Gubernur Kafir itu Adzab?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Siapapun muslim seharusnya merasa sedih dengan posisi pemimpin yang arogan terhadap rakyatnya. Terlebih ketika arogansi itu dinampakkan dengan kesan menentang aturan agama yang dianut oleh mayoritas rakyatnya. Pekak rasanya jika setiap hari harus dipanas-panasi dengan suasana ‘nantang’ yang tidak tahu sopan santun.

Sebagai muslim, yang kita pikirkan bukan semata sikap bapak gubernur. Karena pak gubernur orang kafir. Wajar ketika dia bersikap tanpa aturan. Tapi yang lebih kita pikirkan adalah mengapa rakyat yang 80% muslim itu, memiliki pemimpin yang demikian sangar itu.

Allah menjelaskan dalam al-Quran, bahwa salah satu cara Allah memberi hukuman hamba-Nya adalah dengan Allah tunjuk orang dzalim untuk menjadi pemimpin mereka. Orang yang tindakannya selalu menyakiti hati rakyatnya. Menantang rakyatnya, dst.

Allah berfirman,

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim menjadi penguasa bagi sebagian orang zalim lainnya disebabkan dosa yang mereka kerjakan. (QS. al-An’am: 129)

Al-baghawi menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas,

أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا أَرَادَ بِقَوْمٍ خَيْرًا وَلَّى أَمْرَهُمْ خِيَارَهُمْ، وَإِذَا أَرَادَ بِقَوْمٍ شَرًّا وَلَّى أَمْرَهُمْ شِرَارُهُمْ.

Bahwa apabila Allah menghendaki kebaikan bagi satu kaum, maka Allah serahkan urusan mereka kepada orang terbaik di kalangan mereka (Allah tunjuk pemimpin yang baik). Dan jika Allah menghendaki keburukan pada satu kaum, Allah serahkan urusan mereka kepada orang terjahat di tengah mereka. (Tafsir al-Baghawi, 3/189)

Keterangan ini juga disampaikan al-Qurthubi dalam tafsirnya,

وَهَذَا تَهْدِيدٌ لِلظَّالِمِ إِنْ لَمْ يَمْتَنِعْ مِنْ ظُلْمِهِ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِ ظَالِمًا آخَرَ. وَيَدْخُلُ فِي الْآيَةِ جَمِيعُ مَنْ يَظْلِمُ نَفْسَهُ أَوْ يَظْلِمُ الرَّعِيَّةَ، أَوِ التَّاجِرُ يَظْلِمُ النَّاسَ فِي تِجَارَتِهِ أَوِ السَّارِقُ وَغَيْرُهُمْ.

Ini ancaman bagi setiap orang yang dzalim, selama mereka tidak menghentikan kedzalimannya, maka Allah akan tunjuk orang dzalim lainnya yang akan menindasnya. Termasuk dalam ayat, semua orang yang mendzalimi dirinya atau mendzalimi rakyatnya atau pedagang yang mendzalimi konsumen dalam berdagang, atau pencuri atau yang lainnya. (Tafsir al-Qurthubi, 7/85)

Seperti itulah bagaimana Allah memberi peringatan bagi hamba-Nya, agar mereka sadar diri. Kedzaliman dibalas dengan kedzaliman, bukan dari orang yang didzalimi, tapi dari orang lain. Termasuk kedzaliman dalam berdagang.

Dalam hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

وَمَا بَخَسَ قَوْمٌ الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ ، وَشِدَّةِ الْمُؤْنَةِ ، وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

Apabila masyarakat suka mengurangi takaran dan timbangan, maka mereka akan dihukum dengan kelaparan, susah mendapatkan penghasilan, dan kedzaliman pemimpin atas mereka. (HR. Ibnu Majah 4155, Thabrani dalam al-Ausath 4671, dan al-Baihaqi dalam Syuabul Iman 3041 dengan sanad shahih).

Saatnya kaum muslimin yang hidup di wilayah ini mulai introspeksi serius, mengapa sampai Allah menguji mereka dengan keberadaan pemimpin yang arogan semacam ini.

Dan jangan lupakan banyak istighfar, serta memperbanyak doa,

اللَّهُمَّ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah, jangan engkau serahkan kepemimpinan wilayah kami kepada orang yang tidak mengasihi kami. (HR. Turmudzi 3841)

Pemimpin Arogan itu Logikanya Kebalik

Karena semangat arogan, sang gubernur kafir menantang:

“Kami punya saham, lanjut saja. Bir salahnya di mana sih? Ada enggak orang mati karena minum bir? Orang mati kan karena minum oplosan cap topi miring-lah, atau minum spiritus campur air kelapa.”

Komentar:

“Memang minum bir tidak mati. Makan babi juga tidak mati. Makan duit korupsi juga tidak mati. Logika macam apa ini yang dimainkan?”

Allahu a’lam

By Redaksi KonsultasiSyariah.com -Apr 15, 2016

***

Contoh Kezalimannya ini. Ayat Al-Qur’an saja dizalimi oleh orang terkemuka bahkan pemimpin ormas yang pakai nama ulama segala, namun malah mendukung untuk pilih pemimpin kafir.

***

Al-Qur’an pun Dibantah Demi Menjagokan Orang Kafir

Said Aqil

Larangan mengangkat orang kafir sebagai pemimpin telah jelas dalam Al-Qur’an. Setiap orang yang mengaku muslim wajib mentaatinya. Bahkan ancaman adzabnya pun jelas, bila seseorang lebih memilih orang kafir sebagai pemimpin dan tidak memilih orang mukmin. Sampai disebut dalam Al-Qur’an sebagai munafik dan bahkan termasuk golongan mereka yang kafir, serta mereka akan mendapat siksaan yang pedih.

Anehnya, ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah jelas pun dibantah demi menjagokan orang kafir. Betapa hinanya sikap menjual ayat kepada orang kafir dengan cara membantah Al-Qur’an demi menjagokan orang kafir semacam ini. Padahal larangan dan ancamannya telah tegas.

Dan jangan dikira, orang-orang media dan lainnya yang menyebarkan dan mendukung pendapat yang menentang Al-Qur’an itu tidak terkena apa-apa. Mereka bila beragama Islam maka tergolong munafik, dan diancam siksa sangat pedih di akherat kelak. Bila sampai datang kematiannya mereka tidak sempat bertaubat, maka mereka akan  jadi teman orang kafir yang sudah jelas tempatnya di neraka selama-lamanya. (lihat QS Al-Bayyinah: 6).

Inilah larangan mengangkat orang kafir sebagai pemimpin, dan ancaman siksanya.

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١ [سورة المائدة,٥١]

  1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim [Al Ma”idah51]

بَشِّرِ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ بِأَنَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمًا ١٣٨ ٱلَّذِينَ يَتَّخِذُونَ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ أَيَبۡتَغُونَ عِندَهُمُ ٱلۡعِزَّةَ فَإِنَّ ٱلۡعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعٗا ١٣٩ [سورة النساء,١٣٨-١٣٩]

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah [An Nisa”,138-139]

Dalam ayat itu, orang baru bertindak (tidak sampai mengkampanyekan) memilih orang kafir sebagai pemimpin ataupun teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin saja sudah diancam siksa yang pedih, tergolong barisan kafirin, dan disebut munafik. Bagaimana pula orang yang jadi propagandis untuk memilih orang kafir sebagai pemimpin?

Wahai kaum Mukminin, mari kita camkan ayat-ayat ini  agar menjadi peringatan benar-benar bagi kita.

{ فَوَرَبِّكَ لَنَحْشُرَنَّهُمْ وَالشَّيَاطِينَ ثُمَّ لَنُحْضِرَنَّهُمْ حَوْلَ جَهَنَّمَ جِثِيًّا (68) ثُمَّ لَنَنْزِعَنَّ مِنْ كُلِّ شِيعَةٍ أَيُّهُمْ أَشَدُّ عَلَى الرَّحْمَنِ عِتِيًّا (69) ثُمَّ لَنَحْنُ أَعْلَمُ بِالَّذِينَ هُمْ أَوْلَى بِهَا صِلِيًّا} [مريم: 68 – 70]

  1. Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut
  2. Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah
  3. Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka [Maryam,68-70]

Apabila sampai tingkah-tingkah dan sepak terjang membela orang kafir itu termasuk tidak mengimani ayat Allah (karena memang membantahnya dan sebagainya), maka diancam akan termuk golongan yang diberi kitab catatan amalnya di akherat dari sebelah kirinya. Celakah dia.

{ وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29) خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (30) ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ (31) ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ (32) إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ (33) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (34) } [الحاقة: 25 – 34]

  1. Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini)
  2. Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku
  3. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu
  4. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku
  5. Telah hilang kekuasaanku daripadaku”
  6. (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya
  7. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala
  8. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta
  9. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar
  10. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin [Al Haqqah,25-34]

“tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin” saja menjadi poin penting dalam adzab, apalagi menggusuri, menzalimi, menyengsarakan dan sebagainya. Mereka yang mendukung tingkah penyengsaraan terhadap orang miskin dengan ucapan yang indah-indah, maka betapa berat tanggungannya atas dosa dan dustanya itu.

Na’udzubillahi min dzalik! Sudah menjual ayat demi menjilat kafirin, masih pula diliputi dusta-dusta yang sengat menipu dan mengecoh serta menjadikan terjerumus dan tidak amannya umat Islam; maka betapa beraninya manusia semacam ini dalam memusuhi Umat Islam, Islam, dan bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.575 kali, 1 untuk hari ini)