(Khutbah Jum’at)

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.

Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, pada kesempatan yang insya Allah diberkahi Allah ini akan kami kemukakan tentang Gejala Kultus dan Membela Kebatilan.

Perlu kita cermati, ada gejala, hal yang dikhawatirkan oleh para pengikut hawa nafsu adalah apabila Ummat Islam ini senantiasa teguh memegangi dan mengikuti dalil. Yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah shahihah dengan pemahaman yang shahih pula.

Untuk menggiring Ummat Islam agar tidak lagi memegangi dalil, maka dilontarkanlah tuduhan bahwa siapa yang sebegitu kokohnya memegangi dalil, maka itu justru mereka tuduh syirik, menduakan Allah. Karena telah mengkultuskan teks, kata mereka.

Astaghfirullah… lontaran semacam itu membahayakan. Karena Ummat Islam justru wajib memegangi dalil dalam beramal dan bersikap. Bahkan  kita dilarang berbuat ketika tidak ada ilmu.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا [الإسراء/36]

36. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-israa’/ 17: 36).

Bahkan Allah memerintahkan untuk bertanya kepada ahli ilmu bila kita tidak mengetahui.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [النحل/43]

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak mengetahui, (Qs An-nahl/ 16: 43).

[828] Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab.

Dan kalau kita berselisih pun diperintahkan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا [النساء/59]

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa’: 59).

Kembali masalah tuduhan kultus, secara akal, ketika kita diperintahkan oleh atasan dalam bekerja, misalnya, lalu perintah itu ternyata tidak bertentangan dengan Islam, maka kita tidak dapat disebut sebagai orang yang mengkultuskan teks perintah atasan, ketika kita mengerjakan perintah itu. Sebutan mengkultuskan itu baru dapat dituduhkan apabila perintah atasan itu bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun kita pilih mengikuti perintah atasan daripada mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam hal ini ada penjelasan dalam Islam, di antaranya peristiwa berikut ini:

Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Adi bin Hatim Ath-Thai, “Bahwa ia (Adi bin Hatim) menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan di lehernya ada salib, sementara Rasulullah membacakan ayat At-Taubah: 31. Lalu Adi bin Hatim berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا عَبَدُوهُمْ قَالَ : أَحَلُّوا لَهُمْ الْحَرَامَ فَأَطَاعُوهُمْ وَحَرَّمُوا عَلَيْهِمْ الْحَلَالَ فَأَطَاعُوهُمْ فَكَانَتْ تِلْكَ عِبَادَتَهُمْ إيَّاهُمْ.

Mereka tidak pernah menyembah (para pendeta). Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab: Ya (mereka menyembah para pendeta). Jika (para pendeta) mengharamkan kepada mereka sesuatu yang halal dan menghalalkan sesuatu yang haram, mereka mengikuti (para pendeta itu) maka itulah cara mereka menyembah pendeta mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah Dar As-Salam, 1994, 2/459)[1] 

Itulah yang namanya kultus, sudah jelas ajaran para rahib/ pendeta itu bertentangan dengan perintah Allah Ta’ala, namun justru mereka mengikuti pendeta dan meninggalkan perintah dari Allah Ta’ala.

Umat Islam juga perlu hati-hati. Di kalangan Islam juga tidak sedikit guru-guru yang ajarannya bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bahkan tidak sedikit yang jelas-jelas mengajarkan kesesatan, dan aneka macam yang dibuat-buat secara baru tanpa ada landasan dalilnya yang shahih.

Kehati-hatian itu sangat perlu. Karena berguru ilmu Islam kepada orang sesat, apalagi kafir ataupun murtad, maka sangat berbahaya. Bahayanya menjurus kepada rusaknya aqidah.  Demikian pula sikap kultus (mendewakan) guru, ulama, syaikh, guru mursyid, kyai, dan orang alim; menyebabkan rusaknya aqidah, karena menghalangi untuk merujuk kebenaran kepada dalil (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Sehingga menganggap apa yang dari guru itu merupakan kebenaran mutlak, sedang dalil justru diabaikan. Lebih parah lagi, model belajar Islam ke orang kafir di perguruan-perguruan tinggi di Barat, yang sudah diketahui umum diadakannya studi Islam di Barat yang didirikan oleh para orientalis itu bukan untuk menjunjung tinggi kalimah Allah, tetapi untuk mengkritiknya, mencelanya atau menyelewengkannya.

Mengikuti guru yang sudah jelas (atau sudah diketahui umum) bahwa tujuannya saja sudah berseberangan dengan Islam, berarti mengadakan tandingan terhadap Allah swt yang memelihara Islam ini. Di samping itu, setelah mereka belajar kepada para orientalis atau bahkan kafir itu (padahal atas nama studi Islam) tampaknya mereka tunduk patuh kepada guru-gurunya. Buktinya, kemudian mereka menjajakan apa yang didapat dari guru-guru mereka, berupa pendapat-pendapat aneh, nyeleneh, dan bertentangan dengan Islam. Namun ketika ada yang membantahnya, bukannya mereka rujuk kepada kebenaran, justru tambah-tambah lagi penentangannya. Jadi mereka sudah menjadi pembela-pembela kaum orientalis dalam barisan yang menghadapi Islam. Namun anehnya, justru mereka itu mengajar di berbagai perguruan tinggi Islam. Ini di samping mereka membahayakan bagi diri mereka sendiri, masih pula membahayakan bagi para mahasiswa dan bahkan umat Islam.

Guru-guru yang mengajarkan hal-hal yang tak sesuai dengan Islam itu ada yang dikultuskan oleh murid-muridnya. Demikian pula ulama, kyai, ajengan, guru mursyid (lafal mursyi di Jawa biasanya dipakai di kalangan tarekat), bahkan dukun yang sebutannya orang pintar dan sebagainya ada pula yang dikultuskan. Perlakuan itu meniru sikap buruk kaum Yahudi dan Nasrani yang mengkultuskan rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka, dengan mengikuti apa saja yang dihalalkan dan diharamkan oleh para orang alimnya. Hingga mereka pun menuhankan Nabi Isa Alaihis Salaam,  padahal beliau itu sama sekali bukan Tuhan, bahkan justru menegakkan agama Tauhid, karena dia (Isa as) adalah hamba dan utusan Allah belaka. Bukan Tuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan sikap pengkultusan orang-orang Nasrani terhadap pendeta dan rahib mereka serta Nabi Isa sebagai berikut:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ(31)

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31).

Mari kita ulangi lagi: Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Adi bin Hatim Ath-Thai, “Bahwa ia (Adi bin Hatim) menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan di lehernya ada salib, sementara Rasulullah membacakan ayat tersebut di atas.

وَقَدْ قَالَ (عَدِيُّ بْنُ حَاتِمٍ) لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا عَبَدُوهُمْ قَالَ : أَحَلُّوا لَهُمْ الْحَرَامَ فَأَطَاعُوهُمْ وَحَرَّمُوا عَلَيْهِمْ الْحَلَالَ فَأَطَاعُوهُمْ فَكَانَتْ تِلْكَ عِبَادَتَهُمْ إيَّاهُمْ.

Ia (Adi bin Hatim) berkata: Maka aku berkata kepada Nabi saw,  mereka tidak pernah menyembah (para pendeta). Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Ya (mereka menyembah para pendeta). Jika (para pendeta) mengharamkan kepada mereka sesuatu yang halal dan menghalalkan sesuatu yang haram, mereka mengikuti (para pendeta itu) maka itulah cara mereka menyembah pendeta mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah Dar As-Salam, 1994, 2/459)[2] 

Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan, mereka yang menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah – dimana mereka mentaatinya dalam menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah– itu mereka menjadi dua arah. Salah satunya: Mereka mengetahui bahwa mereka (orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka) mengganti agama Allah lalu mereka mengikutinya atas penggantian itu maka mereka meyakini penghalalan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan dengan mengikuti kepada pemimpin-pemimpin mereka padahal mereka mengetahui bahwa mereka (yang diikuti) itu menyelisihi agama Rasul, maka ini adalah kekafiran. Allah dan Rasul-Nya telah menjadikannya sebagai kemusyrikan –walaupun mereka tidak menyembah mereka dan tidak sujud kepada mereka– . Jadinya orang yang mengikuti orang lain dalam menyelisihi agama padahal dia mengetahuinya bahwa dia itu menyelisihi agama dan meyakini apa yang dikatakan itu bukan yang dikatakan Allah dan Rasul-Nya adalah musyrik seperti mereka.

Jenis yang kedua, kalau mereka yakin dan iman dengan pengharaman yang halal dan penghalalan yang haram itu tetap (hanya hak Allah saja, sedang manusia tidak punya hak, pen), tetapi mereka mentaati mereka dalam maksiat kepada Allah misalnya orang muslim berbuat suatu perbuatan maksiat yang dia yakini bahwa itu maksiat, maka bagi mereka itu hukumnya seperti orang ahli dosa (yang melakukan dosa-dosa) (karena)  sebagaimana telah tetap (riwayatnya) dalam As-Shahih dari Nabi saw bahwa beliau bersabda:

{ إنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ }

Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam kema’rufan (kebaikan).

Dan sabdanya:

 { عَلَى الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ أَوْ كَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةِ }

Kewajiban atas muslim adalah mendengarkan dan taat dalam apa yang dia suka atau benci, selama tidak diperintah untuk maksiat.

Dan beliau bersabda:

{ لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقِ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ }

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Al-Khaliq / Allah.

Dan dia bersabda:

{ مَنْ أَمَرَكُمْ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَا تُطِيعُوهُ }

Siapa yang memerintahmu untuk maksiat kepada Allah maka jangan kamu taati dia.

Adapun orang yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal itu apabila ia mujtahid, tujuannya mengikuti Rasul tetapi tersamar baginya kebenaran dalam perkara itu, dan dia telah bertaqwa kepada Allah semampunya, maka tidak disiksa oleh Allah karena kesalahannya itu, tetapi dia diganjar pahala atas ijtihadnya yang dia taat kepada Tuhannya dengan itu. Tetapi orang yang mengerti bahwa ini menyalahi apa yang dibawa Rasul, kemudian diikuti kesalahan itu dan menandingi ucapan Rasul maka orang ini mendapatkan bagian dari kemusyrikan yang dicela oleh Allah, lebih-lebih kalau dia mengikuti yang (telah dia ketahui) salah itu dengan hawa nafsunya dan membelanya dengan lisan dan tangan disertai pengetahuannya bahwa itu menyelisihi Rasul, maka ini adalah kemusyrikan yang pelakunya berhak mendapatkan siksa atasnya. Oleh karena itu para ulama sepakat bahwa apabila seseorang mengetahui yang benar maka tidak boleh baginya mengikuti siapapun dalam  (perkara yang ) menyelisihi kebenaran.[3]

Dari jenis-jenis yang dijelaskan itu, yang pertama jatuh kepada kekufuran dan dinilai sebagai kemusyrikan, ketika sudah tahu bahwa yang diikuti itu telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, namun tetap diikuti.

Lain lagi halnya, ketika mengikutinya itu masih yakin dan beriman bahwa yang berhak menghalalkan dan mengharamkan itu hanya Allah, namun melanggar hukum Allah itu, maka dihukumi berdosa karena melanggar keharaman.

Yang tidak berdosa adalah mujtahid yang berijtihad berlandaskan dalil yang diupayakan dengan sungguh-sungguh dan bertaqwa, namun salah, karena tersamar baginya. Jerih payah ijtihadnya itu walau salah masih diganjar satu.

Yang cukup berbahaya (dan kalau banyak pelakunya berarti musibah agama di masyarakat) adalah kalau orang dengan hawa nafsunya mengikuti yang menyelisihi agama, padahal sudah tahu tetapi bahkan membelanya dengan lisan dan tangan disertai pengetahuannya bahwa itu menyelisihi Rasul, maka ini adalah kemusyrikan yang pelakunya berhak mendapatkan siksa atasnya.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, di saat manusia berkelompok-kelompok secara fanatic kelompok, lalu sudah tahu bahwa kelompoknya sebenarnya mengada-adakan sesuatu yang tidak diperintahkan agama padahal mengenai agama, lalu tetap dibela bahkan dicari-carikan dalil dan dalih; inilah yang sangat membahayakan bagi pelakunya maupun Ummat Islam pada umumnya. Apalagi kalau itu disiar-siarkan lewat media massa yang jangkauannya sangat luas seperti televisi dan semacamnya, maka sangat berbahaya. Dan itu tampaknya dianggap sebagai makanan empuk bagi sebagian orang, padahal sangat membahayakan bagi Ummat Islam.

Ketika kita kembali kepada penjelasan di atas, keterangan dari ayat, hadits, dan penjelasan ulama tentang bahaya kesesatan dan rangkaiannya hingga bisa jatuh ke kultus, dan syirik, telah jelas. Oleh karena itu semoga kita dihindarkan oleh Allah swt dari aneka kesesatan, kultus, apalagi syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya, yang merupakan dosa paling besar yang wajib dihindari dan ditobati. Oleh karena itu kita selalu memohon petunjuk Allah Ta’ala, bahkan setiap shalat kita membaca Al-fatihah agar ditunjukkan jalan yang lurus yakni agama Islam yang murni ini.

Dan kita perlu berdoa minta keselamatan serta ditunjukkan yang benar itu benar dan yang batil itu batil.

((. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.))

Ya Allah, tunjukilah kami kebenaran itu sebagai kebenaran, dan berilah rizki kepada kami untuk dapat mengikutinya, dan tunjukilah kami kebatilan sebagai kebatilan, dan berilah kami rizki untuk dapat menghindarinya.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .

===============

Khutbah kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛ وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا . وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ .

(nahimunkar.com)


[1] (Hadits Adi bin Hatim Riwayat At-Tirmidzi – tanpa keterangan di lehernya ada salib– ini dihasankan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Ghoyatul Maram fi Takhriiji Ahaadiitsil Halaal wal Haraam, Al-Maktab Al-Islami Beirut, cetakan ke-3, halaman 19).

[2] (Hadits Adi bin Hatim Riwayat At-Tirmidzi – tanpa keterangan di lehernya ada salib– ini dihasankan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Ghoyatul Maram fi Takhriiji Ahaadiitsil Halaal wal Haraam, Al-Maktab Al-Islami Beirut, cetakan ke-3, halaman 19).

[3] (Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Al-Fatawa, Juz 2, halaman 93).

(Dibaca 1.044 kali, 2 untuk hari ini)