Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor / foto trbn


Selayaknya Pesantren Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur berani bersikap menolak Syaikh Al-Azhar yang pro syiah ini.

Sebagaimana MUI Riau telah berani tegas menolak kehadiran dan tampilnya pentolan liberal dari Mesir Dr Nasr Hamid Abu Zayd tahun 2007.

Grand syeikh Al-Azhar Mesir  Prof. Dr. Ahmad Athayyib ke Indonesia selama 6 hari, di antaranya akan ke Gontor untuk meresmikan gedung serbaguna Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Kamis 25 Februari 2016.

Bila Pesantren Modern Gontor yang anti syiah bahkan telah menerbitkan buku anti syiah itu menolak kehadiran Prof. Dr. Ahmad Athayyib yang ditengarai kini membela syiah, maka Gontor akan terhormat dan memiliki sejarah cerah mengenai sikap tegasnya terhadap aliran sesat syiah.

Itu akan menambah poin nama baik. Karena selama ini, sebagaimana dikatakan petinggi Gontor, Dr Hamid Fahm Zarkasyi: Alamdulillah, para kader ulama yang digembleng di Gontor ditugasi untuk menulis, di antaranya ya tentang liberal, Islam Nusantara, dan tentu saja aliran sesat syiah. Bahkan telah terbit buku yang memblejeti kesesatan syiah berjudul Syiah menurut Buku-buku Syiah, ditulis oleh sepuluhan orang dari mereka. Itu tampaknya membuat kelabakan bagi syiah pula, ungkapnya. (lihat https://www.nahimunkar.org/ketemu-keturunan-ulama-dan-pejuang-islam/ ).

Contoh nyata menolak penyebar virus sesat dari Mesir

Perlu diketahui dalam hal menolak tamu luar negeri yang menyebar virus kesesatan, telah ada contoh nyata. MUI Riau tahun 2007 telah berhasil menolak pentolan liberal Mesir Dr Nasr Hamid Abu Zayd yang berfaham bahwa Al-Qur’an itu muntaj tsaqafi (Al-Qur’an itu produk budaya). Hingga hajatan Depag (kini Kemenag) menghadirkan pentolan murtad dari Mesir untuk menatar dosen-dosen IAIN, UIN, STAIN se-Indonesia di Riau itu berhasil digagalkan oleh MUI dan Umat Islam. Demikian pula gagal juga pentolan murtad dari Mesir itu untuk ceramah di Surabaya dan Malang, akhirnya dia pulang dengan sangat kecewa, bahkan kemudian mengidap virus aneh yang berakhir dengan kematiannya. (lihat https://www.nahimunkar.org/nasr-hamid-abu-zayd-meninggal/ ).

Kini orang terkemuka dari Mesir pula yang fahamnya ditengarai aneh (dari sangat melawan syiah beralih jadi pembela dan “jualan” syiah) berkunjung ke Indonesia selama 6 hari. Dia membela syiah dan sudah berupaya melunturkan MUI soal syiah dengan terang-terangan menjilat ludahnya sendiri. Tadinya tahun 2011 dia dikhabarkan:

شيخ الأزهر يؤكد رفضه للمد الشيعى فى الدول الإسلامية السنية
الخميس: 29 سبتمبر 2011 , الساعة 2:53 مساء
القاهرة ـ آ ش أ : جدد الدكتور أحمد الطيب شيخ الأزهر الشريف الخميس رفضه للتوجه الشيعى فى الدول الإسلامية، وكذلك محاولات أصحاب المذهب الشيعى للإساءة إلى أصحاب الرسول صلى الله عليه وسلم ورموز أهل السنة

Al-Azhar: Kami Tidak Akan Tinggal Diam dalam Hadapi Penghinaan Syi’ah
Imam Agung Al-Azhar Syaikh Ahmad al-Thayyib mengatakan pada Kamis kemarin (29/9 2011) bahwa ia menolak semua upaya untuk menyebarkan ajaran Syiah di Mesir dan negara-negara Islam lainnya, pada saat Syiah melakukan penghinaan terhadap sahabat Nabi Muhammad dan tokoh-tokoh Sunni lainnya. (http://www.moheet.com/2011/09/29/%
(nahimunkar.com)

***

Pernyataan yang jelas melawan syiah itu kini dia jilat kembali, hingga sangat memalukan ketika dia berbicara di MUI (MajelisUlama Indonesia) di Jakarta Senin (22/2 2016), sebagai berikut:

Syaikh Ahmad al-Thayyib mengatakan, mayoritas Syiah menghormati sahabat Rasulullah SAW.
Dia katakan, Sunni dan Syiah adalah sama-sama sayap Islam. Tentu, kita bicarakan Syiah yang moderat, ada Imamiyah, Zaidiyyah, yang memiliki kedekatan dengan Sunni, tetapi ada sekte menyimpang dan sesat yang mengangkat isu tasyayyu’ yang mengakui risalah selain untuk Muhammad SAW, mereka itu, seperti saya katakan, menyalahi apa yang konstan dalam agama dan bisa dinyatakan keluar Islam.
Akan tetapi, sesunguhnya, sebagian perbedaan kita dengan saudara Syiah kita, adalah perbedaan nonprinsipil (furu’), kecuali dalam soal imam. Syiah percaya imam sebagai bagian pokok agama, sedangkan kita, Sunni soal itu termasuk nonprinsipil. Isu imamah juga tak membuat Syiah serta-merta keluar Islam.
“Dan ingat, perselisihan antara keduanya, Suni-Syiah inilah yang diembuskan oleh musuh Islam untuk memorak-porandakan umat, seperti saat ini yang terjadi di Suriah tak ada justifikasi meletusnya konflik tersebut, kecuali membenturkan Suni-Syiah, lihat pula Irak yang kacau balau atas dasar apa?
Konflik Suni-Syiah. Perhatikan pula Yaman. Kita sadar betul tentang peta konflik ini, karena itu sejak awal kita kampanyekan Suni dan Syiah bersaudara dan memang kita intinya bersaudara. Konflik tersebut akan terus diembuskan karena memang mereka musuh Islam tak menginginkan kita bersatu,” katanya.
(liht http://khazanah.republika.co.id/, Selasa, 23 Februari 2016, 06:11 WIB).

Selain  Syaikh Ahmad al-Thayyib itu menjilat ludahnya sendiri, dia jelas-jelas mengkhianati Lembaga Al-Azhar Kairo Mesir yang jelas-jelas telah diberitakan ke tingkat dunia bahwa mengecam keras film Iran yang mencela Sahabat Nabi saw.

غضب أزهري ردا على مسلسل إيراني “يهين” صحابة الرسول

Al Azhar Marah, Memprotes Serial TV Iran “Menghina Sahabat Nabi”

***

Ulama Al-Azhar tak terima penghinaan para sahabat Nabi ditayangkan dalam sebuah film dalam stasiun TV Iran

Hidayatullah.com—Media Mesir, Asharq Al-Awsat melaporkan, komunitas Sunni di Iran telah meminta pemerintah setempat melarang sebuah  drama televisi yang dinilai telah  menghina sahabat Nabi Abdullah bin Zubair (Ibn al-Awwam)” dan sahabat Nabi lainnya.

Para cendekiawan di Universitas Al-Azhar Mesir juga telah mengutuk Iran yang memperbolehkan siaran seri “Mokhtarnameh” dalam bahasa Persia di televisi Iran. Para ulama mengatakan bahwa seri televisi termasuk “menghina para sahabat Nabi, termasuk Abdullah Bin Zubair.”

Para ulama Al-Azhar juga menekankan bahwa Universitas Al-Azhar  tidak menerima penghinaan dari sahabat Nabi tersebut.

Al Azhar meminta pihak berwenang Iran segera mengambil tindakan “untuk mencegah pecahnya kekerasan sektarian”.

Sementara itu, Dr Mohamad Rafat Usman, dari Al-Azhar  mengatakan bahwa “di bawah ketentuan yang ditetapkan oleh Islam, dilarang melakukan penghinaan setiap manusia, apakah ia hadir atau tidak ada, hidup atau mati, dan ini adalah sesuatu yang disepakati oleh al-Quran dan Sunnah Nabi. “

Usman menambahkan ,”Kita harus selalu mengingat bahwa para sahabat Nabi adalah perantara antara kami dan Nabi, karena kami tidak akan tahu al-Quran tanpa mereka, untuk itu melalui mereka bahwa Allah memelihara al-Quran setelah menghafalkan kata Tuhan Yang Maha Esa dengan hati, memelihara bagi yang datang sesudah mereka … sehingga mereka layak di hormati. “ ( https://www.nahimunkar.org/al-azhar-marah-memprotes-serial-tv-iran-menghina-sahabat ).

Selayaknya Pesantren Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur berani bersikap menolak Syaikh Al-Azhar yang ini

Dengan demikian, ketika Syaikh Al-Azhar ini dirinya sendiri saja telah dia ingkari, dan lembaga terhormat yang dia pimpin juga dia khianati, maka selayaknya Pesantren Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur berani bersikap menolak Syaikh Al-Azhar yang ini. Sebagaimana MUI Riau telah berani tegas menolak kehadiran dan tampilnya pentolan liberal dari Mesir Dr Nasr Hamid Abu Zayd tahun 2007.

Betapa terhormatnya Gontor, bila menolak kunjungan Grand Syeikh Al Azhar, Dr Ahmad Athayyib, pada 25 Februari 2016 ke Gontor untuk meresmikan gedung serbaguna Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Sebaliknya, bila tetap menerimanya, bahkan dia dipersilakan meresmikan gedung di Gontor; maka jangan salahkan siapa-siapa bila nantinya Gontor dicap sebagai rekanan syiah, antek Quraish Shihab dan cap-cap kurang mengenakkan lainnya, misalnya.

Dalam kaidah telah jelas:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

(Menghilangkan mafsadat itu lebih didahulukan daripada mengambil sebuah maslahat).

Juga ada kaidah:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

 (Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan bagi diri sendiri dan bagi orang lain).

Dalam pepatah kita disebutkan: Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada guna.

Sekian.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 12.162 kali, 1 untuk hari ini)