• Ada apa sebenarnya?

Pelaku Penyerangan Polsek Cicendo_8236427

Penyerangan Polsek Cicendo menggegerkan Nusantara. Karena kasus ini merupakan hasil ‘olahan’ intelijen, dengan mudahnya 13 dari sekitar 30 anggota Jamaah Imran dapat dibekuk dalam waktu teramat singkat, menurut tulisan di http://teguhbaja.blogspot.com Sabtu, 05 November 2011

Gerakan Imam Imran muncul pada masa pemerintahan Soeharto sekitar tahun 1979. Gerakan ini berawal dari kedatangan Imran bin Muhammad Zein pada bulan Juli 1978 ke Cimahi yang bermaksud mendatangi saudaranya.

Di sana ia bertemu dengan sebuah keluarga yang pernah dibimbing oleh Imran dan kawan-kawan dalam melaksanakan ibadah haji di Mekkah. Dalam keluarga tersebut juga terdapat ketua HIPMA (Himpunan Pemuda Mesjid Agung Cimahi) Azhar Zulkarnaen. Sejak pertemuannya dengan ketua HIPMA tersebut, Imran sering diminta untuk memberikan ceramah di Mesjid Agung Cimahi (wawancara dengan Bapak Bachtar Ibrahim, 6 Juni 2001).

Dari jalur inilah, kemudian terdapat kebersamaan antara pemuda mesjid dengan Imran, selain daripada itu dakwah-dakwah Imran mampu membentuk pandangan dan sikap keagamaan yang dirasakan lebih mantap oleh pemuda-pemuda yang selama ini aktif di kegiatan persemakmuran mesjid. Hal ini terbukti dengan banyaknya pemuda-pemuda yang selalu mengikuti dakwah-dakwah Imran di lembaga mesjid lain seperti di Mesjid Istiqomah Bandung dan Mesjid ABRI Cimahi. (Tempo, 16 Agustus 1980).

Hingga akhir tahun 1980 jamaah Imran ini semakin berkembang tidak hanya di kota Cimahi dan Bandung, tapi juga di Jakarta dan Surabaya (Tempo, 9 Januari 1982). Ada beberapa faktor yang menarik perhatian masyarakat pada umumnya dan golongan pemuda khususnya adalah karena keberanian dan ketegasan Imran dalam mengkritik kebijaksanaan pemerintah dan ulama-ulama yang tidak sepaham dengan jamaah.

Pada waktu itu hanya sedikit orang yang berani mengkritik pemerintah, karena setiap kali ada orang atau kelompok yang menentang, pemerintah langsung mengatasinya, misalnya dengan mengamankan orang atau kelompok yang menentang tersebut.

Salah satu bentuk ketetapan pemerintah yang ditentang oleh kelompok Imran adalah adanya Penataran P-4 yang menjadikan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum. Hal itu ditentang karena mereka tidak mau jika Pancasila sebagai ideologi buatan manusia dilebih-lebihkan dari ideologi Islam yaitu Al-Qur’an yang merupakan wahyu Ilahi (wawancara dengan Bapak Miftah Faridh, 19 Juni 2001). Selain itu Imran dan jamaahnya juga menentang sikap pemerintah yang pada waktu itu melarang perempuan untuk mengenakan jilbab.

Perbedaan-perbedaan pandangan antara jamaah Imran dengan pemerintah menyebabkan terjadinya konflik atau pertentangan antara keduanya. Sikap pemerintah yang dinilai oleh jamaah Imran telah menekan Umat Islam tersebut mendorong jamaah Imran untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan. Sebagai contoh jamaah Imran melakukan tindakan fisik seperti penyerangan terhadap pos polisi Konsekta 8606/Cicendo tanggal 11 Maret 1981 dan pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla tanggal 28 Maret 1981 (Tempo, 19 Agustus 1981).

Riwayat Hidup Imam Imran

Imran lahir 1 Juni 1950 di Ampek Angkek, sebuah kota kecamatan di kabupaten Agam, Bukittinggi, Sumatera Barat. Nama kecilnya Armon pemberian orangtuanya. Ayahnya Muhammad Zein Sutan Sinaro, seorang pedagang kain di pusat pasar Medan. Ia (Muhammad Zein Sutan Sinaro) menikah tahun 1949 dengan Darmais, perempuan se daerah dari Agam. Dari pernikahannya itu, Zein dikaruniai 11 orang anak. Imran adalah putra sulung dari 11 bersaudara, semenjak kelahirannya keluarga Zein yang berasal dari Sumatra Barat itu menetap di Medan.

Sebagai anak sulung, Imran tentu saja mendapat perlakuan keras orangtuanya, selain daripada itu Imran juga mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain (Emron Pangkapi, 1982:3). Sikap keras dari orangtuanya sangat mempengaruhi kehidupan Imran yang memang mempunyai watak keras.

Selain dipengaruhi oleh kehidupan keluarganya, kepribadian Imran juga dipengaruhi oleh lingkungan masyarakatnya. Seperti diketahui, tanah Medan tempat Imran tinggal dikenal dengan masyarakat yang mempunyai watak keras. Dengan kondisi keluarga dan lingkungan masyarakat seperti itu sangat mempengaruhi kehidupan Imran.

Sebagai pedagang kain, tentu saja penghasilan Zein tidak cukup untuk kebutuhan keluarganya dengan 11 orang anak. Akibatnya Imran tidak bisa menyelesaikan sekolahnya sampai tingkat SMA, namun demikian Imran sempat memperoleh pendidikan di sekolah Muhammadiyah untuk menambah pengetahuan agamanya di samping pendidikan formal (Emron Pangkapi, 1982:4).

Karena Imran tidak lagi bersekolah, maka ia lebih banyak membantu ayahnya berdagang di pasar. Sejak bergumul dengan nasib yang demikian itu, Imran yang baru berumur 17 tahun sempat mendapat predikat “preman muda” yang sangat disegani dan akhirnya dipilih sebagai Ketua Seksi Pengerahan Massa Organisasi Pemuda Pancasila Kota Matsum I Medan.

Salah satu tugas dari organisasi ini adalah menangkap orang-orang yang dianggap terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Banyak orang-orang di Sumatra Utara yang dianggap terlibat dalam peristiwa tersebut berhasil ditumpas organisasi ini. Setelah organisasi ini menyelesaikan tugasnya, Imran pun kembali menjadi pengangguran.

Sejak saat itu ia pun mulai memikirkan masa depannya, karena di kampung halamannya tidak ada pekerjaan yang bisa menjamin masa depannya, maka Imran pun mulai menyiapkan diri untuk meninggalkan kampung halamannya (Adnan Buyung Nasution, 1982:2).

Pada awalnya Imran bertujuan untuk pergi ke Jakarta, namun karena ia teringat dengan keinginan orangtuanya untuk menjadikan anak-anaknya menjadi orang pandai yang alim, maka Imran pun merubah tujuan semula untuk pergi ke Jakarta menjadi ke tanah Arab. Imran berpikir bahwa Arab merupakan tanah tempat agama Islam lahir dan sumber ilmu hukum Islam, Imran berharap ia bisa bekerja untuk memperbaiki masa depannya sekaligus memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam.

Tahun 1972, Kapal haji Belle Abeto sudah bersiap-siap untuk mengangkut jamaah haji di Tanjung Priok. Secara kebetulan Imran yang bercita-cita pergi ke Mekkah mulai mencari kesempatan untuk dapat berlayar bersama jamaah haji tersebut.

Karena tidak mampu membeli tiket akhirnya Imran menjadi penumpang gelap (Tempo, 9 Januari 1982). Nasib baik menyertai Imran menjadi penumpang gelap karena ia tidak mendapat musibah ataupun dimarahi oleh petugas, sebaliknya Imran malah diserahi tugas sebagai pelayan di atas kapal yang mengarungi Laut Cina Selatan, Samudera Hindia sampai masuk Laut Merah.

Sama halnya dengan jamaah haji Indonesia ia ditampung di Madinatul Hujjaj (kompleks penampungan haji)  eks kapal laut. Di sini Imran bertemu dengan Abdul Kadir yang dikenalnya sewaktu di Medan, bersamanya ia meninggalkan tempat penampungan haji dan tingal di rumah Abdul Kadir untuk sementara. Setelah itu Imran meneruskan perjalanannya ke Mekkah sekaligus beribadah haji bersama jamaah haji lainnya dari Indonesia. (Emron Pangkapi), 1982:13).

Tiga bulan lamanya ia menetap di Mekkah dan tinggal di Masjidil Haram di sini Imran berkenalan dengan seorang Arab bernama Abdullah yang tinggal tidak jauh dari Masjidil Haram. Pergaulan sehari-hari bersama keluarga Abdullah ini membuatnya semakin lancar berbahasa Arab. Hampir setahun ia tinggal di rumah Abdullah sampai tiba musim haji berikutnya.

Bila musim haji tiba, artinya musim rezeki bagi Imran. Sebab sama halnya dengan masyarakat Indonesia yang ada di Arab Saudi, mereka dapat bekerja sebagai penuntun haji bersama Syekh, apalagi pandai berbahasa Indonesia. Sambil menunggu musim haji berikutnya untuk menunggu pekerjaan musiman, Imran sempat bekerja di perusahaan pembuat kursi, selain membuat kursi ia juga sempat menjadi pelayan toko, pedagang batu-batuan dan jam tangan serta sempat pula sebagai anggota satpam di sebuah perusahaan di Mekkah.

Di balik kesibukannya menyambung hidup, Imran menyempatkan diri untuk belajar guna mencapai cita-citanya yakni memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Karena tidak dibekali pendidikan formal, Imran tidak belajar pada perguruan-perguruan resmi seperti King Abdul Aziz Universty misalnya, tetapi ia belajar dari seorang guru ke guru yang lain. Belajarnya juga tidak seperti di sekolah, tetapi dalam bentuk “dialog” di kala ada waktu senggang.

Pelajaran yang diterima Imran di Mekkah ini telah memberikan pengetahuan tentang Islam, terutama setelah ia mempelajari secara khusus tafsir Al-Qur’an yang berbeda dengan yang ia pelajari di Medan. Imran pun menambah lagi pengetahuannya dengan banyak belajar lagi terutama dari Syekh Abdullah, Syekh Bukhari, Syekh Yasir bin Abdullah dan Syekh Muhammad bin Abdul Kadir, disamping menyempatkan diri untuk membaca buku-buku di perpustakaan King Abdul Aziz Unversity (Emron Pangkapi 1982:13-14).

Di Mekkah, Imran sering bertemu dengan pemuda-pemuda Islam asal Indonesia yang sedang bersekolah di sana, dalam pertemuannya itu Imran sering menyampaikan pandangannya terhadap Islam juga sesekali membicarakan tentang keadaan Islam di Indonesia. Kemudian pada tahun 1975, pemuda-pemuda Islam asal Indonesia yang tergabung dalam kelompok Imran membentuk suatu jamaah. Tujuannya adalah membentuk jamaah Islam yang benar-benar melaksanakan ajaran Islam yang sesuai dengan hukum syara’ yakni bebas dari bid’ah dan khurafat. Di Saudi Arabia, Imran terpilih dari rekan-rekannya seperti Mahrizal, Achmad Yani, Lukman Syamra, Farouk, Udep, Abdul Razak dan Salman untuk menjadi Imam dalam jamaah di Saudi Arabia ini (Tempo, 9 Januari 1982).

Terpilihnya Imran sebagai Imam merupakan prestasi luar biasa, karena jika dilihat dari segi pendidikan Imran tidak sempat menyelesaikan sekolahnya, sedangkan rekan-rekannya yang lain sebagian besar adalah mahasiswa. Dilihat dari segi ekonomi pun Imran bukanlah orang kaya yang mempunyai kedudukan.

Namun demikian terpilihnya Imran sebagai Imam yang juga disertai dengan berbagai alasan dan pertimbangan diantaranya, dilihat dari segi fisik Imran mempunyai badan yang tinggi besar dan tegap yang menyebabkan Imran mempunyai kharisma sendiri. Imran pun mempunyai sikap berani dalam mengemukakan pendapat dibandingkan dengan rekan-rekannya yang lain.

Selain daripada itu, dilihat dari segi pengalaman, Imran mempunyai banyak pengalaman karena ia tidak hanya belajar Islam dari buku tapi juga dari para Syekh yang ada di Mekkah. Itulah faktor-faktor yang menyebabkan rekan-rekan Imran memilihnya untuk menjadi Imam.

Para anggota jamaah tersebut bercita-cita, bila kelak kembali ke Indonesia akan menyampaikan agama Islam yang benar seperti yang dipelajari di Arab, tidak seperti yang ada di Indonesia yang sudah bercampur baur dengan bid’ah dan khurafat. Pada bulan Februari 1977, Imran mengumpulkan anggota jamaahnya. Karena rindu kampung halamannya, Imran menyatakan keinginannya untuk kembali ke Indonesia. Pada saat itu juga Mahrizal, salah satu anggota jamaahnya diangkat secara aklamasi sebagai pimpinan oleh para anggota lainnya dan Mahrizal menerima jabatan itu.

Sesampainya di tanah air, keluarganya menerima putra sulungnya ini dengan gembira. Sekarang Imran bukanlah seperti dulu tapi sudah menjadi orang alim yang mempunyai pemahaman tentang Islam. Setahun kemudian Imran menikah dengan seorang gadis asal kota Matsum Medan yang bernama Syahraini dan dikaruniai anak bernama Zaid.

Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, dengan sisa tabungan dari Saudi Arabia serta bantuan ayahnya, Imran memulai berdagang jam tangan secara kecil-kecilan. Kegiatan dagangnya tidak di Medan saja tapi mulai tahun 1978 ia berdagang ke Tanjung Karang sampai akhirnya ia memutuskan untuk berdagang dan menetap di Jakarta (Emron Pangkapi, 1982:35).

Lahirnya Gerakan Imam Imran

Pada tahun 1979 para anggota jamaah Imran di Arab Saudi berkumpul kembali di Indonesia. Mereka sering berdiskusi dan tampaknya banyak hal yang mengecewakan mereka, antara lain keharusan meminta izin untuk khotbah, dihapuskannya liburan puasa dan masuknya aliran kepercayaan dalam GBHN.

Imran dan kawan-kawan sering mengadakan ceramah antara lain di Mesjid Agung Cimahi dan Masjid Istiqomah Bandung. Dimana ada kesempatan Imran menguraikan tentang Islam di Indonesia yang salah, karena ajaran Islam di Indonesia banyak bercampur dengan bid’ah dan khurafat seperti adanya upacara tujuh bulanan, tahlilan dan masih banyak lagi. Hal inilah yang menjadi awal lahirnya gerakan Imam Imran.

Dalam waktu singkat Imran sudah dikenal oleh kalangan pemuda Mesjid itu. Imran dikenal sebagai orang muda yang membawa ajaran Islam seperti  yang dilakukan di tanah asal Islam Arab Saudi. Imran beranggapan bahwa Islam di Indonesia sudah bercampur dengan bid’ah dan khurafat, untuk itu Imran berusaha memisahkan antara ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dengan ajaran-ajaran tambahan yang dibawa oleh para Ahlul Bid’ah (wawancara dengan Bapak Amar Jumardi, 3 Desember 2001).

Pendapat Imran ini tentu mendapat tanggapan dari berbagai pihak, banyak yang menyetujui pendapat Imran tersebut, tapi banyak pula yang menyangkal. Di kalangan HIPMA (Himpunan Pemuda Mesjid Agung Cimahi) sendiri terbagi dua kelompok yang sepaham dengan Imran dan yang tidak sepaham.

Suatu kali di bulan Agustus (bertepatan dengan bulan Ramadhan) terjadi keributan di Mesjid Agung Cimahi. Keributan ini bermula dari adanya dua kelompok dalam Mesjid itu yang saling bertentangan dengan jumlah adzan pada shalat Jum’at.

Pertentangan yang tajam diwarnai pula dengan isi ceramah dan khotbah kedua belah pihak semakin tajam dan saling serang, serta perang dingin soal shalawat tarawih yang dua termin. Hal ini membuat Walikota Cimahi memanggil pengurus HIPMA dan mengancam akan membubarkan organisasi ini bila terus berselisih. Dalam pertemuan itu, HIPMA merasa ditekan oleh Walikota, dan Imran yang mulai berpengaruh di Cimahi juga sempat memberikan pandangan-pandangan kepada anggota-anggota HIPMA yang datang kepadanya meminta nasehat.

Walikota tidak saja membubarkan HIPMA, tetapi menyegel pula kantor HIPMA di Mesjid itu. Pengamanan diserahkan kepada pihak berwajib, dan pemuda-pemuda HIPMA yang aktif sejak tahun 1978 kehilangan tempat untuk menyalurkan aktivitas keagamaan. Kebijaksanaan Walikota ini ditentang dengan berbagai aksi protes dan disebut sebagai orang yang tidak mengayomi tetapi justru menggunakan kekuasaan untuk menindas satu keyakinan beragama. Imran yang sudah dikenal itu tidak kurang pula ikut mengecam tindakan walikota yang dinilainya sebagai tindakan yang tidak pantas di negara yang bermoral Pancasila. Kesempatan ini digunakannya untuk membangkitkan semangat para Pemuda Islam terutama pelarian dari perpecahan HIPMA.

Akibat pembubaran HIPMA oleh Walikota Cimahi, maka para pemuda yang terbiasa aktif merasa kehilangan tempat. Untuk itu mereka mendatangi Imran yang memang sudah berpengaruh pada waktu itu di kalangan pemuda Mesjid Agung Cimahi. Para pemuda tersebut menuturkan niatnya untuk mendirikan organisasi baru di luar HIPMA serta meminta Imran untuk menjadi pemimpinnya.

Pada awalnya Imran menolak untuk menjadi pemimpin, namun berkat kegigihan para pemuda tersebut, akhirnya Imran bersedia menjadi pemimpin. Untuk itu Imran mengajak orang-orang yang menginginkan dia jadi Imam, mendatangi Buya Sutan Mansyur seorang ulama terkemuka di Jakarta untuk meminta petuah tentang rencana pembentukan jamaah ini.

Sementara itu, jamaah-jamaah yang pernah dibentuk Imran di Saudi Arabia dan dipimpin oleh Mahrizal telah resmi dibubarkan oleh Mahrizal pada bulan Agustus 1980, berkaitan dengan rencana untuk pembentukan jamaah baru yang sedang dipersiapkan.

Para anggota jamaah Mahrizal setuju jamaah yang dibentuk di Saudi Arabia ini dibubarkan dahulu, baru nanti membentuk jamaah baru dengan Imran sebagai Imamnya. Setelah menerima petuah dari Buya Sutan Mansyur, Imran menyatakan kesiapannya untuk diangkat jadi Imam dalam jamaah yang akan dibentuk itu. Kemudian dikumpulkan para pemuka-pemuka jamaah dari Bandung, Cimahi dan Jakarta di rumah Haji Adang Suherman di Jalan Kolonel Masturi, Cimahi, pada malam Jum’at pertengahan bulan Agustus 1980, untuk mengucapkan Bai’at mengangkat Imran sebagai Imam.

Bai’at adalah sumpah setia bagi pengukuhan hubungan antara yang dibimbing dan pembimbingnya dalam hal ketaatan untuk melakukan suatu hal. Isi sumpah setia atau bai’at itu adalah:

 “Aku jadi saksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku jadi saksi sesungguhnya Muhammad itu Rasulullah. Demi Allah, aku berbai’at kepada Imran bin Muhammad Zein sebagai Imam dan pemimpinku dan aku berjanji akan mendengar dan mentaatinya dalam segala hal dan setiap keputusan walaupun bertentangan dengan pikiranku sendiri. Maka kalau aku berlaku selain ini maka tentulah aku termasuk orang yang ingkar janji lagi aniaya. Kiranya Allah meridhoi semua.” (Emron Pangkapi, 1982:115-116).

Dengan pengucapan sumpah setia atau bai’at tersebut maka semua jamaah menyatakan dirinya akan patuh dan setia kepada Imran sebagai Imam selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Jadi meskipun perintah Imam bertentangan dengan akal tapi tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, perintah tersebut harus dipatuhi.

Contoh, perintah Imran untuk mencari senjata dengan cara apa pun baik itu mencuri atau pun merampas. Meskipun perintah tersebut bertentangan dengan akal sehat tapi tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah menurut Imran dan Jamaahnya maka perintah tersebut harus dilakukan oleh setiap jamaah (wawancara dengan Bapak Amar Jumardi, 3 Desember 2001).

Adanya sumpah setia atau bai’at ini, juga merupakan karakteristik dari jamaah Imran. Selain mengangkat Imran sebagai Imam, pertemuan itu juga dibentuk susunan kepengurusan jamaah (Struktur Organisasi Jamaah Imran 1980-1981).

Imam: Imran bin Muhammad Zein.

Pemuka Jakarta: Mahrizal, Salman, Lukman Syamra, Zulfikar.

Pemuka Bandung: Gunawan T., Amar Jumardi, Syamsurizal, Edi Ruswendi.

Pemuka Cimahi: Bachtar Ibrahim, A. Yani Wahid, Azhar Z., Abu Muslim.

Pemuka Mojokerto: M. Amin Umar.

Pemuka Surabaya: H. Hartono.

Pemuka Malang: H.M. Yusuf.

Pada hakikatnya struktur organisasi kelompok Imran hanya dibedakan antara yang memimpin yaitu Imran dan yang dipimpin yaitu para anggota jamaah (Emron Pangkapi, 1982:116).

Gerakan Imam Imran yang muncul pada pertengahan tahun1979, mengalami proses perkembangan yang cepat. Perkembangannya terlihat dari jumlah anggota jamaah yang dipimpin Imran dalam waktu relatif singkat telah mempunyai banyak anggota yang tersebar di Cimahi, Bandung, Jakarta, Mojokerto, Surabaya, dan Malang (Tempo, 9 Januari 1982)

Tahun 1979, jumlah jamaah 20 orang, tempat ceramah meliputi Mesjid Agung Cimahi, Mesjid ABRI Cimahi, Mesjid Istiqomah Bandung.

Tahun 1980, jumlah jamaah 190 orang, tempat ceramah meliputi Mesjid Agung Cimahi, Mesjid ABRI Cimahi, Mesjid Istiqomah Bandung, Mesjid Al-Ikhsan Pasar Rumput Jakarta, Mesjid Sungai Puar Sumatera Barat.

Tahun 1981, jumlah jamaah 200 orang, tempat ceramah meliputi Mesjid Agung Cimahi, Mesjid Istiqomah Bandung, Mesjid Al-Ikhsan Pasar Rumput Jakarta, Mesjid Sungai Puar Sumatera Barat, Mesjid-mesjid di Surabaya, Malang, dan Mojokerto.

Sebelum terjadi konflik dengan pemerintah, Imran juga pernah mengadakan kegiatan ceramahnya di Mesjid ABRI Cimahi karena ada beberapa anggota jamahnya yang berasal dari ABRI.

Ketidak-puasan terhadap pemerintah juga ditunjukkan oleh jamaah Imran dengan melontarkan kritikan yang menilai sikap pemerintah telah melakukan tekanan terhadap Umat Islam umumnya dan khususnya jamaah Imran dalam mewujudkan cita-cita untuk menerapkan hukum dan syari’at Islam yang bebas dari bid’ah dan khurafat.

Pada akhirnya ketidak-puasan Imran dan jamaahnya tidak pernah ditanggapi oleh pemerintah dan keinginan untuk merubah kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah pun tidak pernah dikabulkan, sehingga menimbulkan kontak fisik antara jamaah Imran dengan militer seperti penyerangan pos polisi Konsekta 8606 Cicendo dan pembajakan pesawat Garuda Woyla.

Peristiwa Cicendo dan Woyla

Sebelum terjadi peristiwa Cicendo, telah terjadi peristiwa Istiqomah yaitu penangkapan 44 pemuda Mesjid yang sedang melakukan kaderisasi santri Ramadhan serta pembubaran HIPMA dan IPI (Ikatan Pemuda Istiqomah) (wawancara dengan Bapak Budi Rahardjo, 24 Juni 2001). Hal ini menyebabkan jamaah Imran melakukan usaha percobaan pembunuhan terhadap dr. Syamsudin yang dianggap telah memecah jamaah Imran dan menyebarkan isu di masyarakat bahwa Imran adalah orang pemerintah yang bertujuan untuk merusak citra Islam, serta usaha penculikan terhadap ulama-ulama Jawa Barat, yang menyebabkan penahanan terhadap 44 pemuda masjid di Istiqomah.

Kebencian Imran dan jamaahnya bertambah ketika Imran mendapatkan informasi dari Mayor Jenderal Ishak Juarsa berupa fotokopi yang dikeluarkan oleh CSIS yang isinya adalah hasil pertemuan CSIS dengan DGI dan MAWI yang kini tengah mengusahakan untuk melindas umat Islam yang ada di pemerintahan dan semua umat Islam yang tidak dapat dipegang.

Hal ini juga dirasakan oleh Imran dan jamaahnya yang selalu diawasi jika mereka sedang melakukan kegiatan ceramah dan pengajian. Untuk itu Imran mengadakan pertemuan dengan semua pemuka jamaah, dalam pertemuan tersebut Imran memerintahkan salah satu pemuka jamaah untuk menyiapkan anggota berlatih bela diri sebagai usaha persiapan bila terjadi pertumpahan darah dengan pihak-pihak tertentu yang ingin melindas umat Islam.

Selain itu Imam Imran juga mmeberi titahnya agar setiap anggota jamaah yang sudah di-bai’at mengusahakan agar setiap anggota memiliki senjata, baik itu pistol ataupun senapan minimal satu buah (wawancara dengan Bapak Amar Jumardi, 3 Desember 2001). Cara mendapatkan senjata itu bisa dengan membeli atau merampas dari anggota ABRI yang sedang bertugas.

Salah seorang anggota jamaah yang bernama Haris alias Agus, juga mendapat perintah yang sama dari Imran. Suatu hari ia mendapat kesempatan untuk mengambil senjata dari Pusdikhub Cimahi yaitu Pusat Perhubungan TNI-AD yang pengamanannya tidak terlalu ketat. Kebetulan pada waktu itu petugas yang berjaga sedang tertidur lelap sehingga Haris tidak kesulitan untuk mengambil senjatanya.

Di dalam pos penjaga tersebut terdapat 4 buah senjata laras panjang, namun Haris hanya mengambilnya satu buah. Kemudian senjata ini diserahkan kepada pemuka jamaah Cimahi yaitu Salman Hafidz dan olehnya segera dilaporkan kepada Imran di Jakarta. Pagi itu, tanggal 18 Februari 1981, senjata pertama berhasil diperoleh anggota jamaah Imran dari Cimahi (Emron Pangkapi, 1982:62-63).

Selain dilaporkan kepada Imam Imran di Jakarta, senjata ini juga digunakan untuk latihan bongkar pasang senjata yang dilakukan di rumah Salman Hafidz. Maksud ini pun diutarakan kepada Najamudin yang cukup mahir menggunakan senjata Garand termasuk dapat dengan mudah memperoleh pelurunya karena ia seorang anggota ABRI.

Hampir semua anggota dari Cimahi diajarkan oleh Najamudin cara-cara menggunakan senjata Garand tersebut, bahkan jamaah dari Bandung Edy Ruswendi juga sempat diajarkan. Dalam waktu tidak lama sebagaian besar anggota jamaah Cimahi telah dapat menggunakan senjata. Jamaah Imran yang terkenal disiplin, tidak ada yang berani membocorkan rahasia penemuan senjata tersebut meskipun satuan intel dari Pusdikhub tengah mencari senjata laras panjangnya yang hilang.

Satu bulan kemudian, tepatnya di akhir pekan kedua bulan Maret 1981, salah seorang anggota bernama Anas melapor kepada Salman bahwa sepeda motornya ditahan polisi Konsekta 8606 Cicendo Bandung. Polisi menahan motor tersebut dan menyuruh mengambilnya nanti malam saja. Salman kemudian berunding dengan anggota jamaah yang lain, Najamudin yang juga menerima laporan tersebut secara spontan menyarankan agar hal itu tidak disia-siakan artinya dapat dimanfaatkan untuk mencari senjata. Malam itu juga 11 Maret 1981, telah didapatkan kata sepakat untuk menyerang kantor polisi Konsekta 8606/Cicendo, guna mendapatkan senjata dengan dalih mengambil sepeda motor yang ditahan.

Dalam penentuan keputusan itu, juga telah dipersiapkan sebuah mobil truk untuk mengangkut anggota jamaah sebanyak 14 orang yang akan menjadi pelaku penyerangan dan dipimpin oleh Salman. Anggota jamaah tersebut adalah Husein, Edy Ruswendi, Zaid, Thalhah, Ubaidillah, Zubair, Anas, Hasan, Yasir, Abdullah, Khalid, Usman Ali dan Ahmad Kuat. Khusus kepada Husein penembak mahir dari Cimahi, diserahi tugas membawa senjata Garand, sedangkan jamaah yang lain diharuskan menyiapkan diri dengan peralatan masing-masing. Ada yang membawa ring, rantai, pisau bahkan ada yang membawa pentungan serta ketapel.

Operasi ini berhasil mengambil satu buah pistol Colt 38. Sewaktu anggota jamaah sibuk dengan tugas masing-masing, Salman yang menjadi komandan itu tidak lupa pula mengeluarkan dokumen-dokumen yang ada di kantor polisi Cicendo. Kemudian dokumen-dokumen tersebut dibakarnya, dalam waktu yang bersamaan dari arah kota Bandung muncul sebuah motor yang langsung masuk ke halaman kantor polisi. Ternyata orang tersebut adalah seorang anggota polisi, Sersan kepala Suryana.

Pada saat itu juga Salman langsung memerintahkan Husein untuk membawa komandan piket ini ke dalam tahanan dan dikurung bersama tiga anak buahnya yaitu Bharatu Zul Iskandar, Bharada Andhi dan Sertu Suhendrik. Salman kemudian memerintahkan semua anggota jamaah untuk segera meninggalkan kantor polisi itu, namun dari dalam terdengar suara letusan senjata yang ditembakkan kepada salah seorang anggota polisi. Kemudian Salman masuk ke dalam dan untuk menghilangkan jejak Salman memerintahkan agar semua anggota polisi itu ditembak saja, setelah itu mereka segera meninggalkan tempat tersebut dengan truk yang dikendarai oleh Syofa menuju arah jalan Dago setelah melintasi jalan raya Siliwangi.

Tiga polisi tewas dalam tahanan sedang Serka Suryana tergeletak berlumuran darah dengan luka tembak di sebelah kanan paha. Malam itu juga Bandung dikejutkan oleh adanya peristiwa itu, siang harinya kasus ini juga beredar di kalangan masyarakat meskipun belum ada keterangan resmi dari pemerintah (Emron Pangkapi, 1982:65-68).

Sementara itu Imam Imran yang sedang berada di Jakarta sangat terkejut mendengar berita penyerangan pos polisi Konsekta 8606 Cicendo yang disampaikan oleh Husein dan Budi Rahardjo, jamaah yang terlibat dalam peristiwa tersebut sambil menyerahkan sebuah pistol Colt 38 yang diambil dari pos polisi.

Dari dialog di rumah Imam Imran di jalan Plafon Rawamangun itu, diperoleh kata sepakat, Imam mendukung penyerbuan yang sudah terjadi dan tidak mengutuk perbuatan itu. Tetapi Imam Imran minta diusahakan bagaimana cara untuk menyembunyikan kasus ini. Kemudian malam itu Imam memanggil Mahrizal dan Zulfikar, pemuka jamaah Jakarta untuk mencari jalan keluar dalam mengatasi kerusuhan yang sudah ditimbulkan anggota jamaah dari Bandung.

Hari keempat Minggu sore 15 Maret 1981 Imran menerima kabar dari salah seorang anggota jamaah yang berhasil lolos dari pengejaran polisi, ia melaporkan kepada Imam Imran bahwa beberapa anggota jamaah yang terlibat penyerbuan Konsekta 8606/Cicendo telah ditangkap pihak berwajib termasuk komandannya Salman Hafidz (Emron Pangkapi, 1982:71).

Pada awalnya pihak berwajib tidak mengetahui pelaku penyerangan pos polisi Cicendo tersebut, namun karena salah satu anggota jamaah yaitu Najamudin melaporkan peristiwa tersebut akhirnya anggota jamaah yang terlibat dalam penyerangan pos polisi Cicendo ditangkap oleh pihak berwajib (wawancara dengan Bapak Edi Ruswendi, 1 Juni 2001).

Di kemudian hari para anggota jamaah mengetahui bahwa Najamudin adalah seorang intel yang disusupkan oleh pemerintah untuk memata-matai dan melaporkan semua kegiatan yang dilakukan oleh jamaah Imran, termasuk melaporkan peristiwa penyerangan pos polisi Cicendo. Akibatnya Najamudin dibunuh oleh beberapa anggota jamaah karena dianggap sebagai pengkhianat.

Di rumah Imran di jalan Plafon, muncul ide untuk melakukan pembajakan pesawat dalam usaha membebaskan anggota jamaah yang tertangkap oleh pihak berwajib. Selain daripada itu, untuk menyelamatkan anggota Jamaah yang belum tertangkap Imam Imran memutuskan untuk segera hijrah dari Jakarta ke Jawa Timur (Emron Pangkapi, 1982:72-73).

Dalam pertemuannya di Lawang Jawa Timur, Imran menyampaikan keputusannya untuk melakukan pembajakan pesawat dan memperhatikan segala hal yang timbul jika benar-benar akan melakukan pembajakan pesawat termasuk masalah dana untuk membiayai pembajakan tersebut.

Setelah diperhitungkan, dana yang dibutuhkan untuk pembajakan pesawat tersebut adalah lima ratus ribu rupiah. Dana tersebut diperoleh dari hasil sumbangan para anggota yang dikumpulkan diantaranya dari Haji Yusuf salah satu anggota dari Surabaya sebesar dua ratus ribu rupiah, dari Ahmad Yani Wahid anggota jamaah dari Cimahi sebesar seratus ribu rupiah dan dari Zulfikar anggota jamaah dari Jakarta sebesar seratus ribu rupiah (Emron Pangkapi, 1982:150).

Kronologis Peristiwa Pembajakan Pesawat 

Hari minggu tanggal 22 Maret 1981, di sebuah rumah di Karang Tembok Surabaya diadakan pertemuan untuk membahas rencana pembajakan pesawat terbang guna mencari dana dan untuk membebaskan anggota jamaah yang ditahan karena peristiwa Cicendo. Imam tidak banyak berbicara pada awal pertemuan itu, kemudian ia menyerahkan kepada Mahrizal untuk membicarakannya serta mengatur strategi.

Sudah menjadi kebiasaan dalam organisasi ini, bila membicarakan suatu masalah selalu dengan cara demokratis. Namun karena pemimpin pembajakan ini adalah Mahrizal maka tentunya Mahrizal yang paling banyak membahas pendapat-pendapat para pemuka jamaah satu per satu.

Sampai tengah malam di Karang Tembok, diputuskan kesepakatan anggota jamaah untuk pembajakan pesawat itu. Kesimpulan dibacakan Mahrizal untuk segera dilaksanakan semua anggota jamaah yang akan terlibat dalam rencana pembajakan, bahwa pembajakan pesawat terbang adalah hal yang harus dilaksanakan sebagai satu-satunya jalan untuk membebaskan semua tahanan yang berkaitan dengan kasus Cicendo dan untuk membuka mata dunia luar bahwa di Indonesia, di bawah kepemimpinan Imran bin Muhammad Zein telah ada usaha dari sekelompok pemuda Islam untuk membela keyakinannya.

Untuk mencapai tujuan itu, jamaah telah bertekad untuk membajak pesawat terbang milik perusahaan negara Garuda Indonesian Airways. Rapat juga menyepakati pesawat yang dibajak haruslah jenis DC-9 yang melayani penerbangan domestik jurusan Jakarta-Palembang-Medan. Pertimbangannya agar pesawat itu lebih mudah dialihkan ke luar negeri karena mempunyai tabung bahan bakar yang cukup untuk penerbangan jarak jauh. Sedangkan rute penerbangan Jakarta-Palembang-Medan untuk memudahkan para pembajak naik di dalam pesawat tanpa rintangan yang berarti (Tempo, 9 Januari 1982).

Para pembajak tidak naik dari Jakarta tapi dari Pelambang yang kemungkinan penjagaannya tidak terlalu ketat serta mempermudah masuknya barang-barang yang akan digunakan sebagai senjata untuk menaklukkan pilot, seperti pistol, granat tangan dan bahan peledak.

Rapat juga memutuskan tuntutan kepada pemerintah Republik Indonesia, pertama, membebaskan semua tahanan politik yang terlibat dalam kasus penyerbuan pos polisi Konsekta 8606/Cicendo. Kedua, menuntut pemerintah Indonesia untuk menyediakan uang tunai sebesar US$ 2.500.000. Ketiga, menuntut diberikannya sebuah pesawat untuk mengangkut para anggota jamaah dan tahanan politik untuk suatu tujuan yang belum ditentukan.

Selain dari pada itu, rapat juga menentukan pesawat yang akan dibajak harus dialihkan dari rute penerbangan Jakarta-Palembang-Medan menjadi Jakarta-Palembang kemudian ke luar negeri. Untuk tujuan luar negeri ditetapkan pelabuhan udara internasional Kolombo (Srilanka) sebagai tujuan utama untuk pembicaraan dengan pemerintah Indonesia. Bila ternyata pemerintah Srilanka menolak pesawat yang dibajak itu mendarat di Kolombo, maka harus segera dialihkan ke suatu negara netral di luar ASEAN. Tujuan akhir adalah penerbangan ke Libya atau Syiria, apabila semua permintaan telah dipenuhi oleh pemerintah Indonesia, termasuk para tahanan yang jumlahnya mendekati 100 orang (P. Bambang Siswoyo, 1981:20).

Pembajakan akan dilakukan oleh lima orang anggota jamaah yang dipimpin langsung oleh Mahrizal dengan anggota-anggotanya Abdullah Mulyono, Abu Sofian, Zulfikar dan Wemdy adik kandung Imran (Tempo, 9 Januari 1982).

Mengenai sarana penunjang, Mahrizal langsung meminta persetujuan Imran untuk membicarakannya secara langsung. Pertama, harus mencari seorang anak kecil yang akan ditugaskan membawa semua senjata untuk membajak dari Jakarta ke Palembang. Kedua, dana unuk modal dasar pembajakn itu termasuk dana untuk kepentingan suaka politik para pembajak minimal Rp 10 juta. Khusus untuk dana ini telah ada kesanggupan dari Haji Yusuf untuk menanggungnya secara keseluruhan tanpa harus meminta bantuan anggota jamaah yang lain.

Keesokan harinya tanggal 23 Maret 1981, Imran memerintahkan Ahmad Yani Wahid untuk mencari seorang anggota baru yang usianya muda. Anggota ini akan digunakan dalam rencana pembajakan pesawat tersebut, yakni untuk mengangkut perlengkapan senjata calon pembajak dari Jakarta ke Palembang. Sebab bila orang dewasa yang mebawanya akan mengundang kecurigaan pihak berwajib. Pada saat itu juga Yani Wahid sudah kembali ke rumah tinggal Haji Yusuf, tempat Imran menginap dengan membawa seorang anggota jamaah baru. Seorang anak berusia 17 tahun, masih duduk di kelas dua SLTA di Surabaya namanya Ma’ruf kelahiran Jombang Surabaya.

Pembaiatan Ma’ruf oleh anggota jamaah yang ikut dalam rapat memang mempunyai unsur strategis dalam rencana pembajakan pesawat, sebab peranan Ma’ruf sangat penting. Tugas itu adalah sangat tepat dipercayakan kepada anak tersebut, tentunya sebagai usaha untuk mengelabui pihak berwajib. Selasa malam 24 Maret 1981, Imam Imran dengan rombongannya kembali ke Jakarta. Sebelum berangkat ke Jakarta, Imran berkesempatan untuk melihat istrinya yang berada di rumah Haji Yusuf (Emron Pangkapi, 1982:93-94).

Setibanya di Jakarta, mereka mengadakan pertemuan di Jalan Plafon Rawamangun untuk melepas keberangkatan para jamaah yang akan membajak. Bus yang mereka tumpangi meninggalkan Jakarta menuju ke arah Merak dengan melewati Tangerang, Serang dan Cilegon. Pada tengah malam rombongan itu sampai di Merak, dari sana mereka menuju pulau Sumatera dengan menumpang kapal Ferry dari Merak. Pada tanggal 28 Maret 1981, rombongan yang telah memesan lima tiket pesawat jurusan Medan meningalkan hotel menuju lapangan terbang Talang Betutu Palembang, kemudian Yani Wahid dan Ma’ruf kembali ke Jakarta melalui rute perjalanan yang sama.

Aksi pembajakan pesawat tersebut diketahui pertama kali di udara sekitar jam 10.18 oleh Kapten Pilot A. Sapari di kokpit F-28 milik Garuda yang terbang beberapa puluh menit yang lalu dari Pekanbaru, melihat sebuah DC-9 dari jurusan Palembang. Ia mengetahui pilot pesawat tersebut, Kapten Herman Rante dengan pesawat nomor 206. Tidak seperti biasanya Herman Rante menaikkan pesawatnya di bawah ketinggian 25 ribu kaki dan saat kontak percakapan mereka, Sapari mendengar suara Rante gugup. Sapari menyadari bahwa pesawat terbang Rante dibajak, setelah mengetahui hal itu Sapari langsung menghubungi menara pengawas di bandar udara Kemayoran dan kantor Garuda. Dari sinilah pesawat nomor 206 mulai dijejaki arahnya.

Sekitar pukul 11.00 Kapten Herman Rante menghubungi bandar udara di Bayan Lepas Thailand, pada waktu itu pesawat nomor 206 sudah berada 140 mil dari Penang Malaysia. Herman menyampaikan dengan jelas bahwa pesawat sedang dibajak dan ia meminta untuk mendarat. Pukul 12.00 perundingan dengan pembajak dimulai, tapi prosedurnya agak unik: para pembajak hanya berbicara melalui Kapten Herman Rante yang diminta untuk berhubungan dengan pejabat Garuda bukan pejabat pemerintah setempat. Para pejabat keamanan di Indonesia pada saat itu sebenarnya menghendaki agar pesawat yang dibajak bisa ditahan lebih lama di Penang, tapi hubungan antara Indonesia dan Malaysia nampaknya tidak begitu lancar.

Keinginan untuk menahan pesawat yang dibajak lebih lama di Penang, tidak berhasil karena terlambat. Namun pemerintah sudah bisa menarik beberapa kesimpulan, pesawat tinggal landas dari Bayan Lepas pada pukul 16.05. Jakarta maupun Kualalumpur sudah mempunyai beberapa informasi kuat. Pihak intelejen Indonesia pun sudah mengetahui identitas para pembajak ketika pada pukul 17.20 pesawat garuda nomor 206 itu mendarat di lapangan terbang militer Muangthai Don Muang setelah ditolak untuk mendarat di Kolombo, Srilanka dan Madras India. Nama-nama mereka yang tercatat dalam daftar penumpang di Palembang segera dicocokkan dengan daftar orang-orang yang selama ini dicurigai, terutama setelah peristiwa penyerangan pos polisi di Bandung. Hal itu diperkuat oleh hasil pencarian jejak di Palembang.

Duta Besar RI di Muangthai yang telah memonitor berita di Penang, sudah siap di DonMuang bahkan sebelum pesawat mendarat, maka komunikasi pun berlangsung (Kompas, 31 Maret 1981). Kini yang berbicara lewat radio bukanlah Herman Rante melainkan salah seorang pembajak yang menjadi pemimpin yaitu Mahrizal. Para pembajak segera mengeluarkan tuntutan. Tuntutan pertama, sebanyak 80 orang tahanan yang disebut sebagai tahanan politik harus dibebaskan khususnya yang berkaitan dengan penyerangan pos polisi di Bandung. Para tahanan itu agar dikirim ke luar negeri, tapi tujuannya tidak disebutkan.

Mengenai peristiwa ini Bambang Siswoyo dalam bukunya Drama Pembajakan Pesawat (1981), mengemukakan: peristiwa ini betul-betul mengagetkan rakyat Indonesia khususnya dan dunia umumnya. Fokus perhatian dunia ditujukan kepada para pelaku pembajakan yang menganut agama Islam, berbagai istilah dilontarkan seperti Gerakan Sempalan Islam atau Islam Fudamentalis. Setelah pemerintah mengetahui pembajakan pesawat tersebut, segera dibentuk Pasukan Khusus Anti Teror dibawah pimpinan Jenderal Yoga Sugomo sebagai kepala BAKIN.

Dalam hal ini ia berkepentingan untuk mengamankan kekuasaan pemerintah di bawah Presiden Soeharto, untuk itu peranannya dituntut dalam melaporkan segala kejadian di masyarakat dan menjelaskan keterkaitan antara gerakan Imam Imran dan jamaahnya dengan kelangsungan dan kestabilan negara (B. Wiwoho B. Chaerudin, 1990:306-314).

Sekitar 100 orang pasukan gabungan Indonesia dan Thailand, dini hari 31 Maret 1981 menyerbu pesawat Garuda yang dibajak di Don Muang Bangkok. Sebagian pasukan menyerbu dari tangga depan, sebagian dari pintu belakang pesawat dan selebihnya mengepung di luar pesawat.

Setelah tiga menit terjadi tembak menembak antara pembajak dengan pasukan gabungan pemerintah, lima orang pembajak, satu orang pasukan Komando dan satu orang pilot meninggal dunia di tempat itu juga, selain daripada itu sepuluh orang terdiri dari awak pesawat, seorang pasukan komando Indonesia dan selebihnya penumpang mengalami luka-luka (Tempo, 4 April 1981).

Dampak Gerakan Imran Bagi Umat Islam

Pembajakan pesawat Garuda yang merupakan puncak aksi dari gerakan Imran dan jamaahnya menyebabkan terpecahnya kelompok Imran tersebut. Setelah peristiwa itu pemerintah langsung menangkap orang-orang yang tergabung dalam kelompok Imran, meksipun tidak semua anggota jamaah ditangkap namun pemerintah tetap mengawasi gerak-gerik anggota jamaah yang tidak ditangkap tersebut.

Sebagai pusat kegiatan jamaah Imran, kota Cimahi sangat merasakan dampaknya. Jika sebelumnya masyarakat Cimahi tidak pernah dicekam rasa takut, maka setelah peristiwa Cicendo dan pembajakan pesawat, kota Cimahi bagaikan kota mati, karena pemerintah mengumumkan bahwa kota Cimahi berada dalam keadaan siaga satu. Untuk sesaat masyarakat Cimahi diliputi perasaan gelisah dan takut (wawancara dengan Bapak Amar Jumardi, 3 Desember 2001).

Sedangkan bagi umat Islam sendiri, gerakan Imam Imran dan jamaahnya ini menimbulkan beberapa akibat, diantaranya, gerakan Imam Imran menyebabkan trauma bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia, mereka menganggap gerakan ini sebagai gerakan ekstrim dan telah merusak citra Islam.

Lebih dari itu, Imran disebutkan sebagai orang bayaran yang sengaja diciptakan oleh pemerintah untuk merusak citra Islam, meskipun isu tersebut tidak benar. Munculnya isu bahwa Imran adalah orang pemerintah, disebabkan karena Imran pernah menjadi Preman Medan dan juga pernah menjadi anggota Pemuda Pancasila, sehingga masyarakat tidak mempercayai gerakan yang dilakukan oleh Imran dan jamaahnya benar-benar bertujuan Islam (wawancara dengan Bapak Ahmad Yani, 12 Juni 2001).

Di sisi lain gerakan Imam Imran dan jamaahnya ini secara tidak langsung telah menyebabkan munculnya gerakan-gerakan Islam lain, akibat sikap pemerintah yang selalu menekan umat Islam. Mereka ingin membuktikan bahwa Islam bukan hanya ritualitas agama saja tapi juga mempunyai kekuatan untuk ideologi Islamnya di percaturan politik (wawancara dengan Bapak Budi Raharjo, 24 Juni 2001).

Dalam menghadapi dinamika politik seperti itu, posisi umat Islam memang tidak mudah. Perjuangan umat Islam untuk menegakkan demokrasi, menghapus kesenjangan sosial, menghapus praktek-praktek monopoli dan oligopoli, memberantas korupsi dan kolusi, memperjuangkan persamaan hak seluruh warga negara di hadapan hukum dan pemerintah serta terwujudnya kebenaran, keadilan dan kemerdekaan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat baik lisan ataupun tulisan, tentu dan pasti harus tetap menjadi perjuangan umat Islam. Yang perlu ditelaah dan dipelajari dengan sungguh-sungguh adalah strategi perjuangannya, agar perjuangan umat Islam tersebut tidak dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu yang ingin merusak citra agama Islam dan umatnya (wawancara dengan Bapak Rusyad Nurdin, 25 Juni 2001).

Salah satu strategi perjuangan yang perlu diperbaharui adalah pentingnya keluasan ilmu dan pengalaman yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang tidak hanya mengandalkan unsur kharismatik saja serta perlunya pembinaan dari para ulama (wawancara dengan Bapak Edi Ruswendi, 1 Juni 2001).

Sumber:

Dikutip tidak utuh dari Skripsi karya Hana Handayani (970950) Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, berjudul Gerakan Imam Imran (Konflik Jamaah Pimpinan Imran Dengan Pemerintahan Soeharto), khususnya dari Bab IV.

***

Ada apa sebenarnya?

Bila dicermati dengan kacamata yang bening, hampir setiap yang berbau kekerasan dan bila pelakunya Ummat Islam, maka jarang dilihat penyebabnya. Bahkan penyebab langsungnya pun tidak dimasalahkan, biasanya. (Dan lebih buruk lagi bila direkayasa, misalnya, ya tentunya tidak mungkin untuk disalahkan penyebabnya, karena memang sudah direkayasa).

Dalam kasus yang dibicarakan ini, tampaknya tidak ada arah yang mempersoalkan masalah ini:

Walikota Cimahi tidak saja membubarkan HIPMA, tetapi menyegel pula kantor HIPMA di Mesjid itu. Pengamanan diserahkan kepada pihak berwajib, dan pemuda-pemuda HIPMA yang aktif sejak tahun 1978 kehilangan tempat untuk menyalurkan aktivitas keagamaan.

Kemudian setelah ada gejolak akibat dari hal tersebut, tidak ditoleh penyebab tersebut, dan langsung saja yang dikenai cap, biasanya adalah Islamnya. Sehingga secara langsung atau tidak langsung, dihindarilah apa-apa yang menuju kepada pengamalan Islam. Kalau misalnya sekolah ke Timur Tengah itu diperkirakan akan ada pengaruhnya untuk mengamalkan Islam, maka dihindarilah… hingga dikerahkan secara ramai-ramai untuk menyekolahkan “Islam” namun ke negeri-negari kafir di Barat. Agar ketika pulang, mereka tidak mengamalkan Islam, namun suntikan kekafiran yang dimasukkan ke “Islam” itulah yang diamalkan, yakni yang kini dikenal dengan Islam liberal, bahkan pluralisme agama alias kemusyrikan baru, karena menyamakan Islam dengan keyakinan-keyakinan lain yakni kemusyrikan dan kekafiran.

Terbukti, setelah ada kasus yang diceritakan ini tadi, langsung Indonesia secara besar-besaran di bawah Menteri Agama Munawir Sjadzali 1983-1993 mengirimkan para dosen perguruan tinggi Islam IAIN (kini sebagian jadi UIN) se-Indonesia ke negeri-negeri Kafir di Barat termasuk ke Australia untuk belajar “Islam” kepada lembaga-lembaga milik orang kafir. Ketika mereka pulang ke Indonesia, lalu berpendapat yang sangat bertentangan dengan Islam. Ada yang mengatakan, Iblis masuk surga dan surganya tertinggi, ada yang memasarkan hermeneutic untuk menafsiri Al-Qur’an yang ujungnya menganggap bahwa Al-Qur’an itu produk budaya;  dan pendapat-pendapat lainnya yang membahayakan Islam. (lihat UIN – IAIN Berkiblat ke Barat, menyebarkan Virus Perusak Iman  20 July 2012 | Filed under: Aliran Sesat,Dunia Islam,Featured,Indonesia,Sepilis,Tokoh | Posted by:nahimunkar.com

https://www.nahimunkar.org/16401/uin-iain-berkiblat-ke-barat-menyebarkan-virus-perusak-iman/ )

Demikian pula, walau pelaku kekerasan itu memusuhi Islam, kalau masih bisa mengaku Islam, maka yang terkena juga Islamnya. Hingga walau ada peristiwa, pelaku rentetan kekerasan terbukti orang-orang Syi’ah (yang sejatinya Syi’ah itu memusuhi Islam) seperti kasus pemboman Borobudur dan lainnya (lihat judul Syi’ah dan rangkaian kasus peledakan di Indonesia https://www.nahimunkar.org/11471/syiah-dan-rangkaian-kasus-peledakan-di-indonesia/ ) namun kemudian Islam juga yang terkena. Bukan aliran sesat syi’ah dan negeri sumbernya yang dikenai stigma. Sehingga walau rentetan kasus kekerasan dilakukan orang syiah, di Indonesia maupun di dunia, namun kenyataannya, pengiriman mahasiswa Indonesia ke negeri aliran sesat Syi’ah yakni Iran kini kemungkinan lebih banyak dibanding jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Timur Tengah secara keseluruhan.

Ada apa sebenarnya?

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.240 kali, 5 untuk hari ini)