foto: sabila.h_/ instgrm


sabila.h_Gunung adalah sebuah bentuk tanah yang menonjol di atas wilayah sekitarnya. Gunung adalah bagian dari permukaan bumi yang menjulang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. gitu kata Wikipedia

#photograph
#sawah
#mountain
#gunung

***

{لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ} [الحشر: 21]

  1. Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir [Al Hashr21]

Gunung saja tunduk dan takut kepada Allah Ta’ala, namun manusia banyak yang ngeyel dan tidak takut kepada Allah Ta’ala hingga melanggar aturan-aturan-Nya, bahkan tidak sedikit yang menentangNya. Lebih dari itu, banyak pula yang saling berkomplot untuk menyakiti orang-orang Islam yang tunduk kepada Allah Ta’ala. Lebih buruk lagi bila ada manusia-manusia yang tidak berterimakasih, misal tadinya minta-minta kepada Ummat Islam yang menjadi penduduk mayoritas suatu negeri agar dirinya dipilih jadi pemuka, namun setelah terpilih justru kemudian menipu (tidak menepati janji-janji sebakulnya), menyerap kekayaan para pemilihnya (dengan aneka cara), masih pula memojokkan mereka, misalnya.

Terhadap yang demikian itu, sampai-sampai Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam pun melaknatnya.

Doa Nabi Saw, Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam

by Nahimunkar.com, 25 Juli 2014

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

***

Manusianya Korupsi, Gunungnya Erupsi

by Nahimunkar.com,  2 Februari 2014

Ilustrasi

Entah berapa jumlah kerugian akibat korupsi alias permalingan yang dilakukan para penjahat di Indonesia. Dan entah berapa jumlah kerugian akibat bencana yang mungkin merupakan azab dari tingkah korupsi dan rusaknya moral bahkan akidah mereka. Banjir di Jakarta saja konon kerugian banjir pertama mencapai Rp7 triliun. Belum banjir-banjir berikutnya sampai lebih dari dua pekan. Serta banjir-banjir di bebagai daerah di mana-mana. Longsor dan gempa yang merupakan tanda-tanda dekatnya Qiyamat pun terjadi di sana-sini.

Sementara itu gunung Sinabung di Sumut yang meletus berkali-kali (kini biasanya disebut erupsi), dua pekan lalu saja kerugian tercatat 1.288 bangunan rusak, 10.408 hektare areal pertanian rusak. Hingga kerugian materil diperkirakan sekitar Rp 1,2 triliun, terdiri dari kerusakan infrastruktur dan bangunan Rp 200 miliar, sektor pertanian Rp 812 miliar.

Musibah itu seharusnya menjadi peringatan keras bagi siapa saja, lebih-lebih para pejabat yang memelopori hura-hura (maksiat dan lalai dari peringatan Allah Ta’ala) pada malam tahun Baru seperti Jokowi dan lainnya. Bila mau, kita ini masih diberi kesempatan bertaubat. Mumpung masih ada sisa umur, mari bertaubat.

Berikut ini tulisan yang mengulas masalah erupsi dan korupsi. Silakan dismak.

***

Antara Erupsi dan Korupsi

Ada dua kata yang saling tidak kena mengena, bahkan artinya juga bertolak belakang, yakni erupsi dan korupsi. Tapi selama beberapa bulan belakangan ini, dua kata ini tiap hari muncul di media cetak. Lalu muncul pula tragedi nasional, bencana banjir, tanggul jebol, puluhan nyawa direnggut, rumah-rumah pun hanyut. Itu terjadi di Jakarta dan Manado serta beberapa kota lainnya. Prihatin memang!

Jokowi yang selalu buat keanehan dengan caranya yang unik untuk mengatasi sesuatu, misalnya dengan naik sepeda pulang dari kantor. Kini dia hilang akal ketika banjir sudah melanda wilayahnya dalam situasi yang sungguh memprihatinkan. Jokowi tidak bisa menciptakan hal yang lucu-lucu lagi untuk melawan air yang banjir. Ia hanya mengurut dada.
Nah, kita kembali kepada erupsi dan korupsi! Di wilayah kita, bencana yang sudah berlangsung selama empat bulan ini adalah meletusnya Gunung Sinabung.

Tercatat, data terakhir, jumlah pengungsi 27.319 jiwa atau 8.546 kepala keluarga, yang berada di 40 titik pengungsian. Beberapa orang dikabarkan telah pula meninggal dunia akibat sakit karena mengungsi tadi.

Lalu kabar yang paling menyedihkan adalah kerugian materil. Misalnya 1.288 bangunan rusak, 10.408 hektare areal pertanian rusak. Hingga kerugian materil diperkirakan sekitar Rp 1,2 triliun, terdiri dari kerusakan infrastruktur dan bangunan Rp 200 miliar, sektor pertanian Rp 812 miliar. Nah, cukup sedih bencana yang menimpa kawasan tanah Karo ini.

Ironisnya, di saat muncul wacana erupsi Sinabung ini diusulkan sebagai bencana nasional, tau-tau bupatinya, bupati Karo Kena Ukur Surbakti menolak istilah itu.

Disebutkan, pihaknya masih mampu mengatasi dampak meletusnya Sinabung. Pihak lain menambahkan pula, bila menjadi bencana nasional, ada tim nasional yang menilai hingga dapat dikategorikan sebagai bencana nasional. Itu juga sudah diatur dalam undang-undang.

Memang bantuan boleh dibilang memadai, karena itu sang bupati yakin. Kecuali suatu saat nanti bukan tak mungkin statusnya berubah menjadi bencana nasional. Tapi lihat saja, kemarin tiu disebut-sebut gaji pokok anggota DPR dipotong 25 persen untuk bantuan erupsi Sinabung. Lalu anggota DPRD Sumut juga tergugah, spontan membuka koceknya sebesar Rp 500 ribu.
Lega juga kita mendengar kalau banyak yang sadar mau nyumbang.

Tapi jangan mencak-mencak dulu. Mari kita pikirkan sejenak! Mari kita renungkan sebentar, kok negeri kita ini terus-terusan dilanda bencana. Tarokla, Sunabung sudah ratusan kali erupsi, dan kemarin itu saja terjadi 38 kali erupsi, sampai debu vulkanik itu merambat ke Kota Medan.

Mungkin di sinilah keterkaitan kata erupsi dan korupsi tadi. Karena korupsi sudah merata di seluruh nusantara, maka datanglah bala. Tidak saja erupsi, tapi juga banjir dan tanah longsor. Adakah para pemimpin dan petinggi kita menyadari hal ini. Berhenti korupsi, barangakali tak ada lagi erupsi, banjir pun berhenti. Tak percaya? Mari kita coba! (ramalia lubis) CABUD ( Catatan Budaya )Minggu, 19 Jan 2014 10:27 WIB/ medanbisnisdaily.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 585 kali, 1 untuk hari ini)