Hartono Ahmad Jaiz

.

Surakarta– Syiah itu aliran sesat dan menyesatkan. Syiah saat ini menggerogoti Islam kalo dibiarkan akan merusak. Hal ini disampaikan Hartono Ahmad Jaiz, mantan Pengurus LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) saat kajian umum “Peta Aliran Sesat Indonesia” di Islamic Center Pabelan, (Kantor Dewan Dakwah) Surakarta, Ahad (26/1).

Hartono mengatakan, Syiah itu senantiasa menggerogoti Islam, kalo syiah ini dibiarkan maka akan merusak Islam. Namun, anehnya ketika ada orang yang menjelaskan kesesatan Syiah (justru) mereka dikatakan pemecah belah Ukhuwah Islammiyah.

Menurut ia, sebenarnya yang memecah belahUkhuwah Islammiyah itu sebenarnya adalah syiah sendiri. Syiah itu merusak sendi-sendi aqidah Islam. “Syiah itu mengatakan al Qur’an ini palsu, mereka mengkafirkan para sahabat, dan mencaci maki istri-istri Rasulullah Saw” tegasnya.

Mantan Pengurus LPPI ini mengibaratkan orang yang menjelaskan kesesatan syiah itu bagaikan seorang dokter. Seorang dokter itu tahu ada penyakit yang kronis pada seseorang maka ia segera melakukan amputasi agar penyakitnya tidak menyebar. Namun oleh orang yang tidak faham, dokter itu dikatakan sebagai orang yang memotong-motong tubuh. Padahal sebenarnya dokter itu tujuannya ingin menyelamatkan orang yang sakit itu.

Hartono mengungkapkan perlakuan seperti ini juga dituduhkan kepada mereka yang kencang dalam menjelaskan kesesatan syiah. Karena kalo syiah dibiarkan berkembang maka akan bisa merusak Islam ini. Maka umat ini perlu segera untuk disadarkan akan kesesatan syiah ini.

Maka tidak benar jika orang yang menjelaskan kesesatan syiah dikatakan sebagai pemecah belah Ukhuwah Islammiyah. Bahkan sebenarnya yang memecah belah itu adalah syiah sendiri.

Peneliti aliran sesat kelahiran Boyolali ini menambahkan, ternyata isu Ukhuwah Islammiyah itu merupakan diantara strategi dari syiah. Tujuan mereka  agar umat ini bersatu tanpa memandang sunni dan syiah, yang penting Islam. Padahal syiah itu menggerogoti Islam.

Hartono mengingatkan, kejadian penistaan agama di sampagn oleh Tajul Muluk. Tajul Muluk ini syiah. Ia mengatakan al Qur’an tidak murni, tetapi sudah ada pengurangan dan penambahan dan ia menuduh al Qur’an ini palsu.

“Tajul Muluk akhirnya dipenjara karena ia telah melakukan penodaan terhadap agama Islam berdasarkan pasal 156a” jelasnya.

Menurut Hartono, syiah itu licik seperti Yahudi. Syiah saat ini berusaha untuk menghilangkan pasal 156a. “Syiah itu seperti rai gedek, muka tembok dalam arti tidak punya rasa malu, sudah salah tidak punya malu,” pungkasnya. (Anwar/annajah) (An-najah.net)  Publikasi: Senin, 25 Rabiul Awwal 1435 H / 27 Januari 2014 13:14

***

Hukum Bermakmum di Belakang Imam Syiah Rafidhah

Publikasi: Senin, 25 Rabiul Awwal 1435 H / 27 Januari 2014 13:32

Surakarta (An-najah.net) – Banyak Ulama’ mengatakan Umat Islam tidak boleh berdiri bermakmum di belakang Imam Syiah Rafidhah. Hal ini disampaikan Anung Al Hamad, Lc. M.pd.I, Pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) saat mengisi kajian Umum “Peta Aliran Sesat Indonesia” di Islamic Center Pabelan, Surakarta, Ahad (26/1).

 Alumni Al Azhar Mesir ini menjelaskan bagaimana hukum bermakmun dibelakang imam Syiah Rafidhah saat ditanya peserta kajian di Islamic Center Pabelan.

Anung mengatakan banyak ulama’ menyatakan umat Islam tidak boleh sholat dibelakang Syiah Rafidhah. Penjelasan beliau ini dengan memaparkan penjelasan ulama yang melarang umat islam bermakmum di belakang imam syiah rafidhah.

Pengurus MIUMI ini mengutip perkataan Imam As Syafi’I yang menyatakan jangan kamu sholat di belakang seorang Syiah Rafidhah.

Ia juga mengutip perkataan Imam Malik yang menyatakan mereka (Syiah) tidak punya bagian atau saham dalam islam.

Ia menambahkan perkataan Imam Ahmad yang menyatakan dimana beliau ditanya seputar kalangan yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah. Maka beliau menyatakan aku melihatnya sudah di luar Islam.

Sedangkan menurut imam Bukhari menyatakan sikap yang tegas berkaitan dengan syiah rafidhah. Dimana beliau menghimbau agar jangan shalat di belakangnya, tidak mengucapkan salam kepadanya, tidak menjenguknya jika sakit, tidak dinikahkan, tidak disaksikan jenazahnya dan tidak makan sembelihannya. (Ihsan/annajah)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 540 kali, 1 untuk hari ini)