© JEWEL SAMAD/AFP/Getty Images Pemandangan dari udara kondisi kota Palu, setelah dilanda tsunami, pada 1 Oktober 2018.

Kerusakan di dua wilayah yakni Kelurahan Petobo, Kota Palu, dan Desa Jonooge, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi cukup parah usai gempa dan tsunami melanda, Jumat (28/9) kemarin.

Perut bumi memuntahkan lumpur menenggelamkam rumah, jalan, dan menyeret kampung Petobo hingga dua kilo meter. “Daratan seperti hanyut dan tergeser dua kilo dari posisi semula. Rumah tenggelam,” kata Muh Sutomo, warga Masamba yang saat ini berada di Petobo mencari keluarganya yang hilang, Minggu (30/9).

Kepada Fajar, Sutomo menjelaskan, hampir seluruh bangunan di wilayah tersebut rata. Selain roboh karena kuatnya guncangan gempa, lumpur yang tiba-tiba muncul dari permukaan tanah menyapu seisi daratan. Dia berharap bantuan segera datang.

Kelurahan Petobo, Kota Palu, dan Desa Jonooge berubah menjadi lautan lumpur. Sebagian rumah dan fasilitas umum tenggelam. Dari lokasi bencana usai gempa dan tsunami, keluar sumber air bercampur lumpur. Saat kejadian, juga muncul suara ledakan.

Sabtu siang, satu jenazah ditemukan bersama satu orang selamat. Hasil identifikasi pihak RS Tora Belo Sigi, jenazah perempuan diidentifikasi bernama Tumiran, 60, dan korban selamat Kodzin, 25.

Kedua korban terseret pusaran air bercampur lumpur sejauh sekitar 10 km. Sedangkan satu korban sebelumnya bernama Zainal Abidin, 46, belum dimakamkan dan masih disimpan di kamar jenazah. “Belum ada pegawai yang mau mengurus jenazah sehingga korban belum dimakamkan,” kata Sul, keluarga korban.

Sul menceritakan, jenazah Zainal Abidin ditemukan di reruntuhan rumah dalam posisi memeluk bayi yang selamat. Istrinya, Dewi, juga selamat, tapi mengalami luka-luka dan kakinya patah.

Sejak kemarin, tiga korban yang selamat maupun meninggal masih berada di RS Tora Belo Sigi bersama puluhan korban selamat lainnya. Perawatan dilakukan di luar ruangan menggunakan tenda seadanya.

Akses menuju lokasi bencana di Desa Jonooge masih lumpuh. Banyak badan jalan yang terbelah dan berubah jadi gundukan. Jembatan pun ambruk dan rusak berat. Satu-satunya akses harus memutar via pinggiran Pegunungan Paneki. Sementara itu, wilayah Kota Palu yang juga belum tersentuh proses evakuasi adalah Kelurahan Petobo.

Hampir satu kelurahan wilayah tersebut berubah menjadi padang lumpur. Perumahan BTN dan permukiman penduduk setempat dilumat air bercampur lumpur dari perut bumi.

Material rumah bercampur kendaraan berserakan hingga menggunung. Belum diketahui jumlah korban jiwa di dua wilayah terisolasi tersebut.

Para keluarga hanya bisa memandangi tumpukan lumpur bercampur material perumahan sambil menangis. Tidak peduli hujan atau panas, para keluarga bertahan di sekitar lokasi sambil menunggu keajaiban. (bay-gsa-jpg/rif)

Sumber: msn.com

***

***

Palu: Kondisi sebelum dan sesudah gempa termasuk di Petobo dan Balaroa

Foto-foto satelit memperlihatkan skala kerusakan akibat gempa dan tsunami yang menghantam Palu, Sulawesi Tengah, termasuk di kawasan Balaroa, Petobo, dan Palu Grand Mall.

Hingga Selasa (02/10) petang, korban meningal mencapai setidaknya 1.374 orang, kata Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah pejabat lain mengatakan angka korban dikhawatirkan akan bertambah begitu kawasan-kawasan yang sejauh ini terputus, bisa diakses oleh personel TNI, Polri, Basarnas, dan relawan.

Dari foto-foto satelit, terlihat jelas perbedaan antara foto yang diambil pada 17 Agustus dan pada 1 Oktober di kawasan perumahan Petobo.

Juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menjelaskan di Petobo ini terdapat setidaknya 744 unit rumah warga yang “tertelan lumpur” dalam fenomena yang dikenal dengan likuifaksi.

Sutopo mengatakan sedimen-sedimen bawah tanah mencair akibat tekanan gempa dan menjadi seperti lumpur.

Lumpur inilah yang menelan rumah-rumah warga.

Sutopo mengatakan kemungkinan ada “ratusan” warga yang rumahnya terkena likuifaksi.

Sementara menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palu, seperti dikutip Kompas.com,”ribuan orang diperkirakan masih tertimbun tanah bersama bangunan di dua lokasi itu.”

Kerusakan juga terlihat jelas dari foto satelit kawasan Balaroa.

Sutopo mengatakan terdapat 1.747 unit rumah di kawasan ini.

Gempa membuat ada bagian-bagian yang yang ambles lima meter, sementara di bagian lain naik beberapa meter.

Sejauh ini belum diketahui secara pasti jumlah korban di Balaroa.

Sutopo mengatakan evakuasi korban sudah dan tengah dilakukan, meski diakui hal ini tak mudah.

Sumber: bbc.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.360 kali, 1 untuk hari ini)