qasimQasim Mathar, Guru Besar yang mengaku sebagai aktivis Syiah dan pro JIL mengatakan bahwa isi Al Quran perlu direvisi karena menurutnya sudah tidak cocok lagi dengan zaman.

***

Untuk apa dia itu berkata yang isinya membela kekafiran, kemusyrikan baru, dan kesesatan?

Untuk memadamkan Islam, walau dia mengaku sebagai orang Islam, bahkan ahli atau tokoh, Memadamkan Islam itu pun sia-sia, hanya akan menyengsarakan dirinya sendiri, bila tidak bertaubat.  Allah Taq’ala berfirman:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ  [التوبة : 32]

32. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS AT-TAUBAH/9:32).

Oleh karena itu Allah mengancam lewat Nabi-Nya yang bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

 “Bisa jadi seseorang mengatakan satu patah kata yang menurutnya tidak apa-apa tapi dengan kalimat itu ia jatuh ke neraka selama tujuhpuluh tahun.” Berkata Abu Isa: hadits ini hasan gharib melalui sanad ini. (HR AT-TIRMIDZI NO 2236)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sungguh seorang hamba akan mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah, suatu kalimat yang ia tidak mempedulikannya, namun dengannya Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh, seorang hamba akan mengucapkan sebuah kalimat yang dibenci oleh Allah, suatu kalimat yang ia tidak memperdulikannya, namun dengannya Allah melemparkannya ke dalam neraka jahannam.” (HR AL-BUKHARI NO. 5997).

 bahaya jil

Ilustrasi: Buku Hartono Ahmad Jaiz, Menangkal Bahaya JIL dan FLA. Ada Pemurtadan di IAIN/ pustaka alkautsar

Guriu Besar Fakultas Ushuluddin  dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin  Makasar  Prof. Dr. HM. Qasim Mathar/ namakuddn

Pernyataan guru besar dan aktivis syiah itu menuai kecaman.

Inilah beritanya.

***

PPP Kecam Guru Besar UIN Makassar Yang Nyatakan Al-Quran Perlu Direvisi

Publikasi: Selasa, 22 Ramadhan 1434 H / 30 Juli 2013 12:40

Jakarta (An-najah.net) –Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin Makassar, Qasim Mathar, menyatakan bahwa Al Quran perlu direvisi karena Nabi Muhammad SAW telah meninggal dunia sehingga tak cocok lagi. Pernyataan itu  dikecam oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Qasim Mathar, Guru Besar yang mengaku sebagai aktivis Syiah dan pro JIL itu menjelaskan karena Rasulullah sudah meninggal, maka ia mengatakan bahwa isi Al Quran perlu direvisi karena menurutnya sudah tidak cocok lagi dengan zaman.

Menurut Ketua DPP PPP, Arwani Thomafi, pernyataan Qosim tersebut sangat salah dan melukai umat Islam.
“Sepanjang zaman Al Quran harus dijaga, tidak ada celah mengubah, merevisinya. Pernyataan itu melukai umat Islam,” kata Arwani di Jakarta, Sabtu(27/7).

Arwani Thomafi mengatakan dirinya juga sedih dengan pernyataan Qosim. Sebab, katanya, Al Quran merupakan pedoman umat Muslim hingga hari akhir nanti.

“Saya sedih jika ada yang punya pandangan seperti itu (merevisi Al Quran). Keimanan kita terhadap Allah SWT dan Al Quran tidak dibatasi oleh pada zaman Nabi Muhammad SAW saja. Keutuhan Al Quran sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, berlaku sampai kiamat,” katanya.(Anwar/ant/annajah)

***

Guru Besar UIN Makasar: Rasulullah Sudah Meninggal, Al Qur’an Perlu Direvisi

Diposting Kamis, 21-06-2012 | 21:45:36 WIB

Bertempat di Lecture Theater UIN Alauddin, Samata mulai sekitar pukul 10.00 WITA – 13.00 WITA, pegiat #IndonesiaTanpaJIL wilayah Makassar bekerja sama dengan BEM-Fakultas Ilmu Kesehatan mengadakan diskusi tentang Islam Liberal dengan menghadirkan dua pembicara.

Diskusi berjalan menarik karena menghadirkan dua pembicara yang memiliki latar belakang pemikiran berbeda antara yang menolak Islam Liberal dengan yang mendukung liberalisme Islam.

Di kubu anti JIL diwakili oleh Akmal Sjafril, MPd.I, sedangkan di kubu pendukung JIL diwakili oleh Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin Makasar Prof. Dr. HM. Qasim Mathar.

Memulai pembicaraan mengenai definisi agama, Prof. Qasim membuat beberapa pernyataan kontroversial yang membuat diskusi berjalan ‘menarik’. Diantara pernyataan-pernyataan kontroversial lulusan program Doktor IAIN Jakarta itu antara lain adalah:

“Tidak akan kafir seseorang yang agamanya Islam walaupun dia melenceng dari ajaran2 akidah Islam,” katanya seperti disampaikan oleh Zilqiah Angraini, salah seorang pegiat #IndonesiaTanpaJIL melalui akun Twitter.

“Jangan teriak kafir kepada sesama umat Islam,” kata guru besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin Makasar itu.”

“Orang beragama itu ibarat lagi main bola di lapangan, bola itu kamu tendang kemana bolanya ngga akan kafir.” 

“Jangan membatasi penafsiran Al Quran karena generasi ke depan lebih jago daripada generasi yang zaman dulu.”

“Seharusnya dalam Islam tidak usah ada istilah poligami, karena pernikahan sempurna itu hanya monogami.”

“Kalau masyarakat aman-aman saja dengan kehadiran Islam liberal, ya jangan ganggu lagi kenyamanan masyarakat itu.”

“Tuhan tidak pernah ada di depan kita, tidak pernah ada di kursi MPR. Kedaulatan bukan di tangan Tuhan.”

“Sains itu bergerak ke depan bukan ke belakang. Islam juga harusnya begitu.”

“Yang mengaku menjadi Nabi setelah Nabi Muhammad, ya terserah dia. itu tandanya dia mau direkam sejarah. Jadi biarkan saja.”

“Rasulullah sudah meninggal, isi Al Qur’an perlu direvisi karena sudah tidak cocok lagi.”

 kata qasim

Lebih lanjut, Prof. Qasim juga mengatakan bahwa sekarang Nabi sudah tidak ada. Menurutnya, hanya menjadi sebuah mimpi saja jika umat Islam hendak menyeragamkan pemahaman mengenai Islam.

Guru Besar yang mengaku sebagai aktivis Syiah itu juga menjelaskan karena Rasulullah sudah meninggal, maka ia mengatakan bahwa isi Al Quran perlu direvisi karena menurutnya sudah tidak cocok lagi dengn zaman.

Ia menyatakan tidak peduli dengan orang yang mau puasa atau tidak, mau berlebaran kapan. “Biarkan saja, karena Islam itu adil,” kata profesor kelahiran Makassar pada tanggal 21 Agustus 1947 itu seperti dilaporkan Zilqiah.

Prof. Qasim yang pro JIL berpesan agar umat Islam tidak usah ditanamkan dan tidak perlu disatukan, ia menyarankan agar berhenti memikirkan mengajak orang untuk bersatu.

Sang Guru Besar Sejarah dan Pemikiran Islam itu kemudian menutup statement-nya dengan kalimat, “jangan mimpi dan sibuk mikirin untuk menyeragamkan umat muslim. capek nanti.”

Kegiatan diskusi tentang Islam Liberal Kamis siang (21/06) ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan kepada pembicara. Kepada Prof. Dr. Qasim Mathar, panitia memberikan kenang-kenangan salah satunya berupa kaos #IndonesiaTanpaJIL. [muslimdaily]

*Untuk membaca pernyataan-pernyataan silakan buka link berikut: Pernyataan Kontroversial Qasim Guru Besar UIN Makassar dlm Diskusi #IndonesiaTanpaJIL Makasar dan atau Dari Diskusi Islam Liberal 101 UIN Makassar. / muslimdaily.net

***

Ada pemurtadan di IAIN

Pantas saja telah beredar buku yang cukup terkenal berjudul Ada Pemurtadan di IAIN karya Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta. Ternyata di antara guru besarnya (UIN juga asalnya IAIN) selancang itu dalam menghujat Al-Qur’an. Dapat mandat dari mana, sampai dia berani mengatakan Al-Qur’an perlu direvisi. Memangnya zaman kah yang jadi pedoman sehingga Al-Qur’an pun harus direvisi agar cocok dengan zaman?

Astaghfirullahal ‘adhiem…. Kalau guru besarnya saja seperti itu, lantas bagaimana pula yang digurubesari? Pepatah lama: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari…

Na’udzubillahi min dzalik!

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.095 kali, 1 untuk hari ini)