Gubernur Keluarkan SK Larangan Ahmadiyah di Jatim

Gubernur Jatim, Soekarwo, mengeluarkan SK No 188/94/KPTS/013/2011 tentang larangan aktifitas jamaah Ahmadiyah Indonesia di Jawa Timur.

Dalam surat keputusan tersebut, terdapat beberapa poin larangan yang diantaranya yakni:

1. Aktifitas jamaah Ahmadiyah di Jawa Timur dapat memicu atau menyebabkan terganggunya keamanan dan ketertiban masyarakat Jatim.A

2.a. Melarang ajaran Ahmadiyah baik secara lisan, tulisan maupun melalui media elektronik.

2.b. Melarang memasang papan nama organisasi Ahmadiyah di tempat umum.

2.c. Melarang memasang papan nama pada masjid, musholah, lembaga pendidikan dengan identitas jamaah Ahmadiyah Indonesia.

2.d. Melarang penggunaan atribut jemaah Ahmadiyah Indonesia dalam segala bentuknya.

Sementara dalam surat tersebut, ditembuskan ke 10 instansi, diantaranya yakni Mendagri, Menteri Agama, Jaksa Agung, DPRD Jatim, Pangdam V Brawijaya, Kapolda Jatim, Kejaksaan Tinggi Jatim, Kanwil Kementrian Agama Jatim, Kanwil Hukum dan HAM Jatim dan PB Ahmadiyah Indonesia di Jakarta.

Dalam pengumumanannya, Gubernur didampingi Kapolda Jatim, Irjen Pol Badrodin Haiti; Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Gatot Nurmantiyo; Ketua MUI Jatim, KH AAbdusshomad Buchori dan Ketua DPRD Jatim, Imam Sunardi.

“Untuk pembubaran itu wewenang pemerintah pusat karena masalah Aqidah dan ritual. Jatim hanya melarang demi ketertiban umum dan keamanan masyarakat Jatim,” kata Soekarwo.

Sementara itu, menanggapi SK tersbeut, Kapolda Jatim justru mempersilahkan bagi pihak-pihak yang keberatan untuk melakukan menggugat secara hukum. [kun]

Sumber: beritajatim.com, Senin, 28 Februari 2011 14:51:31 WIB , Reporter : Rahardi Soekarno J.

Setelah keluarnya larangan Ahmadiyah, Gubernur Jatim diminta melarang aliran sesat syiah, karena membahayakan agama, bangsa dan Negara. Inilah beritanya:

Pasca Larangan Ahmadiyah

Albayyinat Minta Syiah Juga Dilarang di Jatim

Selasa, 01 Maret 2011 12:14:35 WIB

Reporter : Rahardi Soekarno J.

Surabaya (beritajatim.com) – Yayasan Albayyinat Indonesia menyambut gembira langkah yang diambil Gubernur Jatim dengan mengeluarkan SK nomor 188/94 KPTS/13/2011 yang isinya melarang aktivitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Jatim.

“Ini karena dengan langkah tersebut, gubernur telah memenuhi apa yang selama ini diharapkan umat Islam dan ormas Islam di Jatim agar membubarkan Ahmadiyah,” tegas Ketua Bidang Organisasi Yayasan Albayyinat, Habib Achmad Zein Alkaf kepada beritajatim.com, Selasa (1/3/2011).

Pihaknya berharap langkah tegas gubernur itu merupakan awal dari larangan terhadap aliran-aliran sesat lainnya, yang selama ini meresahkan dan sumber penyebab keributan serta anarkis di Jatim.

“Selain aliran Ahmadiyah, yang harus dilarang di Jatim dan Indonesia pada umumnya adalah aliran sesat Syiah yang sekarang menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait. Syiah ini jauh lebih sesat, bahkan lebih berbahaya bagi agama, bangsa dan negara,” tukasnya.

Mengapa Syiah harus dilarang?

Menurut dia, yang jelas dan harus dipahami, bahwa Syiah dianggap telah menghina Rasulullah SAW, serta menuduh Rasulullah SAW tidak melaksanakan perintah Allah. (Sebagaimana yang dituduhkan oleh Khumaini dalam kitabnya, Kasyful Asror, halaman 155).

Syiah juga menghina dan menuduh para Sahabat dan istri istri Rosululloh SAW. Kemudian Syiah juga menghina Al-Qur’an (Kalam Allah). (Syiah berkeyakinan bahwa Al Qur’an yang dibaca sekarang ini tidak asli, artinya tidak sesuai dengan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW).

Kemudian Syiah juga merendahkan kedudukan para Rasul dan para malaikat, (dimana mereka mendudukkan Imam-Imam mereka diatas para Rasul dan malaikat).

“Begitu pula Syiah menganggap kita umat Islam Indonesia yang dikenal beraqidah Ahlussunnah Waljamaah sebagai orang orang kafir yang akan masuk neraka,” tuturnya.

Dan yang lebih berbahaya lagi, Syiah didukung satu negara yang kaya. (dimana tokoh tokoh kita diberangus sehingga tidak mau berkomentar mengenai bahayanya Syiah bagi agama, bangsa dan negara.

Dia menambahkan, itulah sebabnya dimana-mana umat Islam bangkit melawan Syiah. Dan yang sudah terjadi selama ini baru merupakan letupan letupan kecil akibat dari keresahan masyarakat selama ini. Contoh kasus adalah penyerangan Ponpes Alma’hadul Islam Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Beji, Pasuruan beberapa waktu lalu. Ponpes tersebut diduga beraliran Syiah.

“Sebenarnya kami tidak menghendaki adanya tindakan anarkis terhadap aliran-aliran sesat, karenanya pemerintah harus secepatnya mengambil sikap yang lebih tegas terhadap mereka. Sebab kami tidak menghendaki apa yang terjadi di luar negeri permusuhan antara Sunni dengan Syiah, juga terjadi di Indonesia,” pungkasnya.[tok/ted]

Sumber: Beritajatim.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 457 kali, 1 untuk hari ini)