Gus Baha Tuduh Aisyah Radhiyallahu ‘Anha Ingkar Mi’raj dan Awur-awuran

Kini sedang ramai soal Gus Baha (terkemuka di kalangan Aswaja) bicara, orang yang ingkar mi’raj adalah Siti Aisyah. (lihat Beginikah Adabmu terhadap ‘Aisyah Rodhialloohu ‘Anhaa, Wahai Gus Baha
Posted on 19 Maret 2021 by Nahimunkar.org).

Tuduhan Gus Baha terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tanpa dilandasi bukti kongkret, sedang berita dan videonya beredar, dapat di baca di
https://kalam.sindonews.com/read/365320/69/gus-baha-orang-yang-ingkar-mikraj-adalah-siti-aisyah-1615809832?showpage=all

Video:

https://www.youtube.com/watch?v=VzKLADg_pqk

Yang jadi masalah, kenapa Gus Baha berani-beraninya menuduh Aisyah radhiyallahu ‘anha inkar mi’raj. Itu persoalan besar. Makanya jadi ramai, karena tuduhan itu tanpa disertai dengan dalil dan bukti yang bisa dipertanggung jawabkan keshahihannya.

Ini beritanya.

***

Gus Baha: Orang yang Ingkar Mikraj adalah Siti Aisyah

Miftah H. YusufpatiSenin, 15 Maret 2021 – 19:36 WIB

loading…

KH Bahauddin Nur Salim/Foto/Ilustrasi/Ist

KH Ahmad Bahaudin Nursalim atau yang akrab disapa dengan Gus Baha’ mengatakan ulama ahlusunnah meyakini bahwa Rasulullah SAW bertemu dan melihat Allah Ta’ala ketika Mikraj .

Hanya saja, Aisyah memiliki pandangan yang berbeda dalam masalah itu. “Orang yang Ingkar Mikraj adalah Siti Aisyah,” ujarnya, sebagaimana yang disiarkan kanal Kalam di laman YouTube belum lama ini.

Menurut Gus Baha, Siti Aisyah adalah istri Nabi dan pendokumentasi hadis. “Beliau adalah ulama besar,” tegasnya Hanya saja, ada satu fatwa beliau yang tidak diikuti ulama seluruh dunia. Beliau menyakini tidak terjadi mikraj. “Mikraj itu bahasa mubaligh. Yang ada adalah isra saja,” kata Gus Baha.

Menurut keyakinan Aisyah, Nabi itu hanya isra. Sedangkan keyakinan ulama sedunia, Nabi juga mengalami mikraj dan berdialog langsung dengan Allah SWT. Nabi sempat melihat Allah di Sidratul Muntaha. 

Muslim meriwayatkan bahwa Aisyah berkata pada murid kesayangannya:

مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللهِ الْفِرْيَةَ

Siapa yang meyakini bahwa Muhammad pernah melihat Tuhannya, berarti dia telah membuat kedustaan yang besar atas nama Allah.” (HR Bukhari 4855, Muslim no. 428, Turmudzi 3068, dan yang lainnya).

Gus Baha mengaku sempat istikharah untuk menelaah mazhab Aisyiah ini. “Aisyah, mengatakan hal itu,” katanya. “Karena punya kepentingan khas ulama, yaitu menjaga konstitusi agama.” 

“Jika kita meyakini bahwa Nabi Muhammad melihat Tuhannya, desain imajinasi kita pasti Tuhan bertahta, bertempat, dan isybihul khalqa (menyerupai makhluk). Itu yang tidak dimaui Aisyah. Lalu, imajinasi desain kita Nabi ngobrol dengan Allah. Di sana ada meja, ada kursi. Ini menabrak kaidah keyakinan kita bahwa Allah tidak bertempat. Dari pada begitu, Aisyah awur-awuran, wis ora ono delok-delokan ora ono roh-rohan (tidak ada pandang memandang, tidak ada lihat lihatan), makanya dari awal mukaddimah saya katakan, tiap ulama itu ada ngawurnya tapi niatnya baik,” jelas Gus Baha.

Jadi, menurut Gus Baha, niat Aisyah baik. Menjaga konstitusi agama.

Ada dua ayat yang digunakan Aisyah untuk menguatkan pendapatnya, pertama firman Allah di surat Al-An’am: 103,

لا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأَبْصَار

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan.

Namun sebagian ulama tafsir menilai bahwa mengingkari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan ayat ini adalah pendalilan yang kurang tepat. Karena yang ditiadakan dalam ayat di atas adalah al-idrak (meliputi), sementara yang dibahas dalam masalah ini adalah ar-rukyah (melihat), dan melihat beda dengan meliputi.

Kedua, ayat yang digunakan Aisyah untuk menguatkan pendapatnya, firman Allah di surat As-Syura,

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْياً أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

Tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

Lihat di https://kalam.sindonews.com/read/365320/69/gus-baha-orang-yang-ingkar-mikraj-adalah-siti-aisyah-1615809832?showpage=all (ada sedikit editing dari nahimunkar.org, diberi perkataan aslinya ada bahasa Jawanya sesuai di videonya).

***

Yang harus dipertanggung jawabkan oleh Gus Baha di antaranya:

  1. Tuduhan terhadap ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Rasulullh shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai orang yang paling mengingkari mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Secuil alasan, lafal mi’raj itu tidak ada di kitab2 riwayat, adanya hanya isra’.

Gus Baha apakah secuil alasan itu shahih? Dalam hadits2 shahih ada lafal ‘tsumma ‘urija bina ilassamaa’ ثُمَّ
عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ

Kemudian aku dibawa naik ke langit , silakan simak ini:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim; dan lafal hadits ini berdasarkan Imam Muslim.

 

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ، وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ» ، قَالَ: «فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ» ، قَالَ: «فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ»

Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farruh, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, telah menceritakan kepada kami Tsabit al-Bunani daripada Anas bin Malik : bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaIhi wasallam bersabda: Didatangkan kepadaku Buraq, seekor tunggangan putih, lebih tinggi dari keledai dan lebih rendah dari baghal, ia berupaya meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya. Setelah menungganginya, maka Buraq itu berjalan membawaku hingga sampai ke Baitul Maqdis. Aku ikat (tambat) tunggangan itu di tempat para Nabi biasa menambatkan tunggangan mereka.

قَالَ ” ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ، فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ، وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ، فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ، فَقَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ،

Lalu aku masuk dan menunaikan sholat dua raka’at di dalamnya. Setelah itu aku keluar dan disambut oleh Jibril dengan secawan arak dan susu. Ketika aku memilih susu, maka Jibril berkata: “Engkau telah memilih fitrah (yaitu Islam dan Istiqomah)”.

ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ [ص:146]، فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: مَنَ أَنْتَ؟ قَالَ: جِبْرِيلُ، قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: َ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِآدَمَ، فَرَحَّبَ بِي، وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ،

Kemudian aku dibawa naik ke langit dunia.Manakala Jibril meminta dibukakan pintu langit, maka terdengarlah suara yang bertanya, “Engkau siapa?” “Jibril.” Jawabnya. “Engkau bersama siapa?” Tanya penjaga pintu langit. “Muhammad.” Jawab Jibril. Penjaga pintu langit bertanya, “Adakah dia diutus (untuk dinaikkan ke langit bertujuan menghadap Rabb-nya)? “Ya.” Jawab Jibril. Setelah masuk, ternyata di sana aku bertemu dengan Nabi Adam ‘alaihisalam dan beliau segera menyambutku lalu mendoakan kebaikan untukku. (HR Bukhari dan Muslim, lafal di shahih Muslim).

Selengkapnya silakan baca di sni: Hadits Shahih tentang Isra Mi’raj Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
Posted on 22 Maret 2021 by Nahimunkar.org
https://www.nahimunkar.org/hadits-shahih-tentang-isra-miraj-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam/

Masalah penamaan mi’raj dari lafal di hadits shahih, ‘urija binaa ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ ‘Kemudian aku dibawa naik ke langit’ itu berarti peristiwanya ada, dan di dalam hadits itu merupakan kelanjutan dari isra’. Kenapa isra’nya diakui, lalu mi’rajnya tidak (padahal haditsnya satu), bahkan kemudian Aisyah radhiyallahu ‘anha dituduh ingkar mi’raj?

Kalau alasannya mi’raj itu tidak ada di kitab2 riwayat, lha lafal ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ itu kan jelas ada. Sebagaimana istilah atau sebutan ‘ilmu fiqh’ diambil dari hadits yufaqqihhu fiddiin, kan sudah dimaklumi.

Oeh karena itu Gus Baha sebagai penuduh bahwa aisyah radhiyallahu ‘anhu ingkar mi’raj, harus mengemukkan bukti.

Sedangkan peristiwa isra’ mi’raj itu riwayat-riwayatnya bersifat mutawatir, dan Aisyah termasuk yang meriwayatkan pula.

وقال الحافظ أبو الخطاب عمر بن دحية في كتابه ( التنوير في مولد السراج المنير ) : ” وقد تواترت الروايات في حديث الإسراء عن عمر بن الخطاب وعلي وابن مسعود وأبي ذر ومالك بن صعصعة وأبي هريرة وأبي سعيد وابن عباس ، وشداد بن أوس وأبي بن كعب وعبد الرحمن بن قرط وأبي حبة وأبي ليلى الأنصاريين ، وعبد الله بن عمرو وجابر وحذيفة وبريدة ، وأبي أيوب وأبي أمامة وسمرة بن جندب وأبي الحمراء ، وصهيب الرومي وأم هانىء ، وعائشة وأسماء ابنتي أبي بكر الصديق رضي الله عنهم أجمعين ، منهم من ساقه بطوله ، ومنهم من اختصره على ما وقع في المسانيد ، وإن لم تكن رواية بعضهم على شرط الصحة ، فحديث الإسراء أجمع عليه المسلمون ، وأعرض عنه الزنادقة والملحدون يريدون ليطفئوا نور الله بأفواههم والله متم نوره ولو كره الكافرون ” انتهى نقلا عن “تفسير ابن كثير” (3/36).

Alhafiz Abul Khatab Umar bin Dihyah berkata dalam kitabnya ‘An-Tanwir Fi Maulidi As-Sirajjil Munir’, “Riwayat-riwayat tentang peristiwa Isra’ Miraj bersifat mutawatir. Dari Umar bin Khatab, Ali, Ibnu Masud, Abu Zar, Malik bin Sha’shaah, Abu Hurairah, Abu Said, Ibnu Abas, Syaddad bin Aus, Ubay bin Kaab, Abdurrahman bin Qart, Abu Hibbah, Abu Laila Al-Anshari, Abdullah bin Amr, Jabir, Huzaifah, Buraidah, Abu Ayub, Abu Umamah, Samurah bin Jundub, Abu Hamra, Shuhaib Arrumi, Ummu Hani, Aisyah, Asma, keduanya putri Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu ajmain. Di antara mereka ada yang menyampaikannya panjang lebar, adapula yang menyampaikannya secara singkat sebatas apa yang terdapat dalam musnad, meskipun sebagian riwayat mereka tidak memenuhi syarat shahih. Maka hadits Isra Miraj disepakati oleh kaum muslimin, dibantah oleh kaumm zindiq dan atheis. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tapi Allah sempurnakan cahayaNya walau orang-orang kafir mengingkarinya.” (Dikutip dari tafsir Ibnu Katsir, 3/36)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperjalankan ke Masjidil Aqsha, maka orang-orang pun mulai memperbincangkannya. Sebagian orang yang sebelumnya beriman dan membenarkannya menjadi murtad, mereka pun datang menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu seraya berkata,

هَلْ لَكَ إِلَى صَاحِبِكَ يَزْعَمُ أَسْرَى بِهِ اللَّيْلَةَ إِلَى بَيْتِ المَقْدِسِ ؟

“Apakah engkau mengetahui kalau temanmu mengaku melakukan perjalanan pada malam hari ke Baitul Maqdis?”

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bertanya,

أَوْ قَالَ ذَلِكَ ؟

“Apakah ia mengatakan seperti itu?” “Iya”, jawabnya.

Abu Bakar berkata,

لَئِنْ كَانَ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ

“Andai ia memang mengatakan seperti itu sungguh ia benar.”

Mereka berkata,

أَوْ تُصَدِّقُهُ أَنَّهُ ذَهَبَ اللَّيْلَةَ إِلَى بَيْتِ المَقْدِسِ وَ جَاءَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ؟

“Apakah engkau mempercayainya bahwa ia pergi semalaman ke Baitul Maqdis dan sudah kembali pada pagi harinya?”

Abu Bakar menjawab,

نَعَمْ إِنِّي لَأُصَدِّقُهُ فِيْمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ أُصَدِّقُهُ بِخَبَرِ السَّمَاءِ فِي غَدْوَةٍ أَوْ رَوْحَةٍ

“Ya, bahkan aku membenarkannya yang lebih jauh dari itu. Aku percaya tentang wahyu langit yang turun pagi dan petang.”

Aisyah mengatakan,

فَلِذَلِكَ سُمِّيَ أَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ

“Itulah mengapa beliau dinamakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang membenarkannya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 3:65. Al-Hafizh Adz-Dzahabi dalam At-Talkhish mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Sumber https://rumaysho.com/20327-faedah-sirah-nabi-sikap-abu-bakar-dalam-menerima-berita-isra-mikraj.html

Mungkin masih bisa berkilah, bahwa Aisyah itu hanya meriwayatkan isra’, sedang mi’rajnya Nabi, Aisyah tidak menyebutkan dalam riwayat itu.

Perlu diingat, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Setelah menceritakan kedatangannya di Baitul Maqdis, lanjutan hadits adalah: ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ Kemudian aku dibawa naik ke langit. (lihat HR Bukhari dan Muslim).

Kalau memang Aisyah mengingkari mi’raj, maka Gus Baha harus mendatangkan bukti.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لو يُعْطَى الناسُ بدعواهُم لادّعَى قومٌ دماءَ قومٍ وأموالهُم ، ولكنّ البيّنَة على المُدّعِي ، واليمينُ على من أنكرَ حديث حسن رواه البيهقي وغيره هكذا وبعضه في الصحيحين

“Jika semua orang diberi hak (hanya) dengan dakwaan (klaim) mereka (semata), niscaya (akan) banyak orang yang mendakwakan (mengklaim) harta orang lain dan darah-darah mereka. Namun, bukti wajib didatangkan oleh pendakwa (pengklaim), dan sumpah harus diucapkan oleh orang yang mengingkari (tidak mengaku)”.

Hadits hasan, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan yang lainnya. Sebagian kandungan teks semisal tercantum dalam kitab Ash-Shahihain.

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/18730-bawa-bukti-buktimu-bila-menuduh.html

Bila yang dijadikan bukti itu tentang perkataan Aisyah

مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللهِ الْفِرْيَةَ

Siapa yang meyakini bahwa Muhammad pernah melihat Tuhannya, berarti dia telah membuat kedustaan yang besar atas nama Allah.” (HR Bukhari 4855, Muslim no. 428, Turmudzi 3068, dan yang lainnya).

Apakah otomatis bisa diartikan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha itu ingkar mi’raj?

Kecuali, kalau Gus Baha mengemukakan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha menyanggah atau membantah lanjutan hadits shahih tentang isra’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Setelah menceritakan kedatangannya di Baitul Maqdis, lanjutan hadits adalah: ثُمَّ عُرِجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ Kemudian aku dibawa naik ke langit. (lihat HR Bukhari dan Muslim).

  1. Persoalan lain lagi yang tidak kalah seriusnya sebagai berikut.

Ungkapan Gus Baha yang mungkin untuk menjelaskan tuduhannya, tapi justru menambahi ruwetnya. Perlu disebutkan sumbernya, dari mana perkataan Gus Baha yang mengomentari riwayat Aisyah ini:

Muslim meriwayatkan bahwa Aisyah berkata pada murid kesayangannya:
مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللهِ الْفِرْيَةَ

Siapa yang meyakini bahwa Muhammad pernah melihat Tuhannya, berarti dia telah membuat kedustaan yang besar atas nama Allah.” (HR Bukhari 4855, Muslim no. 428, Turmudzi 3068, dan yang lainnya).

Gus Baha mengaku sempat istikharah untuk menelaah mazhab Aisyiah ini. “Aisyah, mengatakan hal itu,” katanya. “Karena punya kepentingan khas ulama, yaitu menjaga konstitusi agama.” 

“Jika kita meyakini bahwa Nabi Muhammad melihat Tuhannya, desain imajinasi kita pasti Tuhan bertahta, bertempat, dan isybihul khalqa (menyerupai makhluk). Itu yang tidak dimaui Aisyah. Lalu, imajinasi desain kita Nabi ngobrol dengan Allah. Di sana ada meja, ada kursi. Ini menabrak kaidah keyakinan kita bahwa Allah tidak bertempat. Dari pada begitu, Aisyah awur-awuran, wis ora ono delok-delokan ora ono roh-rohan (tidak ada pandang memandang, tidak ada lihat lihatan), makanya dari awal mukaddimah saya katakan, tiap ulama itu ada ngawurnya tapi niatnya baik,” jelas Gus Baha.

Jadi, menurut Gus Baha, niat Aisyah baik. Menjaga konstitusi agama. (kalam.sindonews.com)

 

Silakan Gus Baha mengemukakan sumber dari komentar tentang riwayat itu. Bahkan Gus Baha sampai berani menyebut:

“… Dari pada begitu, Aisyah awur-awuran, wis ora ono delok-delokan ora ono roh-rohan (tidak ada pandang memandang, tidak ada lihat lihatan), makanya dari awal mukaddimah saya katakan, angger (tiap) ulama itu ada ngawurnya tapi niatnya baik,” jelas Gus Baha seperti dikutip di kalam.sindonews.com.

Persoalan melihat Allah atau tidak, kenapa Gus Baha berani mengatakan Aisyah awur-awuran?

Di mana adab secara Islam, dan juga secara ilmu, ucapan yang seperti itu?

Mari kita simak uraian yang merupakan penutup dari artikel tentang ‘melihat Allah’ berikut ini:

Apakah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Melihat Allah ketika Isra Mi’raj?

 
 

Selanjutnya mari kita simak keterangan Ibnu Abil Iz sebagai kata terakhir untuk menyimpulkan perselisihan ini. Setelah menyebutkan perselisihan apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah ataukah tidak ketika peristiwa isra mi’raj, beliau menyimpulkan,

لكن لم يرد نص بأنه صلى الله عليه وسلم رأى ربَّه بعين رأسه، بل ورد ما يدل على نفي الرؤية، وهو ما رواه مسلم في صحيحه، عن أبي ذر – رضي الله عنه – قال: سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم هل رأيت ربك؟ فقال: “نور أنى أراه” وفي رواية “رأيت نوراً،

Hanya saja tidak terdapat dalil tegas yang menyatakan, beliau pernah melihat Tuhannya dengan mata kepala beliau. Sebaliknya, terdapat dalil yang menunjukkan bahwa beliau tidak melihat Allah secara langsung. Yaitu hadis yang diriwayatkan Muslim dalam shahihnya, dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah anda melihat Tuhan anda?’ jawab Nabi, ‘Ada cahaya, bagaimana mungkin saya melihatnya.’ Dalam riwayat lain, ‘Saya melihat cahaya.’

وقد روى مسلم – أيضًا – عن أبي موسى الأشعري – رضي الله عنه – أنه قال: قام فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم بخمس كلمات، فقال: “إن الله لا ينام ولا ينبغي له أن ينام، يخفض القسط ويرفعه، يرفع إليه عمل الليل قبل عمل النهار، وعمل النهار قبل عمل الليل، حجابه النور ، لو كشفه لأحرقت سُبحات وجهه ما انتهى إليه بصره من خلقه

Juga diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah menyampaikan 5 kalimat,

Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak layak Allah disifati dengan tidur, Dia yang menaik-turunkan timbangan, amalan malam hari dilaporkan kepada-Nya sebelum datang amalan siang, dan amalan siang hari dilaporkan kepada-Nya sebelum datang amalan malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Andaikan Allah menyingkap cahaya itu, tentu subuhat (pancaran) wajahnya akan membakar makhluk-Nya sejauh pandangan-Nya. (HR. Ahmad 19597 dan Muslim 179).

Kemudian Imam Ibnu Abil Iz menyimpulkan dua hadis di atas,

فيكون – والله أعلم – معنى قوله لأبي ذر: “رأيت نوراً” أنه رأى الحجاب، أي: فكيف أراه والنور حجاب بيني وبينه يمنعني من رؤيته، فهذا صريح في نفي الرؤية والله أعلم

Karena itu – Allahu a’lam – makna keterangan Abu Dzar, ‘Nabi melihat cahaya’, bahwa beliau melihat hijab. Artinya, bagaimana mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melilhat Allah, sementara ada cahaya yang menjadi hijab antara diri beliau dengan Allah, yang menghalangi beliau untuk melihat Allah. Ini merupakan dalil yang tegas, beliau tidak melihat Allah ketika isra mi’raj.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Artikel 
www.KonsultasiSyariah.com

(Dikutip bagian akhirnya. Selengkapnya, silakan simak di link ini: https://konsultasisyariah.com/18564-nabi-melihat-allah-ketika-isra-dan-miraj.html )

Sekali lagi, Persoalan melihat Allah atau tidak, kenapa Gus Baha berani mengatakan Aisyah awur-awuran?

Di mana adab secara Islam, dan juga secara ilmu, ucapan yang seperti itu?

Selanjutnya, Coba bandingkan ucapan Gus Baha itu dengan keyakinan Aisyah radhiyallahu ‘anha

Mari kita ulangi ucapan Gus Baha:

“Jika kita meyakini bahwa Nabi Muhammad melihat Tuhannya, desain imajinasi kita pasti Tuhan bertahta, bertempat, dan isybihul khalqa (menyerupai makhluk). Itu yang tidak dimaui Aisyah. Lalu, imajinasi desain kita Nabi ngobrol dengan Allah. Di sana ada meja, ada kursi. Ini menabrak kaidah keyakinan kita bahwa Allah tidak bertempat. Dari pada begitu, Aisyah awur-awuran, wis ora ono delok-delokan ora ono roh-rohan (tidak ada pandang memandang, tidak ada lihat lihatan), makanya dari awal mukaddimah saya katakan, tiap ulama itu ada ngawurnya tapi niatnya baik,” jelas Gus Baha.

Jadi, menurut Gus Baha, niat Aisyah baik. Menjaga konstitusi agama. (kalam.sindonews.com)

Coba bandingkan ucapan Gus Baha itu dengan keyakinan Aisyah radhiyallahu ‘anha

Keyakinan Aisyah Ummul Mukminin, dan muridnya bernama Masruq

 

Keyakinan Aisyah Ummul Mukminin

Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu anha juga mempunyai keyakinan bahwa Allah ta’ala di atas Arasy-Nya. Beliau pernah menyatakan:

وَايْمُ اللَّهِ ، إِنِّي لَأَخْشَى لَوْ كُنْتُ أُحِبُّ قَتْلَهُ لَقُتِلْتُ – تَعْنِي عُثْمَانَ – وَلَكِنْ عَلِمَ اللَّهُ مِنْ فَوْقِ عَرْشِهِ أَنِّي لَمْ أُحِبَّ قَتْلَهُ

“Demi Allah. Sesungguhnya aku merasa khawatir seandainya aku senang dengan terbunuhnya Utsman, maka aku akan terbunuh. Tetapi Allah mengetahui dari atas Arasy-Nya bahwa aku tidak senang dengan terbunuhnya Utsman.” (Atsar riwayat ad-Darimi dalam ar-Radd alal Jahmiyah: 83 (57). Di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Mukhtashar al-Uluw: 75).

Pujian Masruq kepada Aisyah

Al-Imam Masruq bin al-Ajda’ (wafat tahun 62 H) rahimahullah adalah ulama besar tabi’in yang mengambil ilmu dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu anha. Ali bin al-Aqmar rahimahullah berkata:

كَانَ مَسْرُوقٌ إِذَا حَدَّثَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَ : حَدَّثَتْنِي الصِّدِّيقَةُ بِنْتُ الصِّدِّيقِ حَبِيبَةُ حَبِيبِ اللَّهِ ، الْمُبَرَّأَةُ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ ؛ فَلَمْ أُكَذِّبْهَا

“Adalah Masruq, jika meriwayatkan hadits dari Aisyah, berkata: “Telah menceritakan kepadaku ash-Shiddiqah bintu ash-Shiddiq, kekasih dari kekasih Allah (yakni: kekasih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, pen), yang dibebaskan (dari berita dusta, pen) dari langit yang ketujuh. Maka aku tidak akan mendustakan beliau.” (Atsar riwayat Ibnu Bisyran dalam Amalinya: 968, Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat al-Kubra: 8/66 dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah: 2/44. Lihat pula Tahdzibul Asma’ wal Lughat lin Nawawi: 944 dan Siyar A’lamin Nubala’: 2/181. Isnadnya di-shahih-kan oleh adz-Dzahabi dalam al-Uluw: 317 (121-2)).

Selengkapnya di sini: https://tulisansulaifi.wordpress.com/2018/03/02/di-atas-langit-ada-allah/#_Toc507758638

Ketika diperbandingkan antara ungkapan Gus Baha dengan aqidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, sepertinya ibarat tukang jahit mengukur bajunya sendiri tapi untuk orang lain yang berbeda sama sekali ukurannya.

Ibaratnya, tukang jahit yang macam itulah justru yang awur-awuran. Tapi kenapa justru Aisyah radhiyallahu ‘anha yang dia sebut awur-awuran?

Kenapa ha?

Di mana adabmu, wahai Gus Baha, terhadap Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan wanita paling beliau cintai?

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.101 kali, 1 untuk hari ini)