Suasana menjelang shalat Subuh (ilustrasi).


Masyarakat Indonesia pada umumnya memulai Azan Shubuh saat posisi Matahari masih di  20 derajat di bawah ufuk. Dengan demikian,  waktu Shubuh di Indonesia lebih cepat dan selisihnya sampai dip 7,1 derajat.

Berdasarkan kecepatan rotasi bumi, waktu yang dibutuhkan dari dip ke dip sekitar 4 menit. Kalau waktu Subuh lebih awal sampai dip 7,1 derajat, maka waktu Shubuh lebih awal 28 menit.  “Waktu Shubuh berarti 7,1 derajat lebih awal, jadi lebih awal 28 menit,” ujar Ketua ISRN (Islamic Science Research Network) dari UHAMKA, Prof Tono Saksono ketika menyampaikan fakta saintifik hasil penelitiannya ini di Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta – Jakarta Islamic Centre (PPPIJ-JIC) pada Senin (21/8 2017).

Puluhan orang dari kalangan akademisi, ahli falakiah, peneliti, pengurus masjid dan majelis taklim menyimak paparan dari ISRN. Hadir pula peneliti masalah waktu subuh ini pakar dari Malang Jawa Timur, Ustadz Dr Agus Hasan Basori, yang telah mensosialisasikan masalah kedinian (terlalu dininya) waktu subuh di Indonesia ini beberapa tahun belakangan dengan mendatangi berbagai pertemuan penting dan lembaga-lembaga penting di Indonesia, serta menulis dan menerbitkan buku masalah itu.

Berikut ini berita hasil penelitian ISRN.

***

ISRN: Waktu Shalat Subuh dan Isya Perlu Dievaluasi

JAKARTA — Islamic Science Research Network (ISRN) dari UHAMKA menilai awal waktu Subuh dan Isya perlu dievaluasi. ISRN yang telah melakukan penelitian selama berbulan-bulan menemukan waktu Subuh yang biasa dipraktikan masyarakat Indonesia lebih awal dari waktu seharusnya. Begitu pula waktu Isya, diketahui lebih telat dari waktu seharusnya.

ISRN menyampaikan fakta saintifik hasil penelitiannya ini di Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta – Jakarta Islamic Centre (PPPIJ-JIC) pada Senin (21/8). Puluhan orang dari kalangan akademisi, ahli falakiah, peneliti, pengurus masjid dan majelis taklim menyimak paparan dari ISRN.

Ketua ISRN dari UHAMKA, Prof Tono Saksono mengatakan, alat yang digunakan dalam penelitiannya adalah Sky Quality Meter (SQM). Alat ini digunakan untuk mengukur magnitudo. Alat untuk mengukur besaran yang menunjukan tingkat keterangan sebuah benda atau objek. ISRN juga menggunakan All Sky Camera, sebuah kamera cembung yang dapat memotret 360 derajat.

Dua alat tersebut digunakan untuk mengumpulkan data guna mengetahui kedatangan waktu fajar dan waktu Subuh. Data yang dikumpulkan alat tersebut diproses dengan bantuan komputer, kemudian disesuaikan dengan ayat-ayat Alquran dan hadis.

“Kami melakukan penelitian ini sudah tujuh bulan, kami menyadari baru-baru ini, waktu Subuh ternyata lebih cepat dari seharusnya,” kata Prof Tono kepada Republika di PPPIJ-JIC, Senin (21/8).

Ia menerangkan, waktu fajar atau waktu Subuh ternyata terjadi pada rata-rata dip 12,9 derajat. Artinya, posisi Matahari berada di bawah ufuk pada posisi dip 12,9 derajat, itulah waktu Subuh yang seharusnya. Menurutnya, pada kondisi ini cahaya Matahari sudah mulai nampak.

Tapi, masyarakat Indonesia pada umumnya memulai Azan Shubuh saat posisi Matahari masih di  20 derajat di bawah ufuk. Dengan demikian, lanjut Prof Tono, waktu Shubuh di Indonesia lebih cepat dan selisihnya sampai dip 7,1 derajat.

Berdasarkan kecepatan rotasi bumi, waktu yang dibutuhkan dari dip ke dip sekitar 4 menit. Kalau waktu Subuh lebih awal sampai dip 7,1 derajat, maka waktu Shubuh lebih awal 28 menit.  “Waktu Shubuh berarti 7,1 derajat lebih awal, jadi lebih awal 28 menit,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penelitian ISRN, waktu Shalat Isya pun dinilai lebih lambat dari waktu seharusnya. Dikhawatirkan, orang-orang masih ada yang melaksanakan Shalat Magrib padahal sebenarnya sudah memasuki waktu Isya.

Prof Tono yang juga anggota Majelis Tarjih Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan, berdasar hasil penelitian selama berbulan-bulan menggunakan teknologi modern, waktu Isya di Indonesia yang sering dipraktikan masyarakat pada umumnya saat posisi Matahari berada di dip 18 derajat di bawah ufuk. Padahal, seharusnya waktu Isya dimulai pada saat posisi Matahari berada di dip 11,1 derajat di bawah ufuk.

Dengan demikian, dijelaskan dia, waktu Isya lebih lambat dip 6,9 derajat dari waktu seharusnya. “Artinya Isyanya terlalu lambat kira-kira sekitar 28 menit. Sebetulnya untuk Isya tidak apa-apa terlalu lambat, tapi Maghribnya dikhawatirkan orang mengira itu masih waktu Maghrib, padahal sebetulnya sudah tidak boleh karena itu sudah masuk waktu Isya, itu persoalannya,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan, hasil penelitian ISRN ingin disosialisasikan kepada masyarakat luas. Sebab, melaksanakan shalat harus pada waktunya sesuai perintah Allah.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Teguh Firmansyah / REPUBLIKA.CO.ID

***

Muhammadiyah: Penetapan waktu Shalat Subuh perlu dikoreksi

by Nahimunkar.com, 18 Juli 2017

 Ini hasil riset kami dengan alat Sky Quality Meter (SQM), pengukur kecerlangan benda langit.”

Jakarta  – Ketua Himpunan Ilmuwan Muhammadiyah Prof Tono Saksono menegaskan bahwa waktu masuknya awal Shalat Subuh yang digunakan di Indonesia selama ini terlalu dini 20 hingga 30 menit dari seharusnya sehingga perlu dikoreksi.

“Ini hasil riset kami dengan alat Sky Quality Meter (SQM), pengukur kecerlangan benda langit,” kata Ketua Islamic Science Research Network (ISRN) Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) itu dalam Seminar Evaluasi Awal Waktu Shalat Subuh Menurut Sains dan Fikih di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan, selama ini fajar dianggap telah terbit saat matahari pada posisi sudut depresi 20 derajat di bawah ufuk yang setara dengan 80 menit sebelum matahari terbit.

Padahal, dikemukakannya, dari hasil observasi sementara, maka fajar dimulainya Shalat Subuh bagi umat Islam Indonesia baru terjadi saat sudut depresi matahari pada kisaran 11 hingga 15 derajat di bawah ufuk atau bila dikonversi dalam domain waktu setara dengan 44 sampai dengan 60 menit sebelum matahari terbit.

“Tidak ada satupun indikasi yang menunjukkan bahwa sinar fajar sebagai tanda awal subuh telah muncul saat matahari berada pada sudut depresi 20 derajat,” katanya.

Menurut dia, penentuan 20 derajat di bawah ufuk merupakan keputusan ulama Melayu di masa lalu untuk menentukan awal masuknya waktu Shalat Subuh dan dimulainya puasa, termasuk digunakan pula oleh ulama Malaysia.

“Tapi, zaman dulu memang belum ada peralatan secanggih saat ini, dan masih mengandalkan pengamatan dengan mata telanjang, jadi wajar jika tidak akurat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Dr Thomas Djamaluddin mengatakan penggunaan standar 20 derajat di bawah ufuk itu memang sudah waktunya dikoreksi, namun perlu pengamatan dari lokasi yang gangguan atmosfernya minimal sehingga tidak akan mendistorsi hasil data yang diperoleh.

Menurut dia, ketetapan minus 20 derajat tersebut tampaknya diperoleh ulama masa lalu dari standar yang digunakan di Mesir 19,5 derajat atau dari Saudi 18 derajat di bawah ufuk, padahal posisi negara-negara tersebut ada di lintang tinggi, dan Indonesia di khatulistiwa.

Wakil Rektor Uhamka Zamah Sari mengatakan bahwa untuk mengoreksi standar yang digunakan selama ini masih membutuhkan pengujian lanjutan baik dari sisi astronomi juga dari pemahaman fikih.

“Masih perlu waktu panjang, seperti kesepakatan organisasi Islam lainnya, lalu kemudian diserahkan kepada Majelis Ulama Indonesia untuk dibuatkan fatwanya,” kata tokoh Muhammadiyah itu.

Wakil Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Sirril Wafa mengemukakan pula NU siap membuka peluang untuk berubah dan mengusulkan perlunya kerja sama riset terkait astronomi antara NU, Muhammadiyah, MUI, Lapan dan lainnya.

Pewarta: Dewanti Lestari
Editor: Priyambodo RH / antaranews.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.930 kali, 1 untuk hari ini)