Heboh Babi Ngepet, Ini Hukum Pesugihan Menurut Ajaran Islam

Silakan simak ini.

***

Heboh Babi Ngepet, Ini Hukum Pesugihan Menurut Ajaran Islam

Belakangan ini warga Depok digegerkan dengan penangkapan seekor babi yang diduga merupakan babi ngepet. Melansir kumparanNEWS, sebelumnya beberapa warga Bedahan, Depok, telah mengeluhkan raibnya sejumlah uang mereka.

Martalih, mantan ketua RW kemudian melihat seseorang yang menggunakan jubah warna hitam mendekati rumah warga lalu melakukan ritual untuk berubah menjadi babi ngepet.

Pada Selasa (27/4) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB, warga bekerjasama untuk menangkap si babi jadi-jadian dengan instruksi dari ustaz setempat. Binatang bermoncong panjang tersebut akhirnya dapat diringkus oleh warga.

Dalam mitologi masyarakat Jawa, babi ngepet dipercaya sebagai jelmaan manusia yang mempraktikkan ilmu hitam guna meraih kekayaan secara instan. Bagaimana Islam memandang pesugihan? Berikut penjelasannya.

Hukum Pesugihan Menurut Ajaran Islam


Babi ngepet yang diamankan warga RT2/4, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Foto: Dok. Istimewa

Selain babi ngepet, media pesugihan lainnya yang banyak dikenal masyarakat adalah tuyul, pesugihan genderuwo, pesugihan minyak kuyang, dan lain sebagainya. Mengutip buku Rahasia Indra Keenam Mediumship oleh Ekokaf (2011), pesugihan adalah upaya mencari kekayaan dengan menggunakan media makhluk halus dan hal ini jelas melanggar hukum Tuhan.

Perihal kasus babi ngepet di Depok, MUI turut angkat bicara. Melansir kumparanNEWS, Ketua MUI Kota Depok, Ahmad Dimyati Badruzzaman menerangkan dalam ajaran Islam babi ngepet merupakan semacam ilmu jin, sehingga tidak boleh dilakukan karena termasuk syirik. Jin memang dapat berubah bentuk sesuai yang dikehendaki dan bisa dipanggil manusia untuk menjalankan misi tertentu.

“Kalau dari manusia sendiri saya belum dapat keterangan bisa berubah-ubah, dalam konteks Alquran itu jin yang bisa berubah,” tutur Dimyati.


Ilustrasi dukun. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Dalam buku Landasan Hukum Persihiran dan Perdukunan Perspektif Islam karya Nurnaningsih Nawawi (2017), pada prinsipnya semua keyakinan dalam bentuk apapun jika disertai dengan niat selain karena Allah, maka dapat digolongkan sebagai perbuatan syirik (kemusyrikan, dosa paling besar. Orangnya disebut musyrik, bila meninggal dalam keadaan musyrik dan belum bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, maka haram masuk surga, dan kekal di neraka, red NM). Dengan demikian, bersekutu dengan jin untuk memperkaya diri diharamkan dalam Islam.

Jika ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, hendaknya mengikuti Alquran dan tuntunan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar umatnya berbisnis secara jujur karena hal tersebut mendatangkan ridha Allah.

Mengutip jurnal Analisis Etika Bisnis dan Marketing Nabi Muhammad SAW tulisan Ubbadul Adzkiya’, Nabi Muhammad yang juga seorang pedagang senantiasa jujur mendeskripsikan kondisi barang.

Beliau juga selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangan sesuai dengan kualitas yang diminta pelanggan, hingga penduduk Makkah menyematkan julukan al-amin atau orang yang dapat dipercaya. Dari kisah ini, kita belajar bahwa kerja keras, kesabaran, dan kejujuran akan berbuah manis.

Apa itu Babi Ngepet

Babi ngepet adalah babi jadi-jadian yang dipercaya sebagai jelmaan manusia yang mempraktikkan ilmu hitam guna meraih kekayaan secara instan.

Pengertian Pesugihan

Pesugihan adalah upaya mencari kekayaan dengan menggunakan media makhluk halus yang melanggar hukum Tuhan.

Hukum Pesugihan Menurut Ajaran Islam

Pesugihan hukumnya haram.

(ERA)

kumparan.com, 28 April 2021 9:32

***

 

 

Ketika Dukun Pesugihan Bertaubat

Putra Ramadhani Astyawan, Okezone · Rabu 01 Februari 2017 21:19 WIB

Ropi, Dukun Pesugihan Bertaubat (Foto: Putra/Okezone)

BOGOR – Aksi seorang dukun pesugihan bernama Ropi warga Kampung Lebak, RT 04 RW 06, Desa Cintamanik, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, berakhir sudah. Warga sekitar bersama tokoh masyarakat dan ulama melakukan musyarawarah dan membuat perjanjian agar aktivitas perdukunan yang digeluti Haji Ropi untuk dihentikan.

Kepala Desa Cintamanik, M. Sanip mengatakan, kegiatan perdukunan yang dilakukan Haji Ropi tersebut dinilai telah meresahkan warga dan sudah menyalahi ajaran syariat Islam.

“Ada masyarakat yang karena ada korban perdukunan yang dilakukan Ropi, bahkan keluarga korban sempat melakukan tindakan kekerasan akibat praktik dukunnya,” kata Sanip, Rabu (1/2/2017).

Untuk itu, warga berserta ulama dan Haji Ropi diundang ke balai desa setempat untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Hal ini dilakukan untuk mencegah fitnah yang memicu tindakan anarkis.

“Praktik perdukunan yang dilakukan oleh bapak Ropi dihentikan, karena perdukunan itu sudah menimbulkan keresahan terhadap masyarakat saya,” harapnya.

Sementara itu, Ketua MUI Kecamatan Cigudeg, KH Zakaria mengatakan, bahwa kegiatan perdukunan apapun sudah menimbulkan kemusyrikan, karena itu sudah melanggar aturan secara syariat islam.

“Ini bentuk kemusryikan, perlu diluruskan ajaran praktek perdukunan ini, karena kalau dibiarkan akan membuat resah masyarakat dan menimbulkan tindakan anarkis yang dapat merugikan semua pihak,” ungkap Zakaria.

Di tempat yang sama, Ropi mengaku melakukan praktek perdukunan atas dasar keinginan sendiri dan aktivitas perdukunan yang dilakukannya itu hanya sebatas kebodohannya.

“Saya tidak akan melakukan lagi praktik perdukunan yang dianggap sesat oleh masyarakat dan ulama yang ada di Desa Cintamanik,” kata Ropi.

Ropi pun bersedia membuat perjanjian yang disaksikan oleh aparatur pemerintah desa dan Ketua MUI Kecamatan Cigudeg, untuk tidak lagi membuka praktek perdukunan. “Saya berjanji tidak akan melakukan lagi aktivitas perdukunan yang menyesatkan masyarakat,” janjinya.

(aky)/ Okezone · Rabu 01 Februari 2017 21:19 WIB

***

Hukum Minta kepada Tukang Sihir dan Dukun

Posted on 13 April 2013

by Nahimunkar.org

Pertanyaan:

Seseorang bertanya: Di sebagian tempat di Yaman kami temui orang-orang yang disebut As-Saadah. Mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang menafikan agama seperti meramal dan lain-lain. Mereka mengaku dapat mengobati orang-orang yang sakitnya kronis, dan sewaktu-waktu memperlihatkan atraksi menusuk-nusuk tubuh mereka dengan pisau atau memotong-motong lidah mereka secara berulang-ulang tanpa hal tersebut membuat mereka menderita. Di antara mereka ada yang shalat, namun sebagiannya lagi tidak shalat. Mereka menikahi orang-orang dari selain sanak keluarga mereka, namun tidak menikahkan sanak keluarga mereka dengan orang lain. Dan ketika berdoa bagi orang yang sakit, mereka mengucapkan, “Ya Allah, ya Fulan (nama salah satu leluhur mereka)”.

Para manusia mengagungkan mereka, menganggap mereka sebagai paranormal dan orang-orang yang dekat dengan Allah. Bahkan mereka disebut sebagai “Lelakinya Allah”. Dan sekarang masyarakat terpecah dalam permasalahan ini. Sebagian menolak mereka, mereka adalah golongan para pemuda dan sebagian penuntut ilmu. Sebagian lagi senantiasa berpegang dengan mereka, mereka ini adalah golongan tua dan selain penuntut ilmu. Ini membutuhkan kesediaanmu untuk menjelaskan hakikat pemasalahan ini.

Jawaban:

Orang-orang tersebut dan juga yang seperti mereka merupakan sekelompok sufi yang memiliki amalan-aman mungkar serta perbuatan-perbuatan yang batil. Mereka juga merupakan sekelompok peramal yang telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi ‘arraaf’ (tukang ramal)) dan bertanya kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim 11/273, Ahmad 33/457, 47/199)
Ini karena pengakuan mereka mengetahui perkara gaib, pelayanan dan penyembahan mereka kepada para jin, serta penipuan mereka terhadap manusia dengan perbuatan sihir yang mereka lakukan, dimana Allah berfirman dalam kisah Nabi Musa dan Fir’aun :

قَالَ أَلْقُوا فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

Musa menjawab: “Lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena’jubkan). (Al-A’raf:116).

Maka tidak boleh mendatangi mereka, bertanya kepada mereka karena hadits mulia dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فِيْمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Hakim 1/18, Thobroni Al-Kabir 8/403, AlAusath 3/470).

Adapun do’a yang mereka panjatkan kepada selain Allah serta istighotsah (meminta dihilangkannya bala’) kepada selain Allah, persangkaan mereka bahwa bapak-bapak mereka serta leluhur-leluhur mereka memiliki pengaruh terhadap kejadian di dunia ini, penyembuhan mereka terhadap penyakit, atau mereka mewajibkan berdo’a bersama orang-orang yang telah mati serta orang-orang yang ghaib (dari golongan mereka), maka ini semua adalah kufur kepada Allah ‘azza wa jalla dan termasuk ke dalam syirik akbar.

Maka wajib mengingkari mereka, tidak mendatangi, bertanya serta membenarkan mereka. Hal ini karena mereka dalam amalan tersebut telah menggabungkan antara perdukunan, peramalanan dengan amalan musyrik penyembah selain Allah. Begitu pula meminta pertolongan dari selain Allah. Meminta bantuan jin, orang-orang yang telah mati, dan kepada pihak-pihak lain yang cocok bagi mereka, dan mereka mengira bahwa itu adalah bapak-bapak serta leluhur-leluhur mereka. Atau meminta bantuan dari orang-orang yang mengira mereka memiliki derajat kewalian atau karomah.Bahkan semua ini merupakan amalan klenik, perdukunan, peramalan yang munkar dalam syariat yang suci ini. Adapun atraksi-atraksi mungkar mereka seperti menusuk-nusuk diri mereka dengan pisau atau memotong-motong lidah mereka, maka semuanya ini merupakan tipuan terhadap manusia (seperti atraksi debus, pent.) Dan kesemuanya ini merupakan jenis sihir yang haram, dimana telah ada nash-nash pengharaman serta peringatan terhadapnya dari Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya. Maka tidak selayaknya bagi orang yang berakal untuk terpikat dengan hal tersebut. Ini merupakan jenis yang difirmankan oleh Allah Ta’ala tentang para tukang sihir Fir’aun :

يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى

Terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.”(Thaha : 66)

Maka mereka telah menggabungkan antara sihir dengan klenik, perdukunan, serta peramalan, antara syirik akbar, meminta bantuan dan istighotsah kepada selain Allah dengan mengaku-aku tahu tentang perkara gaib dan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Ini merupakan bentuk kebanyakan syirik akbar dan kekafiran yang jelas, dan juga merupakan amalan perdukunan yang telah Allah ‘azza wa jalla haramkan, dan termasuk pula mengaku tahu tentang perkara gaib yang tidak diketahui melainkan hanya Allah saja, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan(An-Naml : 65)

Maka wajib bagi seluruh muslim yang mengetahui perkara mereka untuk mengingkari mereka serta menjelaskan kebejatan perilaku mereka dan menjelaskan bahwa itu semua adalah kemungkaran. Dan hendaknya dia mengangkat permasalahan ini kepada pemerintah jika berada di negara Islam sampai mereka dihukum sebagai perealisasian syariat untuk mencegah kejahatan mereka dan melindungi kaum muslimin dari kebatilan serta penipuan mereka. Dan Allahlah Maha Pemilik Taufik.[1]

[1] Sumber: Hukmus Sihri wal Kahanaati wa ma Yata’allaq bihima, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, 18-21

 
 

Posted on Januari 12, 2010 by Perdana Akhmad S.Psi

http://metafisis.wordpress.com/2010/01/12/fatwa-ulama-tentang-atraksi-ilmu-debus-ilmu-kesaktian/

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 80 kali, 1 untuk hari ini)