• Polisi sudah menjaga acara-acara sesat Asyura Syiah, malah pentolan Syiah menuduh polisi tidak adil.
  • Syiah dinilai akan mengguncang NKRI
  • Umat Islam sudah disikapi oleh Syiah dengan kebencian dan pembangkitan dendam lewat acara Asyuro, malah Syiah menuduh Umat Islam intoleran.

Demi membela acara Asyura Syiah (yang membangkitkan dendam terhadap Islam), Jalaluddin Rakhmat pentolan Syiah IJABI  dan isterinya Emilia Az menyemprotkan suara sengit (geram) untuk polisi, dan Umat Islam.

Sebelumnya telah diberitakan, acara Asyura Syiah diprotes Umat Islam di berbagai daerah. Di Jakarta,  beberapa organisasi Islam dari Aliansi Sunnah untuk kehormatan Keluarga dan Sahabat Nabi berkumpul di Balai Samudra, Jalan Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Mereka berniat membubarkan acara kaum Syiah yang melakukan ritual Asyura. 14/11/2013.

Kenapa Umat Islam Menolak Acara Asyura Syiah?

Acara-acara Syiah agar dibubarkan, karena Syiah berkeyakinan pentingnya  mencaci sahabat Nabi. Keyakinan yang dipraktekkan Syiah dalam acara-acaranya  itu jelas menodai agama dan melanggar UU No 1 PNPS/69 KUHAP Pasal 165A tentang Penodaan Agama. Sehingga acara Asyura yang sedianya dilangsungkan di Surabaya Rabu 13 November 2013 telah dibatalkan dan tidak diberi izin oleh Polres Surabaya. (Langgar UU Penodaan Agama, Perayaan Asyuro Ditolak Polres Surabaya https://www.nahimunkar.org/langgar-uu-penodaan-agama-perayaan-asyuro-ditolak-polres-surabaya/ )

Apa sebenarnya Ritual Asyura Syiah itu?

Tidak lain adalah untuk semakin menanamkan dan menyalakan dendam kesumat dalam setiap dada kaum Syiah terhadap Ahlus Sunnah wal Jamaah, dengan dalih guna membalaskan penderitaan Al-Husein.

Hal itu  dapat disimak kesaksian Perwakilan dari LPPI Makassar dalam pertemuan di  ruang aula Polrestabes Makassar. 13 November 2013, dia mengatakan, “Setahun yang lalu saya hadir dalam acara Asyuro Syiah di Graha Pena Fajar (Makassar), dan memang betul, tujuan utama mereka adalah untuk membacakan narasi Maqtal (pembunuhan) Imam Husein untuk semakin menanamkan dan menyalakan dendam kesumat dalam setiap dada kaum Syiah guna membalaskan penderitaan Al-Husein kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah. Solusinya adalah kembali pada Fatwa MUI tahun 1984, untuk mewaspadai masuknya Syiah. Itu adalah warning!, fatwa ini sendiri lahir karena ada oknum Syiah yang mengebom Candi Borobudur pada waktu itu, ” seperti dilansir lppimakassar.com.

Sekalipun acara Asyura Syiah itu seharusnya diberantas karena akan menimbulkan konflik akibat sikap permusuhan terhadap Islam, namun sebagian masih dapat dilangsungkan oleh Syiah karena dijaga ketat oleh polisi dan militer dilengkapi dengan peralatannya. Meski demikian, justru syiah tampak nglunjak sambil pentolannya bersuara sengit , bukan hanya terhadap Umat Islam namun bahkan kepada polisi, yang dapat dimaknakan semprotan sengit itu sasarannya adalah pemerintah.

Inilah suara sengit Jalaluddin Rakhmat dalam berita.

***

 

 

Jalaluddin Rakhmat : Kalangan Syiah Akan Melapor ke Komnas HAM

Jakarta (voa-islam.com) Tak senang atas aksi penolakan berbagai kalangan di berbagai tempat terhadap Syiah, maka Organisasi Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (Ijabi) akan melapor ke Komnas HAM dan Menko Polhukam terkait pembubaran paksa peringatan hari Asyura di beberapa daerah.

Ketua Dewan Syuro Ijabi, Jalaluddin Rakhmat, mengatakan pihaknya saat ini sedang menyusun laporan dan rencananya akan disampaikan ke Komnas HAM Senin (18/11) pekan depan.

“Ini terkait peringatan Asyura di Bandung, artinya kita sudah mengikuti seluruh prosedur dan Kapolsek sudah menyatakan tidak keberatan, tetapi ternyata dipermasalahkan dan terpaksa pindah,” kata Jalaluddin kepada wartawan di Jakarta.

“Daerah lain seperti di Jakarta diserbu di saat-saat akhir acara, di Makassar juga diserbu dengan kelompok bersenjata tajam. Polisi datang terlambat walau ancaman sudah diketahui polisi sebelumnya, sehingga jatuh korban luka-luka.”

Khusus di Bandung, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Polrestabes Bandung tidak mengizinkan acara itu digelar di Gedung Istana Kana, karena perizinan dari penyelenggara dianggap tidak lengkap. Penyelenggara akhirnya memutuskan memindah lokasi ke SMA Muthahari milik Jalaludin Rakhmat.

Melanggar Kebebasan

Sejumlah aksi penolakan ini disoroti sebagai pelanggaran atas kebebasan berkumpul dan berserikat di Indonesia.

Emilia Az salah satu pegiat organisasi Islam Syiah di Bandung mengatakan peringatan Asyura yang dilakukan rutin di tahun-tahun sebelumnya belum pernah mengalami kendala seperti tahun ini. Kepolisian dinilai lebih berpihak pada kelompok intoleran dibanding melindungi kaum minoritas.

“Saya heran, kita sebagai warga negara punya hak yang sama, tetapi kenapa mereka boleh beribadah kita tidak boleh. Harusnya polisi juga adil melindungi hak warga negera,” katanya.

Menjawab tuduhan ini, Kabid Humas Polda Jabar AKBP Martinus Sitompul mengatakan peringatan Asyura di Bandung tidak bisa dilakukan di tempat semula karena masalah izin lokasi saja.

Dia membantah anggapan bahwa kepolisian sengaja menekan kelompok minoritas. Kepolisian malah melindungi acara yang akhirnya berlangsung di SMA Muthahari denganmenurunkan 150 personil setelah mendengar adanya ancaman dari kelompok-kelompok tertentu.

“Kegiatan seperti itu pasti kita bantu, tidak ada kami melarang, buktinya kegiatan berlangsung, hanya tempatnya saja yang berubah karena memang pemilik gedung tidak mengeluarkan surat izin untuk acara itu,” katanya.

Sementara itu, kalangan Kristen melaporkan adanya pelanggaran ham terhadap kelompok minoritas di Indonesia kepada Lembaga HAM Internasional dibawah PBB. Kalangan Kristen juga mengkritik Presiden SBY yang mendapatkan penghargaan dari PBB, sebagai pemimpin yang berhasil menciptakan kerukunan umat beragama dan toleransi.

Di Sidoardjo, terdapat seorang pendeta yang melakukan pendampingan kepada para pengungsi Syiah Sampang. Pendeta itu memberikan advokasi dan pemberian gambaran tentang hak-hak dasar manusia, dan sementara harian Kompas,  terus menyuarakan perlunya rekonsiliasi.

Syiah, seperti minoritas lainnya, ketika masih kecil akan bertaqiyah, dan kalau sudah kuat akan membunuhi Sunni, seperti yang terjadi di Suriah, Lebanon, Irak, Iran, Bahrain, dan Yaman. af/hh. Sabtu, 16 Nov 2013

***

Di Puger Jember Jawa Timur, syiah juga membacok orang Islam bahkan belakangan syiah membunuh orang Muslim yang jadi saksi kunci pembacokan oleh syuiah itu.

 Tahun Lalu Syiah di Puger Jember Membacok, Kini Membunuh

JUMAT, SEPTEMBER 20, 2013  LPPI MAKASSAR

Tahun lalu Syiah Puger Jember Jawa Timur membacok orang Muslim. Kini lebih brutal lagi yakni membunuh. Yang dibacok kepalanya tahun kemarin, kini dibunuh oleh Syiah.

Inilah beritanya.

***

Bentrok SARA di Jember

NU Jember: Tahun Lalu Eko pernah Dapat Serangan di Kepala

SunnEko menjadi sasaran karena ia adalah salah satu saksi kunci pada bentrokan tahun lalu

Hidayatullah.com—Ketua Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Jember Agus Mudhofir mengatakan, kasus bentrok yang  melibatkan warga Sunni (NU) dengan kelompok yang diduga penganut Syiah di Puger sudah berlangsung lama.

“Kasus ini sudah lama terjadi. Kasus yang akhirnya telah menelan korban jiwa ini masuk kasus ketiga, “ demikian disampaikan Mudhofir, kepada hidayatullah.com, Kamis (12/09/2013).

Tahun lalu, menurut Mudhofir, Eko Mardianto sudah pernah terluka di bagian kepala akibat sabetan senjata tajam.

“Tahun lalu saudara Eko mendapat jahitan delapan di bagian wajah, “ tambahnya.

Selain Eko, dua warga lain juga termasuk menjadi korban penganiayaan. Mereka adalah  pengajian Nurul Mustofa Ustad Fauzi dan Haji Satuki.  Bahkan kasus ini sudah diselesaikan pada pengadilan di mana dalam berkas perkara tersangka telah dijatuhi hukuman 8 bulan percobaan oleh pengadilan Negeri Jember.

Sementara itu, Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin yang juga Wakil Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember mengatakan, Eko (yang telah menjadi korban pada hari Rabu) adalah saksi kunci pada bentrok tahun lalu.

“Saya khawatir, Eko menjadi sasaran karena ia adalah salah satu saksi kunci pada bentrokan tahun lalu, “ujar nya. “Tapi dugaan saya bisa salah bisa benar,” lanjut pria yang akrab dipanggil Gus Aab ini.

Menurut  Gus Aab  saat ini,  semuanya sudah diserahkan pada aparat kepolisian agar segera diselidiki dan pelakunya dihukum. Saat ini PCNU dan MUI berkosentrasi pada pemakaman korban agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. https://www.nahimunkar.org/tahun-lalu-syiah-puger-jember-membacok-kini-membunuh/

***

Syiah dinilai akan mengguncang NKRI

Peristiwa Syiah membunuh Musim di Jember tersebut  dan peristiwa lainnya seperti kasus Sampang dan sebagainya, menjadikan adanya kesimpulan, di mana ada Syiah di situ ada konflik, bahkan sampai ke tingkat Negara.

Sebagaimana telh diberitakan saat menjelang acara asyura di Makassar: – Perhelatan sesat menyesatkan Asyuro rencananya akan digelar IJABI di Balai Manunggal Makassar Rabu (13/11/2013) pukul 19.30 s/d 23.00 WITA.

Komponen Muspida Kota Makassar terdiri dari Kesbangpol, Kapolrestabes, Kapolsek se Makassar, Kodim dan Kajari serta elemen umat Islam dari MUI, Muhammadiyah, Wahdah Islamiyah, LPPI Makassar, FPI, HTI, FKUB, dan lain sebagainya berkoordinasi untuk menyikapi acara tersebut di ruang aula Polrestabes Makassar.

Pada intinya yang hadir pada rapat koordinasi itu  sepakat bahwa Syiah ini masuk di sebuah negara untuk melakukan pemberontakan dan revolusi. Mungkin sekarang saat ini mereka masih berupa organisasi-organisasi biasa, namun kedepannya tak menutup kemungkinan mereka akan menjadi milisi militer seperti Hizbullah yang saat ini di Lebanon yang akan mengguncang NKRI.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 7.469 kali, 1 untuk hari ini)