Ilustrasi polisi. (ist)
.indozone.id

Ilustrasi. Polisi memukuli mahasiswa di depan kantor DPRD Sulawesi Selatan, Makassar, Selasa (24/09 2021). – Antara/Abriawan Abhe/ indozone.id

 

Pertanyaan :

Apakah hadits ini shohih :

روى الطبراني في الصغير و الأوسط، عن ابي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلي الله عليه وسلم، يكون في آخر الزمان الأمراء ظلمة، ووزراء فسقة، وقضاة خونة وفقهاء كذبة، فمن أدرك ذلك الزمان منكم فلا يكون لهم جابيا ولا عريفا ولا شرطيا

“Ath Thobroniy telah meriwayatkan di dalam “Ash Shogir” dan “Al Ausath”, dari Abu Huroiroh rodiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Telah bersabda Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam: Pada akhir zaman nanti akan ada pemimpin pemimpin yang zalim, menteri menteri yang fasiq, hakim hakim yang khianat, dan fuqoha (ulama) yang pendusta. Maka barang siapa diantara kalian yang menemui zaman itu, maka jangan menjadi tukang penarik (pajak) mereka, pembantu mereka, dan polisi mereka.”

Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa hadits ini sesuai dengan realita, dan apa yang akan dikerjakan bagi mereka yang bekerja di dalam pemerintahan mereka yang tidak menerapkan syari’at?

Jawaban :

Segala puji milik Allah. Sholawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, juga atas keluarga dan sahabat beliau. Wa ba’du :

Hadits yang disebutkan ini adalah hadits dho’f isnadnya.

Akan tetapi hadits (dibawah) ini adalah shohih :

لَيَأْتِيَنَّ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُقَرِّبُونَ شِرَارَ النَّاسِ ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا ، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلا يَكُونَنَّ عَرِيفًا ، وَلا شُرْطِيًا ، وَلا جَابِيًا ، وَلا خَازِنًا

، رواه ابن حبان في صيحيحه

“Sungguh akan pasti datang kapada kalian para pemimpin yang menjadikan manusia manusia terjelek sebagai orang dekatnya dan mengakhirkan sholat dari waktu waktunya, maka barang siapa diantara kalian yang mendapatkan zaman itu, maka jangan sekali kali ia menjadi pembantu mereka, juga jangan pula polisi mereka, jangan pula sebagai tukang pemungut (pajak) mereka dan jangan pula sebagai tukang bendahara mereka.” (hadits shahih riwayat imam Ibnu Hibban). 

Maknanya, bahwa pemimpin pemimpin zalim itu telah memperkerjakan para polisi dan para pembantu mereka dalam menzalimi masyarakat, juga memperkerjakan para pemungut pajak dan para bendahara dalam memakan harta harta masyarakat secara bathil, para pemungut adalah yang mengambil harta tersebut dan para bendahara yang menjaganya.

Maka para polisi, para pembantu, para pemungut dan para bendahara tersebut telah berserikat dengan para pemerintah di dalam kezaliman dan tindakan aniaya mereka.

Dan ini adalah bersifat umum bagi semua jabatan yang berserikat dengan orang orang zalim dalam kezaliman mereka.

Telah ada juga dalam pembahasan ini sebuah hadits dari Abu Huroiroh dalam riwayat Muslim, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صنفان من أهل النار لم أرهما، قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس، ونساء كاسيات عاريات، مميلات مائلات، رؤوسهن كاسنمة البخت المائلة، لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وإن ريحها لتوجد من مسيرة كذا وكذا

“Dua golongan dari penduduk neraka yang saya belum melihatnya. Suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya mereka memukul manusia. Dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan berlenggok-lenggok, kepala mereka laksana punuk onta miring yang tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya wanginya. Dan sesungguhnya aromanya bisa didapat dari jarak sekian dan sekian.”

Orang orang yang membawa cambuk dan memukul manusia, mereka adalah para polisi yang merupakan alat untuk menzalimi yang berada di tangan pemerintah lalim, sebagaimana telah dijelaskan oleh An Nawawiy dalam Shohih Muslim.

Sebagaimana apa yang kita lihat sekarang, mereka menyiksa para da’i dan mujahidin, yang memukul kaum muslimin yang melakukan demo dalam rangka membela saudara saudara mereka di negeri negeri yang mana kaum muslimin sedang dizalimi oleh orang orang kafir.

Kita memohon kepada Allah agar Dia melindungi kita dan saudara saudara kita kaum muslimin dari kezaliman dan orang orang zalim.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh : Syeikh Hamid bin Abdullah Al ‘Aliy.

Written By Terapkan Tauhid on 4 Oktober 2012 | Kamis, Oktober 04, 2012

***

Status Hadits Akan Datang Penguasa Zalim

 

 

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb. Benarkah hadits berikut ini dhaif?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أُمَرَاءُ ظَلَمَةٌ، وَوُزَرَاءُ فَسَقَةٌ، وَقُضَاةٌ خَوَنَةٌ، وَفُقَهَاءُ كَذَبَةٌ، فَمَنْ أَدْرَكَ مِنْكُمْ ذَلِكَ الزَّمَنَ فَلا يَكُونَنَّ لَهُمْ جَابِيًا وَلا عَرِيفًا وَلا شُرْطِيًّا.

“Akan datang di akhir zaman nanti para penguasa yang memerintah dengan sewenang-wenang, para pembantunya (menteri-menterinya) fasik, para hakimnya pengkhianat, dan para ahli hukum Islam pendusta. Sehingga, siapa saja di antara kalian yang mendapati zaman itu, maka sungguh kalian jangan menjadi pemungut cukai, tangan kanan penguasa dan polisi.” (HR. at-Thabarani).

Jawab:

Hadits tersebut diperselisihkan keshahihannya. Berikut keterangan imam al-Haitsami dalam kitabnya, al-Majma’ az-Zawa’id:

قال الهيثمي في “المجمع” (5/233) :
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الصَّغِيرِ وَالْأَوْسَطِ ، وَفِيهِ دَاوُدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْخُرَاسَانِيُّ قَالَ الطَّبَرَانِيُّ : لَا بَأْسَ بِهِ ، وَقَالَ الْأَزْدِيُّ: ضَعِيفٌ جِدًّا ، وَمُعَاوِيَةُ بْنُ الْهَيْثَمِ لَمْ أَعْرِفْهُ ، وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ ثِقَاتٌ “انتهى .

Rawi bernama دَاوُدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْخُرَاسَانِيُّ dinilai la ba’sa bihi (tidak mengapa) oleh imam Thabarani, namun ulama lain spt imam al-Azdiy dllmenilai dhaif jiddan. Adapun rawi lainnya tsiqah. Jadi mayoritas ulama hadits menilai dhaif isnad.

Namun hadits tersebut terdapat syawahid, yakni jalur lain dengan matan yang sedikit berbeda.

Misalnya ada hadits shahih riwayat imam Ibnu Hibban sebagai syawahid,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُقَرِّبُونَ شِرَارَ النَّاسِ ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا ، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلا يَكُونَنَّ عَرِيفًا ، وَلا شُرْطِيًا ، وَلا جَابِيًا ، وَلا خَازِنًا [رواه ابن حبان في صحيحه].

“Sungguh akan datang kepada kalian zaman yang para penguasanya menjadikan orang-orang jahat sebagai orang-orang kepercayaan mereka dan mereka menunda-nunda pelaksanaan shalat dari waktunya. Barangsiapa mendapati masa mereka, janganlah sekali-kali ia menjadi tangan kanan penguasa, polisi, penarik pajak atau bendahara bagi mereka” (HR. Ibnu Hibban).

Jadi secara matan hadits tersebut maqbul (diterima) dengan adanya syawahid (jalur lain).

 
 

Yuana Ryan Tresna

tsaqofah.id, Bayu T 20/06/2021

 

***

Kalau Penguasanya Zalim, Jangan Jadi Pegawai Ini

 
 

Pertanyaan:

Mohon jelaskan makna hadis berikut:

 
 

 لَيَأْتِيَنَّ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُقَرِّبُونَ شِرَارَ النَّاسِ ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا ، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلا يَكُونَنَّ عَرِيفًا ، وَلا شُرْطِيًا ، وَلا جَابِيًا ، وَلا خَازِنًا

 
 

“Suatu hari, penguasa kalian akan menunjukkan kesukaan pada orang-orang zalim dan gemar menunda salat dari waktunya yang sudah ditentukan. Jadi, siapa saja di antara kalian melihat hal ini, janganlah kalian menerima jabatan sebagai pengawas (intelijen), tukang polisi, atau petugas keuangan,” [HR Tabrani. Ibnu Hibban: Sahih, dalam Sahih Ibnu Hibban: 4684].

 
 

Jawaban oleh Tim Fatwa IslamWeb, diketuai oleh Syekh Abdullah Faqih Asy-Syinqiti

 
 

Segala puji hanya bagi Allah, Raab semesta alam. Saya bersaksi bahwa tiada Illah yang hak untuk diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

 
 

Hadis yang Antum sebutkan itu diriwayatkan oleh At-Tabrani, Ibnu Hibban, Abu Ya’la dan lainnya. Syekh Al-Albani menilainya sebagai hadis sahih. Hadis ini menyatakan bahwa, “Penguasa zalim dan tidak adil akan datang setelah Rasulullah.

 
 

Mereka akan menerima orang-orang jahat sebagai teman dekatnya untuk membantu mereka dalam kepalsuan dan dosa. Mereka akan menyingkirkan orang-orang baik karena orang-orang baik itu enggan mendukung kepalsuan dan agresi mereka.

 
 

Oleh karena itu, Rasulullah menasihati umat Islam yang mungkin saja hidup di masa itu, yang tinggal di bawah penguasa jahat, untuk jangan sampai mengambil jabatan sebagai:

 
 

(1) Pengawas (intel, penasihat, atau mata-mata), yang bertugas melapor kepada penguasa tentang keadaan masyarakat

 
 

(2) tukang polisi, yang bertugas membantu penguasa itu tadi dalam menjalankan undang-undang zalim dalam praktik sehari-hari,

 
 

(3) petugas zakat atau pajak, yang bertugas menarik zakat dan pajak, atau

 
 

(4) bendahara.

 
 

Wallahu’alam bish shawwab.

 
 

Fatwa: 85677

Tanggal: 25 Muharram 1424 (29 Maret 2003)

Sumber: IslamWeb.Net

Irfan Nugroho

mukminun.com, March 27, 2016

(nahimunkar.org)