Goenawan Muhammad

.

 

  • Dalam buku itu,  disebutkan, aktifitas Gunawan Mohamad dibiayai oleh filantrofi, seperti, “Ford Foundation, Rockefeller Foundation, Asia Foundation, Open Society Institute (Goerge Soros), USAID, dan sejumlah tokoh filantrofi dari yahudi.
  • Wijaya Herlambang, dosen Universitas Pancasila dan Gunadarma itu, menulis berdasarkan hasil risetnya tentang Gunawan Mohamad. Sangat menarik apa yang diungkapkan oleh bukunya Wijaya Herlambang itu,  diantaranya, yaitu apa yang dilakukan oleh Ivan Kats, pimpinan CCF (Conggres for Culture Freedom), yang merupakan ‘cover’ dari operasi CIA, yang membina Gunawan Mohamad sejak tahun l960 an.
  • Sangat menarik mengutip buku itu, bagaimana koresponden antara Kats dengan Gunawan Mohamad, tahun l969, yang menggambarkan Gunawan Mohamad itu, seperti pesuruh alias ‘kacung’.
  • Mereka (Gunawan dan kelompoknya, kaum liberal sekuler) menjadi ‘punggawa’ Boediono. Dengan kebijakan ekonomi liberal yang pro-pasar, membuat konglomerat Cina, di era demokrasi ini, menguasai sektor ekonomi dan politik. Sungguh kaum pribumi digilas oleh aliansi, kaum liberal sekuler dengan Cina, dan ini semua menyengsarakan rakyat jelata dan kaum pribumi.

JAKARTA (voa-islam.com) – Betapa Tempo menghancurkan apa saja yang berbau Islam, dan sekarang meluluh-lantakan MUI (Majelis Ulama Indonesia), dan mengangkat di dalam laporannya di edisi Tempo terbaru, bahwa Ketua MUI Amidan menerima sogokan dari Australia, sebesar Aus$ 780 juta atau setara Rp 820 miliar.

Dengan menghantam MUI, yang berlebel ‘Ulama’ itu, maka apa saja yang berbau Islam menjadi busuk menyengat, sehingga menjelang pemilu 2014 ini, tak ada lagi, manusia yang ingin dekat dengan  apa saja yang berbau Islam. Itulah tujuannya Tempo.

Tempo yang dibikin oleh Gunawan Muhamad (GM) itu, hanyalah serpihan kepentingan asing, yang tak memberikan kebanggaan apapun bagi entitas bangsa Indonesia. Jika benar seperti diungkapkan oleh Wijaya Herlambang dalam bukunya, “Kekerasan Budaya Pasca l965” (Terbit Nopember 2013), mengungkapkan sisi gelap sang tokoh bernama ‘Gunawan Mohamad’.

Buku yang ditulis oleh Wijaya Herlambang itu, mengungkapkan adanya dugaan selama ini, terutama berbagai pihak yang menduga-duga hubungan Gunawan Mohamad dengan pihak Barat.

Dalam buku itu,  disebutkan, aktifitas Gunawan Mohamad dibiayai oleh filantrofi, seperti, “Ford Foundation, Rockefeller Foundation, Asia Foundation, Open Society Institute (Goerge Soros), USAID, dan sejumlah tokoh filantrofi dari yahudi.

Wijaya Herlambang, dosen Universitas Pancasila dan Gunadarma itu, menulis berdasarkan hasil risetnya tentang Gunawan Mohamad. Sangat menarik apa yang diungkapkan oleh bukunya Wijaya Herlambang itu,  diantaranya, yaitu apa yang dilakukan oleh Ivan Kats, pimpinan CCF (Conggres for Culture Freedom), yang merupakan ‘cover’ dari operasi CIA, yang membina Gunawan Mohamad sejak tahun l960 an.

Sangat menarik mengutip buku itu, bagaimana koresponden antara Kats dengan Gunawan Mohamad, tahun l969, yang menggambarkan Gunawan Mohamad itu, seperti pesuruh alias ‘kacung’. Kutipannya korespodensinya :

“Saya ingin kamu memilih seorang pemikir Barat (saya ingat kesukaanmu pada Camus), pilih 40-60 halaman tulisannya.  Terjemahkan atau kita minta orang lain menterjemahkannya, sesudah kamu memilih teksnya. (Tulis) pengantar yang dalam  dan tajam yang bisa menunjukkan kenapa kamu, Gun, merasa bahwa penulis ini memiliki pandangan yang penting bagi orang Indonesia atau generasimu. Pilih sebuah teks dan bertarunglah dengan si penulis bagai ‘daimon’ Indonesia menghadapi kekuatan cahaya. Atau sebaliknya … Saya akan membayarmu $ 50 dollar saja yang jika disetarakan   nilai hari ini tak lebih Rp 3 juta rupiah”.

Penulis buku  ini, Wijaya Herlambang, kemudian membuktikan perintah Ivan Kats ini dikerjakan oleh Gunawan Mohamad setelah tahun l988, di mana Yayasan Obor menerbitkan terjemahan Albert Camus, yang dikumpulkan menjadi sebuah bunga rampai berjudul, “Krisis Kebebasan” dengan pengantar Gunawan Mohamad.

Ketika Tempo dibredel Soeharto, kemudian Gunawan mendirikan’ Komunitas Utan Kayu’ di Jakarta Timur, Lembaga ini kemudian melahirkan sejumlah lembaga kebudayaan seperti, AJI (Aliansi Jurnalistik Indonesia), Jaringan Islam Liberal (JIL), tokohnya Ulil Abshar , sekarang menjadi salah satu  ketua Partai Demokrat, Teater Utan Kayu, dan menerbitkan buletin ‘Bumipetera’.

Gunawan memiliki kedekatan dengan Wapres Budiono, seperti nampak jelas, ketika hendak dideklarasikan sebagai calon wakil  presiden di Gedung Saboga Bandung, Gunawan Mohamad, dan Khatib Basri, serta sejumlah tokoh liberal lainnya, satu kereta ke Bandung dengan Boediono. Boediono nasibnya diujung tanduk, karena skandal Century, yang menghabiskan Rp 6,7 triliun.

Mereka menjadi ‘punggawa’ Boediono. Dengan kebijakan ekonomi liberal yang pro-pasar, membuat konglomerat Cina, di era demokrasi ini, menguasai sektor ekonomi dan politik. Sungguh kaum pribumi digilas oleh aliansi, kaum liberal sekuler dengan Cina, dan ini semua menyengsarakan rakyat jelata dan kaum pribumi. (afgh/si/voa-islam.com) Senin, 1 Jumadil Awwal 1435 H / 3 Maret 2014 14:59 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.299 kali, 1 untuk hari ini)