Terdakwa Samhudi yang juga guru SMP Raden Rachmat Balongbendo, saat berdiskusi dengan kuasa hukummnya ketika mengikuti sidang vonis di Pengadilan Negeri Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (4/8). Foto: Antara


Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sangat prihatin atas kasus guru yang mencubit siswanya dan divonis tiga bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Sidoarjo, Jawa Timur. Kasus tersebut dinilai seharusnya tidak perlu terjadi jika guru dan orang tua siswa menempuh jalan musyawarah.

Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Unifah Rosyidi kepada Elshinta, Jumat (5/8) pagi mengatakan, pihaknya sangat prihatin, sedih, dan menyesalkan atas jatuhnya hukuman tiga bulan penjara terhadap sang guru tersebut, Samhudi.

“Yang pertama kami minta tolong dengan amat sangat, tolong para guru itu jangan dihadap-hadapkan dengan murid yang sangat disayanginya, dalam mendidik dan mengajar. Dan yang kedua kalau ada hal-hal yang terjadi di dalam konteks seperti Pak Samhudi, itu tolong dilihat dulu konteksnya secara komprehensif,” kata dia.

Unifah mengakui, apa yang dilakukan Samhudi merupakan proses pendisiplinan atau pendidikan kepada siswa. “Dan yang lebih lagi yang terjadi, PGRI itu melalui LKBH PGRI Kabupaten Sidoarjo, dan PGRI Provinsi Jatim, sudah melakukan perdamaian oleh pejabat militer setempat, DPRD, dan Wakil Bupati, tetapi kok masih dijatuhkan hukuman, seharusnya membuat pihak penegak hukum mempertimbangkan putusannya,” sesal Unifah.

“Kalau seperti ini terjadi saya khawatir para guru tidak tenang, dipenuhi rasa was-was di dalam bekerja, dalam mengajar, dalam mendidik,” katanya.

Unifah menegaskan, dalam mendidik, guru bukan sekedar menyampaikan materi bahan ajar, tetapi yang lebih penting adalah mengantarkan budi pekerti, sopan santun, dan karakter yang disebut sebagai revolusi mental.

Jika hal seperti itu yang terjadi, menurut dia, alangkah tidak baik dunia pendidikan, dan pihaknya menyatakan sangat prihatin dan kecewa.

Diberitakan, Samhudi, guru SMP Raden Rahmat, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur, divonis tiga bulan penjara dengan masa percobaan enam bulan dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri Sidoarjo, Kamis (4/8).

Atas vonis majelis hakim tersebut, Samhudi belum mengambil langkah hukum selanjutnya atau masih pikir-pikir.

Samhudi dilaporkan orang tua murid yang dihukum karena tidak mengikuti ibadah shalat Dhuha pada 3 Februari lalu. Hukuman yang diterima murid tersebut di antaranya dicubit tangannya. Namun orangtua murid yang tidak terima membawa masalah tersebut ke ranah hukum.

Penulis: Angga Kusuma D

Editor: Dewi Rusiana

Sumber: elshinta.com/ Jumat, 05 Agustus 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.475 kali, 1 untuk hari ini)