.

  • MUI Akui Banyak Laporan Korban Dukun Guntur Bumi
  • Warga Mengadu ke MUI Karena Merasa Ditipu Ustad Guntur Bumi (Peruqyah Palsu)
  • Video Guntur Bumi Mencatut MUI Dan Logo Televisi

Inilah beritanya

***

Ustad Guntur Dukun Berlabel Ustadz, Kata Mantan Pasien

Ustadz Guntur Bumi sedang berkasus  lantaran dilaporkan oleh Hans Suta ke Majelis Ulama Indonesia.

“Saya lapor MUI tanggal 13 dan 19 Februari. Dua kali kita lapor.  Saya menuntut pekerjaan UGB dihentikan. Ini namanya dukun berlabel ustad,”

Ada berita  heboh,  Ustad Guntur Dukun Berlabel Ustadz, Kata Mantan Pasien.

 Bahkan, Ustadz Guntur Bumi dilaporkan ke MUI lantaran dituduh melakukan praktik kedukunan dan penipuan. Bahkan kini, dunia maya gencar dengan bahasan Ustad Penipu.

Belum reda pemberitaan Ustad Hariri (Fenomena Ustad Ngamuk ),   kini satu lagu Ustadz Muda tanah air tersandung kasus. Adalah UGB alias Ustadz Guntur Bumi, yang sedang berkasus  lantaran dilaporkan oleh Hans Suta ke Majelis Ulama Indonesia.

“Saya lapor MUI tanggal 13 dan 19 Februari. Dua kali kita lapor.  Saya menuntut pekerjaan UGB dihentikan. Ini namanya dukun berlabel ustad,”

Hans menceritakan  bahwa awalnya dia membawa sang nenek yang mengeluh sakit pada kakinya ke pengobatan alternatif  milik suami Puput Melati ini.

Saat berobat, diakui Hans, dirinya dan keluarga justru diperas  dan diancam saat negosiasi harga. Pada praktik pengobatan pun dibumbui hal mistik  yang membuat keluarganya takut dan diperparah pihak UGB yang mengejar keluarganya untuk  melunasi biaya pengobatan.

“Saat lagi tawar-menawar harga,  saya ditanya ke sini naik mobil apa? Saya bilang naik taksi. Kerja di mana? Saya bilang punya usaha kecil-kecilan. Harga kerbaunya  (sedekah untuk pengobatan) Rp 75 juta, Rp 65 juta, Rp 55 juta, paling bawah Rp 25 juta.  Saya minta yang paling murah,”

“Untuk membayar uang tersebut,  ibu saya mencopot tiga cincin yang dipakainya ternyata masih kurang, itu cuma 7 gram. Terus Pak Ustad bilang, nanti saya kasih rekening saya,  dan ibu saya punya Rp 3 juta. Di rumah, ibu saya kembali memberikan tiga buah gelang emas dan sejumlah uang,”

“Sampai di rumah kita setuju, emas 32 gram, 7 gram tambah 25 gram.  Dari semua itu kurang Rp 8 juta lagi untuk bayar kerbau (sedekah untuk pengobatan)”

Team dari sang ustad pun lantas melakoni  acara “pemagaran” rumah sang nenek, dengan ritual melempar garam. Bahkan, sempat ada penampakan pocong.

“Saat diperiksa, ada ustad di sana bilang, bakal ada satu korban.  Ustad bilang, semua harus di-protect. Jadi pikiran kita berubah dari yang medis jadi non medis.  Janji yang dia mau kasih herbal dan air zam-zam doa kan nggak terbukti,”

“Kemudian ustad minta menghatamkan Al Quran 30 juz sebelum subuh. Jika tidak sanggup, maka akan dibadal (diwakilkan) oleh para santrinya di Ponpes Assidiqie, Cijeruk, Bogor. Untuk semua itu,  memotong seekor hewan kerbau Mina,”

“Mereka membuat kondisinya takut, jatuh dan hilang keimanan.  Pas diusap rambut pertama kali saya keluar belatung. UGB bilang, kekurangannya bisa setelah Rp 30 juta. Saya sudah kesal,”

MUI melalui Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, Asrorun Niam Sholeh, sendiri membenarkan adanya pelaporan tudingan praktik pengobatan UGB.

“Memang benar,  pekan kemarin ada salah satu pasien yang menceritakan proses pengobatan di sana yang dianggap tidak sesuai dengan cara pengobatan dan ada indikasi permintaan sejumlah materi.” / http://oktavita.com/

***

Warga Mengadu ke MUI Karena Merasa Ditipu Ustad Guntur Bumi (Peruqyah Palsu)

Februari 16, 2014 by Perdana Akhmad S.Psi

Ustadz Guntur Bumi Foto: englishclass.jp

Jakarta, Sayangi.com – Karena merasa tertipu dan mendapatkan perlakuan pengobatan yang tidak wajar dari Ustad Guntur Bumi (UGB), Hj. Yanelly (74) mendatangi Sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menyampaikan apa yang dialami ketika dia dan ibunya Nurcayati (94) berobat ke ustad yang sering tampil di salah satu stasiun TV ini.

Atas penipuan ini Yarnelly mengalami kerugian 32 gram plus pembayaran 1 juta rupiah (uang pendaftaran Rp500.000 perorang).

Karena itu, Hj Yarnelly  yang didampingi sejumlah lawyer yang tergabung dalam Law Emporcement Watch (LEW) pimpinan Denny Ardiansyah Lubis SH MH diterima oleh Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) DR.H.Amirsyah Tambunan, pada Sabtu (14/2) siang di kantor MUI, Jakarta.

Di sekretariat MUI Yarnelly menjelaskan kronologis kejadiannya.  Menurutnya pada Jumat (7/2) siang saat Hj.Yarnelly dan Nurcayati selaku orang tuanya yang ditemani oleh anaknya Suta, dan menantunya Mamik berobat ke Padepokan Silaturahmi Ustad Susilo Wibowo alias Ustad Guntur Bumi (UGB).

Tetapi setelah mendengar keterangan dari Staf UGB, dia merasakan keheranan, mengapa keluhan sakit di kaki yang telah dirasakan 2 tahun belakangan ini dianggap seakan terkena “kiriman” orang jahat berupa santet.

“Mengapa keluhan kaki yang menurut dokter karena “bergeser” hanya diolesi balsem Rhemason,” kata Yarnelly.

Selain itu, yang lebih membuatnya heran adalah staf  UGB  mengeluarkan sejenis kawat-kawat halus dari atas kepalanya. Hal yang sama juga dialami oleh ibunya, Nurcayati dan pendamping mereka, Suta, selaku anak atau cucu mengeluarkan kawat-kawat kecil dan halus di atas kepalanya.

Pada saat giliran dipanggil,  bukan lagi perasaan heran yang dialami Hj.Yarnelly, namun telah berganti takut, sebab UGB mengeluarkan belatung dari kepalanya, kepala Nurcayati, anaknya Suta, dan menantunya, Mamik juga keluar belatung.

Dilanjutkan Yarnelly,  setelah mendengar penjelasan UGB selepas Magrib, dia semakin terseret dalam arus pikiran sang ustad yang menjelaskan kepada semua pasien dan pendamping dalam ruang praktik sang ustad, bahwa penyakit itu dapat dibagi 2 kategori, yaitu penyakit fisik dan non fisik. Jenis penyakit fisik dapat diobati oleh dokter dan tabib lainnya, namun penyakit non fisik berasal dari “kiriman” orang yang iri dan jahat pada seseorang alias santet atau teluh yang dilakukan seseorang untuk mencelakakan orang tidak disukai.

Mendengar penjelasan UGB bahwa satu dari keempat orang yang sedang menjalani pengobatan ini akan menjadi “korban” santet, maka ketakutan Yarnelly semakin menjadi. Lalu Yarnelly menanyakan solusinya kepada UGB.

UGB mengatakan akan memagari mereka. “Insya Allah, kami akan menjaga ibu dan bapak sekalian, yaitu akan kami “pagari”, namun dengan syarat mengqhatam-kan 30 juz Al-Quran sebelum bedug Subuh Sabtu terdengar,” kata Yarnelis menirukan UGB.

Kalau tidak bisa, sambung UGB kepada Yarnelis, maka dibadalkan (diwakili) saja oleh para santri UGB di Ponpes Assidiqie, Desa Cijeruk, Bogor. Untuk semua itu, UGB meminta sejumlah uang senilai 25 juta (setelah tawar-menawar) sebagai biaya badal sekaligus memotong hewan kerbau Mina.

Lalu, Hj. Yarnelly mencopot 3 bentuk cincin emas yang dikenakannya dan dengan segera ditimbang UGB, hanya 7 gram totalnya. Karena tidak mencukupi dengan nominal yang diminta UGB, maka diputuskan agar pasien segera melunasi dengan cara mengirim staf-nya untuk mengambil kekurangannya di rumah pasien. Praktis, usai pengobatan pasien diikuti oleh 3 orang staf UGB ke rumah Hj.Yarnelly di Tangerang.

Seluruh emas yang ada di rumah pun dikumpulkan dan disetor (tanpa tanda terima) kepada staf utusan UGB. Sayangnya, hanya ada 25 gram emas. Total semua yang telah disetor Jumat itu hanya 32 gram plus pembayaran 1 juta rupiah uang pendaftaran (per orang Rp.500.000).

Setelah kejadian ini, sadarlah Yarnelis bahwa ia dan keluarganya telah tertipu dengan praktik pengobatan yang ganjil ini. Mengapa kesembuhan harus dibayar dengan melakukan sedekah? Dan mengapa sedekah itu terjadi setelah dirinya “diintimidasi” bahwa telah terkena santet dari orang iri dan jahat.

Sementara itu, Wakil Sekjen MUI Amirsyah yang didampingi staf MUI Bidang Pendidikan Arief, menjanjikan kepada pasien dan para lawyer pendamping yang juga dikawal oleh Forum Umat Islam Peduli Korban UGB, Nur Hidayat dkk.

Amirsyah menjelaskan, bahwa MUI memang tidak bersifat aktif, namun pasif sehingga menunggu dulu keluhan dari masyarakat sebelum melakukan tindakan. Oleh karena itu ia berjanji akan memasukkan pengaduan korban praktik UGB ke dalam materi Rapim, Selasa, 18 Pebruari mendatang di Kantor MUI. (VAL) http://metafisis.net/

***

Rabu, 19 Februari 2014 12:41 WIB

MUI Akui Terima Banyak Laporan Korban Ustadz Guntur Bumi

Jakarta, baranews.co – Terkait pengaduan warga terhadap praktik pengobatan Ustadz Guntur Bumi (UGB) oleh Hj Yarnelly (74) dan Nurcayati (94), Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa saat ini pihaknya juga  sudah banyak menerima laporan dari sms, email, BB, dan datang langsung yang merasa jadi korban dan dirugikan, (19/2).

Hal ini dikatakan oleh Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI KH. Cholil Nafis kepada sayangi.com di kantor MUI, Jakarta. Namun demikian, pihak MUI sekarang masih mengumpulkan informasi dari berbagai pihak berkenaan dengan UGB ini.

KH. Cholil, mengatakan akan bergerak cepat. Rabu (Hari ini) MUI akan mengadakan rapat di tim komisi pengkajian. Setelah matang di komisi pengkajian, tandasnya, baru dibawa ke rapat harian, ke pimpinan MUI.

“Biasanya laporan seperti itu dibawa ke komisi kajian. Nah di komisi kajian baru kita lakukan identifikasi, kalo memang ini perlu diputuskan, baru dibawa ke rapat harian,” kata Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI KH. Cholil Nafis kepada sayangi.com di kantor MUI, Jakarta, Selasa (18/2).

Laporan seperti ini, jelas Cholil, diklasifikasi menjadi tiga tingkatan. Pertama, tingkatan yang punya dampak besar pada masyarakat misalnya pengikutnya banyak, yang dirugikan sudah banyak dan  berkenaan dengan substansi agama yakni berkenaan dengan akidah. Nah itu kita prioritas.

Yang kedua, sambungnya, berkenaan dengan masalah akidah meskipun tidak berdampak banyak tapi membuat resah.

Dan Yang ketiga, tidak berkenaan dengan akidah yang substansi seperti furu’iyah tapi juga tidak punya dampak konflik.

Lebih lanjut Cholil mengharapkan bantuan masyarakat yang merasa dirugikan atau merasa ada penyimpangan bisa menyampaikannya ke MUI. Yang bisa digali sebenarnya yang diajarkan apa saja, begitu juga apa saja yang diberikan.

“Kalo berkenaan dengan penipuan itu bukan ranahnya MUI, itu ranahnya kepolisian dan penegak hukum. Tapi kalo berkenaan dengan paham, umpamanya ada bacaan-bacaan, atau agama dijadikan sandaran hanya untuk kepentingan ekonomi, sehingga ada penyimpangan agama atau ada penistaan agama, itu yang menjadi ranah MUI,” tegasnya.

Menurutnya, jika berkenaan tindakan, MUI pasti berkoordinasi dengan penegak hukum. Dia mengakui sudah banyak dengar kabar terkait praktik UGB.

“Kita berharap masyarakat bisa melengkapi berbagai informasi tentang prakteknya. Sehingga MUI itu obyektif. Orang yang berbuat salahpun bisa kita luruskan,” imbuhnya.

Jika  bisa diluruskan, tegasnya, pihaknya akan berusaha meluruskan dulu tapi kalo tidak bisa diluruskan, tentu ada aspek tindakan lain yang dilakukan penegak hukum.

“Kalo dia salah dan mau bertobat, pintu tobat terbuka. Tapi kalo berkenaan dengan kerugian tetap harus diganti,” lanjutnya.

Tetapi, dia menerangkan, kalo yang bersangkutan tidak bersalah, silahkan teruskan. “Kan ada juga pengobatan yang sesuai dengan Islam,” pungkasnya. (Fahri/VAL/Sayangidd)

***

VIDEO GUNTUR BUMI MENCATUT MUI DAN LOGO TELEVISI

September 26, 2012 by Widjojo

Menurut M. Ichwan Syam (Sekjen MUI), MUI tidak pernah merekomendasikan pengobatan Guntur Bumi, Guntur bumi jelas telah menyalahgunakan rekomendasi MUI untuk acara televisi malah disalahgunakan untuk pengobatan. Guntur bumi juga mencatut logo televisi dispanduknya tanpa izin./ http://metafisis.net/

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 28.318 kali, 1 untuk hari ini)