadhi ‘Iyadh, dan ulama-ulama India. Orang yang meyakini kenabian nabi-nabi palsu tersebut juga kafir, dengan alasan yang sama.

Adapun orang yang sekadar mendukung atau melindungi mereka atau ridha tehadap bid’ah mereka, maka mereka mendapat laknat dari Allah l. Dalam hadits disebutkan:

لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا

“Allah melaknati orang yang melindungi orang jahat. (Shahih, HR. Muslim dari Ali bin Abu Thalib z)

Dia harus dihukum dengan hukuman yang setimpal agar jera dari perbuatannya tersebut.

Oleh karena itu, kami mengingatkan setiap muslim bahwa dirinya bertanggung jawab di hadapan Allah l dalam mengingkari segala kesesatan. Di antara kesesatan terbesar adalah semacam kesesatan Ahmadiyah. Nabi n bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لـَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Barangsiapa di antara kalian melihat sebuah kemungkaran maka hendaklah dia ubah dengan tangannya. Bila tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan bila tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri z)

Sebab-sebab Pengakuan Kenabian
Munculnya pengakuan kenabian dilatarbelakangi oleh banyak sebab. Di antaranya:

  • upaya jahat terhadap agama Islam
  • upaya memperoleh kekayaan
  • mencari kepemimpinan atau popularitas
  • unsur fanatik terhadap golongan atau suku

atau sebab-sebab lain. Bisa jadi, seseorang mengaku nabi karena sebab itu semua.

Sumber: asysyariah.com/Apr 23, 2012

(nahimunkar.com)

(Dibaca 544 kali, 1 untuk hari ini)