GPII Kecam Aksi Polisi yang Merusak Kantornya saat Ada Demo Omnibus Law

  • PERNYATAAN SIKAP PP. GERAKAN PEMUDA ISLAM INDONESIA
  • GPII dan PII Protes Keras Penyerangan Aparat di Kantor Jalan Menteng Raya

 


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, Gerakan Pemuda Islam Indonesia beraksi sekitar terjadinya aksi kekerasan pada unjuk rasa di kawasan Istana Negara dan sekitar Monas, kemarin (13/10). Salah satunya adalah adanya pengerusakan Kantor PP GPII yang ada di kawasan Menteng, Jakarta.

Simak: Viral Video Kondisi Sekretariat PII Usai Kena Sweeping Polisi

Organisasi ini mengeluarkan pernyataan melalui rilis yang dikirimkan ke Republika.co.id sebagai berikut:

———-

PERNYATAAN SIKAP PP. GERAKAN PEMUDA ISLAM INDONESIA Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Berkaitan dengan aksi demonstrasi elemen bangsa yang menolak UU Omnibus Law belakangan ini hingga berujung pada tindakan represif aparat kepolisian sangatlah prihatin. Pada tanggal 13 Oktober 2020 ada banyak persoalan yang dianggap menyimpang yang dilakukan oleh aparat kepolisian dan menafikkan protokol polri.

Terutama pengerusakan Kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII) salah satu sampelnya, maka dengan ini kami menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Kami dari Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII) mengamati dan mencermati bahwa aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan oleh beberapa elemen bangsa yang menolak UU Omnibus Law adalah hal yang biasa dalam demokrasi.

2. Berkaitan dengan UU Omnibus Law yang mengundang pro-kontra rakyat Indonesia tersebut, kami memandang sebagai bagian dari proses demokrasi yang harus disikapi secara bijak oleh aparat negara dalam mengawal keamanan.

3. Kami dari Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII), tetap akan mendukung penuh langkah pemerintah yang dianggap pro Rakyat dan membangun Indonesia. Terutama kebijakan-kebijakan strategis untuk membangun Indonesia dan kesejahteraan rakyat.

4. Kami dari Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam menyayangkan dan mengecam tindakan represif aparat kepolisian yang merusak kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPII) yang beralamat di Jl. Menteng Raya Nomor. 58 Jakarta Pusat pada tanggal 13 Oktober 2020 pukul 21.30 malam hari.

5. Kami Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII) mendesak Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk mengevaluasi jajarannya karena tidak mengedepankan protokol POLRI dalam mengamankan aksi demonstrasi.

6. Kami dari Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII) meminta segera bebaskan kader-kader Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) yang ditangkap dalam peristiwa penyerangan aparat kepolisian ke kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII).

7. Kader-kader Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) yang berada di Kantor bukanlah pelaku kerusuhan, kemudian diserang dan ditangkap di dalam kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII). Di kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII) mereka lagi mempersiapkan agenda-agenda kerja Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Untuk itu, Kami akan mengambil langkah-langkah hukum atas kejadian tersebut.

8. Atas insiden tersebut, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam mengimbau dan meminta pada kader Gerakan Pemuda Islam Indonesia di seluruh Indonesia untuk tetap menahan diri untuk tidak mengambil tindakan di luar akal sehat dan konstitusi negara.

Demikian pernyataan sikap Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII), atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Jakarta, 13 Oktober 2020

Mengetahui,

 
 

PIMPINAN PUSAT
GERAKAN PEMUDA ISLAM INDONESIA 2017-2020

 
 

Ketua Umum,                        Sekretaris Jendral 

Masri Ikoni                                Rizwansyah

 

Aries Setiawan

VIVA14 Oktober 2020

***

GPII dan PII Protes Keras Penyerangan Aparat di Kantor Jalan Menteng Raya


 

Jakarta – Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) mengecam penyerangan dan perusakan kantor Pusat GPII dan Kantor PII di Jalan Menteng Raya 58, pada Selasa petang , 13 Oktober 2020 oleh aparat kepolisian menyusul aksi demo menolak Omnibus Law.

Sebagaimana viral melalui media sosial dan beredar di berbagai Grup Whatsap, kantor GPII dan Kantor Pelajar Islam Indonesia (PII) yang berada di kompleks Menteng Raya 58 diserang aparat keamanan dan beberapa pengurus ikut dibawa ke markas kepolisian.

“Kami dari Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam menyanyangkan dan
mengecam tindakan represif aparat kepolisian yang merusak kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPII) yang beralamat di JI. Menteng Raya Nomor. 58 Jakarta Pusat pada tanggal 13 Oktober 2020 pukul 21.30 malam hari,” demikian Statemen PP GPII yang ditanda-tangani Ketua Umum Masri Ikoni dan Sekretaris Jenderal Ujang Rizwansyah, Selasa Malam (13/10/2020).

GPII juga meminta kepolisian RI untuk mengevaluasi jajarannya karena
tidak mengedepankan protokol POLRI dalam mengamankan aksi
demonstrasi.

GPII juga meminta kepolisian segera melepaskan kader kader GPII yang ditangkap dan dibawa aparat kepolisian ketika perusakan tersebut berlangsung. “Kami dari Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPI) meminta segera bebaskan kader-kader Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) yang ditangkap dalam peristiwa penyerangan aparat kepolisian ke kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PP GPII)”.

Menurut GPII, para kader tersebut berada di kantor ketika sedang melakukan agenda agenda rutin keorganisasian.

GPII juga menyatakan akan mengambil langkah hukum terkait penangkapan kader kadernya.

Atas insiden tersebut, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia juga mengimbau dan meminta pada kader Gerakan Pemuda Islam Indonesia di seluruh Indonesia untuk tetap menahan diri untuk tidak mengambil tindakan diluar akal sehat dan konstitusi negara.

Sementara itu Ketua Umum PB Pelajar Islam Indonesia (PII) Husin Tasrif kepada pers, Rabu (14/10) mengecam keras aksi penyerangan, penganiaya dan diskriminasi terhadap pengurus PII.

PII mendesak Kapolda Metro membebaskan anggotanya yang ditangkap, mendesak Kapolda memberi sanksi kepada oknum aparat yang melakukan penyerangan, dan mendesak Kapolda Metro Jaya memberikan penjelasan resmi atas insiden tersebut. Demikian laporan Toha Almasyur. (*)

 

Indonesiaraya.co.id,  October 14, 2020

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 137 kali, 1 untuk hari ini)