Masyarakat heboh dengan beredarnya buku pelajaran agama Islam bagi siswa Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kurikulum 2008 terbitan Yudhistira berjudul “Banci Boleh Jadi Imam Sholat”. MUI minta, agar ditarik dari peredaran.

Inilah beritanya.

Inilah beritanya.

***

MUI Minta Pemerintah Tarik Peredaran Buku “Banci Bisa Jadi Imam Sholat”

JAKARTA (Panjimas.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengaku resah dengan beredarnya buku pelajaran agama Islam bagi siswa Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kurikulum 2008 terbitan Yudhistira berjudul “Banci Boleh Jadi Imam Sholat” yang memperbolehkan seorang banci menjadi imam sholat.

Wakil Ketua MUI Pusat, KH Ma’ruf Amin pun mendesak pemerintah untuk segera menarik buku tersebut dari peredaran untuk menghindari kesalahpahaman. “MUI meminta pemerintah untuk segera menarik buku dari peredaran dan segera mengganti dengan yang telah direvisi,” tegasnya di Jakarta pada Kamis (5/3/2015). (Baca: Buku Pelajaran SD Soal “Banci Bisa Jadi Imam Sholat” Bikin Heboh & Resahkan Masyarakat).

Tidak hanya itu, KH Ma’ruf Amin juga mengimbau untuk dilakukannya evaluasi terhadap penulis dan penerbit buku yang telah lalai sehingga materi tersebut bisa lolos. “Pokoknya buku (materi) itu harus diluruskan. Penulisnya juga perlu diluruskan pemahamannya,” tandasnya. (Baca: MUI: Waria Tak Boleh Jadi Imam Sholat Bagi Jama’ah Wanita & Laki-Laki)

Seperti diberitakan Panjimas.com sebelumnya, dunia pendidikan kembali dihebohkan dengan adanya buku kontroversi berjudul “Banci Boleh Jadi Imam Sholat” yang beredar bagi siswa Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan meresahkan masyarakat, khususnya orang tua murid. (Baca: Wakil Ketua MUI Pusat: Buku “Banci Bisa Jadi Imam Sholat” Telah Menyimpang)

Secara umum, buku tersebut menulis syarat untuk menjadi imam sholat adalah seorang laki-laki yang baik akhlaknya dan fasih membaca Al Qur’an. Namun, paragraf berikutnya ada tiga orang yang boleh menjadi imam jika seluruh makmumnya terdiri atas perempuan. Salah satunya, banci sah menjadi imam bagi wanita.

Dalam buku itu tertulis, banci tidak boleh menjadi imam jika makmumnya laki-laki atau sesama banci. Jadi hanya boleh menjadi imam saat semua makmumnya perempuan. Hal itu membuat buku pelajaran tersebut menuai protes dari sejumlah Netizen di media sosial (sosmed), seperti Twitter dan Facebook (FB). [GA]

***

Senin, 18 Jumadil Ula 1436H / March 9, 2015

MUI: Waria Tak Boleh Jadi Imam Sholat Bagi Jama’ah Wanita & Laki-Laki

JAKARTA (Panjimas.com) – Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, ustadz Tengku Zulkarnain mengatakan bahwa di dalam buku pelajaran fikih berjudul “Banci Boleh Jadi Imam Sholat” bagi siswa Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kurikulum 2008 terbitan Yudhistira terdapat kerancuan yang bisa disalahartikan oleh si pembaca.

“Buku itu jadi rancu kalau tidak dijelaskan apa itu banci. Banci adalah khuntsa, orang yang secara fisik punya kelamin ganda,” ungkap Tengku Zulkarnain di Jakarta, pada Jum’at (6/3/2015) seperti dilansir ROL. (Baca: Buku Pelajaran SD Soal “Banci Bisa Jadi Imam Sholat” Bikin Heboh & Resahkan Masyarakat)

Banci bukanlah waria. Sebab banci kelaminnya ganda yaitu kelamin laki-laki dan kelamin perempuan. Sedang waria adalah laki-laki yang suka meniru jadi perempuan tetapi alat kelaminnya laki-laki. (Baca: Netizen Minta Buku Pelajaran SD “Banci Bisa Jadi Imam Sholat” Diproses Hukum)

Banci atau khuntsa, jelas Tengku, bermasalah secara fisik karena punya kelamin ganda. Tetapi ia tidak bermasalah secara psikis. (Baca: MUI: Buku “Banci Bisa Jadi Imam Sholat” Rusak Kualitas Sholat Berjamaah)

Banci atau khuntsa boleh menjadi imam sholat bagi jama’ah wanita. Namun kalau waria tidak boleh menjadi imam sholat bagi jama’ah wanita. “Waria harus diobati karena tidak normal, jiwa mereka sakit. Makanya waria tidak boleh menjadi imam bagi jama’ah wanita, apalagi jama’ah laki-laki, tidak boleh,” tandasnya. [GA]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.644 kali, 1 untuk hari ini)