Hadits Palsu: Saya Kota Ilmu dan Ali Pintunya

  • Ancaman bagi Penyebar Hadits Palsu
  • Haram Hukumnya Berdusta Atas Nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Silakan simak ini.

***

Hadits Palsu: Saya Kota Ilmu dan Ali Pintunya


Diriwayatkan dari jalan Abu Shalt Abdussalam bin Shalih Al Harawi, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari A’masy dari Mujahdi dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’ dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam,

أنا مَدِينَةُ العلمِ وعليٌّ بابُها فمَنْ أرادَ المدينةَ فَلْيَأْتِها من قِبَلِ البابِ

“Saya adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, maka barangsiapa yang menginginkan ilmu hendaklah mendatanginya dari arah pintunya

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tahdzibul Atsar, Ath Thabrani dalam Al Kabir 1/108, Al Hakim 3/126, Al Khothib dalam Tarikh Baghdad 11/48, Ibnu Asakir 2/159.

Derajat Hadits

Hadits ini palsu.

Berkata Al Hakim: “sanadnya shahih”, namun pernyataan Al Hakim ini dibantah oleh Adz Dzahabi, beliau menyatakan: “bahkan yang benar ini adalah hadits palsu“. Dalam tempat lain bahkan Adz Dzahabi sampai berkata kasar kepada Al Hakim karena beliau menshahihkan hadits palsu ini, “Demi Allah, hadits ini palsu, Ahmad (salah seorang perawi dalam sanad hadits ini) adalah pendusta, alangkah bodohnya engkau padahal ilmumu luas”.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “hadits ‘Saya adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya‘ lebih parah kelemahannya. Oleh karena itu ia termasuk jajaran hadits palsu meskipun diriwayatkan oleh At Trimidzi dan disebutkan oleh Ibnul Jauzi, namun beliau menjelaskan bahwa semua sanadnya palsu. Kedustaan ini juga bisa dilihat dari matannya sendiri, karena seandainya Rasulullah adalah kota ilmu lalu pintunya hanya satu dan tidak bisa mengambil ilmu dari beliau kecuali dari satu pintu ini, niscaya Islam akan tertutup. Padahal diketahui bahwa ilmu Rasulullah baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah sudah merambah ke seluruh dunia. Sedangkan yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib sangat sedikit sekali. Kebanyakan tabi’in mempelajari Islam pada zaman Umar dan Utsman, juga yang diajarkan Mu’adz pada penduduk Yaman lebih banyak dari apa yang diajarkan Ali. Sedangkan Ali tatkala datang ke kota Kufah saat itu sudah ada para imam tabi’in semacam Syuraih, Ubaidah, Alqamah, Masruq, dan lainnya” (Minhajus Sunnah 4/138 dengan sedikit peringkasan).

[disalin dari buku “Hadits Lemah dan Palsu yang Populer Di Indonesia” karya Ust. Ahmad Sabiq hal 71-72]

Artikel Muslim.Or.Id, Abu Yusuf Ahmad Sabiq 5 April 2014 

Sumber: https://muslim.or.id/21020-hadits-palsu-saya-kota-ilmu-dan-ali-pintunya.html

***

Ancaman bagi Penyebar Hadits Palsu

Salah satu hadits menegaskan ancaman bagi penyebar hadits palsu, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim dan lainnya. Hadits tersebut berbunyi:

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَكْذِبُوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَكْذِبُ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ.

Artinya: Dari ‘Ali, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Janganlah kamu berdusta atas (nama)ku, karena sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka silakan dia masuk ke Neraka.” [HR. Al-Bukhari, no. 106 dan Muslim, no. 1]

Dikutip Sahijab dari Almanhaj, para ahli hadits telah membukukan  atau mengumpulkan hadits-hadits lemah dan palsu. Tujuannya agar kita tahu, bahwa hadits tersebut palsu dan jangan sampai disebarluaskan kembali.

Namun tidak sedikit mulai dari orang biasa, hingga mereka yang diberi gelas ustadz menyebarkannya. Padahal ancamannya telah sangat jelasdari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu neraka.

Apalagi di era modern dan teknologi saat ini, hadits palsu selalu wara wiri di timeline. Apalagi disebutkan jika hadits tersebut berasal dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa jika kita menyebarkan hadist palsu atas nama Rasulullah, maka ia termasuk pendusta. Dan bagi pendusta tersebut tempatnya kelak adalah di neraka.

عَنْ الْمُغِيْرَةِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ كَذِباً عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

Artinya: “Dari Mughirah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: Sesungguhnya berdusta atas (nama)ku tidaklah sama seperti berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka.”  [HR. Al-Bukhari, no. 1229]

Untuk menghindarinya, kita harus belajar dari ahli hadist apakah itu palsu, lemah atau shahih.

Imam an-Nawawi pernah berkata: “Bahwa tidak halal berhujjah bagi orang yang mengerti hadits hingga ia tidak tahu, dia harus bertanya kepada orang yang ahli.”

/sahijab.com/tips/2847

 

***

 

HARAM HUKUMNYA BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di Neraka.” [HR. Bukhari & Muslim]

Dari Al Mughirah, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di Neraka.” [HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4]

Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ

“Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya barang siapa berdusta atasku, maka silakan dia masuk ke Neraka.” [HR. Al-Bukhari, no. 106 dan Muslim, no. 1]

Diriwayatkan dari Samurah bin Jundab radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Barang siapa menceritakan sebuah hadis dariku, dia mengetahui bahwa hadis itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari para pendusta.” [HR. Muslim]

● Penjelasan:

1). Haram hukumnya berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perbuatan itu termasuk dosa besar dan pelakunya berhak masuk ke dalam Neraka. Atau ia telah menyiapkan tempat di dalam Neraka. Akan tetapi ia tidak dihukumi kafir selama ia tidak menghalalkan perbuatan tersebut, wallaahu a ‘lam.

2). Barang siapa dengan sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun hanya sekali, maka gugurlah martabat agamanya dan ditolak riwayatnya. Seluruh riwayatnya tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Kecuali ia bertaubat dengan taubat nashuha. Jika ia telah bertaubat, riwayatnya diterima kembali. Berbeda dengan orang yang beranggapan bahwa taubatnya tidak menjadikan riwayatnya diterima.

Imam An-Nawawi telah menukil dari sejumlah Ulama, kemudian beliau berkata (1/70): “Pendapat yang disebutkan oleh para Ulama tersebut sangat lemah dan bertentangan dengan kaidah-kaidah syar’i. Pendapat yang terpilih adalah taubatnya dinyatakan sah dan riwayatnya boleh diterima kembali setelah ia bertaubat dengan sungguh-sungguh serta telah menyempurnakan syarat taubat yang sudah dikenal luas, yakni: “Berhenti dari perbuatan maksiat itu, menyesali perbuatannya dahulu dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.” Hal tersebut sesuai dengan kaidah-kaidah syariat. Para Ulama telah sepakat menerima riwayat orang kafir yang telah memeluk Islam. Seperti itulah keadaan mayoritas Sahabat Nabi. Mereka sepakat menerima persaksiannya. Dan dalam masalah ini tidak ada perbedaan antara persaksian dan riwayat, wallahu a’lam.”

3). Tidak ada perbedaan apakah berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dalam masalah aqidah ataukah dalam masalah hukum ataukah dalam masalah targhib dan tarhib serta nasihat.

4). Haram hukumnya meriwayatkan hadis maudhu dan palsu kecuali untuk memperingatkan orang lain dan menjelaskan kedudukannya.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarah Shahih Muslim (I/ 71-72): “Haram hukumnya meriwayatkan hadis maudhu bagi yang telah mengetahuinya atau berat persangkaannya hadis itu maudhu. Barang siapa meriwayatkan hadis sedangkan ia tahu atau berat persangkaannya bahwa hadis itu maudhu tanpa menjelaskan kedudukan hadis tersebut, maka ia termasuk dalam ancaman di atas dan tergolong orang yang berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Oleh karena itu, para Ulama menganjurkan bagi yang ingin meriwayatkan sebuah hadis atau ingin menyebutkannya hendaklah memeriksanya terlebih dahulu. Jika ternyata hadis itu shahih atau hasan, maka barulah ia mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan ini atau kata-kata sejenisnya.” Jika ternyata dha’if (lemah riwayatnya), maka janganlah katakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ini, Rasulullah melarang ini dan kata-kata sejenisnya.” Hendaklah ia mengatakan: Diriwayatkan dari beliau seperti ini, atau disebutkan dari beliau seperti ini, atau dihikayatkan dari beliau begini, atau konon katanya, atau telah disampaikan kepada kami begini atau kata-kata sejenisnya yang tidak mengesankan penyandaran perkara itu secara tegas kepada beliau, wallahu a’lam.

5). Al-Baghawi berkata dalam Syarhus Sunnah (1/255-256): “Ketahuilah, bahwa berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan kebohongan yang paling besar setelah kebohongan orang-orang kafir terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah mengatakan:

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di Neraka.” [HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4]

Oleh sebab itu, para Sahabat dan Tabi’in tidak menyukai sikap terlalu banyak menyampaikan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena takut akan menambah-nambahi atau mengurang-nguranginya atau melakukan kesalahan dalam meriwayatkannya. Sampai-sampai sejumlah Tabi’in sangat takut menisbatkan hadis secara marfu’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka meriwayatkannya secara mauquf dari Sahabat.

Mereka mengatakan: “Dosa berdusta atas nama Sahabat lebih mudah daripada dosa berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Semua itu disebabkan ketakutan mereka dalam meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan karena takut terkena ancaman beliau, sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📙 Diringkas dari Buku “Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Quran dan As-Sunnah.” Karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

 Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

https://permatasunnah.com/haram-hukumnya-berdusta-atas-nama-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam/

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 197 kali, 1 untuk hari ini)