Habibie, Satu-satunya Presiden RI yang Dijadikan Contoh Orangtua kepada Anaknya



“BJ Habibie satu2nya Presiden RI yg dijadikan benchmark/contoh para Ortu ketika nasehati anaknya belajar agar jadi orang pintar spt Habibie. Para Ortu tak pernah bilang agar jd orang spt Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Mega, SBY apalagi Jokowi.”

Demikian disampaikan @SirianaGde.

Memang benar sekali.

Hal senada disampaikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Anies juga menyebut banyak keluarga di Indonesia yang mengingatkan anak-anaknya untuk rajin belajar dan dapat mencontoh sosok Habibie.

Hal ini disampaikan Anies Baswedan saat melayat ke rumah duka Presiden ke-3 Republik Indonesia, BJ Habibie di Jalan Patra Kuningan XIII, Blok L XV Kav 5, Kuningan, Jakarta Selatan bersama ibunya, Aliyah Rasyid, Kamis (12/9/2019), seperti dilansir merdeka.com.

BJH satu2nya Presiden RI yg dijadikan benchmark/contoh para Ortu ketika nasehati anaknya belajar agar jadi orang pintar spt Habibie. Para Ortu tak pernah bilang agar jd orang spt Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Mega, SBY apalagi Jokowi.

— Siriana (@SirianaGde) September 12, 2019


[portal-islam.id] 12 September 2019.

 

***

Para Sahabat (Umat Islam) jadi saksi di muka bumi

Umat Islam akan jadi saksi mujarab ketika ada yang meninggal dunia. Karena ada hadits yang cukup penting untuk jadi peringatan benar-benar.

Ada hadits yang tetap (kuat riwayatnya) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

 مَرُّوا بِجَنَازَةٍ فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا فَقَالَ وَجَبَتْ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا وَجَبَتْ قَالَ هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ

“Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “wajabat” (Pasti baginya). Kemudian mereka melewati jenazah yang lain lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka Beliaupun bersabda: “wajabat” “Pasti baginya”. Maka kemudian ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu bertanya: “Apa yang dimaksud “wajabat” (pasti baginya)?. Beliau menjawab: “Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga sedang jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka karena kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi”. (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasaai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Baihaqi, dan al-Baghawi). (Al-Lajnah Ad-Daaimah juz 11 halaman 165, fatwa nomor (2612)

 

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 354 kali, 1 untuk hari ini)