ilustrasi/ foto myahok.com


Goenawan Mohamad (GM) melalui tulisannya berjudul “Tentang Atheisme Dan Tuhan Yang Tak Harus Ada” sebagaimana dipublikasikan harian Kompas  edisi 6 Oktober 2007, antara lain dikatakan GM, “…Ketika kita mengatakan ‘Tuhan itu Satu’, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya…”

Mengapa demikian? Karena menurut GM, kata esa atau tunggal atau satu itu menunjuk kepada sesuatu yang dapat dihitung. Maka, jika “tuhan” dapat dihitung, Ia praktis setaraf dengan benda. Begitulah pendapat GM

Padahal, dalam perspektif Islam, Allah sendiri yang menyebut dirinya satu, esa, tunggal atau ahad, sebagaimana bisa ditemui pada Al-Qur’an al-Kariem surat ke-112 (Al-Ikhlaash): Qul huwallaahu ahad.

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدُ

(1) Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. (2) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (3) Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, (4) Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS Al-Ikhlash/ 112: 1, 2, 3, 4).

Masa’ sih, GM yang konon beragama Islam tidak pernah membaca surat Al-Ikhlaash. Kalau buku-buku yang tergolong ‘berat’ saja ia sempat baca, masak sih surat sependek itu seumur hidupnya tidak sempat terbaca.

Baik GM pernah membaca surat Al-Ikhlaash maupun tidak, GM telah berfatwa tentang hal yang sangat amat besar dalam agama, yakni tentang kemusyrikan. Dan yang amat sangat fatalnya, “fatwa”nya itu justru menjatuhi hukum musyrik bagi setiap orang yang bertauhid, yang mengimani bahwa Allah itu satu. Perkataan GM: “…Ketika kita mengatakan ‘Tuhan itu Satu’, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya…” itu benar-benar kesesatan yang amat sangat tinggi. Itu tidak akan keluar dari mulut siapapun, kecuali dari orang yang jelas-jelas merusak agama. Apalagi masih berbau marxisme komunisme, maka jelas itu adalah suara orang yang sejatinya anti agama. (tede/haji/ nahimunkar.com)

***

Goenawan harus menelan kekecewaan atas perkataannya ini:

Ini Ahok dijaga betul sama Jokowi. Saya mengira, 2017 Ahok jadi gubernur lagi dan 2019 jadi wakil presiden. DKI nanti dipegang orang lain. Makanya PDIP seharusnya pasang orang untuk nanti gantikan Ahok./lihat myahok.com 05/08/2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.111 kali, 1 untuk hari ini)