Prahara ini terjadi sejak 9 tahun lalu. Sejak Pakubuwono XII mangkat pada 11 Juni 2004. Sejak itu, muncullah dua raja. Kubu pertama di bawah Pakubuwono XIII Hangabehi yang berkedudukan di Keraton Kasunanan Surakarta. Sedangkan kubu ke dua dipimpin Pakubuwono XIII Tedjowulan dengan basis di Kota Barat, Solo.

Sejak 2004 itu, Pakubuwono XIII Hangabehi dan Pakubuwono XIII Tedjowulan saling klaim.

keraton solo Prajurit Keraton yang pro Dewan adat sempat mengambil senjata tajam perlengkapannya setelah terdesak oleh massa pendukung PB XIII Hangabei saat bersitengang di depan kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta, Senin (26/8/2013). (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)

Inilah beritanya.

***

Prahara Keraton Surakarta

 

Jakarta : Keraton Surakarta Hadiningrat kembali dirundung prahara. Senin malam, gerbang Istana di Solo itu didobrak sejumlah orang. Tak tanggung-tanggung, sebuah Hardtop Land Cruiser ditabrakkan ke pintu gerbang Sasono Putro.

Tumbang dan pecahlah pintu gerbang itu. Warga merangsek masuk ke Istana itu. Mereka mengaku ingin mengetahui kondisi keluarga Sinuhun Pakubuwono XIII Hangabehi, raja Keraton Kasunanan Surakarta yang mereka agungkan.

Tindakan anarkis itu dipicu pelantikan Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung Tedjowulan sebagai Maha Menteri oleh Sinuhun Pakubuwono XIII Hangabehi di Sasono Narendro.

Pada siang sebelum kericuhan itu, Lembaga Dewan Adat yang dipimpin keturunan keraton Gusti Raden Ayu Koes Murtiyah membubarkan pelantikan tersebut. Dewan Adat tak rela jabatan itu diisi Tedjowulan.

Polres Kota Surakarta menyatakan saat ini kondisi di Keraton Surakarta telah kondusif. Polisi tengah menyelidiki kericuhan ini. Polisi menyatakan akan menindak unsur pidana kasus ini. Namun untuk masalah sengketa, polisi menyerahkan kisruh ini ke internal Keraton.

“Mereka dinilai melanggar adat, kita kembalikan internal keraton untuk diselesaikan secara kekeluargaan,” kata Kapolresta Surakarta Kombes Polisi Asdjima’in di Solo, Jawa Tengah, Selasa (27/8/2013).

Awal Perpecahan

Prahara ini terjadi sejak 9 tahun lalu. Sejak Pakubuwono XII mangkat pada 11 Juni 2004. Sejak itu, muncullah dua raja. Kubu pertama di bawah Pakubuwono XIII Hangabehi yang berkedudukan di Keraton Kasunanan Surakarta. Sedangkan kubu ke dua dipimpin Pakubuwono XIII Tedjowulan dengan basis di Kota Barat, Solo.

Kedua kubu yang sama-sama keturunan Pakubuwono XII itu saling mengklaim sebagai pewaris Keraton yang sah. Data dari berbagai sumber menyebut Pakubuwono XII memiliki 6 selir. Semua selir itu tidak ada yang dipilih sebagai permaisuri, sehingga kedudukannya setara satu dengan yang lainnya.

Dari 6 selir itu, Pakubuwono XII dikaruniai 35 anak yang terdiri dari 15 putra dan 20 putri. Biasanya, pengganti raja adalah putra tertua dari permaisuri. Namun, sampai Pakubuwono XII wafat, tidak satu pun dari 6 selir itu yang ditunjuk sebagai permaisuri. Inilah mula prahara itu. Tak jelas siapa yang berhak duduk di singgasana Keraton Surakarta Hadiningrat.

Sejak 2004 itu, Pakubuwono XIII Hangabehi dan Pakubuwono XIII Tedjowulan saling klaim. Namun, perseteruan itu mulai reda sejak 2012. Pada 16 Mei 2012 silam, kedua raja yang sama-sama bergelar Pakubuwono XIII itu menggelar pertemuan empat mata di sebuah ruang khusus di lantai 2 Hotel Grand Mahakam, Jakarta.

Setelah pertemuan itu, keduanya sepakat mengeluarkan Maklumat Bersama untuk mengakhiri konflik. Tedjowulan yang memang lebih muda mengalah dari Hangabehi dengan melepas gelar Pakukubuwono XIII yang disandangnya.

Namun, upaya itu tak membuat perseteruan di Keraton Surakarta Hadiningrat usai. Kesepakatan damai itu malah membuat Hangabehi dan Tedjowulan tak bisa masuk Keraton. Ironis memang, seorang raja tak bisa masuk ke Istana. Pada 24 Mei 2012, setelah perdamaian itu, keduanya ini dilarang masuk. Dewan Adat tidak menerima rekonsiliasi. Mereka tak mengakui dwi-tunggal ini dengan alasan Tedjowulan punya kesalahan besar.

Pada 15 Juni 2012, Tedjowulan akhirnya bisa masuk ke Keraton, menghadiri prosesi Tinggalan Jumenengan Dalem atau peringatan naik tahta Pakubuwono XIII Hangabehi. Namun, pada 4 Juni 2013 yang lalu, saat akan digelar acara yang sama, kembali terjadi ketegangan di Keraton Surakarta. Buntutnya, prosesi Jumenengan Dalem tidak dihadiri oleh Pakubuwono XIII Hangabehi maupun Tedjowulan. (Eks) Oleh Eko Huda Setyawan

Posted: 28/08/2013 00:00 Liputan6.com

***

KONFLIK KERATON SOLO 
2 Kubu Terlibat Adu Fisik

Senin, 26 Agustus 2013 13:52 WIB | Muhammad Khamdi/JIBI/Solopos |

Solopos.com, SOLO –– Perseteruan dua kubu Kerabat Keraton  Solo semakin memanas, Senin (26/8/2013) siang. Dua massa sempat terjadi keributan yang berujung aduk fisik.

Informasi di lapangan, sekitar pukul 12.25 WIB,  KRMH. Satrio Hadinagoro meminta para abdi dalem pro Dwi Tunggal Keraton [Hangabehi-Tedjowulan] yang duduk-duduk di depan Sasana Nalendra untuk pindah ke tempat lain.  Atas perintah itu, puluhan abdi dalem meninggalkan lokasi.

Tak berselang lama, pukul 12.30 WIB situasi sempat memanas karena massa pendukung Tejowulan dan Hangabehi yang mengatasnamakan warga Kelurahan Baluwarti merasa tidak terima atas pembubaran yang dilakukan oleh Satryo Hadinagoro. Saat itu pula, KRH. Bambang Pradotonagoro mempertanyakan pembubaran para abdi dalem tersebut.

“Ini atas perintah siapa? Mereka di sini menunggu Sinuhun.”

Ia menambahkan, Satryo tidak mempunyai wewenang membubarkan abdi dalem karena yang bersangkutan hanya anak menantu PB XII.

KRMH Satrio Hadinegoro sempat berdiskusi dengan KRH. Bambang Pradotonegoro, namun karena ada prajurit keraton yang membawa senjata tajam berupa parang dan mengacungkan ke arah massa. Tidak hanya itu, kedua kubu sempat terjadi aksi pukul. Massa yang merasa dipukul lebih dulu tak terima. Mereka membalas dengan berteriak-teriak dan mengejar para prajurit berpakaian merah.

Puluhan massa dari arah Sasana Nalendra langsung memburu prajurit Keraton yang membawa parang. Spontan, aksi balas pukul tak bisa dihindari. Massa yang mengatasnamakan warga meminta prajurit tidak ada yang menggunakan senjata dan menyatakan bahwa Raja Keraton Solo adalah Hangabehi.

Satryo mengatakan pihaknya tidak berhasrat untuk perang. “Kami serahkan pada petugas keamanan, kami juga tidak memobilisasi orang,” timpal menantu PB XIII Hangabehi, K.P. Eddy Wirabhumi.

Meskipun demikian situasi tidak sempat berujung bentrokan berkepanjangan karena bisa diantisipasi oleh aparat kepolisian. Massa embubarkan diri, selanjutnya massa kembali berkumpul di depan Sasana Narendra.

***

Daftar Kesalahan Sang Raja Keraton Solo Versi Dewan Adat

Pendukung Raja PB XIII Hangabehi yang mengatasnamakan warga Baluwarti berusaha mendobrak pintu Narendran yang telah dikuasai oleh pihak pro Dewan Adat, Senin (26/8/2013). (Sunaryo HB/JIBI/Solopos)

SOLO–Dewan Adat Keraton Solo pihak yang berseteru dengan Keraton Solo Dwi Tunggal membeberkan kesalahan Raja PB XIII.

Lembaga Dewan Adat mengambil alih tugas dan tanggungjawab Raja Keraton Solo, Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi. Dewan Adat sudah mengadakan rapat internal, Senin (26/8/2013).

Ketua Eksekutif Lembaga Hukum Keraton Solo K.P. Eddy Wirabhumi, saat berada di Sasana Narendra, Senin, mengatakan dalam rapat internal tersebut, disebutkan contoh kesalahan Hangabehi, yakni mengangkat BRAy Asih Winarni sebagai permaisuri, kebohongan penandatanganan rekonsiliasi dua raja, serta penerimaan kembali K.G.P.H PA Tedjowulan ke dalam lingkungan Keraton Kesunanan Surakarta Hadiningrat.

“Sesaat setelah pertemuan rekonsiliasi di Jakarta, kerabat bertanya langsung kepada Sinuhun langsung. Dan Sinuhun menyatakan tidak menandatangi perjanjian rekonsiliasi itu. Tapi dalam arsipnya, ada tandatangan Sinuhun. Inilah kebohongan yang dilakukan Sinuhun,” kata dia.(JIBI/Solopos/yri) bisnis-jabar.com

***

KISRUH KERATON SOLO: Pelengseran Dianggap Tak Sah

SOLO–Putra-putri dan menantu mendiang Paku Buwono (PB) XII yang menyebut diri Lembaga Dewan Adat menuduh raja mereka PB XIII melakukan kebohongan sehingga dianggap layak dilengserkan, Senin (26/8/2013). Tetapi juru bicara Dwitunggal Kesunanan Surakarta Hadiningrat dari kubu prorekonsiliasi, K.R.H. Bambang Pradotonagoro menegaskan, keputusan Lembaga Dewan Adat itu tidak sah.

“Dari PB II sampai PB XII tidak ada Lembaga Adat. Itu bentukan siapa? Itu kan ormas yang terdaftar di Kesbangpolinmas. Sinuhun sendiri tidak pernah mengakui Lembaga Adat. Mereka tidak punya kewenangan apa pun di Keraton,” terang dia.

Dalam kesempatan itu, Bambang menegaskan acara halalbihalal dan pengukuhan Maha Menteri Tedjowulan terpaksa dibatalkan karena situasi yang memanas. “Dengan kondisi seperti ini, acara halalbihalal batal dilaksanakan. Sementara pengukuhan Maha Menteri kamipending untuk sementara waktu,” terang Bambang.(JIBI/Solopos/yri) Oleh: JIBI/Solopos/Muhammad Khamdi
26 Agustus 2013 | 21:02 WIB

***

Kyai Slamet kerbau Keraton Solo

Bagaimanapun gerahnya kekisruhan dua kubu Keraton Solo tidak akan menjadikan kerbau yang dikeramatkan dengan adat kemusyrikan, dijuluki dengan kyai slamet, akan mampu menyelamatkan mereka. Tidak akan.

Yang kisruh ya tegang dengan kekisruhannya, sedang sang kerbau yang dikeramatkan hanya menambah deretan batilnya keyakinan, bahkan dosa terbesar yakni kemusyrikan.

Hendaknya manusia menyadari, kembali kepada ajaran Allah Ta’ala yang telah dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami taati.

Selayaknya mereka berdamai, bertaubat dari segala kesalahan apalagi kemusyrikan, dan tunduk taat kepada aturan Allah Ta’ala. Insya Allah baik.

(nahimunkar.com) 

(Dibaca 3.113 kali, 1 untuk hari ini)