Hadits Mengenai Perang Melawan Orang Bermata Sipit sebagai Tanda Kiamat


Gambar bangsa ‘Ajam (asing), bermuka merah, berhidung hidung pesek, bermata sipit, wajah-wajah mereka bagaikan tameng yang dilapisi kulit (lihat Hadits Bukhari).

 

BincangSyariah.Com – Sebagai umat Islam, kita tentu wajib meyakini bahwa suatu saat nanti akan ada hari akhir, hari kiamat. Salah satu hadis tanda kiamat itu di antaranya adalah umat Muslim memerangi suatu kelompok bermata sipit dan berhidung pesek (HR Bukhari). Sebagian Muslim yang menjadi musuh bebuyutan Ahok pasti mengasumsikan sipit dan pesek di situ ya orang Cina. Padahal Hadis itu tidak menyebutkan Cina secara spesifik.

Dalam memahami Hadis itu tidak bisa comot satu Hadis untuk menghukumi secara universal yang sipit dimaksud Hadis itu Cina. Perlu jam’ur riwayat (mengumpulkan beberapa riwayat Hadis yang semakna) dalam memahami Hadis. Kalau kita mencoba membuka literatur kitab-kitab klasik, Imam Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah sudah melakukan jam’ur riwayat mengenai hadis tanda kiamat terkait mata sipit ini.

Dalam mengumpulkan riwayat-riwayat mata sipit ini, Ibnu Katsir memberikan judul qital al-hidn (perang melawan India). Namun demikian, terkait perang melawan India ini, Ibnu Katsir tidak menyebutkan Hadis yang berkaitan dengan mata sipit. Ibnu Katsir hanya menyebutkan dua Hadis dari Abu Hurairah yang disandarkan pada Rasulullah Saw.

“Rasulullah menjanjikan kepada kami bahwa nanti kami (umat Muslim) berperang melawan India. Kalau saya menemui perang itu dan mati syahid di sana, maka saya termasuk syuhada terbaik. Tapi kalau saya lebih dulu meninggal (dari kalian), Rasulullah Saw. pun sudah (menjamin) saya bebas dari api neraka” (HR Ahmad dan An-Nasai).

Hadis-hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah terkait perang melawan India ini tidak ada yang sahih. Namun demikian, ada Hadis lain yang diriwayatkan dari sahabat Tsauban, pelayan Rasulullah Saw., yang kualitasnya minimal Hasan. Al-Albani menyebutnya sahih. Sahabat Nabi yang satu ini orangnya sangat kanaah, menolak bantuan siapa pun yang ingin membantunya. Setelah Rasulullah wafat, sahabat Tsauban ini hijrah ke Syam, Ramalah, dan kemudian pindah ke Homs hingga wafatnya. Kota Homs ini tempat di mana sekarang terjadi pertempuran besar antara Rezim Suriah Asad serta koalisinya melawan pihak-pihak yang dianggap musuh olehnya.

“Dua kelompok dari umatku yang diselamatkan dari api neraka oleh Allah itu mereka yang berperang melawan India dan yang nanti masih hidup menemui Isa bin Maryam As.” (HR an-Nasai dan Ahmad).

Menurut Ibnu Katsir, perang melawan India ini sudah pernah terjadi pada masa Kerajaan Muawiyah sekitar tahun 44 Hijriah. Setelah menyebutkan ini, Ibnu Katsir menyambungkan dengan keterangan lain bahwa Bani Umayah juga pernah berperang melawan Atrak (Turk) dengan menyebutkan hadis-hadis yang berkaitan dengan mata sipit. Pertanyaannya, apakah al-Hind (India) dan Turk itu satu bangsa yang sama pada saat itu? Selain itu, riwayat Imam Ahmad yang berkaitan dengan mata sipit ini menyebutkan juga bangsa Khuz Kirman. Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita simak hadis sahih di bawah ini yang dikutip Ibnu Katsir dari Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

“Kiamat tidak akan terjadi sampai kalian memerangi sekolompok orang yang sendalnya terbuat dari rambut, dan memerangi bangsa Turk, yang mana mereka bermata sipit, berwajah kemerah-merahan, berhidung pesek, wajah mereka berbentuk perisai yang bundar (HR Bukhari dan Muslim).

Ada yang perlu ditegaskan terkait hadis-hadis di atas. Pertama, umat Muslim yang beriman dan bertakwa tentunya pasti percaya dengan hal yang gaib. Dalam surah al-Baqarah ayat ke-3 disebutkan bahwa ciri-ciri orang beriman itu alladzina yu’minuna bil ghaib. Hari kiamat termasuk hal gaib yang harus dipercayai umat Muslim.

Kedua, kita percaya bahwa Nabi Muhammad Saw. diberikan mukjizat oleh Allah untuk mengetahui tanda-tanda kiamat, namun Nabi tidak pernah memastikan kapan kiamat akan terjadi. Kalau kiamat diketahui kapan akan terjadi, mungkin tidak ada orang jahat di akhir zaman nanti, karena semuanya takut menghadapi hari akhir. Mereka semua pasti buru-buru bertobat. Namun kenyataannya tidak demikian. Kalau hari kiamat diberitahu oleh Allah kapan terjadinya, maka permainan hidup di dunia ini tidak lagi seru, tidak ada tantangannya, karena semua sudah tahu kapan akan game over. Ibarat main game, kalau musuh sudah diketahui tidak sebanding dengan kita, buat apa melawannya?

Ketiga, Imam an-Nawawi dalam syarah Sahih Muslim menyebutkan bahwa perang melawan Turk itu sudah pernah terjadi di zaman Imam an-Nawawi hidup, sekitar 8 abad yang lalu. Nah, 8 abad lalu sampai sekarang belum juga terjadi kiamat. Itu bukan waktu yang sebentar. Namun demikian, Imam an-Nawawi tidak menyebutkan spesifik siapa yang dimaksud bangsa Turk dalam Hadis di atas. Apakah kejadian ini akan terulang kembali, sementara khitab Nabi tekait hadis ini ditujukan kepada sahabat? Apakah masih berlaku pada konteks saat ini?

Keempat, hadis terkait perang melawan al-Hind (India) yang dikaitkan dengan Ibnu Katsir dengan at-Turk, dalam pengamatan saya, itu tidak tepat. Hadis perang melawan al-Hind tidak menyebutkan orang-orang yang dimaksud dengan ciri-ciri mata sipit, hidung pesek, dan seterusnya. Sementara itu, menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, perang melawan at-Turk dan Khuz Kirman merupakan perang yang berbeda. Artinya, perang melaan Khuz Kirman sendiri, perang melawan at-Turk juga sendiri.

Kelima, Doktor Ali Muhammad al-Shalabi dalam bukunya al-Daulatul Utsmaniyah: ‘Awamilun Nuhudh wa Asbabus Suquth, menjelaskan bahwa Umat Islam di tangan khalifah Umar bin Khatab berhasil melakukan futuhat ke beberapa wilayah Asia Tengah sejak tahun 22 Hijriah. Waktu itu, umat Islam mampu mengalahkan Kekaisaran Sasania (al-Daulatus Sasaniyyah). Mereka yang hidup di masa kekaisaran tersebut dijuluki dengan Bangsa at-Turk (dalam bentuk plural disebut Atrak), belakang disebut dengan Turkistan. Bangsa Muslim Arab waktu itu menyebut wilayah tersebut dengan manthiqah ma wara an-nahar, dan bangsa Persia menyebutnya Fararud. Silakan lihat petanya di

 

bawah ini:Inilah pentingnya memahami Geografi Hadis sebagaimana disampaikan guru kami tercinta di Darus Sunnah, Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub, allahu yarhamuh. At-Turk yang dimaksud lebih luas dari hanya untuk sekedar mengkhususkan Cina saja. Negara-negara yang ada dalam peta di atas semuanya termasuk at-Turk pada masanya.

Keenam, Nabi juga pernah mewasiatkan dalam hadisnya yang lain mengenai bangsa at-Turk. Nabi bersabda, “Jangan perangi Bangsa Habasyah dan Turk selagi mereka tidak memerangi kalian” (HR Abu Daud). Menurut al-Albani, kualitas hadis ini hasan. Hadis ini memberi pesan bahwa perang itu dilakukan ketika bangsa lain lebih dulu memerangi kita. Wallahu a’lam.

https://umma.id/article/share/id/7/64507

***

————–

PEPERANGAN DENGAN BANGSA ‘AJAM[1]

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا خُوزًا وَكَرْمَانَ مِنَ اْلأَعَاجِمِ حُمْرَ الْوُجُوهِ فُطْسَ اْلأُنُوفِ، صِغَارَ اْلأَعْيُنِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ، نِعَالُهُمُ الشَّعَرُ.

“Tidak akan datang hari Kiamat hingga kalian memerangi bangsa Khuz [2] dan bangsa Karman [3] dari kalangan bangsa ‘Ajam, bermuka merah, berhidung hidung pesek, bermata sipit, wajah-wajah mereka bagaikan tameng yang dilapisi kulit, dan terompah-terompah mereka terbuat dari bulu.” [4]

_______ Footnote

[1]. ‘Ajam adalah bangsa selain Arab, bentuk tunggalnya ‘ajamiyyun seperti kata ‘arabiyyun bentuk jamaknya ‘Arab.

[2]. (خُوْزُ) dengan didhammahkan huruf awalnya, disukunkan huruf keduanya dan akhirnya adalah huruf zay. Negeri Khuzistan, disebut juga al-Khuz, negeri tersebut termasuk negeri-negeri al-Ahwaz keturunan ‘Azam, dan dikatakan pula bahwa al-Khuz adalah satu bagian dari kaum ‘Azam. Lihat kitab Mu’jamul Buldaan (II/404), dan Fat-hul Baari (VI/607).

[3]. (كَرْمَانُ) dengan huruf yang difat-hahkan, lalu disukunkan dan akhirnya adalah huruf nun, terkadang huruf kafnya dikasrahkan, dan yang fat-hahlah yang lebih masyhur. Ia adalah nama sebuah negara yang luas dengan perkampungan juga perkotaan di dalamnya, di sebelah barat dibatasi dengan Persia, di sebelah utara dengan Khurasan dan di sebelah selatan dengan lautan Persia. Yaqut berkata, “Penduduknya adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan baik, hal itu setelah pe-naklukan yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadapnya.” Lihat kitab Mu’jamul Buldaan (IV/454).

[4]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Manaaqib, bab ‘Alaamatun Nubuwwah (VI/604, al-Fat-h).

 
 

Referensi: https://almanhaj.or.id/3201-10-11-memerangi-bangsa-turk-peperangan-dengan-bangsa-ajam.html


(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 1.062 kali, 1 untuk hari ini)