Gubernur NTT Legalkan Miras, Banjir Bandang Melanda

  • Gubernur NTT Viktor Laiskodat, Sibuk dengan Rencana Produksi Miras. Sementara Rakyat yang Menerima Musibahnya. 
  • Jadi azab yang menimpa pada suatu daerah, negeri, pasti terkait dengan kesalahan pembesar negeri tersebut. Tidak mungkin azab yang menimpa suatu negeri karena kedurhakaan pembesar negeri lain. 

Silakan simak ini.

***
Baru Setahun Gubernur NTT Legalkan Miras Sophia, Banjir Bandang Melanda

KUPANG – Korban meninggal akibat bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah.

 

Jumlah korban meninggal yang telah terdata sebanyak 86 orang. Sedangkan korban luka sebanyak 27 orang.

“Data sementara 86 korban meninggal,” ucap Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini dalam konferensi pers secara virtual, Senin (5/4/2021).

Risma menyebut korban tewas paling banyak berada di Flores Timur, yakni 49 orang.

Sementara korban meninggal di Lembata 20 orang, Alor 13 jiwa, Bima 2 jiwa, dan Ende 2 jiwa.

Warganet Kaitkan Bencana Dengan Miras

Warganet mengaitkan bencana banjir bandang tersebut dengan keputusan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat melegalkan miras Sophia.

“Gubernur NTT Viktor Laiskodat sibuk dengan renana produksi miras. Sementara rakyat yang menerima musibahnya,” cuit akun Twitter @IrutPagut, Senin (5/4).


Akun yang memiliki 4.087 pengikut ini membagikan video Gubernur NTT Viktor Laiskodat sedang mempromosikan miras Sophia. Video itu dikompilasi dengan video bencana NTT.

Diketahui, Viktor Laiskodat baru setahun lebih melegalkan miras Sophia di NTT.

Miras Sophia dilaunching pada Juni 2019 dan resmi dipasarkan pada Desember 2019.

Untuk memproduksi miras Sophia ini Pemprov NTT bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang.

Acara launching miras Sophia berlangsung di halaman UPT Laboratorium Riset Terpadu Universitas Nusa Cendana yang dihadiri langsung oleh Viktor Laiskodat dan Wagub NTT Josef Nae Soi.


Gubernur NTT Viktor Laiskodat tunjukkan miras Sophia. Foto Kompas

Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dalam arahannya mengatakan tujuan melegalkan produksi miras lokal NTT ini untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Saya berterima kasih kepada Undana yang telah melakukan riset minuman khas NTT ini. Sophia bisa bersaing dengan berbagai jenis minuman alkohol yang sudah lebih dulu terkenal,” ucap Viktor kala itu.

“Ke depan kita akan menyiapkan regulasi agar tata niaga bisa berjalan dengan baik. Silahkan dari pihak perusahaan menentukan harganya,” tambah Viktor.

Gubernur NTT Cabut Perda Larangan Miras

Untuk memuluskan bisnis miras di NTT, Gubernur Viktor Laikodat mencabut larangan produksi minuman keras beralkohol di wilayahnya.

Miras Sophia khas NTT resmi dijual di pasaran 20 Desember 2019 lalu. Sophia dibanderol dengan harga Rp 750.000 per botol ukuran 750 mili liter.

Sebagai langkah awal, minuman yang memiliki kadar alkohol 40 persen itu hanya dijual di Toko NAM, yang terletak di Jalan Siliwangi Kampung Solor, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang.

Para pembeli miras Sophia bukan hanya warga NTT, tapi juga ada dari pulau lain di Indonesia. (one/pojoksatu)

GUBERNUR NTT VIKTOR LAISKODAT, SIBUK DENGAN RENCANA PRODUKSI MIRAS. SEMENTARA RAKYAT YANG MENERIMA MUSIBAHNYA. pic.twitter.com/lh0WYATvNu

— PAGUT IRUT (@IrutPagut) April 5, 2021

 

Video:

https://twitter.com/i/status/1379068504658247683

POJOKSATU.id, Nasional REDAKSI, Selasa, 6 April 2021 | 06:30 WIB

***

Tafsir Al-Isra 16: Penguasa Zalim Penyebab Bencana

  • Jadi azab yang menimpa pada suatu daerah, negeri, pasti terkait dengan kesalahan pembesar negeri tersebut. Tidak mungkin azab yang menimpa suatu negeri karena kedurhakaan pembesar negeri lain. 



Oleh: Dr. KH A Musta’in Syafi’ie M.Ag. . .  
 

{وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا } [الإسراء: 16]

16. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. [Al Isra”:16]


 Ayat sebelumnya bertutur soal kemahakasihan Tuhan yang tidak bakal menyiksa manusia sebelum diutus utusan atau sebelum ada juru dakwah yang berseru keimanan. Mereka yang patuh akan mendapat kebaikan dan yang durhaka bakalan disiksa. 

Lalu pada ayat kaji ini menuturkan, bahwa Allah SWT akan menghajar habis-habisan sebuah kaum karena kezaliman, karena kedurhakaan yang dilakukan para penguasanya. Meskipun ibadah rakyat bagus-bagus, meskipun amal perbuatan mereka sesuai syari’ah agama, tapi kalau para pejabatnya banyak yang mengumbar nafsu, korup, berfoya-foya, maka itu berpotensi turunnya azab atas kaum tersebut. 
 

Terkait turunnya azab tersebut, cukup diambil dua kata kunci pada ayat ini, yakni: mutrafiha (pembesar)
dan fafasaqu fiha (durhaka). Mutraf, mutrafun, adalah kaum jetset, borjuis, pembesar yang bergelimang harta dan hobi berfoya-foya. Derajat sosial yang tinggi dan serba berkecukupan membuat mereka bebas melakukan apa saja. 
 

Sementara kata “fa fasaqu fiha”, menunjukkan betapa kaum mutrafin tadi telah terjerumus kepada kefasikan, kemaksiatan, kedurhakaan. Hal demikian karena pada umumnya, nafsu dan syahwat sangat mendominasi pola hidup mereka, sehingga cenderung abai terhadap kewajibannya sebagai pemimpin, sebagai orang gedean yang mesti memberi contoh kesalehan kepada umat. Di kepala mereka, nafsu hedonis lebih utama ketimbang menunaikan amanah.
 

Dari dua kata ini menunjukkan, bahwa kaum mutrafin itu tidak semuanya mesti hobi berbuat maksiat, tidak semuanya mesti ngumbar durhaka, melainkan cenderung durhaka. Begitu mereka durhaka dan terus dalam kedurhakaan, maka langit bersikap lain: fa haqq ‘alaiha al-qaul“. Barulah Allah SWT memutuskan untuk layak diazab. Azab turun beneran dengan volume top, “fa dammarnaha tadmira“, dihancurkan sehancur-hancurnya. 

Beberapa kata dalam ayat kaji ini penting dianalisis. Pertama, kata qaryah, artinya: perkampungan atau bangsa. Kata ini menunjukkan ruang tertentu, daerah atau negeri tertentu, tidak bias dan umum. Jadi azab yang menimpa pada suatu daerah, negeri, pasti terkait dengan kesalahan pembesar negeri tersebut. Tidak mungkin azab yang menimpa suatu negeri karena kedurhakaan pembesar negeri lain. 
 

Kedua, “amarna” mutrafiha. Qira’ah lain, “ammarna” pakai tasydid. Amara, artinya memerintahkan, menyuruh. Sedangkan “ammara”, artinya menguasakan. Allah memberi negeri tersebut penguasa yang mutrafin. Jadi, salah satu tanda ketidak sukaan Tuhan terhadap suatu negeri, yaitu ketika Allah memberi mereka pemimpin yang mutrafin. Pengertian pemimin mutrafin tidak saja tertumpu kepada top leader, presiden, melainkan juga pada para pembantunya, menteri dan sebagainya. Kadang bupatinya bagus, tapi para kepala bagiannya brengsek. []
@geloranews
16 Januari 2021

https://www.nahimunkar.org/tafsir-al-isra-16-penguasa-zalim-penyebab-bencana/

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 674 kali, 1 untuk hari ini)