• “Prabowo Subianto  menjadi unggulan untuk memenangkan pemilihan 9 Juli. Sebuah hasil yang tidak pernah dipikirkan sebulan sebelumnya,” seperti tulisan Connelly dalam laporan kelompok media terbesar di Australia The Sidney Morning Herald.
  • … mulai beberapa bulan ini elektabilitas Prabowo menunjukan tren meningkat. Sebaliknya, Jokowi stagnan bahkan cenderung menurun.
  • …telah berkembang wacana jika ketiga lembaga survei (CSIS, SMRC, dan Indikator) dicurigai menjadi bagian dari tim pemenangan Jokowi-JK.
  • Dilaporkannya pendiri SMRC, Saiful Mujani ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) atas dugaan kampanye hitam terhadap Prabowo, menguatkan dugaan adanya praktik menyimpang.

 

Inilah beritanya.

***

Elektabilitas Prabowo Salip Jokowi, Lembaga Survai Diam

3 Lembaga Survai Ditengarai Tim Pemenangan Jokowi-JK

 

Jakarta, HanTer – Pengamat politik Didik J. Rachbini menilai saat ini elektabilitas pasangan capres/cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa telah berhasil menyalip rivalnya, Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Menurutnya dari beberapa hasil survei terakhir seperti dari Centre For Strategic And International Studies (CSIS), Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dan Indikator menunjukan hasil yang sama. Dimana dalam hasil risetnya tidak dipublikasikan lantaran dapat menimbulkan dampak negatif kepada salah satu kubu peserta pilpres.

“Mereka melakukan survei tetapi hasilnya tidak dikeluarkan. Kalau tidak dipublikasikan, berarti benar ada yang disimpan CSIS, SMRC, dan Indikator. Mereka khawatir menimbulkan opini yang tidak menguntungkan,” kata Didik saat dihubungi, Rabu (25/6).

Dia mengatakan telah berkembang wacana jika ketiga lembaga survei tersebut dicurigai menjadi bagian dari tim pemenangan Jokowi-JK.

Sehingga dia beranggapan jika pelaporan pendiri SMRC, Saiful Mujani ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) atas dugaan kampanye hitam terhadap Prabowo, menguatkan dugaan adanya praktik menyimpang.

“Sudah rahasia umum kalau mereka menjadi bagian tim sukses Jokowi. Bisa dilihat dari wawancaranya, hasil wawancara terhadap responden,” bebernya.

Lebih lanjut Didik menyatakan mulai beberapa bulan ini elektabilitas Prabowo menunjukan tren meningkat. Sebaliknya, Jokowi stagnan bahkan cenderung menurun.

“Capres yang elektabilitasnya stagnan akan sulit naik, sementara yang naik akan terus bergerak naik. Jadi wajar kalau ketiga lembaga survei itu menyimpan hasil surveinya sebagai strategi pemenangan,” tutupnya.

Diketahui situs berita The Sidney Morning Herald hari ini melaporkan sejumlah lembaga survey yang memiliki hubungan dengan Joko Widodo menahan hasil surveinya.

Satu hasil survei atau lebih ditahan. Sebab survey tersebut dikhawatirkan akan membuat mendorong para pemilih untuk mengalihkan dukungannya menjadi mendukung Prabowo Subianto.

Dalam pemberitaan disebutkan sejumlah narasumber telah dihubungi oleh Fairfax Media, kelompok media terbesar di Australia yang memiliki surat kabar Sydney Morning Herald(Sydney), The Age (Melbourne), dan Brisbane Times (Queensland).

Ada perubahan yang drastis, dimana sebelumnya, Jokowi memimpin dengan jarak dua digit, kemudian mengalami perlambatan kenaikan elektabilitasnya.

Laporan tersebut juga memuat tulisan Aaron L. Connelly, peneliti Lowy Institute. Tulisan itu menjelaskan bahwa lembaga survey yang dipercaya seperti CSIS, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator mendapati pertarungan antara kedua calon sama kuat.

“Prabowo Subianto  menjadi unggulan untuk memenangkan pemilihan 9 Juli. Sebuah hasil yang tidak pernah dipikirkan sebulan sebelumnya,” seperti tulisan Connelly dalam laporan itu.

Fairfax Media telah mengkonfirmasi sumber, menerangkan bahwa CSIS menyelesaikan survei pada 15 Juni. Survei itu menunjukan jarak yang sangat kecil diantara kedua belah pihak.

(Angga)

Harianterbit.com | Rabu, 25 Juni 2014 22:48:00 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 713 kali, 1 untuk hari ini)