• Di tengah para kyai NU dan warga NU Jember sedang sibuk menghadapi serangan syiah di antaranya warga NU dibacok orang Syi’ah, tahu-tahu ketua umum PBNU KH Said Aqil Siradj yang dikenal membela syiah tampaknya pura-pura tidak tahu. Justru Said melontarkan kata-kata yang pedas terhadap kelompok yang disindirnya karena membela Islam.
  • Membela Islam kok malah disalahkan, jadinya yang menyalahkan itu agar diperiksa otaknya.

Inilah beritanya.

Said Aqil Siradj kiri, Habib Selon kanan/ namakuddn

Front Pembela Indonesia (FPI) menegaskan organisasi yang dipimpin Habib Rizieq membela Islam dan negara. 
“Kasih tahu Aqil Siradj, FPI membela agama dan negara. Pembelaan agama yang dilakukan Said Aqil Siradj yang mana? padahal seoarang kyai,” kata Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI)  Jakarta, Habib Salim Assegaf atau Habib Selon kepada itoday, Sabtu (2/6). 
Habib Selon justru nilai Ketua Umum PBNU itu menghancurkan negara dengan membolehkan Lady Gaga konser di Indonesia. 
“Justru Said Aqil itu menghancurkan bangsa dengan membolehkan konser Lady Gaga dan menjamin iman warga NU tidak terpengaruh konser Lady Gaga. Nabi Muhammad saja tidak menjamin umatnya. Gagasan inilah yang merusak agama dan bangsa,” paparnya.   
Habib Selon menyarakan KH Said Aqil diperiksa otaknya ke dokter. “Saya sarankan otak Aqil Siradj diperiksa dokter,” pungkas Habib Selon. 
Sebagaimana diberitakan sebelumnya dalam acara sambutan Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Ketua Umum PBNU yang juga Ketua Umum LPOI KH Said Aqil Siradj mengatakan, “Ketika itu Soekarno, Muhammad Hatta, Jenderal Soedirman bertanya kepada KH. Hasyim di Tebu Ireng, apa hukumnya membela tanah air. Jadi bukan membela Islam, seperti FPI. Tapi membela Tanah Air.”, Jumat (1/6). itoday – Penulis: Achsin   Sabtu, 02 Juni 2012 14:56 judul Sindir FPI, Habib Selon Minta KH Said Aqil Diperiksa Otaknya

***

Said Aqil Siroj: Kita Bela Tanah Air, Bukan Bela Islam seperti FPI

JAKARTA (VoA-Islam) –Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj yang dinobatkan sebagai Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) dalam sambutannya di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (1 Juni 2012), mengatakan, hari ini tidak ada lagi prasangka (suuzon) diantara ormas Islam. LPOI dideklarasikan bukan karena untuk kepentingan politik ataupun kekuasaan, tapi persaudaraan dengan semua umat Islam. Biar beda tapi sama.

“Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari, sepulang dari Makkah bercita-cita untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah, dan ukhuwah insaniyah. Adapun ukhuwah Islamiyah adalah sebuah ikatan persaudaraan yang didasarkan oleh iman dan akidah yang sama. Dengan spirit persaudaraan, apapan mahzabnya, apapun ormas, dan tempat kelahirannya, kita adalah bersaudara.”

Said Aqil mengatakan, untuk menghindari sikap jumud, radikal, dan teroris, ukhuwah Islamiyah saja tidak cukup, harus disertai dengan ukhuwah wathoniyah, yakni persaudaraan sebangsa dan setanah air, apapun agamanya.

“Ukhuwah Wathoniyah saja juga tidak cukup, nanti bisa jadi abangan dan sekuler. Jadi harus menyatu antara ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathoniyah. Seperti kita ketahui, bahwa Indonesia terdiri dari 17 ribu pulau, 400 suku, diapit oleh dua negara besar. Cina dan Australia tidak senang jika umat Islam Indonesia kuat,” kata Said.

Di satu sisi, lanjut Said Aqil, kalau Islam di Indonesia terlalu keras, maka negara ini akan di “Irakkan”, di “Afghanistankan”, di “Libyakan”, dan di “Syiriakan”. Kalau Islamnya terlalu lemah, juga pasti akan diinjak-injak.“Kalau kebenaran dikalahkan oleh kepentingan politik golongan pasti ancur,” ujarnya.

Said menjelaskan, kita sepakat Indonesia adalah negara kebangsaan, bukan negara agama. Indonesia adalah negara Darussalam bukan Darul Islam. “Tujuh kata yang dicoret dalam Piagam Jakarta — “berkewajiban menjalankan syariat Islam – adalah sesuatu yang eksklusif dan menimbulkan gap. Sehingga KH. Wahid Hasyim setuju agar 7 kata itu dicoret dalam Piagam Jakarta. Namun beliau mengusulkan agar ada Kementerian agama untuk menjaga kualitas pemahaman agama umat Islam di Indonesia,” jelas Said.

Said Agil Siroj juga menyindir Front Pembela Islam (FPI), bahwa seharusnya yang dibela itu adalah tanah air, bukan Islam. “Ketika itu Soekarno, Muhammad Hatta, Jenderal Soedirman bertanya kepada KH. Hasyim di Tebu Ireng, apa hukumnya membela tanah air. Jadi bukan membela Islam, seperti FPI. Tapi membela Tanah Air.”

Selanjutnya dikatakan Said, jika ukhuwah Islamiyah dan wathoniyah sudah mapan, maka berlanjut pada misi ukhuwah insaniyah, yang dipersembahkan untuk dunia. Dengan demikian, dunia ini bebas perang. Setiap menyelesaikan konflik harus diselesaikan dengan dialog. “Sesungguhnya tidak ada istilah perang suci, itu sebuah kesalahan sejarah. “

Sosok ulama sekaliber Yusuf Qaradhawi saja, kata Said, tidak mampu meredam konflik di Timur tengah. Diharapkan ormas Islam yang tergabung di LPOI bisa menjadi penengah dan kekuatan sosial, civil society, penjaga keutuhan masyarakat kita.

“Jika pada 1 Juni lalu terjadi Insiden Monas, maka 1 Juni 2012 LPOI ini dibentuk dan dideklarasikan. Jika sebelumnya terjadi peristiwa berdarah-darah di Monas, dan polisi tahu siapa pelakunya, maka disini kita menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara,” ungkap Said lagi-lagi menyindir FPI.

Said Aqil mengingatkan, ormas apapun yang merongrong Pancasila, mengganggu stabilitas dan keutuhan NKRI harus dilarang. Anggap saja ormas yang melakukan itu adalah ormas kriminal. Tapi jika ada ormas yang memperkuat Pancasilan dan NKRI, maka harus didukung. Ini harus tegas, tidak bisa dibiarkan. “Saya mohon pada pemerintah agar tegas untuk membubarkan ormas kriminal.”

Ketika ditanya wartawan, LPOI untuk menghadapi FUI dan FPI? Said Aqil mengatakan, kita tidak sedang menghadapi siapa-siapa. “Tidak ada tandingan-tandingan,” tukas Said.  Desastian Sabtu, 02 Jun 2012

(nahimunkar.com)

(Dibaca 28.641 kali, 1 untuk hari ini)