Heboh 41 TKA China Komunis Masuk Indonesia Ditengah Tingginya Kasus Covid-19

  • Anehnya, kedatangan mereka ketika tiba di bandara tidak harus memperlihatkan paspor dan kitas. Kedetangan TKA ini disambut langsung oleh Dinas Ketenagakerjaan Nagan Raya dan dikawal ketat oleh puluhan aparat keamanan dari TNI-Polri.
  • Meski kasus covid-19 di Aceh meningkat, kedatangan tenaga kerja asing ini merupakan yang kedua kali dalam satu pekan terakhir…

TKA asal Tiongkok tiba di Aceh (foto: iNews)

 

ACEH – Sebanyak 41 tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok kembali memasuki wilayah Indonesia melalui Bandara Cut Nyak Dhien, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Padahal, kasus positif covid-19 saat ini di Provinsi Aceh mengalami peningkatan.

 

Kedatangan TKA yang kedua kali dalam sepekan terakhir ini, untuk bekerja disebuah perusahaan pembangkit tenaga listrik uap.

Anehnya, kedatangan mereka ketika tiba di bandara tidak harus memperlihatkan paspor dan kitas. Kedetangan TKA ini disambut langsung oleh Dinas Ketenagakerjaan Nagan Raya dan dikawal ketat oleh puluhan aparat keamanan dari TNI-Polri.

 

Saat tiba di bandara, mereka hanya memperlihatkan surat kesehatan kepada petugas, dengan alasan TKA ini sudah memiliki izin dari Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia.

Pihak Imigrasi dan Disnaker setempat mengaku sudah lebih awal menerima kitas dan paspor mereka dan para tenaga kerja asing sudah legal untuk bekerja di Aceh.

Untuk mematuhi protokol kesehatan para pekerja asing ini nanti akan di karantina di lokasi mereka bekerja, termasuk akan dilakuakan uji swab.

Setelah semua dilakukan pengecekan surat kesehatan dan penyemprotan cairan disinfektan, para TKA ini langsung dibawa ke perusahaan tempat mereka bekerja.

Kadis Tenaga Kerja Nagan Raya, Rahmatullah mengatakan, terkait izin mereka sudah mendapat perizinan dari Kementrian Tenaga Kerja di Jakarta, namun meski sudah mendapat izin kerja para tenaga kerja ini nanti akan di karantina di lokasi kerja sambil dilakukan uji swab oleh gugus tugas.

“Meski kasus covid-19 di Aceh meningkat, kedatangan tenaga kerja asing ini merupakan yang kedua kali dalam satu pekan terakhir dan mereka diwajibkan menjalani karantina dan uji swab sebelum bekerja,” kata Rahmatullah.

(amr)

Afsah, iNews · Jum’at 11 September 2020 16:12 WIB

***

Pemimpin Jangan Sampai Berlaku Curang

Posted on 9 Agustus 2019

by Nahimunkar.org

  •  



    Pemimpin jangan sampai berlaku curang dan menipu rakyat, karena akibatnya sangat berat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

    مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

    Tidak ada seorang hamba yang Allâh memberikan kekuasaan kepadanya mengurusi rakyat, pada hari dia mati itu dia menipu rakyatnya, kecuali Allâh haramkan surga atasnya. [HR. Muslim, no. 142]

    Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

    مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا، وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

    Barangsiapa menyerang kami dengan senjata maka dia bukan dari kami, dan barangsiapa berbuat curang terhadap kami maka dia bukan dari kami. [HR. Muslim, no. 101]

    Ancaman ‘diharamkan surga’ dan ‘bukan dari kami’ menunjukkan bahwa perbuatan curang tersebut merupakan kezhaliman dan dosa besar. Wallâhul Musta’ân.

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat kasih sayang kepada umatnya, maka mendoakan kebaikan untuk penguasa yang berbuat baik kepada rakyatnya, dan mendoakan keburukan buat penguasa yang berbuat buruk kepada rakyatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa:

    اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ

    Wahai Allâh, barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia, dan barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia bersikap lembut kepada mereka, maka bersikaplah lembut kepadanya”. [HR. Muslim, no.182]

    Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan menyatakan, “Sabda Beliau ini termasuk larangan yang sempurna agar penguasa tidak menyusahkan manusia (rakyat-pen), dan anjuran paling agung untuk bersikap lembut kepada mereka. Banyak hadits-hadits yang semakna dengan ini”. [Syarah Nawawi, 12/213]

    (Lihat: Menzhalimi Rakyat Termasuk Dosa Besar, Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari/ almanhaj.or.id/ diringkas dan diadaptasi)

    Ilustrasi pp.tarbiyatut

    (nahimunkar.org)


     

(Dibaca 397 kali, 1 untuk hari ini)