Gurihnya Darah Rakyat


 

GURIHNYA DARAH RAKYAT


Tiga minggu sebelum ribut-ribut soal bisnis Rapid Test yang baru disadari telah salah sasaran dan menggerogoti anggaran negara, saya telah mengulas soal kongkalikong bisnis manis yang membuat gendut pundi-pundi segelintir orang.

Kalau dipikir-pikir, orang berbisnis itu sah-sah saja, orang berdagang itu juga biasa-biasa saja, cuma setelah ada pandemi Covid-19 ini, saya kok melihat para pebisnis dan pedagang terbagi menjadi dua kelompok yang berbeda nasibnya.

Kelompok pertama jumlah pelakunya lebih sedikit, namun trafik rupiahnya luar biasa dahsyat. Para pelaku umumnya juga pemain baru dalam bidang bisnis yang dilakoni dan komoditas yang diperdagangkan.

Boleh dikata, para pebisnis kagetan ini mirip pelakon figuran, tapi honornya berlipat-lipat dari pelakon utama.

Kelompok ini adalah mereka yang memiliki akses dan kapasitas untuk melakukan importasi ventilator, rapid test, pcr swab test, apd dan material apd, masker, dan berbagai jenis alkes kebutuhan yang berkaitan dengan Covid-19.

Kelompok ini pula yang menikmati gurihnya anggaran pemerintah pusat dan daerah berkaitan dengan kebutuhan belanja alkes tersebut.

Tidak tanggung-tanggung nilai kue manis anggaran yang dinikmati oleh segelintir pebisnis dalam kelompok ini, ratusan triliun.

Soal praktek bisnis dan teknis jual belinya juga lebih tentram dilakukan, karena terproteksi oleh undang-undang Covid

Kelompok kedua adalah para pebisnis atau pedagang yang justru ditimpa kemalangangan dan kesulitan akibat pandemi Covid-19.

Kelompok kedua ini merasakan bisnis menjadi susah, dagang pun juga sulit, kalau masih bisa berbisnis dan berdagang sekalipun, omset jauh turun dari biasanya. Tak jarang omset anjlok hingga 95%.

Kios dan lapak tak diizinkan buka, pasar ditutup selama berbulan-bulan, begitu ada kelonggaran untuk dibuka kembali, masih diatur dengan bergiliran dengan sistem ganjil genap, kalau dagang non pangan masih mending, kalau dagang kuliner mana bisa, besok tutup berarti dagangan membusuk.

Tapi apa mau dikata, ini merupakan resiko sebuah musibah, suka atau tidak suka harus diterima.

Ada segelintir orang yang mendadak menjadi kaya raya atau bertambah-tambah kekayaannya dengan adanya pandemi Covid-19 ini, dan ada yang harus jatuh miskin, pailit dan melarat karenanya.

Segelintir orang-orang yang menikmati pandemi Covid-19 ini adalah mereka yang itu-itu saja, mafia pemilik korporasi besar yang menjadi kartel komoditas impor yang sedang dibutuhkan rakyat.

Mereka ini adalah orang-orang yang dekat dengan birokrat ring satu, punya body guard sekelompok preman sadis yang kekar, berotot dan berwajah sangar, mampu memobilisasi aparat, dan sudah terbiasa mengangkangi hukum karena dilindungi mafia peradilan.

Mereka adalah orang yang paling pertama menikmati manisnya darah rakyat. Saat daging langka, mereka menjadi kartel daging, bawang putih hilang dipasar, mereka menjadi kartel bawang putih, dan saat pandemi Covid-19, merekalah yang menjadi kartel alkes seperti rapid test, ventilator, swab tes, dll.

Tak ada perlindungan terhadap rakyat atas ulah para mafia yang menjadi semakin kaya raya dari merampok dana anggaran triliunan Covid-19. Pejabat dan aparat justru ada dalam barisan mereka karena ikut mendapat remah-remah gurih hasil rampokan.

Remahnya saja gurih, bagaimana dagingnya ..?

Rakyat tak lagi bisa berharap perlindungan dari siapapun kecuali harus melindungi dirinya sendiri dari keberingasan mafia korporasi dan kartel busuk yang telah menguasai rezim birokrasi korup dan menghianati rakyatnya sendiri.

Jika tidak, maka selamanya rakyat akan menderita sebagaimana buruknya hidup dalam zaman penjajahan, cuma bedanya kini dijajah oleh mafia taikong yang dilindungi centeng ireng bangsa sendiri

Salam

(Nadya Valose)

 

portal-islam.id, 12 Juli 2020 CATATAN

(nahimunkar.org)

(Dibaca 615 kali, 1 untuk hari ini)