Masuknya Jalaluddin Rakhmat ke dalam PDIP,  bukan hanya menciptakan sebuah anomali politik, tetapi dapat membenturkan unsur-unsur dalam masyarakat Indonesia, dan mendorong terjadinya kekacauan politik yang lebih luas.

Di mana PDIP dimasuki unsur-unsur Syiah menjadi lawan dari mainstream di Indonesia yang mayoritas Muslim Sunni.

Di Timur Tengah terjadi kekacauan yang sangat luas antara Syiah dan Sunni, dari Lebanon, Irak, Iran, dan Negara-negara Teluk, Suriah sampai ke Yaman, dan sekarang menuju kepada perang total.

Sikap Ulama Islam terhadap Agama Syiah

 Imam Muhammad bin Idris Asy-Syâfi’iy rahimahulllâh (W. 204 H)

Beliau berkata,

لم أر أحداً من أصحاب الأهواء، أكذب في الدعوى، ولا أشهد بالزور من الرافضة

“Saya tidak pernah melihat seorang pun penganut hawa nafsu yang lebih dusta dalam pengakuan dan lebih banyak bersaksi palsu melebihi Kaum Rafidhah.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Al-Kubrâ` 2/545 dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8/1457]

Berikut ini ulasan tentang masuknya gembong syiah ke PDIP, dan di bagian bawah tentang sikap Ulama Islam terhadap aliran sesat Syiah

***

Gembong Syiah Jalaluddin Rakhmat Menyusup ke PDIP

 jalaluddin rahmat

Jakarta (voa-islam.com)  Sebuah langkah strategis dijalankan oleh Jalaluddin Rakhmat dengan  masuk  ke PDIP, dan menjadi bakal calon legislatif (DPR)  di daerah pemilihan Jawa Barat II.

Jalal sangat cerdik membaca situasi politik. Di mana belakangan ini suara-suara Muslim di Indonesia,  semakin kuat menolak kelompok Syiah.

Preseden yang terjadi di Sampang membuat kalangan Syiah menjadi sangat mafhum, dan harus melakukan tindakan penyelamatan. Di mana di Sampang terjadi “bumi hangus” terhadap kelompok Syiah, dan rakyat di daerah Sampang menolak keberadaan mereka.

Cara itu dilakukan dengan masuk atau menyusup ke partai politik.
Jalaluddin masuk ke PDIP dan menjadi calon legislatif, sebagai langkah strategis dengan tujuan ingin menyelamatkan komunitas Syiah di Indonesia. Dengan masuknya Jalal ke PDIP itu, maka komunitas Syiah akan memiliki payung politik, dan akan melindungi komunitas Syiah di Indonesia.

PDIP partai warisan dan kelanjutan dari Soekarno sekarang ini dipimpin Megawati. Sampai sekarang PDIP tetap memiliki pengaruh politik yang kuat terutama di kalangan grass root (rakyat bawah), dan masih sangat solid. Sehingga, sangat layak bila Jalaluddin Rakhmat mencari perlindungan politik kepada PDIP.

PDIP yang berideologi nasionalisme, tidak pernah secara utuh memberikan tempat kepada aliran agama. Meskipun, selama ini PDIP menjadi kuda tunggangan kalangan Kristen dan Katolik, yang menunggangi PDIIP bagi kepentingan politik mereka, dan mencapai tujuan politik mereka.

Sekarang kalangan Syiah sudah berpikir mencari pelindung dan payung politik yang dapat menjadi pelindung eksistensi kaum Syiah di Indonesia. Dengan jalan masuk ke PDIP. Ini tidak main-main. Sungguh sangat mengkawatirkan.

Masuknya Jalaluddin Rakhmat ke dalam PDIP,  bukan hanya menciptakan sebuah anomali politik, tetapi dapat membenturkan unsur-unsur dalam masyarakat Indonesia, dan mendorong terjadinya kekacauan politik yang lebih luas.

Di mana PDIP dimasuki unsur-unsur Syiah menjadi lawan dari mainstream di Indonesia yang mayoritas Muslim Sunni.

Di Timur Tengah terjadi kekacauan yang sangat luas antara Syiah dan Sunni, dari Lebanon, Irak, Iran, dan Negara-negara Teluk, Suriah sampai ke Yaman, dan sekarang menuju kepada perang total.

Memang, langkah Jalal masuk ke PDIP ini, sungguh sangat luar biasa, dan anehnya justeru elite PDIP, kemudian dapat menerima Jalaluddin Rakhmat masuk ke dalam kandang banteng, dan pasti akan menimbulkan resiko politik yang tidak kecil di masa depan.

Tokoh-tokoh Syiah menyusup ke mana-mana, termasuk masuk Partai Demokrat, seperti Agus Abubakar, termasuk di berbagai media  dan pemerintahan.

Nampaknya, kalangan Syiah di Indonesia sudah menyusun kerangka strategis menjelang perubahan politik besar di Indonesia tahun 2014 mendatang dengan masuk ke dalam satu kekuatan politik yang penting seperti PDIP.

Dengan begitu kalangan Syiah di Indonesia yang dipimpin Jalaluddin Rakhmat akan memiliki leverage (daya tawar) yang tinggi menghadapi situasi yang sangat kritis. Wallahu a’lam. Senin, 13 May 2013

***

Sikap Ulama Islam terhadap Agama Syiah

KAMIS, NOVEMBER 22, 2012  LPPI MAKASSAR

sikap terhadap syi'ahPada hari-hari ini, kita melihat bahwa kaum Syi’ah sibuk menyebarkan lembaran-lembaran dari beberapa tokoh yang berisi beberapa pernyataan bahwa agama Syi’ah tidak sesat. Hal ini sudah menjadi kebiasaan kaum Syi’ah, pada negeri tempat mereka menganggap diri-diri mereka sebagai kaum minoritas, untuk menyerukan pendekatan atau persatuan antara Sunni dan Syi’ah serta yang semisalnya. Seluruh hal tersebut adalah upaya untuk mengaburkan sikap ulama Islam terhadap agama Syi’ah.

Berikut beberapa ucapan ulama kaum muslimin tentang agama Syi’ah agar umat Islam mengetahui bagaimana sikap ulama Islam yang sesungguhnya terhadap agama Syi’ah.

1. Imam ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’iy rahimahulllâh (W. 62 H)

Beliau berkata,

لقد غلت هذه الشيعة في علي رضي الله عنه كما غلت النصارى في عيسى بن مريم

“Sungguh kaum Syi’ah ini telah berlaku ekstrem terhadap ‘Ali radhiyallâhu ‘anhû sebagaimana kaum Nashara berlaku ekstrem terhadap Isa bin Maryam.” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/548]

2. Imam ‘Amr bin Syarâhîl Asy-Sya’by Al-Kûfy rahimahulllâh (W. 105 H)

Beliau bertutur,

ما رأيت قوماً أحمق من الشيعة

“Saya tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih dungu daripada kaum Syi’ah.” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/549, Al-Khallâl dalamAs-Sunnah 1/497, dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh7/1461]

Beliau juga bertutur,

نظرت في هذه الأهواء وكلمت أهلها فلم أر قوماً أقل عقولاً من الخشبية

“Saya melihat kepada pemikiran-pemikiran sesat ini, dan Saya telah berbicara dengan penganutnya. Saya tidak melihat bahwa ada suatu kaum yang akalnya lebih pendek daripada kaum (Syi’ah) Al-Khasyabiyah.” [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/548]

3. Imam Thalhah bin Musharrif rahimahulllâh (W. 112 H)

Beliau berkata,

الرافضة لا تنكح نساؤهم، ولا تؤكل ذبائحهم، لأنهم أهل ردة

“(Kaum Syi’ah) Rafidhah tidak boleh menikahi kaum perempuan mereka dan tidak boleh memakan daging-daging sembelihannya karena mereka adalah kaum murtad.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Ash-Shughrâ` hal. 161]

4. Imam Abu Hanîfah Muhammad bin An-Nu’mân rahimahulllâh (W. 150 H)

Beliau berucap,

الجماعة أن تفضل أبا بكر وعمر وعلياً وعثمان ولا تنتقص أحداً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم

Al-Jamâ’ah adalah (berarti) engkau mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ali, dan Ustman, serta janganlah engkau mencela seorang pun shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. [Al-Intiqâ` Fî Fadhâ`il Ats-Tsalâtsah Al-A`immah Al-Fuqahâ` hal. 163]

5. Imam Mis’ar bin Kidâm rahimahulllâh (W. 155 H)

Imam Al-Lâlakâ`iy meriwayatkan bahwa Mis’ar bin Kidâm dijumpai seorang lelaki dari kaum Rafidhah, kemudian orang tersebut membicarakan sesuatu dengannya, tetapi kemudian Mis’ar berkata,

تنح عني فإنك شيطان

“Menyingkirlah dariku. Sesungguhnya engkau adalah syaithan.” [Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wal Jamâ’ah 8/1457]

6. Imam Sufyân bin Abdillah Ats-Tsaury rahimahulllâh (W. 161 H)

Muhammad bin Yusuf Al-Firyâby menyebut bahwa beliau mendengar Sufyân ditanya oleh seorang lelaki tentang pencela Abu Bakr dan Umar, Sufyân pun menjawab,

كافر بالله العظيم

“(Pencela itu) adalah kafir kepada Allah Yang Maha Agung.”

Orang tersebut bertanya, “(Bolehkah) Kami menshalatinya?”

(Sufyân) menjawab,

لا، ولا كرامة

“Tidak. Tiada kemuliaan baginya.”

Kemudian beliau ditanya, “Lâ Ilâha Illallâh. Bagaimana kami berbuat terhadap jenazahnya?”

Beliau menjawab,

لا تمسوه بأيديكم، ارفعوه بالخشب حتى تواروه في قبره

“Janganlah kalian menyentuhnya dengan tangan-tangan kalian. Angkatlah (jenazah itu) dengan kayu hingga kalian menutup kuburnya.” [Disebutkan oleh Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lâm An-Nubalâ` 7/253]

7. Imam Malik bin Anas rahimahulllâh (W. 179 H)

Beliau bertutur,

الذي يشتم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ، ليس لهم سهم، أوقال نصيب في الإسلام

“Orang yang mencela shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki saham atau bagian apapun dalam keislaman.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah hal. 162 dan Al-Khatsûl dalam As-Sunnah 1/493]

Asyhab bin Abdul Aziz menyebutkan bahwa Imam Malik ditanya tentang Syi’ah Rafidhah maka Imam Malik menjawab,

لا تكلمهم ولا ترو عنهم فإنهم يكذبون

“Janganlah kalian meriwayatkan hadits dari mereka. Sesungguhnya mereka itu sering berdusta.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalamMinhâj As-Sunnah karya Ibnu Taimiyah 1/61]

8. Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim rahimahulllâh (W.182 H)

Beliau berkata,

لا أصلي خلف جهمي، ولا رافضي، ولا قدري

“Saya tidak mengerjakan shalat di belakang seorang Jahmy (penganut Jahmiyah), Râfidhy(penganut paham Syi’ah Rafidhah), dan Qadary (penganut paham Qadariyah).” [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 4/733]

9. Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahulllâh (W. 198 H)

Beliau berucap,

هما ملتان: الجهمية، والرافضة

“Ada dua agama (yang bukan Islam, -pent.), yaitu Jahmiyah dan Rafidhah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dalam Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal.125]

10. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syâfi’iy rahimahulllâh (W. 204 H)

Beliau berkata,

لم أر أحداً من أصحاب الأهواء، أكذب في الدعوى، ولا أشهد بالزور من الرافضة

“Saya tidak pernah melihat seorang pun penganut hawa nafsu yang lebih dusta dalam pengakuan dan lebih banyak bersaksi palsu melebihi Kaum Rafidhah.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Al-Kubrâ` 2/545 dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8/1457]

11. Imam Yazîd bin Harun rahimahulllâh (W. 206 H)

Beliau berkata,

يكتب عن كل صاحب بدعة إذا لم يكن داعية إلا الرافضة فإنهم يكذبون

“Boleh mencatat (hadits) dari setiap penganut bid’ah yang menyeru kepada bid’ahnya, kecuali (Syi’ah) Rafidhah karena mereka sering berdusta.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj As-Sunnah 1/60 karya Ibnu Taimiyah]

12. Imam Muhammad bin Yusuf Al-Firyaby rahimahulllâh (W. 212 H)

Beliau berkata,

ما أرى الرافضة والجهمية إلا زنادقة

“Saya tidak memandang kaum Rafidhah dan kaum Jahmiyah, kecuali sebagai orang-orang zindiq.” [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8/1457]

13. Imam Al-Humaidy, Abdullah bin Az-Zubair rahimahulllâh (W. 219 H)

Setelah menyebutkan kewajiban mendoakan rahmat bagi para shahabat, beliau berkata,

فلم نؤمر إلا بالاستغفار لهم، فمن يسبهم، أو ينتقصهم أو أحداً منهم، فليس على السنة، وليس له في الفئ حق

“Kita tidaklah diperintah, kecuali memohonkan ampunan bagi (para shahabat). Siapa saja yang mencerca mereka atau merendahkan mereka atau salah seorang di antara mereka, dia tidaklah berada di atas sunnah dan tidak ada hak apapun baginya dalam fâ`i.” [Ushûl As-Sunnah hal.43]

14. Imam Al-Qâsim bin As-Sallam rahimahulllâh (W. 224 H)

Beliau berkata,

عاشرت الناس، وكلمت أهل الكلام، وكذا، فما رأيت أوسخ وسخاً، ولا أقذر قذراً، ولا أضعف حجة، ولا أحمق من الرافضة …

“Saya telah hidup dengan seluruh manusia. Saya telah berbicara dengan ahli kalam dan … demikian. Saya tidak melihat ada yang lebih kotor, lebih menjijikkan, argumennya lebih lemah, dan lebih dungu daripada kaum Rafidhah ….” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/499]

15. Imam Ahmad bin Yunus rahimahulllâh (W. 227 H)

Beliau berkata,

إنا لا نأكل ذبيحة رجل رافضي، فإنه عندي مرتد

“Sesungguhnya kami tidaklah memakan sembelihan seorang Syi’ah Rafidhah karena dia, menurut Saya, adalah murtad.” [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah 8/459]

16. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulllâh (W. 241 H)

Banyak riwayat dari beliau tentang celaan terhadap kaum Rafidhah. Di antaranya adalah:

Beliau ditanya tentang seorang lelaki yang mencela seorang shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam maka beliau menjawab,

ما أراه على الإسلام

“Saya tidak memandang bahwa dia di atas (agama) Islam.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/493]

Beliau juga ditanya tentang pencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah maka beliau menjawab, “Saya tidak memandang bahwa dia di atas (agama) Islam.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/493]

Beliau ditanya pula tentang orang yang bertetangga dengan (Syi’ah) Rafidhah yang memberi salam kepada orang itu. Beliau menjawab.

لا، وإذا سلم عليه لا يرد عليه

“Tidak (dijawab). Bila (orang Syi’ah) itu memberi salam kepada (orang) itu, janganlah dia menjawab (salam) tersebut.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-Sunnah 1/494]

17. Imam Al-Bukhâry, Muhammad bin Ismail rahimahulllâh (W. 256 H)

Beliau berkata,

ما أبالي صليت خلف الجهمي والرافضي، أم صليت خلف اليهود والنصارى، ولا يسلم عليهم، ولا يعادون، ولا يناكحون، ولا يشهدون، ولا تؤكل ذبائحهم

“Saya tidak peduli. Baik Saya melaksanakan shalat di belakang Jahmy dan Rafidhy maupun Saya mengerjakan shalat di belakang orang-orang Yahudi dan Nashara, (ketidakbolehannya sama saja). (Seseorang) tidak boleh menjenguk mereka, menikahi mereka, dan bersaksi untuk mereka.” [Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal. 125]

18. Imam Abu Zur’ah Ar-Râzy, Ubaidullah bin Abdil Karim rahimahulllâh (W. 264 H)

Beliau berkata, “Apabila engkau melihat seorang lelaki yang merendahkan seorang shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Hal itu karena, di sisi Kami, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah benar dan Al-Qur`an adalah benar. Sesungguhnya, penyampai Al-Qur`an ini dan hadits-hadits adalah para shahabat Rasulullahshallallâhu ‘alaihi wa sallam. Orang Syi’ah yang mencela shahabat) hanya ingin mempercacat saksi-saksi Kita untuk menghasilkan Al-Kitab dan Sunnah, Celaan terhadap (kaum pencela itu) adalah lebih pantas dan mereka adalah para zindiq.” [Diriwayatkan oleh Al-Khâtib dalamAl-Kifâyah hal. 49]

19. Imam Abu Hâtim Ar-Râzy, Muhammad bin Idris rahimahulllâh (W. 277 H)

Ibnu Abi Hâtim bertanya kepada ayahnya, Abu Hâtim, dan kepada Abu Zur’ah tentang madzhab dan aqidah Ahlus Sunnah maka Abu Hâtim dan Abu Zur’ah menyebut pendapat yang disepakati oleh para ulama itu di berbagai negeri. Di antara perkataan mereka berdua adalah bahwa kaum Jahmiyah adalah kafir, sedang kaum Rafidhah telah menolak keislaman. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh 1/178]

20. Imam Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-Barbahary rahimahulllâh (W. 329 H)

Beliau berkata,

واعلم أن الأهواء كلها ردية، تدعوا إلى السيف، وأردؤها وأكفرها الرافضة، والمعتزلة، والجهمية، فإنهم يريدون الناس على التعطيل والزندقة

“Ketahuilah bahwa seluruh pemikiran sesat adalah menghancurkan, mengajak kepada kudeta. Yang paling hancur dan paling kafir di antara mereka adalah kaum Rafidhah, Mu’tazilah, Jahmiyah. Sesungguhnya mereka menghendaki manusia untuk melakukan ta’thîldan kezindiqan.” [Syarh As-Sunnah hal. 54]

21. Imam Umar bin Syâhin rahimahulllâh (W. 385 H)

Beliau berkata, “Sesungguhnya, sebaik-baik manusia setelah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali ‘alaihimus salâm, serta sesungguhnya seluruh shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang pilihan lagi baik. Sesungguhnya Saya beragama kepada Allah dengan mencintai mereka semua, dan sesungguhnya Saya berlepas diri dari siapa saja yang mencela, melaknat, dan menyesatkan mereka, menganggap mereka berkhianat, serta mengafirkan mereka …, dan sesungguhnya Saya berlepas diri dari semua bid’ah berupa Qadariyah, Murji’ah, Rafidhah, Nawâshib, dan Mu’tazilah.” [Al-Lathîf Li Syarh Madzâhib Ahlis Sunnah hal. 251-252]

22. Imam Ibnu Baththah rahimahulllâh (W. 387 H)

Beliau bertutur, “Adapun (Syi’ah) Rafidhah, mereka adalah manusia yang paling banyak berselisih, berbeda, dan saling mencela. Setiap di antara mereka memilih madzhab tersendiri untuk dirinya, melaknat penyelisihnya, dan mengafirkan orang yang tidak mengikutinya. Seluruh dari mereka menyatakan bahwa tidak (sah) melaksanakan shalat, puasa, jihad, Jum’at, dua Id, nikah, talak, tidak pula jual-beli, kecuali dengan imam, sedang barangsiapa yang tidak memiliki imam, tiada agamanya baginya, dan barangsiapa yang tidak mengetahui imamnya, tiada agama baginya …. Andaikata bukan karena pengutamaan penjagaan ilmu, yang perkaranya telah Allah tinggikan dan kedudukannya telah Allah muliakan, dan penyucian ilmu terhadap percampuran najis-najis penganut kesesatan serta keburukan pendapat-pendapat dan madzhab mereka, yang kulit-kulit merinding menyebutkannya, jiwa merintih mendengarkannya, dan orang-orang yang berakal membersihkan ucapan dan pendengaran mereka dari ucapan-ucapan bid’ah tersebut, tentulah Saya akan menyebutkan (kesesatan Rafidhah) yang akan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran.” [Al-Ibânah Al-Kubrâ` hal. 556]

23. Imam Al-Qahthâny rahimahulllâh (W. 387 H)

Beliau menuturkan kesesatan Rafidhah dalam Nûniyah-nya,

إن الروافضَ شرُّمن وطيءَ الحَصَى … من كلِّ إنسٍ ناطقٍ أو جانِ

مدحوا النّبيَ وخونوا أصحابه … ورموُهمُ بالظلمِ والعدوانِ

حبّوا قرابتهَ وسبَّوا صحبه … جدلان عند الله منتقضانِ

Sesungguhnya orang-orang Rafidhah adalah sejelek-jelek makhluk yang pernah menapak bebatuan

Dari seluruh manusia yang berbicara dan seluruh jin

Mereka memuji Nabi, tetapi menganggap para shahabatnya berkhianat

Dan mereka menuduh para shahabat dengan kezhaliman dan permusuhan

Mereka (mengaku) mencintai kerabat Nabi, tetapi mencela para shahabat beliau

Dua perdebatan yang bertentangan di sisi Allah

[Nûniyah Al-Qahthâny hal. 21]

24. Imam Abul Qâsim Ismail bin Muhammad Al-Ashbahâny rahimahulllâh (W. 535 H)

Beliau berucap, “Orang-orang Khawarij dan Rafidhah, madzhabnya telah mencapai pengafiran shahabat dan orang-orang Qadariyah yang mengafirkan kaum muslimin yang menyelisihi mereka. Kami tidak berpendapat bahwa boleh melaksanakan shalat di belakang mereka, dan kami tidak berpendapat akan kebolehan hukum para qadhi dan pengadilan mereka. Juga bahwa, siapa saja di antara mereka yang membolehkan kudeta dan menghalalkan darah, tidak diterima persaksian dari mereka.” [Al-Hujjah Fî Bayân Al-Mahajjah2/551]

25. Imam Abu Bakr bin Al-‘Araby rahimahulllâh (W. 543 H)

Beliau bertutur, “Tidaklah keridhaan orang-orang Yahudi dan Nashara kepada pengikut Musa dan Isa sama seperti keridhaan orang-orang Rafidhah kepada para shahabat Muhammadshallallâhu ‘alaihi wa sallam. Yakni, (kaum Rafidhah) menghukumi (para shahahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) bahwa para (shahabat) bersepakat di atas kekafiran dan kebatilan.” [Al-‘Awâshim Min Al-Qawâshim hal. 192]

26. Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulllâh (W. 728 H)

Beliau menyatakan, “… dan cukuplah Allah sebagai Yang Maha Mengetahui bahwa, dalam seluruh kelompok yang bernisbah kepada Islam, tiada yang (membawa) bid’ah dan kesesatan yang lebih jelek daripada (kaum Rafidhah) tersebut, serta tiada yang lebih jahil, lebih pendusta, lebih zhalim, dan lebih dekat kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga tiada yang lebih jauh dari hakikat keimanan daripada (kaum Rafidhah) itu.” [Minhâj As-Sunnah 1/160]

Beliau berkata pula, “(Kaum Rafidhah) membantu orang-orang Yahudi, orang-orang Nashara, dan kaum musyrikin terhadap ahlul bait Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan umat beliau yang beriman sebagaimana mereka telah membantu kaum musyrikin dari kalangan At-Turk dan Tartar akan perbuatan mereka di Baghdad dan selainnya terhadap ahlul bait Nabishallallâhu ‘alaihi wa sallam dan Ma’din Ar-Risâlah, keturunan Al-‘Abbâs dan ahlul bait yang lain, berupa pembunuhan, penawanan, dan perusakan negeri-negeri. Kejelekan dan bahaya (orang-orang Rafidhah) terhadap umat Islam takkan mampu dihitung oleh orang yang fasih berbicara.” [Majmu’ Al-Fatâwâ 25/309]

*Disadur dan diringkas dari Al-Intishâr Li Ash-Shahbi Wa Al-Âl Min Iftirâ`ât As-Samâwy Adh-Dhâl hal. 90-110

 Sikap Ulama Islam terhadap Agama Syi’ah [pdf] Download

Sumber: http://dzulqarnain.net/sikap-ulama-islam-terhadap-agama-syiah.html

http://www.lppimakassar.com/2012/11/sikap-ulama-islam-terhadap-agama-syiah.html

(NAHIMUNKAR.COM)

(Dibaca 7.172 kali, 1 untuk hari ini)