Gus Dur, Anand Kreshna, Nasaruddin Umar, dan RUU Peradilan Agama tentang Perkawinan

Oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Tede

Gus Dur penghalang besar adanya syari’at Islam dalam undang-undang, telah mati 30 Desember 2009.

Sementara itu Anand Kreshna, orang kafir rekanan atau bahkan yang saling memberi inspirasi terhadap Gus Dur, kini terjeblos dalam dugaan kasus pelecehan seksual atas 7 wanita, dan telah dilaporkan ke Komisi Nasional Perempuan, Jum’at 12 Februari 2010.

Satu orang lagi selaku rekanan Gus Dur, Nasaruddin Umar tampaknya tengah menjalankan missi Gus Dur yakni membuang apa saja yang berbau syari’at yang ada di Undang-undang Peradilan Agama. Maka sejak setahun lalu, Nasaruddin Umar yang duduk di Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama tampak gigih dalam menghapus apa-apa yang dinilai berbau syari’at. Makanya begitu bersemangatnya dalam “berjuang” untuk mengundangkan pidana bagi orang yang nikah syar’I namun di bawah tangan (tak dicacat di Kantor Urusan Agama-KUA), dan mempidanakan yang nikah syar’I yakni poligami yang sangat dibenci oleh orang kafir dan munafiq.

Tiga orang ini pun akan mengalami nasibnya sendiri-sendiri. Gus Dur mati, Anand Kreshna sementara terjeblos dan tercemar, sedang Nasaruddin Umar berhadapan dan akan bertarung dengan atasannya, Menteri Agama Suryadharma Ali serta para Ulama dan Ummat Islam pada umumnya.

Gus Dur dan Anand Kreshna

Di tahun 2005, Gus Dur ikut berkiprah pada sebuah organisasi yang digagas Anand Krishna. Organisasi itu bernama National Integration Movement, disingkat NIM yang berarti Gerakan Integrasi Nasional. Pada organisasi ini Gus Dur duduk sebagai Ketua Dewan Pembina, yang beranggotakan sejumlah nama diantaranya Siswono Yudohusodo dan Slamet Rahardjo. Mantan Pemimpin Redaksi Kompas, August Parengkuan, duduk sebagai anggota Kehormatan.

Sebagaimana bisa dilihat di www.nationalintegrationmevement.org, NIM didirikan pada tanggal 11 April 2005, di Tugu Proklamasi, Jakarta, sebagai respon atas adanya ancaman terhadap integrasi bangsa, terutama yang disebabkan oleh pertikaian atas nama agama dan etnis, di berbagai wilayah Indonesia. Pendiriannya diinspirasikan oleh tokoh spiritual lintas agama Anand Krishna.

Sebagaimana juga AKKBB yang berupaya menanamkan di benak kita akan adanya bahaya disintegrasi dan sebagainya, NIM juga mempunyai concern yang sama. Sejumlah isu yang potensial untuk diangkat oleh NIM meliputi: ancaman terhadap keutuhan wilayah RI, peraturan dan perundangan yang diskriminatif terhadap kelompok agama tertentu; kebijakan yang merugikan kelompok etnis dan agama tertentu; ancaman atau teror dari kelompok masyarakat tertentu kepada kelompok masyarakat lain; dan sebagainya.

Jangan lupa, Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dan Anand Krishna termasuk sosok yang namanya ikut mendukung petisi AKKBB yang antara lain dimuat oleh harian Kompas. Salah satu kegiatan NIM adalah menerbitkan berbagai petisi, seperti Petisi Untuk Menolak UU Pornogafi, Petisi Penghapusan Kolom Agama Pada KTP, PETISI untuk Pemerintah Indonesia untuk memperhatikan Pulau Bali, Petisi Pembuatan dan Pemberlakuan Undang-Undang Perlindungan Folklor dan Pengetahuan Tradisional, Petisi Pendidikan Harus Mengantar Kita pada Kebangkitan Indonesia, dan sebagainya.

Nampaknya, ada sekelompok orang yang konsisten menakut-nakuti kita akan adanya bahaya ideologis, akan adanya ancaman disintegrasi, akan adanya bahaya yang ditimbulkan oleh sekelompok orang yang  hendak mengubah dasar negara.

Mereka menciptakan sebuah hantu jadi-jadian, yang harus dijadikan musuh bersama. Hantu jadi-jadian yang mereka maksud adalah sekelompok orang yang picik sikap keber-AGAMA-annya, yang suka kekerasan, yang suka memaksakan kehendak, dan sebagainya. Sekelompok orang itu tentu saja bukan Anand Krishna, bukan Gus Dur, bukan Azyumardi Azra, bukan Komaruddin Hidayat, bukan Ulil dan kelompok JIL-nya, bukan Amien Rais, bukan Syafi’i Ma’arif, bukan Jalaluddin Rahmat, bukan Gunawan Mohamad, bukan Amin Abdullah, bukan Moeslim Abdurrahman dan sebagainya

Sementara mereka menciptakan hantu menyeramkan tentang adanya bahaya Islam fundamentalis, bahaya Islam radikal yang hendak mengubah idelogi negara; pada saat bersamaan mereka telah menyusupkan paham yang tidak sekedar sekuler, tidak sekedar plural dan liberal, tetapi atheis dan komunis.

Buktinya, di masa ketika Gus Dur menjadi Presiden, ia menyatakan akan mencabut Tap MPRS No. XXV/l966 tentang larangan ajaran Marxis dan Leninis yang merupakan inti ajaran komunis. Padahal, di Indonesia, penganut komunis sejak sebelum kemerdekaan sudah sering melakukan pemberontakan. Pasca kemerdekaan, 1948, pengikut komunis melakukan pemberontakan di Madiun. Akibatnya, sejumlah pentolah komunis mati, lainnya kabur ke luar negeri, antara lain D.N. Aidit. Namun, di tahun 1950 Aidit kembali ke Indonesia karena Soekarno melakukan rehabilitasi terhadap mereka. Di tahun 1965, penganut komunis kembali melakukan pemberontakan berdarah.

Bila Soekarno pernah merehabilitasi penganut komunis yang pernah berontak di  tahun 1948, Gus Dur semasa jadi presiden pernah bertatap muka dengan pelarian politik kasus PKI (komunisme) ketika jalan-jalan ke berbagai negara Eropa, dan di hadapan mereka Gus Dur menjanjikan bahwa mereka dapat kembali ke Indonesia. Untuk menunjukkan keseriusannya, Gus Dur menugaskan Yusril Ihza Mahendra yang ketika itu menjabat sebagai Menkumdang untuk menindak-lanjuti kebijakan Gus Dur terhadap para pelarian politik penganut komunis.

Sebagai presiden, Gus Dur menginginkan untuk menghapus semua undang-undang atau peraturan yang melarang dan membatasi aliran-ideologi seperti komunisme;  bahkan ia juga hendak menghapus Departemen Agama, karena departemen ini menurut Gus Dur hanya menguntungkan golongan Islam dan merugikan golongan lainnya.

Gus Dur juga pernah mengusulkan untuk menghapus Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yang mengatur penyebaran agama dan pendirian tempat ibadah, karena dianggap merugikan golongan Kristen. Selain itu, Gus Dur juga mengusulkan agar kurikulum pendidikan Agama di sekolah-sekolah harus diubah karena menyebabkan siswa menjadi penganut Islam yang fanatik terhadap agamanya.

Usulan Gus Dur berkenaan dengan kurikulum pendidikan agama, sesungguhnya sudah mulai dipraktekkan Harun Nasution sejak 1975-an. Hingga kini, diteruskan oleh generasi pelanjutnya seperti Azyumardi Azra dan Komaruddin Hidayat di UIN (IAIN). Dulu belum terlihat jelas identitas ideologis para pembelok arah IAIN/UIN itu. Barulah setelah lebih dari tiga dasawarsa terjadi kudeta ideologis di UIN/IAIN, mulai diketahui dengan lebih tegas identitas ideologis mereka, yaitu sekelompok orang yang menjajakan ilhadiyah alias neo komunisme.

Masih ada lagi. Semasa menjadi presiden, Gus Dur juga menghendaki agar UU Peradilan Agama yang mengarah pada penerapan syari’ah Islam harus dihapus. Begitu juga dengan UU Perkawinan yang substansinya lebih banyak menguntungkan golongan Islam, harus dihapus. Pada masa-masa itu Gus Dur juga pernah mengusulkan agar Masjid Istiqlal dikelola oleh pengurus yang multi agama, jangan hanya orang Islam. (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz dkk, Rekayasa Pembusukan Islam, Pustaka Nahi Munkar, Jakarta 2009).

Nasaruddin Umar dapat “berkah” akibat sewotnya Gus Dur.

Nasaruddin Umar yang pernah jadi duta JIL (Jaringan Islam Liberal) ke Amerika dalam urusan feminisme dan semacamnya ini bisa masuk ke jajaran kepengurusan NU (Nahdlatul Ulama) Pusat gara-gara sewotnya Gus Dur akibat kalah dengan Hasyim Muzadi dalam bertarung untuk menjago di Muktamar NU 2004 di Donoudan Boyolali Jawa Tengah. Gus Dur mengancam mau membuat NU tandingan, maka akibatnya, Hasyim Muzadi selaku Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) memasukkan tokoh liberal yakni Masdar F Mas’udi dan Nasaruddin Umar ke jajaran pengurus.

Inilah beritanya:

Nasaruddin Umar orang UIN Jakarta yang menyebarkan feminisme dan dipercaya oleh orang JIL –Jaringan Islam Liberal untuk bicara Islam model mereka ke Amerika. Dia diangkat jadi pengurus structural PBNU setelah Muktamar di Donoudan Boyolali Jawa Tengah, Syawal 1425H/ November 2004, yang saat itu pesawat Lion Air tergelincir di Bandara Panasan/ Adisumarmo Solo hingga di antara tokoh NU, yang duduk di DPR dan akan menghadiri muktamar itu ternyata meninggal. Gus Dur dan Masdar Farid Mas’udi kalah telak oleh pasangan Hasyim Muzadi dan KH Sahal Mhfudz, maka Gus Dur mengancam akan membuat NU tandingan. Akibatnya, Hasyim Muzadi mengakomodasi pihak liberal model Gus Dur dan Masdar F Mas’udi, maka dimasukkanlah Nasaruddin Umar yang liberal dan feminisme itu ke jajaran kepengurusan PBNU. (Hartono Ahmad Jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN, Pustaka Al-Kautsar Jakarta, cetakan VII, 2006, halaman 99-100).

Dalam hal penyesatan, kiprah Nasaruddin Umar tercatat sebagai orang yang bekerjasama dengan orang kafir dalam merusak Islam.

Inilah beritanya:

Nasaruddin Umar, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Dia ini memberi kata pengantar dengan memuji-muji buku Anand Kreshna, keturunan India kelahiran Solo, yang tidak jelas agamanya apa, tetapi isi bukunya itu mencampur aduk aneka ajaran agama. Hanya saja judul-judulnya membahas tentang Islam, bahkan Al-Qur’an. Buku-buku Anand diterbitkan oleh penerbitan Katolik, Gramedia alias Kompas Group di Jakarta. Karena isinya banyak merusak pemahaman Islam, maka dihujat orang lewat Majalah Media Dakwah dan Republika, akhirnya buku-buku Anand Kreshna ditarik dari peredaran oleh penerbitnya. (Silahkan baca selengkapnya ada di buku Hartono Ahmad Jaiz ,Tasawuf Pluralisme dan Pemurtadan, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan 2, Desember 2001 ).

Anand Kreshna mengacak-acak Al-Qur’an tapi dipuji Nasaruddin Umar

Berikut ini akan kami kemukakan contoh-contoh ungkapan Anand Kreshna yang mengandung masalah dalam bukunya yang berjudul Surah-Surah Terakhir Al-Quranul Karim bagi Orang Modern, sebuah apresiasi, dengan kata pengantar Dr Nasruddin Umar MA pembantu rektor IV IAIN Jakarta (sekarang UIN –Universitas Islam Negeri), terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Kami akan mengutip secukupnya, kemudian kami beri tanggapan singkat.

Kutipan: Menurut beberapa riwayat, Nabi Muhammad pun pernah mengatakan, Aku adalah Ahmad tanpa mim”. Berarti, Akulah Ahad, Ia Yang maha Esa! Juga, “Aku adalah Arab tanpa ‘ain”. Berarti, Akulah Rabb –Ia Yang Maha mencipta, Maha Melindungi, Maha Menguasai! (halaman 43).

Tanggapan: Ini ada berbagai persoalan. Pertama, riwayat itu harus jelas, karena perkataan Nabi SAW itu harus jelas periwayatannya. Kedua, perkataan yang diatas namakan sabda Nabi SAW itu isinya merupakan bentuk kemusyrikan dan bertentangan dengan ayat Al-Qur’an: Katakanlah: “sesungguhnya aku ini (Muhammad) hanya seorang manusia.seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” (QS Al-Kahfi/ 18: 110).

Pernyataan Anand Kreshna itu adalah kemusyrikan diatas namakan Nabi Muhammad SAW, dan untuk menerjemahkan surat Al-Ikhlash yang justru menegaskan tauhid..

Kutipan: Dalam buku ini Pak Anand Krishna ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa bukan aspek mistisnya surah-surah ini yang perlu ditonjolkan, melainkan penghayatan maknanya yang begitu dalam dan komprehensif. (kata pengantar Dr Nasruddin Umar MA, halaman xviii).

Tanggapan: Pujian itu sangat jauh dari kenyataan. Isi buku ini jauh dari makna dan maksud ayat-ayat yang ia jelaskan itu.

Dengan mengetahui latar belakang seperti ini, maka para Ulama dan Ummat Islam yang memperjuangkan agamanya agar tidak terkecoh oleh orang-orang yang sebenarnya musuh Islam namun duduk di lembaga resmi seakan mengurusi Islam. Banyak musang berbulu ayam, dan kokoknya berbunyi nyaring. Waspadalah wahai sauara-saudaraku!

(Dibaca 1.817 kali, 1 untuk hari ini)