KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua Gerakan Muslimah Aliansi Nasional Anti-Syiah (GEMA ANNAS), Ajeng Kristinawati mengatakan ada dua belas judul film nasional yang mengandung ideologi Syiah.

“Di antara film itu mendapat piala Citra,” katanya di hadapan forum Rapat Dengar Pendapat antara Komisi 8 DPRR-RI dengan ANNAS, di Gedung DPR Jakarta, pada Rabu (04/02).

Menurut Ajeng, bila ditonton secara sekilas memang tidak nampak ada masalah ada film tersebut. Namun, bila diperhatikan dengan seksama film-film itu menanamkan pemahaman yang bertentangan dengan Al-Qur’an.

“Bila kita meneliti dengan betul, terlihat ada upaya membenturkan antara Al-Quran dengan hadis, masalah pembolehan zina, masalah para Sahabat, dan memang berkaitan dengan Syiah,” ungkapnya.

Kata Ajeng, 12 film itu disponsori oleh penerbit buku yang dikenal kerap menerbitkan buku-buku Syiah. Di antara film yang disebutkan bergenre remaja dan anak-anak serta olah raga.

“Saya sedih, melihat anak saya yang senang dengan sepak bola akhirnya menonton film itu. Ternyata di dalamnya ada penyimpangan aqidah,” ungkapnya.

Selain itu, Gema ANNAS juga menemukan infiltrasi ajaran Syiah pada kurikulum pengajaran di sekolah-sekolah.

“Sebagai seorang ibu dari dua anak, saya merasa tidak ikhlas ketika aqidah anak kita dirusak oleh kurikulum sekolah yang mengandung paham Syiah,” tuturnya.

Di antara nilai-nilai sesat yang menyusup di dalam buku pengajaran sekolah adalah hijab itu tidak wajib. “Bila kita umat Islam, suka atau tidak suka harus mengakui bahwa hijab itu wajib,” tegasnya.

Di buku itu mengatakan bahwa hijab tidak wajib. Tetapi, yang terpenting adalah hati, karena tidak ada hubungan hijab dengan hati.

“Nah, itu saja sudah menyesatkan. Kemudian, ada buku agama lain yang menyatakan bahwa hadis yang diakui adalah hadis dari mazhab Ja’fari dan kitab Syiah,” beber Ajeng.

Ajeng juga menerima pengaduan bahwa pelajaran di perkuliahan ada yang mengulas materi-materi ajaran Syiah seperti tentang nikah mut’ah. Bahkan, ada pengaduan dan fakta tentang ulah guru sekolah yang mengajak anak didiknya melakukan nikah mut’ah.

“Ini mereka sudah mengajak perang terbuka. Kita memang perempuan, tetapi kami akan menghadapi dalam bidang pendidikan,” ujarnya.

Maka dari itu, Ajeng pun berharap para anggota dewan untuk peduli dalam persoalan ini agar generasi bangsa tidak dirusak oleh paham-paham sesat.

“Kita merasa sudah melaksanakan kewajiban menyampaikan permasalahan ini, karena tugas seorang Muslim untuk mengingatkan, sedangkan follow up-nya kita serahkan kepada DPR,” tandasnya.
Reporter: Bilal Muhammad

Editor: Fajar Shadiq/kiblat.net

(nahimunkar.com)