Setiap Jum’at Ummat Islam diingatkan agar tidak mementingkan jurusan dunia belaka, sehingga Imam Shalat Jum’at disunnahkan membaca Surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah. Agar dalam menjalani hidup ini bukan hanya untuk mengejar makanan, memenuhi syahwat, dan meningkatkan gengsi. Kehidupan akherat itu lebih baik dan kekal. Allah swt telah memperingatkan dengan tegas:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا(16)

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى(17)

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS Al-A’la: 4).

Peringatan dari Allah swt ini disunnahkan untuk dibaca oleh imam shalat Jum’at, maka setiap Jum’at senantiasa kita dengar imam membaca surat Al-a’la ini. Karena memang ada haditsnya:

عَنْ نُعْمَان بنِ بَشِيرٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَرَأَ فِى الْعِيدَيْنِ ب (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ ) وَإِنْ وَافَقَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَرَأَهُمَا جَمِيعاً

Dari Nu’man bin Basyir bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat dua ‘Ied (hari raya) membaca (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِsabbihisma rabbikal a’la dan hal ataaka hadiitsul ghoosyiyah. Dan jika bertepatan dengan hari Jum’at maka beliau membaca kedua-duanya semua. (Hadits Riwayat Ahmad).

Dalam praktek sekarang, biasanya imam shalat Jum’at juga membaca dua surat itu (Al-A’la dan Al-Ghasyiyah). Ayat-ayat itu menegaskan tentang pedihnya adzab di akherat akibat kufur dan mementingkan kehidupan dunia, sebaliknya betapa ni’matnya surga di akherat bagi yang beriman dengan beramal shalih, sholat, zakat, mensucikan jiwanya, mengingat Allah dan sebagainya.

Namun karena dari awal tujuan kebanyakan manusia sejak disekolahkannya anak-anak kita itu untuk nantinya biar mampu cari makan dan punya gengsi, maka pandangan hidup rata-rata masyarakat ini hanya tertuju pada materi, kesenangan sesaat di dunia ini. Hingga apa-apa hanya diukur dengan materi. Ukuran yang dipakai di masyarakat bukan ukuran dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tetapi ukuran materi. Semuanya diukur dengan banyak atau sedikitnya harta. Hingga yang disebut sukses oleh masyarakat jauh berbeda dengan sukses menurut Al-Qur’an.

Khabar-khabar gembira ramadhan dan praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah menjuruskan ke akherat. Agar pandangan ummat ini terfokus bahwa kesuksesan yang sejati itu adalah kesuksesan akherat. Bukan dunia. Sayangnya, walau sudah banyak diperingatkan dengan ayat-ayat dan contoh dari Nabi saw, namun pandangan manusia tampaknya dalam mengejar kesuksesan itu ukuran suksesnya adalah sukses dunia, yang pandangan itu sejatinya tak lebih dari hanya mengikuti Qarun (Lihat QS Al-Qashash: 79) atau bahkan Fir’aun.

Semoga Allah melindungi kita semua dari hal yang demikian. Aamiin. (Hartono Ahmad Jaiz)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.850 kali, 1 untuk hari ini)