Nasehat ini saya tujukan kepada kaum Muslimin para pengagum Al Kadzdzab Al Wasikh Maher At Thuwailibi, agar kiranya menjadi pertimbangan dalam mencari teman atau tempat menimba ilmu agama. Karena berapa banyak orang celaka karena teman atau guru. Dan melalui tulisan ini saya berusaha menumpahkan kasih sayangku kepada kaum Muslimin dari bahaya pemahaman sesat Maher At Thuwailibi yang akan merusakkan aqidah dan akhlaq kalian bila kalian dekat dengan orang ini.

Kerusakan parah yang ada pada aqidah dan akhlaqnya ialah :

1. Dia melakukan gerakan anti terhadap Da’wah Salafiyah dengan menggelari orang-orang yang berusaha mengikuti jejak Salafus Shaleh dengan TALAFI (ARTINYA : ORANG YANG BINASA). Sedangkan SALAFI (ARTINYA : ORANG YANG BERUSAHA MENGIKUTI JEJAK PARA SAFUS SHALEH).

Wahai sekalian Kaum Muslimin, SALAFI itu sesungguhnya adalah simbul perjuangan atau target perjuangan. Jadi kalau ada orang yang menggelari dirinya SALAFI, bukan berarti bahwa dia telah mengikuti seratus persen jejak hidup para Salafus Shaleh. Jadi makanya SALAFI itu ada yang baru sedikit mengikuti jejak para Salafus Shaleh, dan akhlaqnya masih terbawa oleh tabiat asalnya yang jelek. Namun aqidahnya sudah berpegang dengan prinsip AL WALA’ WAL BARA (Cinta Kepada Tauhid Dan Ahlut Tauhid Serta Benci Kepada Syirik Dan Ahlus Syirik, Cinta Kepada Sunnah Dan Ahlus Sunnah Serta Benci Kepada Bid’ah Dan Ahlul Bid’ah). Semoga dengan bertambahnya ilmu tentang Salafus Shaleh, mereka akan terus memperbaiki peri hidup mereka dalam upaya meneladani peri hidup para Salafus Shaleh.

Namun Al Kadzdzab al Waskh Maher At Thuwailibi ketika melihat kesalaha- kesalahan mereka, langsung saja mencap mereka sebaga TALAFI. Dan dia tidak bisa menyembunyikan kebenciannya kepada SALAFI , ketika dia menyataka bahwa SALAFI itu singkatan dari SAhabat LAma FIr’aun. Padahal SALAFI itu dengan berbagai kekurangannya, tetap lebih baik daripada KHALAFI (ORANG YANG MENYELISIHI PARA SALFUS SHALEH).

Karena SALAFI adalah orang-orang yang berusaha mewarisi ilmu dan amal para Salafus Shaleh. Walaupun diantara mereka itu ada yang dzalim dan ada pula yang sedang semangatnya dalam mengikuti jejak para Salafus Shaleh dan ada pula darl mereka yang semangatnya penuh untuk mengikuti dan menggali ilmu dan amal para Salafus Saleh. Maka kalian sangat besar dosanya bila menganggap mereka dengan emosi kemarahan kalian sebagai TALAFI atau SAHABAT LAMA FIRAUN.

Allah Ta’ala membagi tingkatan orang-orang Yang mewarisi kitab dalam tiga golongan :

ثم أورثنا الكتاب الذين اصطفينا من عبادنا فمنهم ظالم لنفسه ومنهم مقتصد ومنهم سابق بالخيرات بإذن الله ذالك هو فضل الكبير. – فاطر 32.

“Kemudian Kami wariskan kitab ini kepada orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami, maka dari mereka ada yang dzalim terhadap diri mereka sendiri dan ada pula dari mereka yang sederhana dalam amalannya dan dari mereka ada yang melampaui yang lainya dalam kebaikan dengan izin Allah, yang demikian itu adalah keutamaan yang sangat besar”. (QS. Fathir 32).

Maka Ahlul Istifa’ (orang yang dipilih oleh Allah untuk mewarisi kitabNya) ada tiga golongan yaitu : a. Dzalimun linafsihi (yang dzalim terhadap dirinya dengan berbuat dosa)- b. Muqtashid (yang sederhana dalam mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah)- c. Sabiqun bilkhairat (yang melampaui lainnya dalam kebaikan).

2. Si Al Kadzdzab Al Waskh ini pandai bermain kata atau karena bodohnya dia dalam memahami apa yang saya terangkan dalam ta’lim saya itu. Sesungguhnya saya menyatakan : Adanya orang-orang yang terganggu dengan semakin luasnya da’wah Salafiyah, sehingga membangkitkan para Mutakallimin (Ahli Ilmu Kalam) yang menolak untuk beriman kepada sifat-sifat Allah dan para penentang Da’wah Salafiyah.

Jadi ada dua golongan yang terusik dengan semakin meluasnya da’wah Salafiyah, yaitu para Mutakallimun dan para penentang Da’wah Salafiyah. Sedangkan yang saya katagorikan para Mutakallimun yang menolak sifat Allah adalah Tengku Dzulqarnain dan Ustadz Abdus Shamad dan Habib Rizieq Syihab. Adapun yang saya katakan penentang Da’wah Salafiyah adalah Maher At Thuwailibi Al Kadzdzab Al Waskh.

Saya memang tahu bahwa orang ini pernah belajar Salaf di beberapa Ma’had Salaf dan kemudian diusir dari ma’had-ma’had itu karena berbuat kotor. Kemudian dia tampil sekarang, secara terang-terangan menyatakan kebenciannya kepada Da’wah Salafiyah.

3. Al Kadzdzab Al Waskh ini menganggap ringan atau menganggap remeh perbuatan mengingkari adanya sifat-sifat Allah, yaitu sifat ULUW (BERADA DI ATAS ) yaitu bahwa Allah berda di atas ArsNya. Dan ArsyNya berada diatas langit ke tujuh. Dia juga menganggap remeh perbuatan mengingkari sifat Allah : NUZUL (TURUN) yakni Allah Ta’ala turun dari ArsNya ke langit dunia di setiap sepertiga terakhir malam. Bahkan dia bangga sekali ketika dia bisa berteman dekat dengan orang-orang yang menentang sifat-sifat Allah Ta’ala itu. Apakah yang demikian ini bisa dikatagorikan sebagai pengikut jejak Salafus Shaleh ? Kalla wa haasyaa… Tidak mungkin dan jauh panggang dari api…

4. Al Kadzdzab AlWaskh ini menganggap bahwa menemui Abdus Shamad dan Tengku Dzulqarnaindan Habib Rizieq lebih penting dari pada meladeni sapaan ramah Kapolri Tito Karnafian. Kalian perlu tahu wahai kaum Muslimin bahwa meladeni dengan ramah sapaan pejabat tinggi Negara itu adalah “Afdhalul Jihad”, sebagaimana telah ditegaskan oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi waalihi wasallam :

أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر – رواه ابن ماجه في سننه ( الحديث رقم 4011) عن ابي سعيد الخدري. 

“Seutama-utama jihad adalah kalimat yang benar yang diucapkan kepada penguasa yang dzalim”. Hr. Ibnu Majah (Al Hadits nomer 4011) dari Abi Sa’id Al Khudri radhiyallahu anhu. 

Meladeni sapaan penguasa dengan dan lemah lembut , adalah amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala walaupun terhadap Fir’aun (sedzalim-dzalim penguasa) :

فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى – طه 44.

Maka katakanlah oleh kalian berdua (Musa dan Harun alaihimas salam) kepadanya (yakni kepada Fir’aun) dengan kata-kata yang lembut, semoga dengan kelembutan itu dia mengingat Allah atau takut kepada Allah”. (Thaha 44).
 
Apakah mendatangi para penentang sifat-sifat Allah itu lebih penting dari pada menyambut sapaan hangat Kapolri dan kemudian berbincang dengannya ? Apakah berbincang dengan Kapolri itu dalam agama dianggap sebagai pertanda bahwa Ja’far Umar Thalib itu bermain di “dua kaki” ? Kalla wa haasya…..

5. Saya mengingatkan diri saya sendiri dan juga segenap kaum Muslimin bahwa Allah Ta’ala menegaskan :

والذين كسبو السيئات جزاء سيئة بمثلها وترهقهم ذلة ما لهم من الله من عاصم كأنما أغشيت وجوههم قطعا من اليل مظلما أولئك أصحاب النار هم فيها خالدون – يونس 27.

Dan orang-orang yang berbuat kejelekan akan mendapat kejelekan yang setimpal dan mereka itu terus diliputi oleh kehinaan, mereka tidak mendapatkan perlindungan apa-apa dari Allah, wajah mereka hitam pekat seakan diliputi oleh gelapnya malam kelam, mereka itu calon penghuni neraka dan mereka itu kekal padanya“. (S. Yunus 27).

Maka janganlah kalian terus menurut saja mengikuti jejak orang-orang bermasalah semacam Al Kadzdzab Al Waskh Mahir At Thuwailibi, Habib Rizieq Syihab, Ustadz Abdus Shamad, Tengku Dzulqornain, Ustadz Adi Hidayat, Buya Yahya dan manusia-manusia sejenis mereka. Yang menjadikan agama sebagai komoditi politik dan di sisi lain mereka memperolok-olok agama Allah Ta’ala.

Habib Riziq Syihab melecehkan Sayyidina Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dengan menganggapnya sebagai politikus ulung dan penuh intrik politik, yang padahal Mu’awiyah ini adalah salah seorang yang dipercaya oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam sebagai salah seorang pencatat Al Qur’an. Juga Habib Rizieq Syihab merendahkan keyakinan Salafi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dengan menganggap lucu keyakinan Salafi yang meyakini bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia di setiap sepertiga terakhir malam.

Ustadz Abdus Shamad mempertentangkan ayat-ayat Al Qur’an tentang keberadaan Allah Ta’ala demi untuk menentang keyakinan Ahlus Sunnah bahwa Allah Ta’ala berada di atas ArsNya di atas langit ke tujuh.

Tengku Dzulqarnain menyatakan bahwa Tuhannya Salafi sama dengan Tuhannya Yahudi dan bahkan keyakinan Salafi yang menyatakan bahwa Allah itu berada di atas ArsNya adalah seperti keyakinan Cina terhadap Sun ghok khon.

Ustadz Adi Hidayat memberikan tafsir bastil tentang keyakinan adanya Taqdir Allah atas segala sesuatu. Buya Yahya menyamarkan tentang bid’ah, dengan mempertanyakan penilaian Salafi bahwa bid’ah itu semuanya sesat. Begitulah para tokoh populer ini berlomba-lomba melecehkan kehormatan Allah Ta’ala dan RasulNya. Mereka itu melakukan semua perbuatan tersebut dengan yakin bahwa perbuatan mereka itu adalah amalan terbaik. Dan inilah yang diingatkan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya :

قل هل ننبئكم بالأخسرين أعمالا الذين ضل سعيهم في الحياة الدنيا وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا أولئك الذين كفروا بئايات ربهم ولقائه فحبطت أعمالهم فلا يقيم لهم يوم القيامة وزنا – ذلك جزاؤهم بما كفروا واتخذوا ءاياتي ورسلي هزوا

“Katakanlah hai Muhammad : Maukah kami beritahu kalian tentang orang-orang yang paling merugi amalannya, yaitu orang-orang yang sesat perbuatan mereka di dalam kehidupan dunia dan mereka menyangka bahwa perbuatan mereka adalah sebaik-baik amalan. Mereka itu adalah orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan kafir terhadap har atas kekafiran mereka dan mereka menjadikan ayat-ayatKu dan RasulKu sebagai bahan olok-olokan”. (S. Al Kahfi 103 – 106).

Maka orang-orang bermasalah itu bila tidak bertaubat kepada Allah atas perbuatannya, bisa menggiring mereka kepada kekafiran dan mati diatas kekafiran. Karena yang mereka lecehkan adalah ayat-ayat Allah dan Sunnah RasulNya. Para Ulama’ mengingatkan : البدعة بريد الكفر :”Bid’ah itu adalah pos paket yang mengantarkan orang kepada kekafiran”.

6. Al Kadzdzabul Waskh telah menipu kaum Muslimin dengan berlagak sok tau tentang apa itu Asy’ariyah. Dia mengatakan bahwa Asy’ariyah itu kurang tepat jika dianggap menolak sifat. Alasannya ialah bahwa mereka itu sejatinya menerima sifat Allah tersebut, namun menta’wilkan maknanya. Kemudian dia menampilkan diri sebagai guru besar bidang aqidah dengan menyatakan : “Dan bagi saya, ta’wil yang dilakukan kalangan Asy’ariyah ini dalam rangka LI-Tanzih (mensucikan Allah dari kesamaan terhadap makhluq)….. “.

Jawabannya : Dia menganggap Asy’ariyah seindah itu dalam tindakan mereka menolak sifat-sifat Allah Ta’ala, karena dia bergaul mesra dengan para penentang sifat-sifat Allah itu dan dia menggambarkan betapa mesranya hubungannya dengan mereka itu : “Demikian pula hubungan saya dengan Al Ustad Dr. Tengku Zulkarnain MA (wasekjen MUI pusat) juga tetap baik hingga saat ini, bagaikan anak dengan bapak”.

Demikianlah keadaan orang yang setengah-setengah dalam beraqidah. Tidak jelas pangkalnya dan tidak tegas ujungnya. Terhadap Ahlul Bid’ah pengingkar sifat-sifat Allah begitu indahnya hubungannya, namun terhadap Ahlus Sunnah yang beriman kepada segenap sifat Allah yang tertera di dalam Al Qur’an dan As Sunnah, orang ini begitu kasarnya dan kejamnya mulutnya dan penanya.

Dengan menggelari Ahlus Sunnah sebagai TALAFI atau SAHABAT LAMA FIR’AUN, USTAD KIBAR YANG SERING SALAH MEMBACA KITAB ARAB….. Maka Wala’nya orang ini ialah terhadap Ahlul Bid’ah, sedang bara’nya terhadap Ahlus Sunnah.

7. Asy’ariyah itu kalau kita kembali kepada para Ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, ialah antara lain saya nukilkan di sini terjemah keterangan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah (Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah Al Harrani lahir th. 661 H. Dan wafat th. 728 H.) dalam kitabnya yang berjudul DAR’U TA’ARUDHIL AQLI WAN NAQLI jilid 1 hal. 71 menerangkan :

“Ar Razi dan para pengikutnya telah meletakkan satu metodologi yang menyatakan bahwa wajib mendahulukan akal atas naqal (dalil yang dinukil dari keterangan Al Qur’an dan As Sunnah). Atau dengan kata lain wajib mendahulukan dalil aqli atas dalil naqli (dalil Sam’ie). Maka bila dalil Aqli bertentangan dengan dalil naqli, maka tidak mungkin diutamakan dalil naqli atas dalil Aqli. Sebab dalil Aqli adalah asal segala sesuatu. Mendahulukan dalil naqli atas dalil Aqli berarti mendahulukan cabang atas pokok. Yang berarti mempertanyakan kebenaran pokok sehingga lebih yakin kepada kebenaran cabang. Dan yang demikian itu adalah mustahil, karena meragukan pokok berarti juga harus meragukan cabang yang dibangun atas pokok yang diragukan itu. Jadi kalau dalil naqli bertentangan dengan dalil aqli, maka nash dalil naqli itu dilakukan padanya :

a. Harus dita’wil .
b. Diserahkan kepada Allah maknanya dan tidak diartikan.
C. Bila tidak mungkin samasekali untuk dikompromikan maknanya dengan akal, kedua dalil itu (baik aqli maupun naqli) dibuang. 


Mereka menjadikan metodologi ini sebagai landasan menerima atau menolak dalil yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul dari Wahyu Allah. Baik dalam perkara sifat-sifat Allah dan Nama-Namanya, bila dalil-dalil itu dianggap bertentangan dengan akal mereka, bahkan sebagian mereka beranggapan bahwa dalil naqli (sam’ie) tidaklah bisa memberikan keyakinan kebenaran sesuatu”. 

Demikian Ibnu Taimiyah menerangkan prinsip Asy’ariyah yang diambil dari Ar Razi (Abu Abdillah Fakhrud Dien Muhammad bin Amr bin Al Hasan bin Al Husain At Tamimi Al Bakri Ar Razi) yang terkenal dengan Al Fakhrur Razi atau Ibnu Khatib Ar Rai. Lahir th. 544 H. Dan meninggal dunia th. 606 H. Beliau adalah salah seorang Imam dari kalangan Asya’irah yang mencampurkan madzhab Asy’ari dengan filsafat Yunani dan Mu’tazilah yang notabe dari falsafah Yunani juga.

Pendahulu Al Fakhrur Razi adalah Abu Bakar bin Muhammad bin Abdillah bin Muhammad bin Al Arabi Al Mu’afiri, lahir isbilia Andalus pada tahun 486 H. Dan meninggal dunia pada th. 543 H. Beliau belajar agama dari Al Imam Al Ghazali dan beliau termasuk pengkritik Al Ghazali ketika beliau menyatakan : “Syeikh (guru) kita Abu Hamid Al Ghazali telah masuk ke perut Filsafat dan ketika ingin keluar daripadanya, beliau tidak bisa keluar daripadanya”.

Namun Ibnul Arabi tetap memakai qaidah Asy’ariyah tersebut yang diambilnya dari Al Ghazali. Beliau menjadi Qadli Isbilia dan Imam dalam madzhab Maliki dan Huffadl terbesar dari kalangan madzhab Maliki. Dan Abu Bakar bin Al Arabi mencampurkan qaidah pemahaman Asy’riyah ini dengan qaidah yang hampir serupa yang dibikin oleh Abul Ma’ali Imamul Haramain Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf Al Juwaini yang lahir pada th. 419 H. Dan meninggal dunia pada th. 478 H. Beliau adalah termasuk Imam Asya’irah yang terbesar dan beliau adalah salah seorang gurunya Al Imam Al Ghazali. Dan sebelum Abul Ma’ali ini adalah Al Baqalani yang namanya adalah Muhammad bin At Thayyib dan beliau adalah Qadli negeri Baqalan dan beliau adalah Imam Asya’irah terbesar setelah Al Imam Abul Hasan Al Asy’ari. Beliau lahir pada th. 375 H. Dan meninggal dunia pada th. 403 H. Beliau hidup di Baghdad dan banyak menulis buku bantahan terhadap filsafat dan ilmu Manthiq dan berbagai agama selain Islam.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menambahkan “Para imam ini membikin qaidah-qaidah berfikir dalam memahami agama Al Islam dimana mereka menyangka bahwa apa yang diyakini benar oleh akal mereka itu adalah asal usul kebenaran dan harus dijadikan sandaran untuk menilai kebenaran dan apa yang dibawa oleh para Nabi dari Allah itu harus ditundukkan kepada sangkaan akal fikiran mereka. Maka bila yang dibawa oleh para Nabi itu bila mencocoki teori akal mereka, maka yang demikian itu mereka terima. Dan bila menyelisihi akal mereka, maka mereka tidak akan mengikutinya”.

Demikian Ibnu Taimiyah menerangkannya. Dimana prinsip utama Asy’riyah ialah bahwa yang paling tinggi kedudukan dalil kebenaran itu adalah akal pikiran dan dalil Al Qur’an dan As Sunnah harus ditundukkan kepada akal pikiran. Bila Al Qur’an dan As Sunnah mencocoki qaidah berfikir mereka, maka keduanya akan diterima dan bila menyelisihi keduanya, maka itu dikatagorikan sebagai dalil yang tidak bisa diterima atau dianggap dalil yang tidak bisa dipahami atau mutasyabihat yang tidak bisa mengerti tentangnya kecuali hanya Allah saja.

Oleh sebab itu Abul Hasan Al Asy’ari hanya mau menerima 7 Sifat saja dari sifat-sifat Allah dan berita tentang sifat Allah yang lainnya harus dita’wil kepada makna salah satu dari tujuh sifat itu dalam rangka tanzihullah (mensucikan Allah dari keserupaan dengan makhluqNya). Yaitu : sifat Al Hayah (Hidup), Al Iradah (Berkehendak), Al Kalamu (berbicara), Al Ilmu (Maha Mengetahui), Al Qudrah (Maha Menentukan), As Sam’u (Maha Mendengar), Al Basharu (Maha Melihat).

Kemudian kaum Asya’irah menggabungkannya dengan keyakinan Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al Maturidi As Samarqandi (lahir th. 238 H dan meninggal dunia pada tahun 333 H) yang sering disebut aqidah Maturidiyah yang menambahkan sifat-sifat Allah yang digagas oleh logika Maturidiyah : Wujud (Allah itu ada), Qidam (AdaNya terdahulu), Baqa’ (AdaNya kekal selama-lamanya), Mukhalafatuhu Lil Hawadits (Dia berbeda dengan segenap makhluq), Qiyamuhu Bi Nafsihi (Dia berdiri sendiri), Wahdaniyat (Dia tunggal tidak berbilang). Sehingga jadilah 13 Sifat bagi Allah.

Dan setelah itu agar menjadi genap, diulangi tuju sifat sebelumnya dalam bentuk mubalaghah dan jadilah sifat dua puluh bagi Allah yang diambil dari logika Asy’ariyah – Maturidiyash. Maka bila ada sifat Allah yang diberitakan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah, mereka menolak untuk mengartikan secara leterlek. Mereka tundukkan dalil Al Qur’an dan Al Hadits itu kepada logika mereka dengan ta’wil yang bathil dengan alasan untuk tanzihullah.

Sehingga mereka mengingkari sifat Uluw bagi Allah (yakni sifat Allah yang memberitakan bahwa Dirinya berada diatas ArsNya dan ArsNya berada di atas lautan yang ada di atas langit ke tujuh). Karena sifat Uluw tersebut tidak ada dalam rangkaian sifat dua puluh yang dihasilkan oleh logika mereka. Maka ayat Al Qur’an yang berbunyi :

الرحمان علي العرش استوي – طه 5.

“Dia yang Maha Pengasih berada diatas ArsyNya”. (S. Thaha 5).

Mereka tahrif (rubah) makna “ISTAWA” yang asalnya bermakna “DI ATAS”, Ditahrif menjadi ISTAWLA (BERKUASA) yakni kepada makna Qudrah. Ta’wil batuk (tahrif) yang demikian mereka lakukan atas semua ayat Al Qur’an dan As Sunnah yang maknanya dianggap menyelisi metodologi Asy’ariyah – Maturidiyah.

Mereka mengingkari adanya sifat NUZUL (TURUN) bagi Allah, dan mereka menolak hadis shahih yang memberitakan Turunnya Allah ke langit dunia di sepertiga terakhir setiap malam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (hadis ke 758).

Bahkan meyakini bahwa Allah turun ke langit dunia di sepertiga terakhir malam itu adalah keyakinan lucu. Karena sifat NUZUL sebagimana diberitakan dalam hadits itu tidak ada dalam sifat dua puluh hasil otak-atik otak mereka.

Dan masih banyak lagi sifat-sifat Allah yang akan mereka tolak walaupun telah disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah As Shohihah bila sifat itu tidak bisa ditundukkan maknanya kepada salah satu sifat dua puluh itu. Dan yang demikian itu adalah petaka besar atas Tauhid Ummat ini dan menghalangi mereka untuk kenal lebih dekat dengan Allah Ta’ala.

Padahal seandainya mereka menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah itu diletakkan sebagai rujukan utama dalam menilai benar atau salahnya segala sesuatu diatas akal mereka, niscaya mereka akan dengan mudah mengimani segala sifat Allah yang diberitakan didalam Al Qur’an dan As Sunnah Shahihah dengan tidak membatasinya pada angka dua puluh atau angka berapa saja. Sebab kesempurnaan sifat-sifat Allah tak terhingga sehingga tidak dapat dibatasi dengan angka tertentu.

Demikian saya menasehati segenap Muslimin, agar jangan membiarkan para perusak agama ini menampilkan sinetron pembelaan terhadap Al Islam dan menjadikan Al Islam sebagai komoditi politik mereka. Sebagaimana Khumaini di Iran pernah menipu Muslimin dunia dengan menggunakan Al Islam sebagai komoditi politik murahan dari Khumaini.

Sumber :  Akun Facebook Ustadz Ja’far Umar Thalib

Sumber:  edyirwant.blogspot.sg / Edy Irwanto

(nahimunkar.org)

(Dibaca 5.179 kali, 1 untuk hari ini)