Qaulan Sadiida Ditinggalkan, Sampah Serapah Dilancarkan

Bagaimana kalau tengkuk (kuduk) jadi wajah, dan wajah jadi kuduk? Tentu tidak normal. Karena tubuh manusia ini sudah dicipta oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam sebaik-baik bentuk. Hingga masing-masing anggota tubuh ada fungsinya sendiri-sendiri. Wajah yang di depan tidak boleh dijadikan di belakang.

Berbeda dengan lakon dan sikap manusia. Bagi manusia yang tidak punya malu terhadap Allah Ta’ala atau bahkan menentangNya, maka yang disuruh malah tak dikerjakan, sedang yang dilarang malah dikerjakan. Suruhannya adalah saling kasih sayang sesama Muslim, namun bagi golongan yang terbalik, yang dikerjakan dan dipertontonkan justru berkasih sayang dengan yang kafir.

Tingkah sangat buruk itu telah disinyalir oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ …

…mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan… (HR Muslim).

Adanya golongan macam ini tentu perlu dijelaskan kepada masyarakat duduk soalnya. Agar Ummat Islam mampu mendudukkan persoalan secara tepat. Mana yang memang buruk menurut Islam, meskipun mungkin banyak dilakukan orang dan bahkan golongannya pun besar, tetap buruk. Tidak menjadi baik hanya karena dilakukan oleh banyak orang. Justru keburukan bila dilakukan oleh banyak orang lebih merata keburukannya.

Berkaitan dengan masalah itu, nahimunkar.com pernah memuat tulisan berjudul  “Kaum Sarungan yang Suka Sinis ke Sesama Muslim, Manis ke Kafirin” (https://www.nahimunkar.org/9874/kaum-sarungan-yang-suka-sinis-ke-sesama-muslim-manis-ke-kafirin/).

Lalu ada seorang pembaca kritis yang bertanya, “mengapa nahimunkar.com suka menurunkan tulisan sampah?”

Kepada pembaca kritis itu dijelaskan, bahwa sebuah tulisan itu merefleksikan objek dan materi yang ditulis. Bila objek dan materinya sampah: kyainya (ada yang bagai) sampah, ulamanya (ada yang bagai) sampah, ormasnya (ada yang memperlakukan bagai) sampah, maka mau tidak mau hasil tulisan mengenai objek itu otomatis mengandung (uraian tentang) sampah. Walaupun bukan berarti menganggap semuanya seperti itu. Karena yang tidak setuju terhadap lakon yang disoroti ini juga banyak, hanya saja mereka bukan pemegang peran. Sedang yang pegang peran justru yang lakonnya disoroti ini. Seandainya mereka yang tidak setuju itu ikut terkena oleh tulisan ini, entah kalimat mana yang tepat: kenapa masih ikut di situ, atau ada sesuatu yang diberati… hingga ketidak setujuannya tidak punya makna apa-apa.

Sebenarnya sudah ada contoh-contoh yang mereka ketahui betul, bahwa mufaraqah dengan yang sudah melampaui batas, itu dilakukan pula oleh para kyai. Padahal para kyai yang dulu mufaraqah itu belum sampai persoalannya sememuncak ini, yang kini sampai Pemimpin NU (Said Aqil Siradj) menyamakan tauhid dengan keyakinan kristiani. Dulu Kyai As’ad Syamsul Arifin dengan tegas mufaraqah dengan kepemimpinan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) karena kepemimpinannya dia anggap ibarat pemimpin ketoprak. Ibarat imam shalat sudah kentut.  Kalau kepemimpinan sekarang, apa tidak lebih dari itu, kalau sudah mencari-cari dalil (Al-Qur’an dan hadits) untuk memasukkan surga orang-orang di luar Islam dengan bicara natal pada hari natal di televise bersama romo yang keyakinannya trinitas? Bukankah di pesantren-pesantren NU sangat ketat mengenai kewajiban menjaga aqidah jangan sampai murtad sebagaimana diajarkan dalam Kitab Sulam dan syarahnya yakni Mirqat? Kenapa pemimpin NU yang sebegitu dahsyatnya dalam mencampur adukkan aqidah dibiarkan saja?

Sebenarnya kini mereka yang tidak sefaham dengan SAS yang sudah melampaui batas itu tinggal pilih: mau menikmati ketidak setujuan yang tidak ada maknanya apa-apa, atau pilih mufaraqah. Bagi yang pilih mufaraqah tentu saja tidak akan ditanya kenapa sudah tahu kalau itu melampaui batas kok masih ikut dalam golongannya. Secara kejiwaan, yang mufaraqah itu berarti tahu jalan dan lebih jantan. Berbeda dengan yang masih ikut, padahal jelas sudah tidak setuju, itu sebutannya gendulak-gendulik opo sido opo ora, yang belakangan dalam bahasa politik sebutannya peragu. Padahal dari kecil sudah diajari nadham, waman lam ya’taqid laa yantafi’, siapa yang tidak yakin maka tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa. Lha peragu, mau dapat apa? Tidak setuju, tapi tetap ikut. Aneh bukan? Dapat apa? Dapat ikut kena gebuk jangan-jangan!

Performa akhlak sebagaimana ditunjukkan sesosok makhluk bernama Drs Muhammad Bukhori Maulana MA, merupakan contoh kongkrit. Sampah serapah yang diumbar di depan publik, merefleksikan dari kawasan mana dia berasal.

Pada sebuah forum bedah buku (Ahad, 20 November 2011) di Bekasi, yang semula akan dihadiri juga oleh Ansyaad Mbai (Ketua BNPT) dan KH Said Aqil Siradj (Ketua Umum PBNU), ternyata Ansyaad Mbai sama sekali tidak hadir, dan Said Agil sangat terlambat; sehingga forum nyaris dikuasai seratus persen oleh Bukhori Maulana.

Bagi yang terbiasa menghadapi fenomena ini –yaitu fenomena Herder yang lebih galak dari majikannya– ketidakhadiran sang majikan pada sebuah forum yang diongkosi sang majikan, dapat dibaca sebagai sebuah pertanda bahwa sang majikan juga gerah dengan performa sang Herder yang sejak awal diperkirakan lebay (berlebihan, bahasa gaul) dan vulgar. Sehingga, diduga akan menghasilkan sesuatu yang kontraproduktif. Keterlambatan Said Agil juga memperkuat pertanda itu.

Penampilan Bukhori Maulana dengan segala ke-lebay-annya dan ke-vulgar-annya, sama sekali tidak bisa mengelakkan pandangan umat kepada Said Agil yang menjadi ‘mentor’ baginya di dalam memfitnah gerakan dakwah yang bersih dari bid’ah, khurafat dan takhayul. Sedangkan bid’ah, khurafat dan takhayul akrab dilakoni oleh sebagian anggota jema’at yang dipimpin Said Agil Siradj.

Ke-lebay-an dan ke-vulgar-an Bukhori Maulana hanya mempertajam hal serupa yang telah lebih dulu dipertontonkan Said Agil Siradj. Yaitu, menjadikan Salafy-Wahabi sebagai kambing hitam di dalam memaknai aksi radikal yang dilakukan oknum umat Islam. Padahal perbuatan oknum itu justru tidak dibenarkan oleh kalangan Islam sendiri. Termasuk kalangan Islam yang oleh kaum sarungan diledek sebagai Salafy-Wahabi, seperti Muhammadiyah, komunitas Tarbiyah, PKS, dan sebagainya.

Pendukung Said Agil ada yang melakukan pembelaan, antara lain dengan mengajukan argumen berupa: “…Said Aqil Siraj itu lulusan Ummul Qura Mekkah sampai doktoralnya. Jelas ia tahu betul dengan apa yang disebutnya Salafi-Wahabi….”

Tapi bagi penentangnya, argumen itu tidak cukup. Said Agil dianggap tidak bisa membedakan –atau sengaja tidak mau membedakan– antara gerakan dakwah yang disosialisasikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimi An-Najdi dan penerus-penerusnya, berupa ajaran Islam yang murni terbebas dari bid’ah, khurafat dan takahyul; dengan gerakan politik keluarga Ibnu Saud pendiri Kerajaan Saudi.

Apalagi, selama ini Said Agil dinilai sebagai pendukung Syi’ah yang berlindung di himpitan ketiak NU. Syi’ah adalah induk kesesatan. Kalau induk kesesatan saja dia benarkan, apalagi sekedar bid’ah, khurafat dan takhayul.

Sejak dulu isu Wahabi sudah ada. Misalnya, pada awal-awal kemerdekaan. Penganut komunis kala itu, memunculkan isu Wahabi untuk dilekatkan kepada Masyumi, agar masyarakat takut memilih Masyumi dalam musim pemilihan umum kala itu (1955). Bukan hanya Masyumi, juga ormas Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad dan sejumlah tokoh nasional seperti Imam Bonjol dan KH Ahmad Dahlan.

Artinya, isu Wahabi dimunculkan dari domain bernuansa politis. Baik di Indonesia maupun di tingkat internasional. Misalnya, isu Wahabi juga dimunculkan kolonialis-imperialis Inggris di daerah jajahannya yang mayoritas penduduknya beragama Islam, bertujuan agar umat Islam di wilayah jajahannya itu tidak ber-Islam secara baik dan benar, tetapi ber-Islam dengan keyakinan yang menyimpang dan sekaligus mengabaikan seruan berjihad, sehingga tetap menjadi umat yang lemah agar bisa terus dijajah.

Jangan lupa, dalam rangka melemahkan semangat jihad yang tumbuh subur di dada umat Islam, kolonialis-imperialis Inggris menciptakan sekte Ahmadiyah. Di Indonesia, keberadaan Ahmadiyah didukung oleh mereka yang selalu memfitnah Salafy-Wahabi, termasuk Said Agil Siradj dan yang disebut tokoh liberal di NU (Nahdlatul Ulama) seperti A. Mustofa Bisri (lihat nahimunkar.com, Ngawurnya A Mustofa Bisri dalam Membela Ahmadiyah, https://www.nahimunkar.org/49/ngawurnya-a-mustofa-bisri/). Ada korelasi positif antara pendukung Ahmadiyah, praktisi bid’ah-khurafat-takhayul, pendukung Syi’ah dengan penebar isu Salafy-Wahabi sebagai akar radikalisme yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Dalam hal ini Said Agil layak disebut sebagai lokomotifnya.

Mengapa Said Agil dan komplotannya melapangkan hati untuk memunculkan isu Salafy-Wahabi yang dikaitkan dengan akar radikalisme-terorisme yang pernah marak belakangan ini? Selain politis, isu ini dimunculkan tentunya dapat ditebak di antaranya adalah demi fulus.

Dalam rangka memerangi apa yang dinamakan radikalisme-terorisme, pemerintah membentuk BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), yang punya pos anggaran cukup besar di APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara). Menurut catatan Harits Abu Ulya (Pemerhati Kontra-Terorisme dan Direktur CIIA-The Community Of Ideological Islamic Analyst), di tahun 2012 untuk program pencegahan radikalisme-terorisme dianggarkan dana sebesar Rp 40 miliar, sedangkan untuk operasi deradikalisasi dianggarkan sekitar Rp 12,5 miliar. Masih ada lagi, yaitu anggaran sebesar Rp 40 miliar operasi penindakan, dan anggaran sebesar Rp 10 miliar untuk jalinan kerjasama internasional. Semua itu belum termasuk anggaran rutin untuk pegawai, belanja peralatan, kendaraan operasional dan sebagainya. Secara keseluruhan, BNPT mendapat alokasi dana sebesar Rp 476,6 miliar.

Kalau tuduhan bertema Salafy-Wahabi yang dikaitkan dengan akar radikalisme-terorisme itu dimunculkan oleh Said Agil dan komplotannya semata-mata demi fulus, ini membuktikan bahwa seorang Said Agil dan komplotannya tidak mampu berbicara benar dan lurus sebagaimana seharusnya mampu dilakukan seorang yang berilmu (ulama). Berkata benar dan lurus, dalam bahasa agama adalah qaulan sadiida.  Sampai-sampai paman SAS (Said Aqil Siradj) sendiri seorang kiyai di Cirebon —KH Ismail, pemimpin Pesantren Benda, Kota Cirebon yang merupakan paman Said Aqil Siradjmengingatkan, agar SAS berhenti membuat fitnah dan teror kepada sesama muslim. (lihat nahimunkar.com,  Ulama Cirebon: Said Aqil Siradj agar Berhenti Buat Fitnah dan Teror kepada Sesama Muslim, 15 December 2011 , https://www.nahimunkar.org/10088/ulama-cirebon-said-aqil-siradj-agar-berhenti-buat-fitnah-dan-teror-kepada-sesama-muslim/comment-page-1/#comment-6050).

Kalau tidak mampu berkata benar dan lurus (qaulan sadiida), lebih baik diam. Namun apa yang dilakukan oleh komplotan Said Agil adalah menebar sampah-serapah, sebagaimana antara lain diumbar oleh Drs Muhammad Bukhori Maulana MA yang lulusan Pesantren Lirboyo Kediri (Jawa Timur), dan menjabat sebagai Ketua Lembaga Bahsul Masail yang tergabung dalam FOSWAN (Forum Silaturrahmi Warga Nahdliyin). Kalau ulamanya saja sudah seperti itu, bagaimana kualitas akhlak jemaatnya?

Ilustrasi baltyra.com

(haji/tede/nahimunkar.com)

(Dibaca 2.632 kali, 1 untuk hari ini)