Ilustrasi GP Ansor NU/ foto panjimas


Memberikan Kekuasaan Kepada Orang Kafir untuk Menduduki Jabatan Dapat Mengeluarkan dari Islam

Allah Ta’ala telah memberikan keni’matan yang paling puncak yakni ni’mat iman dan Islam, yang dengan meyakini dan melaksanakan iman dan Islam itu ikhlas untuk Allah, maka akan Allah masukkan ke surga. Kenapa hal itu merupakan kenikmatan puncak? Karena tidak ada bagian surga sama sekali bagi orang selain Islam.

Allahu akbar. Berarti, nikmat Iman dan Islam adalah nikmat khusus. Kekhususan itupun disertai dengan kekhususan-kekhususan yang telah Allah gariskan. Hari raya Islam khusus cara Islam. Puasa Islam khusus cara Islam, walau disebut bahwa orang-orang sebelumnya pun diwajibkan puasa. Di antara pembedaannya, puasa Islam adalah pakai sahur, dan disebut ada keberkahannya.

Yang telah dikhususkan itu jangan sampai kemudian dicampur aduk dengan yang lain. Islam yang telah dikhususkan aturan-aturannya itupun tidak boleh dicampur aduk dengan lainnya. Bahkan sampai dalam hal berpakaian pun dikhususkan. Pakaian muslimah tidak sama dengan pakaian kafirin. Pakaian muslimah harus menutup aurat, yang istilahnya memang sudah dikenal dengan pakaian muslimah.

Ketika Islam ini segalanya telah dikhususkan, dan itu merupakan keistimewaan, hingga Islam itu ya’luu walaa yu’laa, unggul dan tidak diungguli, maka meniru-niru hal-hal yang dari non Islam pun dilarang, bila hal itu merupakan ciri khas apalagi syiar kekufuran. Bahkan diancam oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapa yang menyerupai  dengan suatu kaum maka dia termasuk (golongan) mereka.

Gaya hidup Muslim memang harus beda dengan non Islam. Sampai-sampai, minum atau makan pakai tangan kiripun dilarang dalam Islam, karena itu cara makan dan minumnya syetan. Sedang syetan adalah musuh yang nyata.

Hanya cara makan dan minum saja dilarang meniru cara syetan, apalagi mengenai hal-hal yang sifatnya mengandung keyakinan ataupun ibadah. Oleh karena itu, hari raya kekufuran pun dilarang didatangi. Dilarang pula mengucapi selamat. Karena mendatangi ataupun mengucapkan selamat mengandung makna mengakui benarnya ataupun bolehnya. Sedangkan agama yang tidak dibenarkan oleh Allah Ta’ala, tidak boleh dibenarkan oleh Muslim.

Oleh karena itu, setiap muslim diancam, bila setia alias loyal kepada orang kafir maka dinilai sebagai bagian dari mereka. Dan itu disebut oleh Allah Ta’ala sebagai

tingkah yang “Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka”.

Firman Allah Ta’ala yang menegaskan masalah itu cukup banyak. Di antaranya:

 تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (80) وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ [المائدة/80، 81]

(80) Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (81) Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.  (QS Al-Maaidah: 80, 81)

 ] يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ[

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (Al-Maidah: 51)

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51)

{ ومن يتولهم منكم } أي أيها المؤمنين { فإنه منهم } ، لأنه بحكم موالاتهم سيكون حرباً على الله ورسوله والمؤمنين وبذلك يصبح منهم قطعاً) أيسر التفاسير للجزائري – (ج 1 / ص 356)(

Karena konsekwensi kesetiaan kepada mereka (Yahudi dan Nasrani)  itu akan menjadikan perang terhadap Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Dengan demikian pasti akan menjadi bagian dari mereka. (Al-Jazaairi dalam tafsirnya, Aisarut tafaasiir juz 1 halaman 356).

GP Ansor NU tidak jelas wala’ dan bara’nya

Sudah jelas ada petunjuk-petunjuk Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, namun oleh Gerakan Pemuda Ansor (ortonom di bawah NU) dinafikan begitu saja. Di antara petunjuk dalam Al-Qur’an tentang wala’ (loyal, setia) dan bara’ (berlepas diri, benci) adalah ayat-ayat berikut ini.

Allah Ta’ala befirman:

{وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ} [الزمر: 7]

dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; [Az Zumar:7]

Dengan membolehkan pilih pemimpin orang kafir (non Islam), sebagaimana keputusan GP Ansor NU, berarti meridhai kekufuran yang Allah tidak ridhai. Itu jelas-jelas berlawanan atau penentangan.

Sudah ada suri teladan yang melarang untuk mempercayai orang-orang yang mengusung kekafiran, hingga Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an:

{ قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ…} [الممتحنة: 4]

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…. [Al Mumtahanah:4]

Ketika GP Ansor NU tidak memandang agama dalam memilih pemimpin, berarti sama dengan menafikan bahkan menganggap tidak prlu diikuti ayat itu yang jelas-jelas menegaskan: “…kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…. [Al Mumtahanah:4]

Cukuplah ayat Allah sebagai rujukan:

تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ !وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 80-81)

Ibn Taimiyah berkata tentang ayat ini: “penyebutan jumlah syarat mengandung konsekuensi bahwa apabila syarat itu ada, maka yang disyaratkan dengan  kata “seandainya” tadi pasti ada, Allah berfirman:

 وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ

“sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong”.

Ini menunjukkan bahwa iman tersebut menolak penobatan orang-orang kafir sebagai wali-wali (para kekasih dan penolong), tidak mungkin iman dan sikap menjadikan mereka sebagai wali-wali bertemu dan bersatu dalam hati. Ini menunjukkan bahwa siapa yang mengangkat mereka sebagai wali-wali, berarti belum melakukan iman yang wajib kepada Allah, nabi dan apa yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an)” (Ibn Taimiyah, Kitab al-Iman, 14)

Memberikan Kekuasaan Kepada Orang Kafir untuk Menduduki Jabatan Dapat Mengeluarkan dari Islam

Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّواْ مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاء مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ.هَاأَنتُمْ أُوْلاء تُحِبُّونَهُمْ وَلاَ يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْاْ عَضُّواْ عَلَيْكُمُ الأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُواْ بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ.إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُواْ بِهَا… } (118-120) سورة آل عمران.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalangan kamu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi, sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat Kami jika kamu memahaminya. Baginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya, apabila mereka menjumpai kamu mereka berkata: ’Kami beriman’, dan apabila mereka menyendiri mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah kepada mereka: ’Matilah kamu karena kemarahanmu itu’. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tapi jika kamu mendapat bencana mereka bergembira karenanya..” (QS. Al-Imron: 118-120).

Ayat-ayat yang mulia ini mengungkapkan hakekat kaum kafir dan apa yang mereka sembunyikan dari kaum muslimin yang berupa kebencian dan siasat untuk melawan kaum muslimin seperti tipu daya dan penghianatan. Dan ayat ini juga mengungkapkan tentang kesenangan mereka bila kaum muslimin mendapat musibah. Dengan berbagai cara mengganggu ummat Islam. Bahkan kaum kuffar tersebut memanfaatkan kepercayaan ummat Islam kepada mereka dengan menyusun rencana untuk mendiskreditkan dan membahayakan ummat Islam.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu, dia berkata kepada ‘Umar radhiallahu anhu: ’Saya memiliki sekretaris yang beragama Nashrani’. ‘Umar berkata: ’Mengapa kamu berbuat demikian? Celakalah engkau. Tidakkah engkau mendengar Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ …} (51) سورة المائدة.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain…” (QS. Al-Ma’idah: 51).
Kenapa tidak engkau ambil seorang muslim sebagai sekretarismu? Abu Musa menjawab: ’Wahai Amirul Mukminin, saya butuhkan tulisannya dan urusan agama terserah dia’. Umar berkata: ’Saya tidak akan memuliakan mereka karena Allah telah menghinakan mereka, saya tidak akan mengangkat derajat mereka karena Allah telah merendahkan mereka dan saya tidak akan mendekati mereka karena Allah telah menjauhkan mereka’.

Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam keluar menuju Badar. Tiba-tiba seseorang dari kaum musyrikin menguntitnya dan berhasil menyusul beliau ketika sampai di Heart, lalu dia berkata: ’Sesungguhnya aku ingin mengikuti kamu dan aku rela berkorban untuk kamu’. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: ”Berimankah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya?”, dia berkata:’Tidak’. Beliau bersabda: ”Kembalilah, karena saya tidak akan meminta pertolongan kepada orang musyrik”.

Dari nash-nash tersebut di atas, jelas bagi kita tentang haramnya mengangkat kaum kafir untuk menduduki jabatan pekerjaan kaum muslimin yang mereka nanti akan mengokohkan kedudukannya dengan sarana yang ada padanya untuk mengetahui keadaan kaum muslimin dan membuka rahasia-rahasia mereka atau menipu dan menjerumuskan ummat Islam ke dalam kerugian dan kebinasaan. (AL-WALA’ WAL BARA’ DALAM PANDANGAN ISLAM oleh Syaikh Sholeh bin Fauzan Bin Abdillah Al-Fauzan http://ibnusarijan.blogspot.com/2008/06/al-wala-wal-baro-dalam-pandangan-islam_21.html)

Berlawanan dengan ayat-ayat yang telah dijelaskan ulama itu, telah tersebar berita, GP Ansor Nyatakan Sikap Resmi Pilih Pemimpin Tak Pandang Agama

“Kepemimpinan yang kita anut itu pemimpin yang bisa memberikan maslahat kepada masyarakat, yang bisa memberi manfaat pada masyarakat. Kita nggak lihat latar belakang agama, suku dan seterusnya, tapi apakah pemimpin itu bisa memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat GP Ansor Yaqut Cholil  di Kantor PP GP Ansor, Jalan Kramat Raya, Jakarta Selatan, Sabtu (11/3 2017). (Demi Bolehkan Pilih Pemimpin Kafir, GP Ansor NU Menyuara Berseberangan dengan Al-Qur’an Posted on 14 Maret 2017 by Nahimunkar.com).

Munculnya sikap resmi GP Ansor yang Nyatakan Sikap Resmi Pilih Pemimpin Tak Pandang Agama, itu menjadi bukti bahwa GP Ansor tidak punya sikap jelas mengenai wala’ (loyal, setia –mustinya terhadap Islam) dan bara’ (berlepas diri – mustinya dari kekafiran). Bahkan terindikasi seakan terbalik.

Karena GP Ansor itu adalah organisasi di bawah NU (Nahdlatul Ulama), sehingga secara gampanya dapat dibilang, berarti NU telah gagal dalam wala’ dan bara’, hingga membuahkan anak-anak generasi penerus yang jauh sekali dari ajaran wala’ dan bara’ dalam Islam.

Semoga ini jadi pelajaran berharga bagi kita semua. Dan itu kalau diterus-teruskan maka sangat membahyakan bagi keimanan, karena bisa terlepaslah keimanan. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga Allah melindungi kami dari hal yang demikian.

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.890 kali, 1 untuk hari ini)