Smg tragedi ini tak terjadi lagi. Guru2 kita itu sebagian besar ikhlas digaji kecil demi mencerdaskan anak bangsa. Mari kita hormati & cintai para guru

Slamet Widodo

***

Pelajaran agama di sekolah umum itu kurang. Minim sekali bahkan. Tapi masyarakat ingin para siswa akhlaknya baik. Dulu, cium tangan sudah tradisi dan kelaziman saking sopannya. Sekarang, jadi murid yang tidak membunuh gurunya saja, sudah syukur. Anak-anak ini hanyalah korban. Korban dari kedunguan pihak-pihak dewasa. Yang perlahan akan merugikan banyak pihak dewasa dan menghancurkan generasi mendatang.

Pelajaran agama dibuncitkan, tapi ingin bermoral. Pelajaran Aqidah Ahklak dihilangkan, tapi ingin beradab.

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

***

 TRAGEDI GURU BUDI…

Tak pernah siapapun menduga Kamis kemarin, 1 Februari 2018, hari terakhir guru muda Ahmad Budi Cahyono terakhir mengajar. Berhenti untuk mengajar selama-lamanya. Berpulang ia meninggalkan duka. Pagi ini air mata masih basah di Sampang, Madura.

Guru honorer mata pelajaran seni rupa di SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Madura itu masih sangatlah muda. Masih harum berbunga pula kehidupannya, belum lama usia pernikahannya. Empat bulan buah cinta dalam kandungan istrinya.

Guru Budi mengajar seperti biasa. Meski gaji pas-pasan saja, ia terus mengabdikan dirinya. Bakti dan imbalan kadang tak sejalan, tapi ikhlas ia lakukan berharap suatu hari ia tak lagi jadi guru honorer, semua harapan untuk menafkahi keluarga barunya.

Kamis kemarin, ia mengajar di kelas XI. Pelajaran menggambar tengah dilakukan. HI, siswa itu tak peduli, ia terus mengganggu teman-temannya, bahkan kemudian bisa tidur seenaknya dalam kelas. Guru tak lagi dihargai.

Guru Budi menegur, pipi si siswa dicoret cat air, bukannya sadar. HI merangsek Guru Budi, memukuli kepala gurunya sendiri. Pengganti orang tuanya itu tak lagi dihormati. Terus ia pukuli jika teman-temannya tak melerai.

Tak sampai di situ, pulang sekolah murid durjana itu menunggu Guru Budi dan kembali menganiaya.

Setiba di rumah, Guru Budi merasakan sakit kepalanya, makin menjadi. Tak sadarkan diri kemudian. Keluarga membawanya ke RS Dr Sutomo, Surabaya. Semalam, sekitar pukul 21.40, Guru Budi berpulang. Diagnosis dokter mati batang otak.

Guru Budi berpulang dipukuli muridnya sendiri. Tragedi yang tak seharusnya terjadi. Hormat murid kepada guru tak seperti dulu. Sungkan siswa kepada guru tak lagi banyak ditiru. Negeri nanti seperti tak berjiwa lagi. Guru Budi meninggal karena matinya budi pekerti generasi.

Shinta, istri Guru Budi berduka tak terkira. Anak yang baru empat bulan dikandungnya, lahir nanti tak ditunggui ayahnya. Yatim si anak pada kelahirannya.

Shinta akan mengisahkan tentang Guru Budi, guru honorer di daerah terpencil yang meninggal dianiaya muridnya sendiri, kepada anaknya.

Kabar yang tak muncul sebanyak berita lainnya di media massa. Padahal inilah nilai dasar, ketika murid mulai tak menghargai gurunya, ketika siswa bisa memukuli guru semaunya.

“Guru Budi itu ayahmu, Nak,” kata Shinta bertahun kemudian di hadapan pusara bertuliskan Ahmad Budi Cahyono. Tangis terpendam. Masa meredam. Luka mendalam. Terdiam.

#sayabelajarhidup bersama Ursamsi Hinukartopati

Dari berbagai sumber

Fathur Kebumen

***

Meninggal, Daoed Joesoef  Pengusul Agama Tak Usah Diajarkan di Sekolah, tapi Istana agar Merayakan Natal

Jenazah Daoed Joesoef di rumah duka. (Foto: dok. Agritama Prasetyanto)/kprnc

18 Tahun Idap Sakit Jantung

Kabar meninggalnya Daoed Joesoef Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1978-1983 ini didapatkan dari Wakil Ketua Yayasan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Clara Joewono pada Rabu (24/1) dinihari, seperti yang dikutip dari laman Kompas.com, Rabu (24/1/2018).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden Soeharto, Daoed Joesoef meninggal pada usia 91 tahun. Keluarga menuturkan, mendiang Daoed meninggal karena penyakit jantung yang diidapnya selama 18 tahun.

“Sakit jantung, sudah dipasang ring sejak umur 73 tahun,” kata Bambang Pharmasetiawan, menantu dari mendiang Daoed di rumah duka, Jalan Bangka VII Dalam, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (24/1/2018), tulis berita.lewatmana.com

Daoed Joesoef  mengusulkan agar sekolah tidak lagi mengajarkan pendidikan agama, tapi Istana agar merayakan natal

Gagasan Daoed yang cukup menggegerkan adalah ketika ia mengusulkan agar sekolah tidak lagi mengajarkan pendidikan agama. Pasalnya pengajaran agama bukan menjadi urusan pemerintah, melainkan urusan pribadi, hak prerogatif keluarga dan tugas dari komunitas agama yang bersangkutan.

Hujatan dan kritikan terhadap Daoed Joesoef pun mengalir deras, salah satunya datang dari mantan Menteri Agama Prof HM Rasjidi. Ia menuturkan bahwa umat Islam tidak akan menyerahkan pendidikan agama kepada mereka yang tidak percaya agama, sama halnya seperti harta yang tidak boleh dipercayakan kepada pendusta.

“Bahkan lebih dari itu, harta benda bukan apa-apa apabila dibandingkan dengan amanat keyakinan dan iman kita bagi anak-anak kita,” demikian kata Rasjidi dalam buku Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional.

Tudingan yang ditujukan kepada Daoed Joesoef yang dilahirkan di Medan pada 8 Agustus 1926 pun semakin menjadi. Karena di antaranya, Daoed juga pernah mengeluarkan usulan agar Istana turut merayakan Natal.

Berikut ini kutipan dari sebuah media online. Silakan simak.

https://www.nahimunkar.org/meninggal-daoed-joesoef-pengusul-agama-tak-usah-diajarkan-di-sekolah-tapi-istana-agar-merayakan-natal/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 698 kali, 1 untuk hari ini)