ilustrasi Azan – Makkah – By Qari Mustapha Raza Khan (Canada)/ youtube.com


Sedih hatiku, di malam nishfu sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) 1438 H bertepatan dengan malam Jum’at, sejumlah masjid dan langgar/ mushalla tidak menyuarakan azan panggilan shalat ‘Isya’. Bahkan ada masjid-masjid tertentu, di malam Jum’at tidak menyuarakan azan panggilan shalat ‘Isya’, karena lebih mementingkan baca-baca apa yang mereka sebut kitab Al-Barzanji. Itu jelas tidak ada tuntunannya dari Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga yang disuruh untuk dilaksanakan (azan) justru ditinggalkan, sedang yang tidak disuruh untuk dilaksanakan (baca Barzanji) justru mereka kerjakan sambil meninggalkan yang disuruh oleh Rasulullah shallalahu ‘laihi wa sallam.. Padahal azan itu jelas ada tuntunananya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang yang mereka amalkan itu tadi tidak. (Bahkan kitab Barzanji itu sendiri mengandung persoalan, di antaranya dapat dibaca di sini: Lima Kesesatan dalam Kitab Barzanji https://www.nahimunkar.org/lima-kesesatan-dalam-kitab-barzanji/ )

Pada malam nishfu sya’ban, di Betawi/ Jakarta banyak orang berbondong-bondong ke masjid untuk ikut baca ini itu dari ba’da maghrib hingga selesai. Hingga ada yang tidak menyuarakan azan ‘Isya’ seperti tersebut.

Kalau azan ‘Isya’ itu seringkali tidak disuarakan pada malam Jum’at (karena mereka sibuk baca Barzanji) dan malam Nishfu Sya’ban (karena mereka sibuk baca ini itu), maka dikhawatirkan akan menjadi pengertian (adanya syari’at baru) bahwa malam Jum’at itu syari’atnya tidak usah ada azan ‘Isya’ tapi diganti Barzanji, sebagaimana pula malam nishfu Sya’ban diganti baca ini itu. Padahal, mengkhususkan malam nishfu sya’ban dengan membaca bacaan-bacaan tertentu itu perlu dalil, dan ternyat dalilnya adalah hadits palsu sebagaimana uraian berikut ini.

Amalan nishfu Sya’ban berpegang hadits palsu

Kenapa mereka menganggap lailah Nishfi Sya’ban (malam Nishfu Sya’ban) sesuatu yang istimewa adalah karena salah pemahaman dari ayat pertama surat Ad Dukhan. Juga  karena berpegang pada hadits palsu.

Adapun ayat surat Ad-Dukhan

{ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4) أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ (5) رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (6)} [الدخان: 3 – 6]

Artinya : 3. sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan

  1. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah
  2. (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul
  3. sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui [Ad Dukhan,3-6]

Mereka beranggapan bahwa Lailah Mubarakah (malam yang penuh berkah) itu adalah malam Nishfu sya’ban, sehingga mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Dan anggapan seperti itu sangat salah sekali, bertentangan dengan konteks ayat dan juga bertentangan dengan ayat-ayat lain. Yang benar menurut konteks ayat dan sesuai dengan ayat-ayat lain adalah bahwa Lailah Mubarakah itu adalah Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.

Ayat-ayat itu adalah salah satu dari tiga ayat yang berbicara tentang turunnya Al-Qur’an juga  tentang waktunya. Adapun ayat yang kedua adalah :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ(1)

Artinya : Sesungguhnya kami menurunkan Al Qur’an di malam (Lailatul qodar) (Surat Al Qadr : 1)

Dan ayat ketiga menjelaskan bahwa itu di bulan Ramadhan :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ

Artinya : (Adalah) bulan Ramadhan yang didalamnya diturunkan permulaan Al Qur’an (Al Baqarah : 185)

Jadi Lailah Mubarakah itu adalah Lailatul Qadr yang ada di bulan Ramadhan, malam itu disebut malam yang penuh berkah (Lailah Mubarakah) sebagaimana kitab suci Al Qur’an dinamai atau disifati Kitab yang diberkahi (Mubarak).

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ

Artinya: Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang telah kami turunkan yang di berkahi (Al-An’am: 92)

Jadi bukan pada tempatnya menjadikan ayat itu sebagai dalil untuk mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan ibadah tertentu.

Ibnu Katsir berkata: Dan orang yang mengatakan bahwa itu adalah malam Nifsu Sya’ban sungguh telah terlalu jauh (menyimpang dari kebenaran)( Tafsir Ibnu Katsir 4/167)

Dan Adapun Hadits yang mereka jadikan dalil adalah:

إِذَاكَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا……..

Jika ada malam nishfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban) maka sholatlah pada malamnya dan berpuasalah siangnya…

Hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu) diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Abdur Razzaq dari Abu Bakar Ibnu Abdillah Ibnu Abi Sabrah. Ibnu Ma’in dan Imam Ahmad mengatakan: Dia (Abu Bakar) suka membuat ‘Hadits Palsu. An Nasa’i mengatakan dia itu ‘Matruk’. (lihat ta’liq Al-I’tisham oleh Imam As-Syathibi w. 790H, 1/39)

Jadi jelas sekali apa yang dilakukan sebagian kaum muslimin di malam Nishfu Sya’ban adalah Bid’ah Munkarah (sesuatu yang diada-adakan secara baru lagi buruk) yang tak punya dasar.

Imam Asy Syathiby Al Andalusiy mengatakan, “Dan diantara hal yang bid’ah adalah rutin melakukan ibadah tertentu di waktu tertentu yang tidak pernah ada penentuan (waktu atau macam)nya dari syari’ah seperti (mengkhususkan) puasa di pertengahan bulan Sya’ban dan beribadah di malamnya. (Al ‘Itisham 1/39)

Dan tak pernah dikatakan (dan dikenal) oleh seorangpun di masa-masa awal (Islam). Syaikh Mahmud Syaltut mengatakan : Adapun khusus malam Nishfu Sya’ban dan kumpul-kumpul untuk menghidupkannya dan mengadakan shalat khusus di malam itu serta berdo’a dengan do’a (khusus), semuanya tidak bersumber sedikitpun dari Nabi (Al Fatawa 191)

Adapun contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah banyak berpuasa di bulan Sya’ban, itu untuk mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan tanpa membedakan dan tidak mengkhususkan hari-hari tertentu. (Disusun oleh Ustadz Abu Sulaiman, Imam Masjid di sebuah Yayasan di Jakarta tahun 1420H).

Dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah dijelaskan:

وَبَيَّنَ الْغَزَالِيُّ فِي الْإِحْيَاءِ كَيْفِيَّةً خَاصَّةً لِإِحْيَائِهَا , وَقَدْ أَنْكَرَ الشَّافِعِيَّةُ تِلْكَ الْكَيْفِيَّةَ وَاعْتَبَرُوهَا بِدْعَةً قَبِيحَةً , وَقَالَ الثَّوْرِيُّ هَذِهِ الصَّلَاةُ بِدْعَةٌ مَوْضُوعَةٌ قَبِيحَةٌ مُنْكَرَةٌ .

Al-Ghazali menjelaskan dalam Kitab Al-Ihya’ (Ihya’ ‘Ulumid Dien) cara khusus untuk menghidupkan (nishfu Sya’ban). Tetapi sungguh As-Syafi’iyah (para pengikut madzhab Imam As-Syafi’i) mengingkari tatacara itu, dan mereka menyatakannya sebagai bid’ah qobihah (yang buruk). Dan Ats-Tsauri berkata, sholat (nishfu Sya’ban) ini adalah bid’ah maudhu’ah qobihah munkaroh (bid’ah bikinan yang buruk lagi munkar). (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, Wazarotul Auqof Was-syu’unil Islamiyyah Kuwait, 34 juz, juz 2, halaman 235-236, dikutip Hartono Ahmad Jaiz dalam buku Islam dan Al-Qur’an Pun Diserang,  Pustaka Nahi Munkar, Jakarta- Surabaya, 1430H/ 2009).

Demikianlah pentingnya Ummat Islam ini mengetahui duduk soal apa-apa yang dikerjakan atas nama ibadah. Para ulama sudah menunjuki hal-hal yang perlu dihindarkan walau dilakukan banyak orang. Petunjuknya itu dilandasi pula dengan merujuk kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila para ulama yang shalih telah menunjuki sesuai yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang kita lebih memilih untuk mengikuti banyak orang, itu dari berbagai segi dan dalil-dalil di atas ternyata sikap kita ini keliru.  Setelah ternyata keliru, lantas bagaimana?

Perlu kita sadari bahwa Ummat Islam ini tetap diberi jalan baik apabila mengakui kekeliruannya, meninggalkannya, dan bertaubat. Dalam hadits dijelaskan,

 عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ } أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ ، وَسَنَدُهُ قَوِيٌّ

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Setiap bani Adam (manusia) itu banyak salah, dan sebaik-baik orang yang banyak salah adalah orang-orang yang banyak bertaubat. (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya kuat menurut Kitab Subulus Salam).

Ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari kenyataan itu, ada dua hal yang sekaligus memprihatinkan. Amaliyah nishfu sya’ban itu sendiri tidak ada landasannya yang kuat, sedang di sebagian tempat sampai meninggalkan azan ‘Isya’ yang justru azan itu diperintahkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagai mengejar fatmorgana yang tidak jelas adanya (hanya seakan-akan ada), namun yang sudah jelas ada perintahnya dan pahalanya justru ditinggalkan. Mburu uceng kelangan deleg, kata orang Jawa. Mengejar ikan sangat kecil namun kehilangan ikan yang sangat besar.

Meninggalkan azan tapi malah mengamalkan hal-hal yang tidak diperintahkan itu merupakan penyelisihan terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan itu telah diancam oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai perkara yang telah menjadikan rusaknya kaum-kaum terdahulu, karena penyelisihan mereka kepada para nabi mereka.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda

دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ، إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ.

”Biarkanlah apa yang aku tinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya yang membinasakan umat sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka dan (banyaknya) penyelisihan mereka kepada para nabi mereka. Maka apabila aku melarang sesuatu kepada kalian, tinggalkanlah. Dan apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian” [Muttafaqun ’alaihi].    Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 7288 dan Muslim dalam Shahih-nya no. 1327.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.738 kali, 1 untuk hari ini)