Goenawan Mohamad (IST)


Mas Goen sudahilah membodohi rakyat Indonesia dengan pelintiran-pelintiran manipulatif ide demagogmu. Apa dikira kita semua nggak pernah baca karyanya Gayatri Spivak Can The Subaltern Speak?

Demikian dikatakan dosen Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi di akun Facebook-nya dengan judul “Manipulator Intelektual.”

Airlangga menulis cukup panjang menyikapi kicauan Goenawan Mohamad di akun Twitter yang menyinggung pembelaan terhadap kelompok miskin.

Goenawan menuliskan, “Siapa sebenarnya yang sah mewakili orang miskin? Tidak mungkinkah mereka sendiri yang bicara? can’t the subaltern speak?”

Kata Airlangga, Konsep itu ditujukan untuk menjelaskan bagaimana dalam rezim intelektual orang-orang marjinal dan pinggiran (subaltern) di belahan dunia ketiga selalu ditempatkan dalam narasi proyek pengetahuan pasca-kolonial.

“Proyeksi-proyeksi pengetahuan yang membungkam orang-orang marjinal dunia ketiga untuk menyerukan suaranya sendiri sekaligus melayani kepentingan ekonomi-politik negara-negara metropolis,” ujarnya.

Airlangga melanjutkan, Spivak menulis risalah itu untuk menggugat proyeksi pengetahuan hegemonik kolonial beserta kepentingan kelompok kaum-kaum yang berkuasa membungkam orang-orang marjinal.

“Kau menggunakan kalimat Spivak untuk membungkam suara orang2 marjinal demi kepentingan kaum borjuasi yang digugat Spivak dan kepentinganmu sendiri!” jelasnya.

Lanjut Airlangga, pengetahuan kritis seperti ini kau gunakan untuk mencoba membungkam suara-suara kritis atas proyek reklamasi pantai Jakarta. “Don’t manipulate us! Fake intellectual!” pungkas Airlangga.

Sumber: suaranasional.com/15/04/2016

***

Suara Goenawan Mohamad sangat berbalikan dengan suara intelektual yang berikut ini.

***

Rakyat Miskin, Sri Bintang Pamungkas: Ahok Tidak Beradab Seperti Penjajah Fasis

by nahimunkar.com,  Apr 15th, 2016

demo

JAKARTA (voa-islam.com)- Sudah cukup banyak Gubernur DKI Jakarta melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan. Misalnya saja soal penggusuran yang tidak adil dan menggusur tanpa memberikan info kepada warganya.

Menurut aktivis kawakan Sri Bintang Pamungkas, sikap Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang seperti demikian sama halnya dengan pemimpin fasis. “Lha,si Ahok Cina ini melakukannya dengan cara bertentangan dan dengan memaksa. Bahkan dengan mengerahkan alat-alat negara: militer dan polisi bersenjata, seperti penjajah fasis. Artinya, Ahok berbuat dengan cara biadab dan tidak beradab. Penggusuran warga ini sudah terjadi beberapa kali: di Kampung Pulo, Kalijodo, dan sekarang Luar Batang,” protesnya, dalam akun pribadi miliknya @SB_Pamungkas.

Orang yang pernah dipenjara pada era sebelum reformasi ini lantas menyalahkan sistemnya sehingga orang-orang yang tidak beradab seperti Ahok terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta. selain itu, ia menduga naiknya Ahok ada rekayasa serta kekuatan dana yang cukup besar sehingga Cina dapat berkuasa di Jakarta (Indonesia).

“Kenapa mahluk macam The Walking ‘Zombie” Dead ini bisa menjadi Gubernur?! Karena sistem memilihnya salah: Undang-undangnya, proses dan juga pengawasannya! Lebih dari itu, ada rekayasa besar dengan kekuatan keuangan yang besar di luar akal sehat. Di sinilah unsur Cina masuk.”

Menurutnya, selain sebab di atas, masyarakat dinilainya lupa bahwa di manapun Cina berada, terlebih di Indonesia, Cina sejak zaman Belanda misalnya telah memiliki niat ingin menguasai. “Sejak awal abad 6, Cina sudah ingin menguasai Nusantara, menggantikan pribumi dan menggusur Islam. Lalu bersiap diri dengan menyuap pejabat, TNI, Polri, dan hukum.”

Hal ini juga bisa dilihat dari “utusannya”, Ahok yang dianggapnya sebenarnya banyak terlibat korupsi. “Ahok sendiri terlibat banyak korupsi. Padahal, saat Ahok jadi Wagub, sudah tandatangan kontrak politik: melegalisasi kampung illegal, tidak akan mennggusur kampung-kampung kumuh, serta melindungi dan menata eknomi rakyat kecil.” (Robi)

Sumber: voa-islam.com/Jum’at, 7 Rajab 1437 H / 15 April 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.395 kali, 1 untuk hari ini)