ilustrasi

.

Demokrasi Kotor Membuat Golput Pemenang Pemilu 2014

Angka Golput Diperkirakan Capai 34 Persen

Angka Golput senantiasa naik. Pada pemilu 1999 angka golput hanya 10,21 persen. Pada pileg 2004 angkanya naik menjadi 23,34 persen dan pada pemilu legislatif 2009 naik lagi menjadi 29,01 persen.

Tahun ini, berdasarkan perhitungan cepat LSI, angka Golput 34 persen, jauh mengungguli suara PDI Perjuangan (19,67%) atau Golkar (14,54%) dan Gerindra (11,86%) dan Demokrat (9,75%).

Inilah berita-berita seputar golput.

***

Golput di Jambi Capai 51 Persen

Jambi – Jumlah pemilih di Kota Jambi yang tidak menggunakan hak pilih atau golongan putih (golput) pada pemilihan umum legislatif (pileg), Rabu (9/4) sangat tinggi.

Angka golput di beberapa tempat pemungutan suara (TPS) di kota tersebut ada yang mencapai 51 persen.

Pantauan di TPS 15, Jalan Kolonel M Kukuh, RT 17, Kelurahan Paal V, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi, Rabu (9/4) sore, jumlah pemilih yang tidak menggunakan suara di TPS tersebut sebanyak 197 orang.

Pemilih yang golput tersebut mencapai 51,16 persen dari 385 orang pemilih yang masuk daftar pemilih tetap (DPT) di TPS tersebut. Jumlah pemilih yang menggunakan hak suara di TPS tersebut sebanyak 208 orang. Sebanyak 196 suara sah dan 12 suara tidak sah.

Sedangkan di TPS 20, JalanKolonel M Kukuh, RT 11, Kelurahan Paal V, Kecamatan Kotabaru Jambi, jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak suara sebanyak 182 orang atau 43,43 persen dari sekitar 419 orang pemilih tetap di TPS tersebut.

Pemilih yang menggunakan hak suara mereka di TPS itu sebanyak 237 orang, sebanyak 209 suara sah dan 28 suara tidak sah.

Iwan (35), seorang warga Paal V, Kotabaru Jambi kepada SP di Jambi, Rabu (9/4) mengatakan, banyaknya pemilih yang tidak mencoblos disebabkan undangan yang tidak sampai kepada warga.

“Beberapa warga perumahan kami tidak mendapatkan undangan memilih, sehingga mereka tidak datang menggunakan hak pilih mereka ke TPS. Saya sendiri langsung mengambil surat undangan memilih keluarga saya ke rumah RT,” katanya.

Penulis: 141/FQ

Sumber:Suara Pembaruan

beritasatu.com, Rabu, 09 April 2014 | 20:05

***

Demokrasi Kotor Membuat Golput Pemenang Pemilu 2014

JAKARTA (voa-islam.com) – Peneliti Divisi ICW, Tama S. Langkun, mengatakan korupsi mulai awal Januari sampai Desember 2013 kisaran mencapai Rp 7,4 triliun. Tingginya tingkat korupsi mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Semua partai politik terlibat korupsi, dan yang menjadi ‘raja’ korupsi, Golkar dan PDIP.  Sampai al-Qur’an pun menjadi objek korupsi oleh anggota DPR Golkar.

Demokrasi yang kotor juga menghasilkan wakil rakyat yang tidak bertanggung jawab. Terlihat dari banyaknya wakil rakyat yang absen di setiap persidangan dan semakin meningkat menjelang pemilu 2014. Faktanya, 90% anggota DPR saat ini kembali mencalonkan diri di Pemilu 2014. Artinya, dari 560 anggota DPR, 501 di antaranya kembali mencalonkan diri menjadi anggota DPR di periode 2014-2019.

Mereka yang menjadi caleg incumbent memanfaatkan waktu menjelang pemilu untuk melakukan kampanye melalui politik pencitraan ke daerah-daerah. Lebih sadisnya lagi, baru 20 dari 77 RUU dalam program legislasi nasional yang rampung selama masa sidang 2013.

Disamping budaya politik uang, harapan tercapainya demokrasi yang utuh pun semakin jauh akibat terus meningkatnya angka golput. Banyak alasan yang dilontarkan masyarakat untuk golput.

Mereka mengatakan tidak ada pribadi yang pantas untuk memimpin, siapapun pemimpinnya pasti tidak akan ada perubahan dan akan tetap korupsi, kolusi, dan nepotimse. Sekarang ditambah lagi, penyakit pejabat publik, yaitu selingkuh dan hobinya zina.

Akibat demokrasi bobrok itu, maka angka golput yang semakin tinggi, dan seperti momok yang lebih menakutkan. Hal ini terlihat dari semakin tidak acuhnya masyarakat terhadap pemimpin mereka kelak.

Menurut Pusat Studi dan Kawasan UGM persentase golput tahun 2004 sebesar 23,34% meningkat menjadi 39,1% tahun 2009. Bahkan, Lembaga Survei Indonesia memprediksi persentase golput akan terus bertambah dan menembus angka 50%-60%.

Di sisi lain, politik uang dinilai tidak lagi begitu efektif mempengaruhi pilihan rakyat. Karena rakyat semakin cerdas memanfaatkan peluang ekonomi mereka. Mereka menganggap pemilu adalah ajang mendapatkan uang dengan cuma-cuma. Mereka menerima uang dari siapa saja tetapi belum tentu memilih, apalagi memilih yang memberikan uang.

Oleh karena itu, pemerintah harus mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat akan manfaat sejatinya demokrasi. Diantaranya, dengan menurunkan tingkat korupsi dan melahirkan wakil rakyat yang berkualitas dan pro rakyat.

Rakyat sudah tidak dapat percaya lagi dengan demokrasi dan pemilu. Karena, tidak mampu melahirkan pemimpin yang memiliki karakter sebagai negarawan, jujur, amanah, adil, dan sangat memperhatikan rakyat kecil. Justru para maling, koruptor, dan penzina yang menang. (afgh/dbs/voa-islam.com) Selasa, 9 Jumadil Akhir 1435 H / 8 April 2014 14:01 wib

***

Angka Golput Diperkirakan Capai 34 Persen

Kamis 9 Jamadilakhir 1435 / 10 April 2014 14:00

KOMISI Pemilihan Umum terus menyosialisasikan pemilu 2014 agar angka golongan putih (Golput) atau warga yang tidak menggunakan hak pilihnya semakin turun dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya.

Namun, menurut peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Rabu, 9 April 2014, angka golput malah diduga lebih tinggi di tahun ini.

“Kami memprediksi angka golput kali ini mencapai 34,02 persen,” kata Rully Akbar dari LSI seperti dikutip dari Tempo.

Jika dibandingkan, angka golput pada pemilu 1999 hanya 10,21 persen. Pada pileg 2004 angkanya naik menjadi 23,34 persen dan pada pemilu legislatif 2009 naik lagi menjadi 29,01 persen.

Tahun ini, berdasarkan perhitungan cepat LSI, angka Golput 34 persen, jauh mengungguli suara PDI Perjuangan (19,67%) atau Golkar (14,54%) dan Gerindra (11,86%) dan Demokrat (9,75%). [sa/islampos]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 400 kali, 1 untuk hari ini)