Lomba Busana Mirip Istri Teroris: Bukan Hoax. Solusi Publishing Tuding Gramedia Depok Ketakutan

Poster lomba itu menyebutkan bahwa acara terselenggara oleh Gramedia Depok, Solusi Publishing dan Multivent Organizer.

CEO Solusi Publishing Ahmad Bahar menegaskan: “Hoax apanya, kami jauh-jauh hari sudah mengajukan acara ini dan mereka (Gramedia Depok) sudah menyetujuinya. Kok tiba-tiba tidak ngaku,” ujarnya pada Bisnis.com, Jumat (29/5/2015).

“Gramedia itu kalau untungnya saja dia mau, kalau dilihatnya rugi dia tidak mau mengakui. Kami bisa perdatakan ini,” katanya.

Singkat kata, Gramedia (Toko Buku dan Penerbit Katolik di lingkungan Kompas Group) Depok tersingkap aibnya, dan diancam untuk diperdatakan. Ternyata mengusung pengarang cerita, cewek liberal feminis kelahiran Jombang Abidah El Khalieqy yang sinis terhadap Umat Islam itu hanya akan mempermalukan diri.

Pelajaran berharga bagi yang anti Islam, terutama kasus ini diderita oleh Gramedia Depok. Ibarat makan nangka, sudah belepotan dengan pulut, tidak berhasil makan nangkanya. Rasakan saja kalau masih mau diteruskan mengusik Islam.

Inilah beritanya, dan di bagian bawah adalah berita awal yang kemudian disebut hoax oleh Gramedia Depok, namun ternyata justru akhirnya Gramedia Depok sendiri disingkap kebohongannya. Ada juga sedikit tentang cewek asal Jombang pengusung faham liberal dan feminisme yang sinis terhadap Islam itu.

***

Lomba Busana Mirip Istri Teroris: Bukan Hoax. Solusi Publishing Tuding Gramedia Depok Ketakutan

DEPOK (voa-islam.com) – CEO Solusi Publishing Ahmad Bahar membantah apabila Lomba ‘Berbusana Mirip Istri Teroris’ sebagai rangkaian bedah buku ‘Akulah Istri Teroris’ karya Abidah El Khalieqy itu sebagai hoax atau kabar bohong.

“Hoax apanya, kami jauh-jauh hari sudah mengajukan acara ini dan mereka (Gramedia Depok) sudah menyetujuinya. Kok tiba-tiba tidak ngaku,” ujarnya pada Bisnis.com, Jumat (29/5/2015).

Menurut Ahmad, Gramedia Depok ketakutan dengan hujatan dari media sosial yang meminta acara itu dibatalkan. Bahkan, katanya, Gramedia Depok juga diancam oleh orang tak dikenal yang akan menghancurkan gedung toko tersebut apabila acara terus digelar.

Menurut Ahmad, Gramedia Depok ketakutan dengan hujatan dari media sosial yang meminta acara itu dibatalkan.

Ahmad menuturkan, pihaknya tidak mungkin asal-asalan membuat acara dan banner apabila tidak ada persetujuan semua pihak seperti yang tercantum dalam poster tersebut. Poster lomba itu menyebutkan bahwa acara terselenggara oleh Gramedia Depok, Solusi Publishing dan Multivent Organizer.

“Gramedia itu kalau untungnya saja dia mau, kalau dilihatnya rugi dia tidak mau mengakui. Kami bisa perdatakan ini,” katanya.

Dia menambahkan, dirinya hari ini dipanggil Gramedia Depok untuk membicarakan kelanjutan acara tersebut. Padahal dia sudah punya jadwal untuk terbang ke Yogya. Bahkan, pihak Gramedia meminta membatalkan jadwal tersebut. “Nah ini kelihatan, pasti ada yang urgent dengan acara ini,” katanya.

Dia menambahkan pihaknya pernah bermasalah dengan Gramedia bukan kasus ini saja, tetapi pernah terjadi saat bedah buku yang berbicara tentang banyak istri masuk sorga di Semarang.

Kasusnya, kata dia, hampir mirip dengan ini. “Kalau saya sih wajar saja, soalnya Gramedia kan perusahaan besar. Jadi mungkin mereka ketakutan,” katanya.

Sebelumnya, General Manager Gramedia Depok Edi Sulis resmi membantah terkait Lomba Berbusana Mirip Istri Teroris tersebut. “Kami sedikit pun tak pernah berpikir untuk menggelar lomba itu,” katanya.

Bukti kuat acara lomba busana ala Istri Teroris bukan hoax

Voa-Islam.com mencoba menulusi twit Uni Fahira Idris yang mengunggah foto Facebook dari sang penulis buku ‘Akulah Istri Teroris’, karya Abidah El Khalieqy terbitan Solusi Publishing.

Ternyata ada banyak kejanggalan ditemukan apabila acara tersebut dikatakan sebagai hoax, voa-islam.com bahkan berhasil menemukan akun Facebook Abidah El Khalieqy.

Abidah secara sah bahkan mengunggah foto Facebook pada 25 Mei 2015 yang sedianya akan menggelar ‘Book Talk’ pada Ahad, 31 Mei 2015, di Toko Buku Gramedia, Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat.

“Launching buku boleh, tapi cara/ide launching bukunya menuai masalah” ia pun melakukan mention @gramediadepok @Gramedia @gramediabooks pada pukul 12.20 wib.

Misteri Launching Buku ‘Akulah Istri Teroris’, Dibatalkan atau Hoax? Meski acara launching atau book talk telah dianggap hoax dan tidak diselenggarakan oleh Gramedia Depok, namun menyisakan misteri dan kejanggalan bagi Fahira Idris.

Ia menulis dalam akun twitter @FahiraIdris “Sy apresiasi @gramediadepok yg sdh buat berita resmi bhw acara itu hoax. Hanya misteri bg sy, ini hoax/ dibatalkan?”

Ia kembali mengunggah foto pada akun twitternya. Jika kita telusuri ternyata telah beredar run down acara bedah buku tersebut.

Fahira TL

Seperti dapat dilihat pada gambar diatas, narasumber pada acara tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kombes Pol. Ahmad Subarkah (Kapolres Depok)
  2. Ir.H. Imam Budi Hartono (Anggota DPRD Jawa Barat)
  3. Abidah El Khalieqy (Penulis Novel Akulah Istri Teroris)

Acara heboh ini adalah event promo untuk buku berjudul ‘Akulah Istri Teroris’ dengan penulis Abidah El Khalieqy terbitan Solusi Publishing yang sedianya akan digelar pada Ahad, 31 Mei 2015, di Toko Buku Gramedia, Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat.

Brosur

Melalui akun twitter @Fahiraidris, Uni Fahira akan memastikan hadir di toko buku Gramedia Depok, “Alhamdulillah.. Pastikan acara ini tidak terjadi di toko buku anda, akan saya cek lokasi anda pada tanggal dan jam tersebut”.

Mari tanya Gramedia, yang benar hoax atau dibatalkan sih? [adivammar/voa-islam.com] Jum’at, 13 Sya’ban 1436 H / 29 Mei 2015 17:38 wib

(nahimunkar.com)

***

Gramedia Depok Bikin Ulah, Gelar Acara ‘Lomba Berbusana Mirip Istri Teroris’, Ayo Gagalkan!

Novelis feminis liberal penggugat kyai pesantren diusung Gramedia?

Dulu Kompas-Gramedia Group selama 40-an tahun ngusung Gus Dur yang berasal dari Jombang, sekarang cukup ngusung cewek novelis liberal feminis dari kelahiran Jombang.

DEPOK (voa-islam.com) – Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, sikap bebal Gramedia yang merupakan representasi toko buku dan media milik katholik ini sudah amat keterlaluan dan telah berkali-kali menyinggung umat Islam.

Buktinya beredar poster iklan ‘Lomba Berbusana Mirip Istri Teroris’, yang secara langsung atau tidak Gramedia mengizinkan acara yang lebih pantas sebagai acara olok-olok pakaian muslimah bercadar.

Acara ini adalah event promo untuk buku berjudul ‘Akulah Istri Teroris’ dengan penulus Abidah El Khalieqy terbitan Solusi Publishing.

Acara penistaan dan pelecehan terhadap simbol muslimah bercadar ini sedianya akan digelar pada Ahad, 31 Mei 2015, di Toko Buku Gramedia, Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat.

Bahkan ada hadiah yang diberikan sebagai pemenang, senilai Rp. 1 juta rupiah. Dalam poster terpampang bahwa acara ini digelar dalam rangka memeriahkan launching buku novel.

Brosur

Menyikapi hal ini Ustadz Alfian Tanjung turut mengomentari acara ini, “Ini sebuah stigmatisasi, sebaiknya bahkan seharusnya digagalkan.’ ucapnya kepada Voa-Islam.com.

Ia juga menyatakan, “Laporkan ke MUI dan Polisi terdekat. Lebih elegan kalo akhwat turun tangan menemui manajemen Gramedia Depok. Langkah pertama hubungi dan telpon panitia untuk menyatakan keberatan. Kalo mereka mengabaikan, lakukan opsi 2. Segel Gramedia.” [adivammar/voa-islam.com] Jum’at, 10 Sya’ban 1436 H / 29 Mei 2015 12:51 wib

***

Novelis feminis liberal penggugat kyai diusung Gramedia?

Acara yang mengusik Umat islam itu diselenggarakan berkaitan dengan buku novel karya orang ini:

Abidah El-Khalieqy

Satu lagi news maker from Jombang, dia adalah Abidah El-Khalieqy, penulis novel berjudul Perempuan Berkalung Sorban, yang kemudian difilmkan dan menuai kontroversi. Cewek kelahiran Jombang tanggal 1 Maret 1965 ini, adalah mantan santriwati yang banyak menulis karya satra berupa cerpen, novel, dan puisi dengan mengangkat isu-isu perempuan. (maaf di sini disebut cewek, sesuai dengan cara berfikir, kiprah dan karyanya).

Tahun 2003, Abidah meraih Juara ke-2 pada sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta. Novelnya berjudul Geni Jora, mengungkap kehidupan di seputar pesantren putri. Menurut Abidah, seharusnya pesantren dapat menjadi agent of change (pelaku perubahan) bagi nasib perempuan yang hingga kini masih termarjinalisasi di segala sektor kehidupan.

Tanggal 22 Maret 2007, Abidah menjadi salah satu pembicara pada Seminar Sastra bertema “Perempuan dan Agama dalam Sastra” di Hotel Le Meridien. Ketika itu ia membawakan makalah yang menyoroti peranan tradisi, budaya, dan agama (Islam) dalam mengekalkan budaya patriarki di masyarakat. Dengan lantang Abidah mengatakan, “Fiqihlah yang paling berpengaruh atas ter-subordinasinya perempuan. Karena itu harus dilakukan rekonstruksi fiqih dan re-interpretasi ayat-ayat (kitab suci)…” (http://perca.blogspot.com/2007_04_01_archive.html)

Pernyataan Abidah di atas –merekonstruksi fikih dan menafsirkan kembali ayat-ayat Al-Qur’an– memang khas penganut sepilis (sekulerisme, pluralisme agama alias kemusyrikan baru berupa merelatifkan kebenaran setiap agama, hingga Islam disamakan dengan agama-agama lain, dan liberalisme) yang juga sering dijajakan oleh para aktivis kesetaraan gender seperti Musdah Mulia. Nama Abidah mencuat setelah novelnya berjudul Perempuan Berkalung Sorban difilmkan dan menuai kontroversi. Padahal, sebelumnya, meski ia sudah berkoar-koar menjajakan feminisme (gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan kaum pria) dan sebagainya, namanya tak kunjung muncul di pentas nasional.

Melalui novel Perempuan Berkalung Sorban, Abidah El Khalieqy menggambarkan proses-proses marginalisasi perempuan. Melalui Anissa, putri seorang kiai di sebuah desa, yang menjadi tokoh sentral novel tersebut, Abidah menggambarkan bagaimana sub-ordinasi perempuan itu berlaku sejak fase kanak-kanak hingga dewasa. Ketidakadialan gender atau “pengebirian” terhadap hak-hak kaum perempuan terjadi sejak masa kanak-kanak. Proses itu terjadi dalam pola pendidikan dalam keluarga, sekolah dan juga masyarakat. Melalui novel PBS ini Abidah memotret realitas sosial dalam masyarakat, melalui sosok Anissa. Anissa kecil yang ingin belajar dan mengetahui banyak, terpaksa harus menghadapi beberapa benturan dan hambatan, di mana kaum perempuan belum mendapatkan hak-hak kesejajaran dengan kaum laki-laki.

Pada sebuah wawancara, terutama ketika ditanya tentang persoalan perempuan yang paling mendesak di negeri ini, Abidah menjawab: “Jika kita mau sekilas saja menengok realitas kehidupan di negeri tercinta ini, kita pasti ternganga menyaksikan kebrutalan dan premanisme laki laki atas perempuan. Tengok saja tayangan teve. Seorang suami yang dibakar cemburu telah memotong payudara istrinya lalu mengunyahnya bak sepotong burger. Di channel lain, seorang suami menyiram wajah istrinya dengan airraksa. Masih banyak channel lagi yang mengekspos poligami para suami, nikah legal nikah illegal. Pada saatnya, ketika kita sedikit mampu lebih serius meneropong kenyataan, saat itu tak sempat lagi kita ternganga. Hanya bersyukur karena tak jadi stroke. Lalu kita tahu, setidaknya ada 15 ribu perempuan per tahunnya yang mengalami kekerasan, baik fisik atau psikis. Angka ini terus naik seiring semakin terbukanya para korban untuk berani bersuara dan melapor. Jadi sejatinya, ada proses pembungkaman yang sistemik telah dilakukan oleh patriarki, oleh budaya dan pemahaman agama. Ini yang mendesak untuk dibongkar dan ditata ulang.” (http://perca.blogspot.com/2007_04_01_archive.html)

Demikian sengitnya ungkapan-ungkapan Abidah itu. Dia hanyalah menjadikan tingkah laku orang yang dia kecam sebagai alat untuk memukul, bahwa pemahaman agama (Islam) –mengenai nasib perempuan di hadapan kaum lelaki selama ini– tidak benar, dan harus diubah. Coba ditanyakan pada Abidah: Banyaknya laki-laki dan perempuan yang berzina, apakah dapat dipukulkan bahwa pemahaman agama para ulama atau kyai telah salah?  Bahkan, banyaknya anak-anak kyai, misalnya, yang sekarang mencari dana ke orang-orang kafir, hingga menjadi antek kafirin dalam melontarkan pendapat-pendapat yang merusak Islam; apakah bisa langsung dipukulkan, bahwa itu kesalahan ulama dan kyai dalam memahami agama?

Orang yang berpikiran waras tentu akan menolak celoteh Abidah. Karena dari masa ke masa, banyaknya orang-orang musyrik (dosa terbesar) hingga banyak kaum dihancurkan langsung oleh Allah Ta’ala seperti kaumnya Nabi Nuh ‘alaihis salam, kaum Nabi Sholeh ‘alaihis salam dan lain-lain itu sama sekali bukan karena salahnya para nabi Allah dalam memahami agama. Sedangkan para ulama adalah pewaris para nabi. Jadi, tuduhan-tuduhan Abidah itu sebenarnya sangat berat dan besar.

Menurut Abidah, dibandingkan dengan novel Geni Jora, novel Perempuan Berkalung Sorban (yang ditulis tahun 2001) justru lebih keras kritiknya terhadap Kitab Kuning dan para kyai. Di mata Abidah, para kyai adalah ‘para penguasa’ yang menciptakan pola pikir dan budaya. Menurut Abidah pula, di tangan Hanung, novel PBS tidak hanya menjadi media ‘kampanye’ untuk memberdayakan kaum perempuan, tetapi Hanung mampu memberikan cerita berkualitas dengan berbagai bumbunya. Begitu puji Abidah.

Bumbu yang dimaksud, antara lain berupa adanya adegan membakar buku-buku yang akan dibaca santri, karena buku-buku itu tidak sesuai dengan ajaran pesantren. Padahal, pada novelnya, hal itu tidak ada. “Dalam tradisi salafi (pembakaran buku) itu tidak ada, tetapi mungkin untuk efek dramatisasi, okelah,” begitu sikap Abidah terhadap kreativitas dan improvisasi Hanung. Padahal, adegan seserius itu seharusnya dia sesali, selain mengada-ada juga telah memfitnah kyai dan pesantren.

Dari fakta ini saja, kita sudah bisa mendapat bukti, bahwa Hanung memang ada niat memfitnah pesantren melalui adegan bakar buku tadi, dan Abidah mendukungnya. Yang penting ngetop.

Sebenarnya ngawur ketemu ngawur itu saja sudah memalukan. Lha ini ngawur ketemu ngawur, masih pula menohok ulama atau kyai atau lembaga pesantren atau bahkan pemahaman Islam, bahkan masih pula berbau dana dari orang kafir.  Betapa komplitnya ramuan tidak mutu ini: Adonan serba ngawur, tidak benar, berbau fitnah, berbau dana dari orang kafir, untuk menuduh dan merugikan Islam serta Ummat Islam. Ketika sudah seperti itu, apakah salah bila Ulama dan Ummat Islam marah? (haji/tede) https://www.nahimunkar.org/news-maker-from-jombang/

(Dibaca 3.848 kali, 1 untuk hari ini)