Ilustrasi golongan terbalik, bermanis-manis dengan aliran sesat syiah yaang memusuhi Islam, sengit terhadap apa yng mereka sebut wahabi yang memurnikan Islam.


Menggemborkan Kritikannya terhadap Wahabi – Ibnu Taimiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ada yang mempersoalkan, kenapa Hasyim Asy’ari dikutip fatwanya tentang (larangan mengikuti) syiah yang disebutnya ahli bid’ah, tetapi tidak dikutip tentang kritikannya terhadap Wahabi serta Ibnu Taimiyyah.

Untuk menjawab persoalan itu, mari kita dudukkan masalahnya.

Perlu diketahui, Hasyim Asy’ari di halaman 9 (sembilan) Qanun Asasi, beliau berfatwa, bahwa Madzhab yang paling benar dan cocok untuk di ikuti di akhir zaman ini adalah empat Madzhab, yakni Syafe’i, Maliki, Hanafi dan Hambali (keempatnya Ahlussunnah Wal Jamaah).

Selanjutnya beliau berkata; “Selain empat Madzhab tersebut juga ada lagi Madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah, tapi keduanya adalah Ahli Bid’ah, tidak boleh mengikuti atau berpegangan dengan kata kata mereka”.

Fatwa Hasyim Asy’ari tentang syiah itu bila dirujuk kepada hadits Nabi saw ada kesesuaiannya. Maka kita ambil. Di antaranya dapat dilihat hadits ini:

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ، عَنْ أَبِي الْجَحَّافِ دَاوُدَ بْنِ أَبِي عَوْفٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو الْهَاشِمِيِّ، عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ عَلِيٍّ، عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ مُحَمَّدٍ، قَالَتْ: نَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَلِيٍّ فَقَالَ: «هَذَا فِي الْجَنَّةِ، وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ قَوْمًا يَعْلَمُونَ الْإِسْلَامَ، ثُمَّ يَرْفُضُونَهُ، لَهُمْ نَبَزٌ يُسَمَّوْنَ الرَّافِضَةَ مَنْ لَقِيَهُمْ فَلْيَقْتُلْهُمْ فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُونَ» مسند أبي يعلى الموصلي (12 / 116): 6749 –  [حكم حسين سليم أسد] : إسناده صحيح

Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- melihat kepada Ali -Radiallahuanhu- lalu berkata: “Ini (maksudnya adalah Ali) ada di surga, dan diantara syiahnya ada satu kaum yang mengerti Islam kemudian menolaknya, mereka memiliki tanda disebut rafidhah, barang siapa bertemu mereka maka bunuhlah (diriwayat lain perangilah) sesungguhnya mereka itu musyrik.”

Husain Salim Asad menghukuminya: sanadnya shahih. Abu Ya’la, Bazzar, Thabrani meriwayatkan sabda Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-:

كُنْتُ عندَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وعندَه عليٌّ فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يا عليُّ سيكونُ في أمَّتي قومٌ ينتَحِلونَ حبَّ أهلِ البيتِ لهم نَبْزٌ يُسمَّونَ الرَّافضةَ قاتِلُوهم فإنَّهم مشرِكونَ

الراوي: عبدالله بن عباس المحدث: الهيثمي – المصدر: مجمع الزوائد – الصفحة أو الرقم:10/25
خلاصة حكم المحدث: إسناده حسن‏‏ (
Dorar.net/hadith)

Aku (Abdullah bin Abbas) dulu di sisi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dan di sisinya ada Ali, maka beliau berkata: “Wahai Ali akan ada dalam umatku kaum yang madzhabnya adalah “cinta ahlul bait” mereka memiliki tanda (gelar) mereka disebut Rafidhah, perangilah mereka karena mereka musyrik.” (al-Haitsami berkata: Thabrani berkata: dan sanadnya hasan. Al-Sunnah karya ibnu Abi Ashim dicetak bersama Zhilal al-Jannah, takhrij Syaikh al-Albani, 2/476)

Abdullah bin Imam Ahmad berkata: saya Tanya ayah saya: siapakah Rafidhah?: beliau berkata: yaitu orang-orang yang mencela atau mencaci Abu Bakar dan Umar.” (al-Sunnah, Abdullah bin Ahmad, 1273)

(lihat gensyiah.com/ nahimunkar.com, Menteri agama mendukung proyek syiah di Indonesia?https://www.nahimunkar.org/menteri-agama-mendukung-proyek-syiah-di-indonesia/ ).

Adapun pendapat Hasyim Asy’ari mengenai Wahabi sampai Ibnu Taimiyyah seperti yang dikutip Ahmad Indra di dalam komentar di medsos di antaranya begini: ini salah satu pesan mbah Hasyim yg ada dalam kitab Risalah Ahlisunnah wal jamaah… ومنهم فرقة يتبعون رأي محمد عبده و رشيد رضا, ويأخذون بدعة محمد بن عبد الوهاب النجدى, و احمد ابن تيمية وتلمذيه ابن القيم وابن عبد الهادى , فحرموا ما اجمع المسلمون على نذبه وهو السفر لزيارة قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم, وخالفوهم فيما ذكر وغيره

. Dalam kutipan itu, soal safar untuk ziarah kubur Rasulullah saw dianggap oleh Hasyim Asy’ari sebagai telah diijma’i oleh Muslimin atas nadbnya tapi diharamkan  oleh mereka Wahabi – Ibnu Taimiyyah.

Mari kita dudukkan persoalannya.

Perlu kita ketahui bahwa persoalan safar untuk ziarah ke kubur Nabi saw itu beda dengan masalah syiah yang sudah jelas sesatnya, bahkan dalam hadits tersebut syiah itu  adalah musyrik. Sedang masalah safar untuk ziarah kubur Nabi saw adalah ikhtilaf (perbedaan pendapat) ulama. Sampai Imam Nawawi pun menyebutnya ikhtilaf. Dan di antara yang melarang (safar untuk ziarah kubur) itu juga ulama-ulama dari madzhab syafi’i pula di antaranya Abu Muhammad Al Juwaini (Wafat tahun 438 Hijriah), Ibnul Atsir pengarang kitab Jamiul ushul (wafat tahun 606 Hijriah)

Maka Imam Nawawi menjelaskan:

وقال النووي في شرحه لصحيح مسلم (9/106): ( واختلف العلماء في شد الرحال وإعمال المطي إلى غير المساجد الثلاثة كالذهاب إلى قبور الصالحين وإلى المواضع الفاضلة ونحو ذلك فقال الشيخ أبو محمد الجويني من أصحابنا هو حرام وهو الذي أشار القاضي عياض إلى اختياره) اهـ

وقال الحافظ ابن حجر في (الفتح) (3/65) عند شرحه لحديث: ((لا تشد الرحال)): (قال الشيخ أبو محمد الجويني يحرم شد الرحال إلى غيرها عملاً بظاهر هذا الحديث وأشار القاضي حسين إلى اختياره وبه قال عياض وطائفة) اهـ

Imam Nawawi berkata dalam Syarahnya terhadap Sohih Muslim (9/106) “ Para Ulama berselisih tentang mengadakan perjalanan menuju selain tiga masjid, seperti bepergian ke kubur orang-orang Soleh, tempat-tempat yang keramat, dll. Berkata Ashab kami Abu Muhammad AlJuwaini, yang demikian adalah haram. Itulah yang diisyaratkan Oleh Qadhi Iyadh Sebagai Pilihannya. Selesai”

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari 3/165 ketika ia menjelaskan Hadits ((لا تشد الرحال )) “Syaikh Abu Muhammad Al Juwaini berkata : diharamkan mengadakan Perjalanan menuju Selain tiga masjid berdasarkan pengamalan dzohir hadits. Qadhi Husain mengisyaratkan Pilihannya, dan berpendapat seperti itu juga Iyadh dan kelompoknya.”

Imam Malik yang madzhabnya diakui benarnya oleh Hasyim Asy’ari pun melarang safar untuk tujuan ziarah kubur Nabi saw.

قال ابن تيمية في (مجموع الفتاوى) ( 1/304) : (وسئل مالك عن رجل نذر أن يأتي قبر النبي، فقال مالك: إن كان أراد القبر فلا يأته وان أراد المسجد فليأته ثم ذكر الحديث: ((لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد)) ذكره القاضي إسماعيل في مبسوطه) اهـ

وقال المناوي في شرحه للجامع الصغير (6/140): (… ما نقل عن مالك من منع شد الرحل لمجرد زيارة القبر من غير إرادة إتيان المسجد للصلاة فيه)

(Telah ditanya Imam Malik tentang seseorang yang bernadzar untuk mendatangi kubur nabi , Maka Imam Malik menjawab: “Jika yang dituju adalah kuburan, maka janganlah mendatanginya, tetapi jika yang dituju adalah masjid, maka datangilah, Kemudian Dia menyebutkan hadits “:
((” tidaklah suatu perjalanan (rihal) diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid”)) Disebutkan oleh Qadhi Ismail Pada kitab Almabshut. (lihat Ibnu Taimiyyah, Majmu’ al fatawa 1/304).

Al Munawi berkata didalam Syarahnya terhadap Jamius Shagir (6/140):”… apa yang dinukil dari Malik adalah pelarangan mengadakan Safar semata-mata hanya untuk menziarahi kubur tanpa tujuan mendatangi masjid untuk sholat didalamnya.”

(dorar.net, حكم السفر لزيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم

علوي بن عبدالقادر السَّقَّاف(

Dari penelusuran ini dapat dilihat, pendapat Hasyim Asy’ari yang menginginkan tidak mendekati wahabi, Ibnu Taimiyyah dsb dengan alasan mereka mengharamkan safar untuk ziarah ke kubur Nabi saw; ternyata hal itu adalah perbedaan pendapat di kalangan ulama, bahkan ulama-ulama syafi’iyah juga ada yang mengharamkannya. Sehingga klaim bahwa itu nadb menurut ijma’ muslimin itu sendiri perlu dilihat lagi. Maka sebaiknya, kita kembalikan kepada dalil yaitu:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩ [سورة النساء,٥٩]

  1. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya [An Nisa”59]

Dengan cara itu, maka kita tidak fanatik kepada orang, tetapi kepada kebenaran yang dibawa oleh Nabi saw.

Bila kita istiqomah dalam memegangi tuntunan Rasulullah saw, maka sikap yang akan diambil (dalam hal ini) adalah mengambil fatwa Hasyim Asy’ari soal larangan mengikuti syiah; karena memang landasannya kuat. Dan tidak mengambil pendapat Hasyim Asy’ari sebagai hujjah soal Wahabi – Ibnu Taimiyyah, karena ternyata itu hanya ikhtilaf para ulama, dan itu sudah dijelaskan oleh para imam ahli hadits di antaranya Imam Nawawi, Al-Munawi, Ibnu Hajar dan lainnya.

Celakanya, entah karena taqlid atau ada kecenderungan hawa nafsu, atau karena ada kecenderungan kepada syiah, justru menjadi golongan terbalik. Tidak menggubris fatwa Hasyim Asy’ari soal syiah padahal landasannya kuat, namun menggemborkan pendapat Hasyim Asy’ari yang tidak pro Wahabi- Ibnu Taimiyyah, padahal pendapat Hasyim Asy’ari itu landasannya tidak kuat, dan wilayahnya hanya ikhtilaf.

Mburu uceng kelangan deleg (mengejar yang sangat remeh temeh tapi kehilangan modal pokok yang besar) kata orang Jawa. Atau pepatah Melayu Indonesia mengatakan: Anak di pangkuan dilepaskan, beruk di hutan disusukan.

Nah, syiah yang memusuhi Islam dirangkul, sedang teman sesama Muslim yang dibenci syiah justru disingkirkan. Opo tumon? (Apa tidak mengherakan?).

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjuki kebenaran kepada hamba-hambaNya yang istqomah melawan kebatilan syiah (yang kini tampak diusung orang dari golongan terbalik).

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.388 kali, 1 untuk hari ini)