Assalamu’alaikum Pak,  Saya mau bertanya tentang hukumnya haul itu apa ya Pak?

wa’alaikumussalam. haul utk org meninggal maksudnya?

itu sejenis ini: https://www.nahimunkar.org/peringatan-empat-puluh-hari-kematian-adalah-dari-adat-firaun/

Peringatan Empat Puluh Hari Kematian Adalah dari Adat Fir’aun

بدعة الأربعين عادة فرعونية Soal: Apa asal mulanya peringatan empat puluh (hari kematian) itu, dan apakah ada dalil atas disyari’atkannya mengenang (memperingati) mayit? Jawab: Pertama: Asal mulanya, peringatan (empat puluh hari kematian) itu adalah adat Fir’aun, dahulu terjadi di hadapan Fir’aun…

nahimunkar.com

***

Jazakallahu khoiron Bapak atas jawabannya…

Saya cuma penasaran di daerah Pasar Kliwon Solo ada acara haul, nyegat jalan sampai 3 hari …

Pengikutnya banyak malah kayak pasar malam dadakan..

Iya benar Pak, Nyegat jalan sampai 3 hari..

Mulai hari ini sampai minggu

Guntur JUM 18:05

***

Ada berita, (ringaksnya) begini.

***

Haul Habib Ali, Panitia Siapkan 2 Ton Beras dan 400 Ekor Kambing

Editor : Deniawan Tommy Chandra W , Senin, 25/01/2016

 SOLO- Peringatan Haul Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyi kembali akan digelar, Sabtu-Minggu, 30-31 Januari mendatang di Masjid Riyadh, Pasar Kliwon. Haul yang ke 104 ini diperkirakan akan dihadiri ribuan orang dari dalam negeri maupun luar negeri, berbagai persiapan pun sudah dilakukan.

“Haul Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyi itu puncaknya, Sabtu (30/1) mendatang sedangkan untuk Minggu (31/1) itu pembacaan maulid simtudduor. Ini sudah agenda rutin kami tiap tahunnya jadi tidak ada persiapan khusus tapi biasa-biasa saja,” ujar Cicit Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyi, Mustofa Mulahela saat ditemui dikediaman daerah Gurawan, Senin (25/1/2016).

Setidaknya ada sekitar 400 ekor kambing dan 2 ton beras telah disiapkan untuk membuat nasi kebuli yang menjadi khas sebagai hidangan para jamaah saat puncaknya nanti. Ini untuk menghargai kedatangan mereka yang mencari keberkahan dalam peringatan haul ini, biasanya mereka sudah mulai datang itu Rabu (27/1/2016)./

By: joglosemar.co

***

Masalah Tahlilan Memperingati Orang Mati Ditinjau dari Ilmu Fiqh -1

by nahimunkar.com, Jun 10th, 2009

Masalah Tahlilan Memperingati Orang Mati

Ditinjau dari Ilmu Fiqh – 1

Upacara tahlilan atau memperingati orang mati pada hari-hari tertentu dengan mengumpulkan orang dan membaca bacan-bacaan tertentu, apakah termasuk ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak. Di mana-mana di Indonesia, upacara tahlilan itu diselenggarakan orang. Kalau yang kematian itu eko-nominya cekak alias miskin, maka untuk menyelenggarakan tahlilan itu direwangi wani utang (sampai dibela dengan berani cari hutangan). Bahkan bisa juga sampai mencuri, seperti berita berikut ini:

Butuh Dana Tahlilan, Jumadi Curi Kabel

Ari Saputra, Selasa, 09/06/2009 17:31 WIB

Jakarta – Makin pintar saja para pencuri beralibi. Kali ini Jumadi (31) mengaku membutuhkan uang untuk biaya tahlilan istrinya. Karena tidak punya uang, ia nekat mencuri kabel telekomunikasi yang melintang tak jauh dari rumahnya. “Istri saya meninggal gara-gara kena kanker payudara,” kata pelaku di Mapolsek Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (9/6/2009). Dalam menjalankan aksinya, Jumadi berkolaborasi dengan Sanjaya (35) dan Ahmad Robani . (35). Lalu mengendap-endap di malam hari dan memotong-motong kabel. “Saya membutuhkan Rp 700.000 untuk biaya tahlilan,” kelit Jumadi beralasan. Petugas memergoki dan meringkus ketiganya seketika. Mereka terancam pasal 363 KUHP dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun.

(Ari/nrl)

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2009/06/09/173131/1145035/10/butuh-dana-tahlilan-jumadi-curi-kabel

Di dalam Islam, ada kewajiban zakat. Tetapi bagi orang yang tidak berharta maka tidak terkena kewajiban zakat itu, bahkan menjadi orang yang berhak menerima zakat (Mustahiq). Oleh karena itu, seandainya tahlilan memperingati orang mati itu termasuk ajaran Islam pun (dan sebenarnya tidak) pasti tidak perlu utang-utang apalagi sampai mencuri.

Untuk memberi gambaran duduk soal masalah tahlilan, berikut ini kami kutipkan dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Tarekat, Tasawuf, Tahlilan, dan Maulidan, Pustaka WIP, Solo, dalam bab lanjutan, setelah membahas masalah rancunya tarekat dan tasawuf.

Masalah Tahlilan Memperingati Orang Mati

Ditinjau dari Ilmu Fiqh

Setelah dibahas kesesatan dan kerancuan tarekat tasawuf serta buku-bukunya, kini mari kita bahas kebiasaan yang dipraktekkan dan didukung pula oleh kalangan tasawuf dan orang awam, yaitu tahlilan memperingati orang mati.

Dalam pembahasan ini pendekatan yang dipakai adalah ilmu fiqh. Obyeknya adalah kebiasaan sebagian banyak masyarakat Islam mengadakan makan-makan, kumpul-kumpul, dan selamatan dengan diadakan apa yang mereka sebut tahlilan berkaitan dengan orang meninggal.

Persoalan yang dipermasalahkan adalah kenapa umat Islam punya kebiasaan mengadakan selamatan orang mati, yaitu selamatan atau peringatan niga hari (hari ketiga), nujuh hari (hari ketujuh), matang puluh (hari ke-empat puluh), nyatus (hari keseratus), haul (ulang tahun kematian), nyewu (hari keseribu) dan sebagainya.

 Kebiasaan masyarakat ini dilihat dari segi aturan Islam bagaimana.

Alat untuk mendekatinya adalah ilmu fiqh, dengan cara:

  1. Mengkaji teks-teks fiqh.
  2. Mengkaji fatwa-fatwa ulama fiqh dari berbagai madzhab.
  3. Mengadakan perbandingan antara apa yang dilakukan di masyarakatdiban-dingkan dengan ajaran Islam (yang hukum-hukumnya terkandung dalam fiqh).
  4. Menyimpulkan, apakah memang kebiasaan umat Islam itu sesuai dengan ajaran Islam atau tidak.

Sebelum melaksanakan semua persoalan yang akan ditempuh itu, maka lebih dulu diperlukan pemaparan tentang ilmu fiqh itu sendiri.

Ilmu Fiqh

Para ulama fiqh mendefiniskan, Fiqih adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syar’i ‘amali (praktis) yang bersumber dari dalil-dalilnya yang rinci. Fiqh merupakan ilmu aturan perundang-undangan Islam. Tetapi tidak seperti aturan perundang-undangan buatan manusia, fiqh lebih mendalam, lebih lengkap, dan lebih luas cakupannya.[1]

Ilmu fiqh merupakan ilmu yang mengatur kehidupan pribadi dan masyarakat muslim serta umat Islam, negara Islam dengan hukum-hukum syari’at, baik yang berkaitan dengan hubungan seorang muslim dengan Allah, yang diatur oleh fiqh ibadah, ataupun yang berkaitan dengan hubungan antara seorang dengan dirinya sendiri yang diatur oleh fiqh halal haram dan etika kesopanan individual.

Yang berkaitan dengan hubungan antara seorang dengan anggota keluarganya diatur oleh fiqh keluarga yang bersisi soal perkawinan dan yang berkaitan dengannya, yang disebut sebagai ahwal syakhsyiyyah.

Yang berkaiatan dengan pengaturan tukar menukar (jual beli) dan hubungan-hubungan kemasyarakatan antara seseorang dengan orang lain disebut sebagai fiqh mu’amalah dan termasuk di dalam tata-aturan yang disebut undang-undang sipil.

Sementara itu yang berhubungan dengan kejahatan dan pidana disebut fiqh hududqishah, dan ta’zirtermasuk dalam tata aturan yang bernama tasyri’ jina’I (hukum pidana).

Sedangkan yang khusus mengenai hubungan antara negara dengan rakyat, antara pemerintah dengan warga negara disebut siyasah syar’iyyah, dan oleh para ahli hukum disebut peraturan perundang-undangan atau peraturan birokrasi.

Terdapat pula jihad dan gerakan yang menjadi bagian hubungan kenegaraan dan lain sebagainya.

Dengan demikian fiqh tidak hanya mengurusai hukum-hukum individual dan keluarga, tetapi juga meliputi kehidupan kemasyarakatan, politik, perundang-undangan, ekonomi, negara dan seluruh aspek kehiduapan.[2]

Kebiasaan kendurian atau selamatan orang mati sebagai obyek

 Masalah yang dibicarakan dalam hal ini difokuskan kepada kebiasaan umat Islam mengadakan kendurian atau selamatan/ peringatan berkaitan dengan orang mati. Selamatan orang mati itu diadakan dengan mengadakan upacara kumpul-kumpul di rumah duka pada hari-hari tertentu, sejak hari kematian. Mereka menamakan selamatan itu dengan niga hari, nujuh hari, dua kali tujuh, empat puluh (matang puluh), seratus hari (nyatus), haul (ulang tahun kematian), seribu hari (nyewu) dan seterusnya.

Upacara kumpul-kumpul untuk selamatan orang mati pada hari-hari tertentu itu menurut Prof DR Hamka adalah menirukan agama Hindu. Namun dalam pelaksanaannya, hadirin yang kumpul di rumah duka pada hari-hari tertentu itu membaca bacaan-bacaan tertentu dipimpin oleh imam upacara. Rangkaian bacaan itu disebut tahlil, karena ada bacaan laa ilaaha illallah. Hingga upacara selamatan orang mati itu sendiri di masyarakat disebut tahlilan.

Biasanya pihak yang duka itu justru menjamu makanan, minuman, plus rokok (yang hukumnya dalam Islam rokok itu ada yang memakruhkan dan ada yang mengharamkan), dan kebanyakan masih pula pihak duka membekali makanan untuk dibawa pulang oleh para hadirin. Makanan yang dibawa pulang itu disebut berkat, yang diambil dari lafal Arab barokah, dalam Islam, lafal barokah itu artinya adalah banyak kebaikannya.

Di samping penderita duka itu menyediakan makanan, minuman, rokok, dan berkat, masih pula kadang harus menyediakan duit diselipkan di besek wadah berkat yang dibawa pulang oleh para hadirin itu. Sehingga beban pihak duka itu bertambah-tambah.

Sejak hari kematian, tentang kebiasaan kumpul-kumpul dan makan-makan di rumah duka itu telah berlangsung. Hingga pihak duka justru menyediakan makan, menyembelih hewan dan sebagainya.

Kenyataan tersebut sebenarnya apakah sesuai dengan ajaran Islam atau tidak, perlu dikaji. Dalam pembahasan ini dikaji dengan cara dibandingkan dengan ajaran Islam dengan cara:

  1. Meneliti teks ayat ataupun hadits.
  2. Meneliti hukum-hukum yang tertuang di kitab-kitab fiqh, dan
  3. Meneliti pendapat-pendapat para ulama dari berbagai madzhab fiqh.

Teks ayat atau hadits mengenai jamuan makan kematian

Sebelum menentukan tentang kebiasaan selamatan peringatan orang mati itu benar atau tidak bila dilihat dari ajaran Islam, lebih dulu diteliti tentang teks-teks mengenai jamuan makan di kala kematian, dan bagaimana tatacara ta’ziyah menurut teks.

Kemudian bagaimana pula pendapat-pendapat para ulama fiqh di sekitar upacara kematian.

Teks hadits di antaranya bisa ditemukan.

  1. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallamberkata kepada para sahabatnya ketika Ja’far ibnu Abi Thalib radhiyallahu ‘anhumeninggal dunia :

اِصْنَعُوْا ِلآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ

Artinya :“Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja’far karena telah datang kepada mereka hal yang menyibukkannya.”(Hadits shahih riwayat Imam Syafi’i, Ahmad, Abu Dawud, Tirmnidzi dan Ibnu Majah).

Kumpul-kumpul di rumah keluarga si mayit serta menyediakan makanan buat yang kumpul-kumpul itu merupakan macam niyahah (meratap yang hukumnya dilarang), karena menyusahkan keluarga si mayit dan mengingatkan mereka kepada si mayit, juga bertentangan dengan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Jarir ibnu Abdillah berkata:

كُنَّا نَعُدُّ الاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامَ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ

Artinya :“Kami menganggap kumpul-kumpul ke (rumah) keluarga si mayit dan penyediaan makanan setelah penguburan si mayit merupakan bagian dari niyahah (meratap).” (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).

  1. Niyahah itu merupakan dosa besar, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallamberkata:

اَلنَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْباَلٌ مِنْ قَطِرَانٍ

Artinya :“Wanita yang meratapi (mayit) jika dia tidak taubat sebelum dia meninggal maka dia dibangkitkan di hari kiamat (dalam keadaan di azab) dengan mengenakan pakaian dari cairan tembaga yang meleleh.” (HR. Muslim).

Teks fiqh atau pendapat Imam-imam tentang ta’ziyah, makan-makan, dan selamatan orang mati.

Ta’ziyah yang sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya dilakukan di jalanan atau ketika ada di pekuburan (ketika mau atau sudah mengubur) atau tidak apa-apa datang ke rumah keluarga si mayit tapi tak lama dan tidak duduk.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata di dalam Al-Umm:

وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ , وَهِيَ الْجَمَاعَةُ , وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ , وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مَعَ مَا مَضَى فِيهِ مِنْ الْأَثَرِ

“Saya membenci kumpul-kumpul (di rumah mayit) meskipun tidak di sertai tangisan, karena hal itu mengingatkan kesedihan dan menimbulkan beban serta bertentangan dengan atsar.”[3]

Imam An Nawawi berkata :

وَأَمَّا الْجُلُوسُ لِلتَّعْزِيَةِ فَنَصَّ الشَّافِعِيُّ وَالْمُصَنِّفُ وَسَائِرُ الْأَصْحَابِ عَلَى كَرَاهَتِهِ وَنَقَلَهُ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ فِي التَّعْلِيقِ وَآخَرُونَ عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ . قَالُوا : يَعْنِي بِالْجُلُوسِ لَهَا أَنْ يَجْتَمِعَ أَهْلُ الْمَيِّتِ فِي بَيْتٍ فَيَقْصِدُهُمْ مَنْ أَرَادَ التَّعْزِيَةَ قَالُوا : بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَنْصَرِفُوا فِي حَوَائِجِهِمْ

Al Imam Asy Syafii dan para pengikut madzhabnya rahimahumullah berkata : “Dan sangat dibenci melakukan duduk untuk ta’ziyah,” mereka berkata :”Maksud dengan duduk ini adalah keluarga si mayit duduk berkumpul agar ada orang yang datang untuk berta’ziyah, seharusnya mereka pergi menunaikan tugasnya sehari-hari.”[4]

Bersambung ……

[1] Taisirul fiqh lilmuslimil mu’ashirah fii dhouil qur’an wassunnah, Fikih Taysir, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan pertama, 2001, hal 3.

[2] Ibid, hal 3-4.

[3] Imam As-Syafi’I, Al-Umm, juz 1.

[4] Imam An-Nawawi, Majmu’ Syarah Al-Muhaddzab, juz 15.

***

Sambungan dari …….. Masalah Tahlilan Memperingati Orang Mati Ditinjau dari Ilmu Fiqh – 1

Masalah Tahlilan Memperingati Orang Mati

Ditinjau dari Ilmu Fiqh – 2

Al Imam Ahmad rahimahullah mengingkari duduk-duduk itu dan beliau berkata :Hal itu termasuk perbuatan jahiliyyah.[1]

Syaikh Ahmad Zaini Dahlan Mufti Syafiiyyah di Makkah mengatakan ketika ditanya tentang hal itu : “Ya, apa yang dilakukan orang-orang berupa kumpul-kumpul di rumah keluarga si mayit serta penyediaan makanan itu adalah merupakan bid’ah munkarah, dan orang yang mengingkarinya mendapatkan pahala.” Kemudian beliau menukil perkataan Ahmad Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfatul Muhtaaj: “… Dan apa yang biasa dilakukan (orang-orang) berupa penyediaan makanan yang dilakukan ahli mayit untuk mengundang orang-orang ke rumahnya adalah merupakan bid’ah yang dibenci dan begitu juga memenuhi undangan itu…” Kemudian Mufti itu menukil perkataan lain dari Hasyiyah Al-‘Allamah Al-Jamal ‘Ala Syarhil Minhaj, “Dan di antara bid’ah munkarah yang sangat dibenci adalah apa yang dilakukan orang di hari….. dan dihari ke 40 nya. Semua itu haram hukumnya.”

Dalam Kitab Fathul Bari ditegaskan, “Dibenci hukumnya menerima jamuan (hidangan) dari makanan ahli mayit, karena yang namanya hidangan itu disyariatkan ketika ada suatu kebahagiaan, sedangkan penyediaan hidangan di hari-hari kematian adalah bid’ah.”

Dalam Al-Bazzaziyah, “Dan dibenci membuat hidangan di hari pertama, ketiga dan ketujuh…..”

Fatwa-fatwa itu dikemukakan oleh semua Mufti keempat mazhab.[2]

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri khatib dan pengajar tetap di Masjid Nabawi Madinah berkata: “Dan diantara hal yang wajib ditinggalkan dan dijauhi adalah apa yang dilakukan oleh orang-orang karena kebodohan (terhadap ajaran Islam) berupa kumpul-kumpul di rumah-rumah (ahli mayit) untuk ta’ziyah serta penyediaan jamuan juga mengeluarkan harta untuk itu (sehingga berbangga-bangga). (Itu tidak boleh) karena salafush shalih (generasi Islam terdahulu yang shalih) tidak pernah kumpul-kumpul di rumah mayit. Tapi mereka saling menta’ziahi di pekuburan, ketika kebetulan berjumpa di mana saja. Dan tak apa menuju ke rumahnya jika tidak mungkin menemuinya di pekuburan atau di jalan. Yang muhdats (bid’ah) adalah kumpul-kumpul yang khusus dan dipersiapkan secara sengaja.[3]

Imam Abu Ishaq Ay-Syairaziy Asy-Syafi’i berkata:

وَيُكْرَهُ الْجُلُوسُ لِلتَّعْزِيَةِ , لِأَنَّ ذَلِكَ مُحْدَثٌ وَالْمُحْدَثُ بِدْعَةٌ

“Dan diantara bid’ah yang sangat dibenci adalah duduk-duduk untuk ta’ziyah karena hal itu adalah muhdats (baru) dan semua yang muhdats itu adalah bid’ah.”[4]

Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan, “Dan apa yang dilakukan orang –orang pada masa sekarang ini berupa kumpul-kumpul untuk ta’ziyah, mendirikan tenda-tenda, membentangkan hamparan, menghambur-hamburkan harta yang banyak demi gengsi adalah merupakan hal-hal yang baru dan bid’ah munkarah yang wajib dijauhi oleh semua orang muslim, Dan haram melakukannya, apalagi sering dibarengi dengan hal-hal yang bertentangan dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah serta berjalan sesuai dengan adat jahiliyah seperti melagukan Al- Qur’an dan tidak mematuhi adab tilawah, meninggalkaninshat (diam dan tidak ribut) dan menyibukkan dengan merokok dari mendengarkan Al-Qur’an, bahkan mereka itu tidak cukup sampai di sini. Mereka tidak hanya terbatas melakukannya di hari-hari pertama saja, tapi mereka menjadikan hari ke-40 sebagai hari pengulangan kemugkaran-kemungkaran dan bid’ah ini. Dan juga mereka mengadakan peringatan temu tahun (Haul istilah orang Indonesia, pent) pertama, kedua dan seterunya. Hal-hal yang tidak sesuai dengan akal sehat dan dalil yang kuat.[5]

Hal serupa dikemukakan oleh Syaikh Mahmud Syaltut Syaikhul Azhar (Universitas Al-Azhar Mesir), beliau menambahkan, “……Dan ta’ziyah itu tidak ada di abad-abad pertama (Islam) kecuali ketika mengiringi jenazah atau ketika bertemu pertama kali bagi orang yang tidak ikut mengiringi jenazah,” kemudian dia berkata lagi, “dan dari sini tidak pernah dikenal di dalam ajaran Islam apa yang disebut pada masa sekarang ini dengan nama Kamis kecil atau Kamis besar, apalagi yang namanya ke 40 (matang puluh), temu tahunan (haul) yang mereka gunakan untuk mengingat kesedihan lagi dan mereka mengulang kumpul-kumpul lagi di hari itu dengan meninggalkan pekerjaan rutinnya yang bermanfaat.[6]

Syaikh Abdur Rahman Al-Juzairiy berkata: “Di antara bid’ah yang dibenci adalah yang dilakukan pada masa sekarang ini seperti menyembelih hewan ketika mayit dibawa keluar dari rumah atau (menyembelih) di dekat kuburan dan (seperti) menyediakan makanan buat orang yang berkumpul untuk ta’ziyah dan menghidangkannya kepada mereka seperti dalam acara suka cita. Dan jika di antara ahli waritsnya ada yang belum baligh maka (pihak yang kematian itu, pen) menyiapkan makanan serta menyajikannya kepada mereka (para tamu) adalah haram.” [7]

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata: Dan bukan petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kumpul-kumpul untuk ta’ziyah, begitu juga membaca Al-Qur’an buat si mayit, tidak di kuburannya, tidak juga di tempat yang lainnya. Dan semua ini adalah bid’ah haditsah (diadakan secara baru) yang dibenci.[8]

Perbandingan

  1. Jamuan makan dan upacara kumpul-kumpul yang berkaitan dengan kematian adalah merupakan kebiasaan sebagian besar masyarakat Islam di Indonesia.
  2. Teks hadits mengenai kematian, justru pihak kematian itulah yang harus dibantu disediakan makan. Bukan menyediakan makan untuk penta’ziyah.
  3. Teks hadits tentang kumpul-kumpul dengan penyediaan makan oleh pihak si mayit adalah termasukniyahah, yaitu meratap yang hukumnya haram, karena termasuk tingkah jahiliyah.
  4. Teks fiqh dan fatwa para ulama dari empat madzhab dan ulama masa kini, semuanya menilai bahwa acara kumpul-kumpul dan makan-makan berkaitan dengan kematian adalah bid’ah munkaroh yang harus dijauhi.

Kesimpulan

Dari kenyataan itu bisa diperbandingkan dan disimpulkan:

Adat kebiasaan berkaitan dengan kematian yaitu jamuan makan, kumpul-kumpul, dan peringatan orang mati yang berlangsung di kalangan ummat Islam ternyata bertolak belakang dengan ajaran Islam, baik teks hadits maupun teks fiqh serta fatwa para ulama dari berbagai madzhab, klasik maupun masa kini.

Kesimpulan yang nyata di masyarakat itu, bisa dihubungkan dengan pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِيْ الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْنَ

Artinya: Sesungguhnya yang saya takutkan atas umatku hanyalah para Imam (ulama, pemuka) yang menyesatkan.(Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud dan Al-Barqani).

Catatan

Pendekatan lewat fiqh pada dasarnya adalah mengkategorikan, termasuk madzhab yang manakah peristiwa yang diteliti itu.. Apakah termasuk dalam madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i atau Hanbali. Peneliti mencocokkan kejadian yang diteliti itu dengan faham madzhab-madzhab tersebut.

Kadang-kadang suatu peristiwa, bahkan telah menjadi kebiasaan di masyarakat, Islam, tetapi ternyata tidak cocok bila dirujuk kepada madzhab-madzhab fiqh manapun. Hal itu ada dua kemungkinan. Pertama, memang kejadian itu menyimpang dari agama, sehingga dengan fiqh jenis madzhab manapun tidak sesuai. Kedua, mungkin persoalan itu baru, sehingga belum ada di dalam kitab-kitab fiqh.

Apabila persoalan itu baru, maka diperlukan adanya ijtihad oleh ulama yang ahlinya. Sedang peneliti hanya bisa sampai pada kesimpulan bahwa persoalan itu belum ada di kitab-kitab fiqh dalam madzhab manapun. Meskipun demikian, kalau peneliti itu memiliki keahlian dan memenuhi syarat-syarat untuk berijtihad, maka dia berhak berijtihad. Namun hal yang dilakukannya bukan lagi sekadar sebagai peneliti kasus dengan alat ilmu fiqh, karena dia sudah melangkah ke tingkat yang hanya dijamah oleh mujtahid, yang kaitannya adalah menggali persoalan sedalam-dalamnya dengan mencari dalil-dalilnya untuk menentukan hukum.

Peneliti yang sebenarnya justru yang seperti itu, kalau menyangkut agama. Atau paling kurang adalah mengumpulkan berbagai pendapat dari madzhab-madzhab, lalu mentarjihnya, yaitu menentukan mana yang paling kuat dalilnya. Tetapi dalam kenyataan sampai sekarang, penelitian agama itu hanya seperti penelitian yang berlaku di ilmu-ilmu sosial, maka pada dasarnya hanya seperti investigasi wartawan, yang tidak ada nilai benar atau batilnya peristiwa yang ditelitinya. Penelitian semacam itu punya resiko menyesatkan, bila dilihat dari ajaran agama. Karena tidak bisa menjangkau mana yang benar /rajih (kuat) menurut dalil agama.

Sayangnya metode penelitian agama pun tidak mengarah ke penelitian yang sebenarnya, hingga tak lebih dari sekadar penelitian sosial dan sebagainya. Bahkan tidak jarang, yang digunakan sebagai tolok ukur pun ilmu-ilmu sosial yang tak mampu menjangkau kaidah-kaidah agama. Makanya tak mengherankan, orang yang diangkat sebagai peneliti ahli bidang agama dengan julukan Ahli Peneliti Utama (APU) pun justru dirinya mengikuti aliran sesat Ahmadiyah, misalnya. Itu benar-benar terjadi di Indonesia ini, yaitu Johan Effendi seorang anggota resmi aliran sesat Ahmadiyah, malah diangkat secara resmi sebagai APU (Ahli Peneliti Utama) oleh Menteri Agama Munawir Sjadzali waktu rejim Soeharto sebelum 1990-an. Pidato pengukuhannya pun menghadirkan para pejabat tinggi di lingkungan Departemen Agama. Juga Dr Musdah Mulia yang berpredikat APU, ternyata justru membuat buku controversial berjudul Conter Draft Legal Kompilasi Hukum Islam, yang isinya sangat bertentangan dengan Islam, di antaranya laki-laki dikenai ‘iddah (masa tunggu untuk bolehnya nikah setelah cerai hidup atau cerai mati).

Di samping kasus seperti tersebut di atas, tidak sedikit pula peneliti agama yang masih bercokol dalam bid’ah-bid’ah. Itu kasus yang pantas diteliti pula. Jadi umat Islam Indonesia ini secara gampangnya, banyak yang mengamalkan kebiasaan-kebiasaan bid’ah dan bertentangan dengan Islam. Malah kebiasaan bid’ah itu dilindungi bahkan dikembangkan oleh sebagian kiai atau bahkan ulama dan organisasi-organisasi yang doyan bid’ah. Lalu oleh para peneliti agama yang mungkin mereka tergolong dalam aliran sesat atau pun kaum bid’ah melegitimasi kebiasaan bid’ah itu. Kemudian pihak-pihak sekuler termasuk orang-orang pemerintah menggunakan kesempatan itu untuk mendukung sikap anti Islamnya atau menghadapi lawan politiknya yang dianggap mau menegakkan syari’at Islam. Maka bid’ah dan kesesatan di Indonesia ini justru bisa dibilang dipelihara untuk menjadi salah satu alat penghalang akan tegaknya syari’at Islam. Hal itu sangat difahami oleh para anti Islam, baik dalam negeri maupun luar negeri. Maka mereka ramai-ramai saling mencari proyek untuk melestarikan bid’ah dan kesesatan itu, sambil mencari hasil untuk kepentingan dunia sesaat sambil mempecundangi Islam dengan berwajah seolah mereka Muslim.

Mudah-mudahan orang yang memperjuangkan Islam senantiasa diunggulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menambah sakit dan derita orang-orang yang menurut Al-Qur’an disebut di dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambahi mereka penyakit. Berbahagialah orang yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasulnya, dan sengsaralah orang yang melawan dan menyelisihinya, walau berpenampilan sebagai Muslim. (Hartono Ahmad Jaiz, Tarekat, Tasawuf, Tahlilan, dan Maulidan, Pustaka WIP, Solo).

 [1] Matholib Ulin Nuha, juz 1:

وَ ( لَا ) يُصْنَعُ الطَّعَامُ ( لِمَنْ يَجْتَمِعُ عِنْدَهُمْ ) , أَيْ : أَهْلِ الْمَيِّتِ , ( فَيُكْرَهُ ) , لِأَنَّهُ إعَانَةٌ عَلَى مَكْرُوهٍ , وَهُوَ الِاجْتِمَاعُ عِنْدَهُمْ , قَالَ أَحْمَدُ : إنَّهُ مِنْ أَفْعَالِ الْجَاهِلِيَّةِ , وَأَنْكَرَهُ شَدِيدًا

[2] Abu Bakar Al-Bakri Asy-Syafi’i إ عانة ا لطا لبين 2/145-146

[3] Minhajul Muslim hal: 282

[4] Al-Muhadzdzab 1/39

[5] Fiqhussunnah 1/476

[6] Al-Fatawaa, Dirasat Limusykilaatil muslim Al-Mu’ashir fi Hayaatihil Yaumiyyah 217.

[7] (AlFiqhu ‘Ala Al Madzhabib Al-Arba’ah 1/539)

[8] Zaadul Ma’ad 1/442.

(Penelitian teks-teks hadits dan fiqh ini atas bantuan ketekunan Ustadz A A Sulaiman, seorang ustadz alumni Syari’ah LIPIA Jakarta yang hafal Al-Qur’an).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 16.413 kali, 1 untuk hari ini)