Ada penonton yang menilai, film “Hijab” garapan Hanung ini film satir yang mengkritisi para pengguna jilbab yang digambarkan sebagai keterpaksaan dan kemunafikan.

“Sungguh bukan film yang patut ditonton, kecuali Anda ingin membuat orang-orang pembenci Islam semakin kaya raya,” tulis seorang penonton yang disiarkan di satu media Islam.

Film Hijab garapan sutradara Hanung Bramantyo yang kerap kali dinilai menistakan Islam itu kini sepi peminat.

Menjelang penayangan film Hijab, Zaskia (isteri Hanung) melihat sang suami tidak bisa tidur. Maklum sebagian modal dia keluarkan sendiri.

“Dia (Hanung) tiga hari enggak tidur, tiap jam empat pagi tegang. Bagaimana enggak, film pertama (dimodali sendiri). Kita tegang, kita invest, naruh uang. Biasanya hanya bikin film. Kali ini pengaruh banget ke kehidupan kita,” kata Zaskia.

Di media-medi Islam online semakin santer kecaman terhadap Hanung Bramantyo yang sudah sering melecehkan Islam lewat film-filmnya itu. Sehingga pengakuan isterinya yang menjelaskan “galau” tingkat tinggi si Hanung Bramantyo ini menambah data bahwa dia sedang kena batunya.

Inilah beritanya.

***

Lecehkan Islam, Film ‘Hijab’ Garapan Hanung Tak Laku Tak Laku

January 22, 2015

AntiLiberalNews – Film Hijab garapan sutradara Hanung Bramantyo yang kerap kali menistakan Islam kini sepi peminat. Yang lebih menyedihkan, film terbaru garapannya ini dimodali oleh kantong Hanung sendiri. Dia mengakui, jumlah penonton yang diraih Hijab tak seperti harapannya.

“Tentu saja kalau kecewa ya pasti kecewalah, tapi mau bagaimana. Mau kecewa sama siapa, dan saya terus terang sedih demikian susahnya menarik penonton dengan tema yang belum mereka ketahui. Apalagi mereka juga underestimate dan terkunci dengan judul filmnya,” kata Hanung saat ditemui di Citywalk, Jakarta, Senin (19/01) seperti dilansir Okezone.

Seluruh ide dan cerita film Hijab berada di tangan Zaskia Adya Mecca yang juga istri sang sutradara, Hanung Bramantyo. Menjelang penayangan film Hijab, Zaskia melihat sang suami tidak bisa tidur. Maklum sebagian modal dia keluarkan sendiri.

“Dia (Hanung) tiga hari enggak tidur, tiap jam empat pagi tegang. Bagaimana enggak, film pertama (dimodali sendiri). Kita tegang, kita invest, naruh uang. Biasanya hanya bikin film. Kali ini pengaruh banget ke kehidupan kita,” kata Zaskia.

Executif Producer film Hijab, Alim Sugiantoro awalnya sesumbar film ini akan banyak diminati penonton. Dirinya pun memasang target tinggi yaitu satu juta penonton. Namun, sejak ditayangkan dari 15 Januari lalu, film ini baru ditonton 13 ribu penonton.

“Sampai sekarang ada signifikan kenaikan walaupun sedikit-sedikit dari 4 ribu penonton sampai hari Senin sudah mencapai 13 ribu penonton,” ungkap Hanung Bramantyo.

Apakah sepinya penonton karena temanya atau memang isinya yang dinilai kontroversial? Menurut review dari salah seorang yang “terpaksa” menonton, film ‘Hijab’ isinya bukan hal-hal positif dan ajakan untuk berhijab malah justru film ini beriisi nyinyiran tentang hijab.

Dilansir  fimadani, sebuah broadcast berisi review dan testimoni seorang penonton mengatasnakan salah satu penulis buku Islami Indonesia.“Semalem lucu sekali. Ada orang kasih saya dan suami tiket film judulnya Hijab, gratis. Katanya dia salah beli tiket. Oke, tadinya mau nonton film Barat ga jadi. Mungkin ini film yang cukup menyentuh, judulnya Hijab. But I was wrong. Suami saya keluar setelah nonton 30 menit. Saya bertahan, menghargai yang kasih tiket,” tulisnya.

Ia kemudian memberikan review atas film satir yang mengkritisi para pengguna jilbab yang digambarkan sebagai keterpaksaan dan kemunafikan.

“Bagaimana mungkin yah, judulnya Hijab tetapi menyatiri, mengkomikalisasi orang berkerudung jika tak boleh mengatakan menyinyiri orang-orang yang memakai hijab sebagai transformasi keterpaksaan, pemaksaan kehendak suami, atau sekedar fashion trend, dan mengelak dari realita bahwa sebagian besar orang berjilbab karena keteguhan hati akan perintah agama, bukan yang lain,” tulisnya.

“Belum lagi, rakitan-rakitan adegan yang menunjukkan kemunafikan orang mengaku Islam begitu ditonjolkan disini, tanpa memberi ruang pada 99 persen Muslim kebalikannya. Film ini, (yang akhirnya saya baru tahu, ya elah sutradaranya orang JIL) pada akhirnya hanya ingin meneguhkan kembali ‘I am a Muslim, but I hate Islam, I just want to capitalize Islam for making money‘,” tambahnya.

“Sungguh bukan film yang patut ditonton, kecuali Anda ingin membuat orang-orang pembenci Islam semakin kaya raya. I tested my dignity, if I am really a muslim, and I had reacted nothing (not even a smile), but offended. If only I could get my 1,5 hour back in life and exchange with my initial plan to see Women in Black:D. For mbak-mbak yang kasi tiket: Yes you did buy wrong tickets!” pungkasnya./ AntiLiberalNews

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.091 kali, 1 untuk hari ini)