JAKARTA (voa-islam.com) – Pernyataan Zaskia Adya Mecca bahwa suaminya bukan penganut Islam Liberal (JIL), perlu dipertanyakan. Zaskia mungkin ‘belum melihat’ keterlibatan suaminya Hanung yang intens dengan Denny JA. Hanung dan Denny telah membuat film-film pendek yang bermuatan liberal.

Kini film-film itu beredar di internet. Film yang dibuat kolaborasi Hanung Bramantyo dengan Denny JA itu berasal dari buku kumpulan Puisi, Denny JA, Atas Nama Cinta. Film ini bersumber dari buku Denny yang beredar luas pada April 2012 lalu. Denny, salah satu tokoh Jaringan Islam Liberal ini telah mengampanyekan liberalisme lewat puisi-puisinya dalam buku ini dalam film, seminar, lomba dan lain-lain.

Lewat bukunya yang berjudul Atas Nama Cinta, penerbit Rene Book, yang terdiri dari 216 halaman ini, Denny mencoba mengampanyekan pemikirannya.

Perlu diketahui, penerbit Rene Book ini juga yang menerbitkan buku Irshad Mandji: Allah, Liberty and Love.

Perlu diketahui, penerbit Rene Book ini juga yang menerbitkan buku Irshad Mandji: Allah, Liberty and Love. Dalam karyanya ini, Denny menuliskan puisi-puisi yang intinya mengajak kepada kebebasan, pembelaan terhadap non Islam dan penyamaan agama.

Puisi Denny ini memang diluncurkan besar-besaran. Selain dipromosikan besar-besaran di Gramedia beberapa bulan lalu, buku ini juga dilombakan resensinya di Majalah Tempo, dilombakan videonya, dibedah di beberapa tempat dan lain-lain.

Banyak tokoh memuji buku Denny ini diantaranya Komaruddin Hidayat, Ignas Kleden, Bondan Winarno, M Sobary dan lain-lain. Beberapa tokoh menyebutnya genre baru puisi –tapi sebenarnya model puisi ini telah dimulai oleh Taufiq Ismail.

Gaya puisinya memang cukup bagus, tapi isinya melenakan dan ‘membodohkan’. Karena ia menggabungkan antara fakta dan fiksi. Detail kejadian atau tokoh itu fiksi, tapi peristiwanya menurutnya fakta. Bagi mereka yang awam –‘khususnya masalah Islam dan sosial politik’- bisa hanyut oleh puisi Denny ini.

Dalam puisinya tentang Cinta Terlarang Batman dan Robin, misalnya, Denny pintar memainkan kata-kata untuk membela kaum Gay.

Dalam puisinya tentang Cinta Terlarang Batman dan Robin, misalnya, Denny pintar memainkan kata-kata untuk membela kaum Gay. Di puisi itu ia mengambarkan kisah cinta antara Amir dan Bambang. Amir seorang yang sebenarnya rajin ibadah digambarkan punya kelainan seksual genetis menyenangi pria. Meski mencoba menikahi dua wanita –sesuai pesan ibunya agar segera menikah—tapi akhirnya kandas.

Ia tetap mencintai Bambang seorang gay yang akhirnya menjadi aktivis gay internasional. Hanung Bramantyo kemudian menfilmkan naskah puisi Denny ini. Dengan telah menfilmkan tema ini terlihat sebenarnya mereka telah menggambarkan kejelekan Muslim dan membela opini bahwa gay adalah masalah genetika. Padahal para ahli banyak menyatakan bahwa gay atau homoseksual banyak diakibatkan oleh lingkungan. Dan bisa disembuhkan dengan pendidikan yang baik. Begitu juga ketika Denny JA bercerita tentang kisah cinta Romi dan Yuli.

Puisi ini juga sudah dibuat filmnya oleh Hanung. Di puisi ini Hanung berkisah tentang Romi dan Yuli. Ayahnya Romi berasal dari Cikeusik yang merupakan komunitas Ahmadiyah. Sedangkan ayah Yuli dari kalangan Muslim yang anti-Ahmadiyah. Tapi Romi dan Yuli memutuskan untuk tetap meneruskan kisah cinta mereka. Bedah buku dan pemutaran video puisi esai Denny JA ini menjadi puncak acara lomba sastra antar SLTP dan SLTA se- Provinsi Banten pada awal Juni lalu.

(lihat : Pelajar Banten Bedah Buku Denny JA Tanamkan Toleransi Beragama Lewat Sastra)

Selain film Cinta Batman dan Robin dan Romi dan Yuli dari Cikeusik, Hanung juga telah menfilmkan naskah Denny lain, yaitu:Bunga Kering Perpisahan, Sapu Tangan Fang Yin dan Minah Tetap Dipancung.

Bunga Kering Perpisahan berkisah tentang perkawinan antar agama. Sapu Tangan Fang Yin bercerita tentang perempuan etnis Tiongha yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya Indonesia ke Amerika, demi menghilangkan trauma sebagai korban pemerkosaan saat kerusuhan Mei 1998. Sedangkan Minah Tetap Dipancung berkisah tentang nasib seorang TKW di Arab Saudi yang merelakan nyawanya terpancung demi membela kehormatan dirinya yang nyaris direnggut majikannya. Film-film kolaborasi Hanung-Denny ini telah diputar di Asian Film Festival (JAFF) VIII di Yogyakarta (2013). Sedangkan dalam film yang berjudul Batas yang merupakan pemenang pertama (berhadiah 20 juta) lomba Review untuk buku puisi Denny, jelas-jelas film itu pluralisme atau mempropagandakan perkawinan antar agama.

Di film yang berdurasi total 7 menit 1 detik itu, pembuat film Ahmad Syafari mengisahkan percintaan antara Dewi yang Muslimah dan Albert yang Kristen. Mereka cukup lama berpacaran, tapi karena bapaknya Dewi melarang menikah dengan lain agama (Albert) maka akhirnya Dewi menikah dengan laki-laki Muslim.

Cuma digambarkan di situ meski keluarganya cukup kaya, Dewi tidak bahagia, ia sering melamun ke Albert dan mengingat masa lalunya dengannya. Apalagi di rumahnya Dewi harus mencopot sepatu suaminya (tiap) sehabis pulang kantor. Sementara Albert hidup sederhana dan tetap di gereja yang sederhana (lihat www.puisi-esai.com). Film pendek itu memang secara halus menghina Islam. Ketika bapak Dewi dengan pakaian putih dan kopiah putih mengatakan ‘dengan arogan’: “Aku sangat malu menjadi orang tua yang kena murka Allah, aku tak akan tahan menjadi insan yang dilaknat hanya membiarkan anaknya menempuh jalan yang sesat.”

Selain itu penggambaran wanita Muslimah yang mencopot sepatu suaminya ketika pulang kantor, juga berlebihan. Karena peristiwa ini jarang terjadi di keluarga-keluarga Muslim. Apa tujuan Denny untuk semua? Denny memang salah satu tokoh intelektual yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal. Ia salah satu tokoh yang aktif menyebarkan faham-faham demokrasi sekuler dan kini sedang bergiat aktif menyebarkan faham liberalisme dan pluralismenya lewat esai-puisinya. Di dunia akademik, Denny JA mendirikan Lembaga Survei Indonesia (LSI, 2003) Lingkaran Survei Indonesia (LSI, 2005), Asosiasi Riset Opini Publik (AROPI, 2007), serta Asosiasi Konsultan Politik Indonesia (AKOPI, 2009).

Melalui empat organisasi ini, Denny JA dianggap founding father tradisi baru survei opini publik dan konsultan politik Indonesia. Di dunia politik (2004-2012), Denny JA diberi label king maker. Ini berkat perannya membantu kemenangan presiden dua kali (2004, 2009), 23 gubernur dari 33 propinsi seluruh Indonesia dan 51 bupati/walikota. Ia adalah murid kesayangan ahli politik kenamaan AS saat ini, Prof William Liddle.

Liddle pernah dijuluki oleh Prof Amien Rais sebagai Yahudi tengik karena pembelaannya yang terus menerus kepada tulisan-tulisan pluralisme yang ditelurkan Prof Nurcholish Madjid dkk. Tahun 90-an (sampai sekarang) Liddle aktif menulis di media-media Indonesia dalam membela ide-ide sekulerisme, pluralisme dan liberalisme. Sebenarnya dalam buku kumpulan puisinya ini Denny hanya mendasarkan dirinya pada imajinasi dan hawa nafsunya semata.

Definisi ‘Cinta’ yang diuraikan Denny sangat kabur dan membingungkan. Bila semuanya dikatakan cinta –cinta kepada pelacuran, cinta kepada sesama jenis, cinta pada seks bebas dll- maka rusaklah dunia.

Definisi ‘Cinta’ yang diuraikan Denny sangat kabur dan membingungkan. Bila semuanya dikatakan cinta –cinta kepada pelacuran, cinta kepada sesama jenis, cinta pada seks bebas dll- maka rusaklah dunia. Cinta yang sejati adalah cinta yang tumbuh dari kecintaan kepada Pencipta (Allah SWT) dan yang tidak bertentangan dengan fitrah manusia.

Kalau semua dikatakan cinta, maka seorang pembunuh juga cinta membunuh, seorang pelacur cinta melacur dan seterusnya. Lebih baik kita katakan ‘Dengan nama Allah’ atau ‘Atas nama Allah’ daripada ‘Atas nama cinta’. Bismillahirrahmanirrahim, dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bukan mengatakan atas nama cinta, yang tidak jelas juntrungannya.

Walhasil, Zaskia perlu menyadarkan Hanung suaminya yang telah bertindak jauh berkolaborasi dengan Denny JA mempromosikan luas ide-ide liberal di Indonesia lewat film. Zaskia perlu mengajak Hanung ke intelektual-intelektual Muslim yang selama ini berjuang melawan liberalisasi di Indonesia. Wallahu alimun hakim.

Penulis: Nuim Hidayat

Allah menyebutkan di antara sifat orang munafikin, yaitu suka membuat kerusakan di muka bumi. Tapi saat ditegur dan diingatkan, mereka membantah. Bahwa mereka sebenarnya ingin membuat perbaikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah: 11-12)

Membuat kerusakan di muka memiliki dua makna: Pertama, secara materi seperti menghancurkan rumah, membakar hutan, pembalakan liar, dan semisalnya. Kedua, membuat kerusakan secara ma’nawi, yaitu dengan berbuat maksiat atau menciptakan kemaksiatan. Yang kedua ini merupakan sebesar-besar membuat kerusakan di muka bumi. (Lihat Al-Qaul al-Mufid, Syaikh Ibnu al-Utsaimin: 2/101)

Makna yang kedua dikuatkan dengan beberapa ayat:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Ruum: 41)

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Al-Syuura: 30)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Makna yang kedua telah disebutkan oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana yang disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir, “Al-Fasad (kerusakan) adalah kekufuran dan berbuat maksiat.” Maka makna larangan berbuat kerusakan di muka bumi adalah jangan kufur kepada Allah dan berbuat maksiat.

Abu al-‘Aliyah berkata dalam menafsirkan firman Allah ta’ala: “Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi“, yakni: janganlah kalian bermaksiat di muka bumi. Kerusakan yang mereka buat tersebut adalah bermaksiat kepada Allah; karena siapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi atau memerintahkan berbuat maksiat, maka sungguh ia telah membuat kerusakan di muka bumi; karena baiknya bumi dan langit itu dengan ketaatan.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Namun mereka (orang-orang munafikin) yang melakukan kemaksiatan dan memerintahkan berbuat maksiat -secara langsung atau tidak- mengaku membuat perbaikan di tengah-tengah masyarakat. Padahal hakikatnya berbalik, apa yang mereka lakukan benar-benar perbuatan merusak. Tetapi karena kejahilannya mereka tidak tahu bahwa dirinya sedang berbuat kerusakan di muka bumi.

Lebih mendasar dari itu, solusi merusak yang dihasilkan berasal dari sikap terhadap Syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ajaran Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kaum munafikin sangat anti dan membenci terhadap syariat Islam, sehingga tidak mau merujuk kepadanya saat menyelesaikan persolan. Maka tepat sekali Syaikh Abdurrahman bin Hasan Aalu Syaikh dalam Fathul Majid saat menyebutkan korelasi antara penyebutan ayat ini pada bab yang membicarakan tentang sifat orang munafikin yang tidak mau berhukum kepada hukum Islam, “Sesungguhnya berhakim (mencari hukum) kepada selain Allah dan Rasul-Nya adalah perbuatan orang-orang munafik dan itu termasuk kerusakan di muka bumi.”

Ayat tersebut, lanjut penulis Fathul Majid, memberi peringatan jangan sampai terpedaya dengan perkataan para ahlul Ahwa (budak hawa nafsu) meskipun mereka menghiasinya dengan pengakuan-pengakuan.

Sementara Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Qaulul Mufidnya menyimpulkan, “Kesesuaian ayat dengan bab sangat jelas, bahwa berhukum kepada selain apa yang telah Allah turunkan  termasuk sebab terbesar terjadinya kerusakan di muka bumi.”

Hal ini dikuatkan dengan penyebutan dalil pertama dalam kitab Fathul Majid,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا  وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا  فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”.” (QS. Al-Nisa’: 60-62)

(br/nahimunkar.com)

(Dibaca 2.137 kali, 1 untuk hari ini)