.

 

Enam butir pernyataan MUI soal kasus “pengobatan” yang dilakukan Guntur Bumi diumumkan MUI di Jakarta, Rabu 12/3. Seakan pernyataan MUI itu hanya berbentuk nasihat berdasarkan fakta yang telah dikaji selama 2 bulan akibat sejumah pasien mengadukan ke MUI karena merasa tertipu dan cara pengobatannya belum tentu Islami.

Hasil MUI itu dapat dinilai sebagai nasihat plus perjanjian karena sebagian isinya memag nasihat, kemudian teksnya disepakati lalu ditandatangani oleh Guntur Bumi dan para saksi.

Inti hasilnya ada di poin pertama dan terakhir. Yaitu:

  • Bacaan dan doa dalam praktek rukiyah dan doa serta penggunaan herbal harus tetap terjaga bersih dari kemusyrikan.
  • Jika di kemudian hari terdapat hal-hal yang tidak sesuai, baik dalam arti fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang perdukunan dan peramalan dan sepuluh aliran sesat yang ditentukan oleh Majelis Ulama Indonesia, siap menerima fatwa sesat dan bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Inilah beritanya, dan di bagian bawah, ada tulisan yang mengngatkan kasus itu.

***

6 Pernyataan MUI Terkait Pengobatan Ustadz Guntur Bumi


Rabu, 12 Maret 2014 13:31:10 | Ari Kurniawan

SETELAH melakukan pengkajian selama dua bulan terhadap praktek pengobatan Ustadz Guntur Bumi (UGB), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menemukan sejumlah fakta.

Hasil temuan yang terinci dalam 6 pernyataan sikap MUI dijabarkan dalam jumpa pers yang digelar di kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (12/3).

6 pernyataan sikap tersebut antara lain:

1. Bacaan dan doa dalam praktek rukiyah dan doa serta penggunaan herbal harus tetap terjaga bersih dari kemusyrikan.

2. Saudara Susilo Wibowo alias Guntur Bumi mengakui terdapat penyimpangan dalam terminologi zakat, infaq, dan sodakoh sebagai syarat pengobatan. Untuk itu MUI meminta agar lebih jelas dalam penerimaan maupun pendistribusian zakat dan sebagainya.

3. Praktek pengobatan harus dalam ruang terbuka dan hindari pengobatan dengan lain jenis. Laki-laki ditangani oleh laki-laki, dan perempuan oleh perempuan.

4. Jika ada pasien yang merasa dirugikan, Ustadz Guntur Bumi harus selesaikan secara arif, bijaksana, dengan musyawarah sesuai ketentuan Islam.

5. Bersedia dibina dan dibimbing oleh Majelis Ulama Indonesia secara intens selama enam bulan dan melaporkan pengobatan rukiyah dan sebagainya yang berlangsung di kemudian hari.

6. Jika di kemudian hari terdapat hal-hal yang tidak sesuai, baik dalam arti fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang perdukunan dan peramalan dan sepuluh aliran sesat yang ditentukan oleh Majelis Ulama Indonesia, siap menerima fatwa sesat dan bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Pernyataan sikap tersebut kemudian disepakati dan ditandatangani oleh UGB serta sejumlah saksi.

(ari/gur) tabloidbintang.com

***

Sebelumnya, ada kekhawatiran akan terjadinya sesuatu berkaitan dengan kasus ini, seperti tulisan yang telah beredar berikut ini.

***

MUI Akan Terpeleset Kasus Guntur Bumi?

Apabila keputusan MUI mengenai kasus Guntur Bumi tidak tepat, maka jadi boomerang. Justru sasaran sorotan tajam akan menohok ke MUI. Karena yang dikeluhkan para pasien yang merasa ditipu (diperas?) Guntur Bumi dan diobati secara perdukunan (menurut pengaduan pasien) adalah praktek yang tidak wajar. Dan pengaduan itu telah tersebar luas ke seantero negeri.

Sebagai gambaran besarnya minat untuk mengakses berita pengaduan kasus Guntur Bumi, fan page nahimunkar.com (di facebook, belum termasuk yang website nahimunkar.com) satu judul Guntur Bumi (UGB) Penipu, Bukan Ustadz (Penegasan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta) diakses 106 ribu orang lebih kemarin. Mungkin sekarang sudah bertambah. Itu menunjukkan betapa kasus ini menyedot perhatian umat Islam, hingga umat pun dengan demikian telah ada gambaran duduk soalnya.

  Bahkan mungkin tanpa vonis MUI pun sudah difahami bahwa praktek pengobatan Guntur Bumi itu (ditilik dari aduan para pasien) berbau perdukunan dan penipuan.

Oleh karena itu MUI akan jadi sorotan tajam masyarakat apabila sampai terpeleset apalagi terkesan « membela » Guntur Bumi misalnya.

Hasil rapat MUI untuk « memvonis » praktek « dukun tipu » Guntur Bumi belum diumumkan Selasa (11/3) karena masih ada hal-hal yang perlu diselesaikan. Mungkin lebih baik agak ditunda namun hasilnya tepat dan akurat daripada segera diputuskan namun akan jadi senjata makan tuan bagi MUI.

Melihat dari berbagai pengaduan, tampaknya para pasien merasa ditipu dan diobati secara tidak wajar. Hingga Imam Besar Masjid Istiqlal menyebut Guntur Bumi penipu buka ustadz (lihat artikel Guntur Bumi (UGB) Penipu, Bukan Ustadz (Penegasan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta) – See more at: https://www.nahimunkar.org/guntur-bumi-ugb-penipu-bukan-ustadz-penegasan-imam-besar-masjid-istiqlal-jakarta/#sthash.gt3dQW8g.dpuf,  dan oleh pasien disebut dukun bukan ustadz https://www.nahimunkar.org/guntur-bumi-dukun-berlabel-ustadz-kata-mantan-pasien/. Telah tergambar, para korban yang diberitakan saja keluhannya cukup mengejutkan.

– See more at: https://www.nahimunkar.org/mui-akan-terpeleset-kasus-guntur-bumi/#sthash.sHzEh9qt.dpuf

(nahimunkar.com)

(Dibaca 940 kali, 1 untuk hari ini)