Ilustrasi: Gerhana bulan total di Pieta, Malta, 1 Januari 2018. – Reuters

SURABAYA – Warga diimbau melaksanakan salat gerhana bulan atau salat khusuf sekaitan kemungkinan terjadinya gerhana bulan total pada Sabtu, 28 Juli 2018.

“Kami imbau warga Muhammadiyah melaksanakan salat gerhana saat terjadi gerhana bulan,” ujar Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim Nadjib Hamid kepada wartawan di Surabaya, Rabu (25/7/2018).

Imbauan salat gerhana juga disampaikan Majelis Tarjih dan Tajid Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Maklumat bernomor No 02/MLM/L1/2018 tertanggal 21 Juli 2018.

Dalam maklumat tersebut juga dijelaskan secara terperinci fenomena gerhana sebagian pada pukul 01.24 WIB, disusul gerhana total terjadi mulai pukul 02.30 WIB.

Kemudian, puncak gerhana total pada pukul 03.22 WIB, lalu gerhana bulan berakhir pada pukul 04.13 WIB, serta gerhana sebagian berakhir pukul 05.19 WIB.

Selain mengimbau dilaksanakannya salat gerhana, dalam maklumat tersebut juga dituliskan bahwa pimpinan dan warga Muhammadiyah melakukan pengamatan gerhana bulan menggunakan alat yang dimiliki.

“Setelah salat, dipersilakan untuk mengamati gerhana bulan, mulai gerhana bulan sebagian hingga gerhana bulan total,” kata Nadjib Hamid.

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di laman bmkg.go.id, pada tahun 2018 ini gerhana bulan terjadi pada 31 Januari yaitu gerhana bulan total, dan pada 28 Juli 2018 juga akan terjadi gerhana bulan total.

Gerhana bulan adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya matahari oleh bumi sehingga tidak semuanya sampai ke bulan serta merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi matahari, bumi, dan bulan. Hal ini hanya terjadi pada saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya.

Cara Salat Gerhana

Seperti diberitakan Tempo.co, Rabu, 31 Januari 2018, berdasarkan Keputusan Mu’tamar Tarjih XX Muhammadiyah di Garut 1396 H/1976 M dan ditanfidzkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan untuk melaksanakan shalat khusuf, yaitu:

  • Apabila terjadi gerhana matahari atau bulan, hendaknya imam menyuruh orang menyerukan “Ash-Shalatu Jamiah”. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist : “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw, beliau menyuruh orang menyerukan Ash-Shalatu Jamiah, lalu beliau maju mengerjakan salat empat kali ruku dalam dua rakaat dan empat kali sujud.” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad, lafadz al-Bukhari dari Aisyah ra)
  • Kemudian, imam memimpin orang banyak mengerjakan salat dua rakaat, pada tiap rakaat berdiri dua kali, ruku dua kali, dan sujud dua kali, serta pada tiap rakaat membaca Fatihah dan surat yang panjang dengan suara nyaring, dan pada tiap ruku dan sujud membaca tasbih lama-lama. Berdasarkan dalil yang artinya “Pada salat gerhana Nabi saw menyaringkan bacaannya. Dan dikerjakannya empat kali ruku dalam dua rakaat serta empat kali sujud.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, lafadz Muslim dari Aisyah ra.)
  • Setelah selesai salat ketika orang-orang masih tetap duduk, imam berdiri menyampaikan peringatan dan mengingatkan mereka akan tanda-tanda kebesaran Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist yang artinya: “Pada masa hidup Rasulullah saw pernah terjadi gerhana matahari, lalu beliau keluar ke masjid, kemudian beliau bertakbir sedangkan orang banyak ikut bersaf-saf di belakangnya. Lalu beliau membaca bacaan panjang-panjang kemudian bertakbir untuk ruku lama sekali, kemudian mengangkat kepalanya lalu mengucapkan ‘Sami’allahu liman hamidah, Rabbana wa lakalhamdu’, kemudian beliau berdiri lalu membaca bacaan panjang-panjang tetapi lebih pendek dari yang pertama kemudian bertakbir untuk ruku lama sekali tetapi lebih sebentar dari yang pertama, lalu mengucapkan ‘Sami’allahu liman hamidah, Rabbana wa lakalhamdu, kemudian sujud. Kemudian pada rakaat kedua beliau kerjakan seperti itu, sehingga seluruhnya merupakan empat kali ruku dan empat kali sujud. Dan matahari lalu nampak terang sebelum shalat selesai. Kemudian beliau bangkit berkhutbah dengan menyampaikan puji kepada Allah sebagaimana mestinya dan beliau mengatakan: Matahari dan bulan keduanya adalah tanda kebesaran Allah Yang Maha Mulia, gerhananya bukan disebabkan mati dan lahirnya seseorang. Dan jika kamu menyaksikan hal itu maka segeralah shalat.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Aisyah ra.)

Sumber : Antara/Tempo.co / http://industri.bisnis.com

***

Bagaimana Anjuran Khutbah pada Shalat Gerhana?

KHUTBAH dikenal dalam beberapa pelaksanaan shalat sunah seperti shalat Jumat, shalat Idul fitri, dan shalat idul Adha. Demikian juga dengan shalat gerhana.

Hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, menceritakan khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, matahari mulai terlihat. Lalu beliau berkhutbah kepada para sahabat. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya. Lalu beliau menyampaikan,

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda kekuasaan Allah, tidak mengalami gerhana karena kematian orang besar atau karena kelahiran calon orang besar. Jika kalian melihat peristiwa gerhana, perbanyak berdoa kepada Allah, perbanyak takbir, kerjakan shalat, dan perbanyak sedekah.

Lalu beliau mengatakan,

Wahai ummat Muhammad, demi Allah, tidak ada dzat yang lebih pencemburu dari pada Allah, melebihi cemburunya kalian ketika budak lelaki dan budak perempuan kalian berzina. Wahai Ummat Muhammad, demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku tahu, kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. (HR. Bukhari 1044 & Muslim 2127).

Pada pelaksanaan shalat gerhana juga dikenal syariat terkait khutbah. Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai hukum khutbah shalat gerhana.

Pendapat pertama menyebut, khutbah tersebut dianjurkan. Ini merupakan pendapat Imam as-Syafii dan salah satu pendapat Imam Ahmad.

An-Nawawi ketika menyebutkan pendapat yang menganjurkan khutbah, beliau mengatakan,

Ini merupakan pendapat jumhur . dan dinukil oleh Ibnul Mundzir bahwa ini pendapat jumhur. (al-Majmu’, 5/59).

Dan ini pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Baz dan Imam Ibnu Utsaimin. Mereka berdalil dengan hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas.

Pendapat kedua tidak menganjurkan khutbah. Ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad menurut riwayat yang masyhur.

Sementara hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas, dipahami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan khutbah karena hendak menjelaskan beberapa hukum terkait gerhana. Untuk meluruskan pemahaman mereka tentang peristiwa gerhana. (al-Mughni, 2/144).

Sementara itu, madzhab Malikiyah mengatakan bahwa dianjurkan untuk memberikan nasehat setelah shalat gerhana. Namun bentuknya bukan seperti khutbah.

Ahmad as-Shawi mengatakan, dianjurkan untuk memberikan nasehat setelah shalat gerhana, artinya bentuknya bukan khutbah. Karena tidak ada khutbah untuk shalat gerhana. (Bulghah as-Salik, Ahmad as-Shawi, 1/350).

Dan pendapat yang lebih mendekati adalah pendapat jumhur ulama. Karena ini yang sesuai dengan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlepas dari latar belakang khutbah yang beliau sampaikan.  Mengingat, yang namanya khutbah, tujuannya tidak hanya terbatas untuk menyelesaikan satu kasus. Tapi disesuaikan dengan semua kasus yang ada di masyarakat. (Ihkam al-Ahkam, 2/352).

Jadi, anjuran itu kembali kepada pedoman yang disunahkan Rasulullah SAW melalui hadisnya. []

SUMBER: KONSULTASi SYARIAH / islampos.com / Eneng Susanti

(nahimunkar.org)

(Dibaca 443 kali, 1 untuk hari ini)