Foto ksks


Sikap Ma’ruf Amin belakangan ini boleh jadi semakin menjauhkan dirinya dari simpati Umat Islam. Apalagi dia sendiri baru saja heboh videonya dalam ucapan selamat natal yang dulu dia haramkan namun dilanggarnya pua.

  “Saudara-saudara, kami dari kaum Kristiani, kami sampaikan selamat Hari Natal dan Tahun Baru, semoga berbahagia,” ucap Ma’ruf Amin.

Video tersebut diunggah di akun Instagram Mohamad Guntur Romli, Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang juga pendukung setia pasangan capres dan cawapres nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Ucapan Selamat Natal dari Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin,” tulis Guntur Romli di keterangan video.

Gara-gara video tersebut, Ma’ruf Amin dikecam banyak orang. Pasalnya, selain terkesan memposisikan diri sebagai umat Kristiani, dia juga membolehkan umat Islam mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani. (pojoksatu.id, Rabu, 26 Desember 2018 | 13:11 WIB).

Pantas saja, mengenai elektabilitas dikabarkan, di Banten saja Ma’ruf Amin keok di tanah kelahirannya sendiri itu, menurut hasil survey. Belum lagi keturunan pendiri NU yang jelas-jelas menampakkan tidak mendukung Ma’ruf Amin. Bahkan para ulama dan tokoh NU sudah beberapa kali mengadakan pertemuan untuk menegakkan khitthah NU yang menilai langkah Ma’ruf Amin itu menyelisihi sejarah NU.

Kini Ma’ruf Amin jadi heboh lagi dengan video penyesalannya, mengaku terpaka dulu jadi saksi kasus Ahok penista agama hingga Ahok masuk penjara.

Video:

FERDINAND HUTAHAEAN‏ @Ferdinand_Haean

“Duhhh pak..!! Benarkah bapak terpaksa? Atau mmg sedang menjalankan kewajiban hukum sbg warga negara? Jika benar terpaksa, kesaksian bapak bs gugur dan bapak bs disebut dzalim kpd Ahok. Hati2 dgn narasi pak..!!” 10:55 PM – 31 Dec 2018

***

Parah, KH Ma’ruf Amin Merasa Menyesal telah Bikin Ahok Masuk Penjara

JAKARTA (voa-islam.com) – Pernyataan mengejutkan datang dari calon wakil presiden (cawapres) KH Ma’ruf Amin. Dalam sebuah potongan video yang sedang viral di media sosial, Kiai Ma’ruf Amin menyatakan bahwa dirinya menyesal telah menjadi saksi persidangan yang akhirnya menyebabkan penista agama Ahok masuk penjara.

Dalam video berdurasi hampir 48 detik tersebut, Kiai Ma’ruf ditanya oleh seorang host apakah dirinya menyesal menjadi saksi yang memberatkan Ahok masuk penjara. Dengan tegas Kiai Ma’ruf menjawab bahwa dirinya menyesal dan menegaskan bahwa dirinya terpaksa harus melakukan hal itu.

“Iya tentu saja, cuman karena terpaksa saja kan, Iya tentu saja, siapa yang ingin memenjarakan orang kan, gak mau kan tapi karena terpaksa. Situasi pada waktu itu prosesnya penegakkan hukum,” ujar pria yang juga ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini.

Tidak hanya itu, Kiai Ma’ruf yang beberapa waktu lalu melarang umat untuk hadir di acara reuni akbar 212 di Monas tersebut menyatakan bahwa penegakan hukum terhadap Ahok beberapa waktu lalu itu telah membuat dirinya terenyuh karena sebenarnya dia tidak ingin menyusahkan orang lain.

“Ya apa boleh buat dengan rasa terenyuh walaupun abis itu saya juga minta maaf, karena juga tidak ingin menyusahkan orang, tidak ingin,” ungkap Kiai Ma’ruf dalam video tersebut.

Pernyataan terbaru Kiai Ma’ruf ini menambah daftar ketidakkonsisten beliau terkait pernyataannya sendiri. Sebelumnya jelang hari Natal, beredar video dirinya yang mengucapkan selamat Natal dan menyatakan bahwa tidak ada yang salah mengucapkan selamat Natal kepada non Muslim yang merayakannya. Padahal beberapa tahun sebelumnya, beliau dengan tegas mengimbau agar umat Islam tidak memberikan selamat Natal meskipun dalam fatwa MUI hanya melarang hadir dalam misa Natal. Dan kali ini, pasangan Jokowi untuk pilpres 2019 ini menyatakan menyesal telah membuat Ahok masuk penjara, meskipun dulunya setiap ditanya wartawan soal kasus Ahok, beliau dengan tegas menjawab bahwa Ahok telah menista agama dan ulama.[fq/voa-islam.com]

http://www.voa-islam.com Selasa, 25 Rabiul Akhir 1440 H / 1 Januari 2019 19:02 wib

***

Sopan terhadap Ahok Penista Agama, tapi Kasar ke yang Tak Lihat Prestasi Jokowi

Setelah Ma’ruf Amin tampak berambisi dalam apa yang disebut cawapres, tampaknya semakin sopan terhadap Ahok penista agama tapi semakin lupa bahwa dirinya telah lakukan pemlintiran ayat. Hingga dia ngotot tidak mau minta maaf terhadap para penyandang cacat soal perkataannya yang sangat kasar,  budeg buta, terhadap yang tidak melihat orestasi Jokowi. Perkataan kasar Ma’ruf Amin (budeg buta) itu telah dirasakan oleh para penyandang cacat sebagai menyinggung perasaan mereka. Namun Ma’ruf Amin tidak mau minta maaf kepada para penyandang cacat. Juga tak bertobat dari pemlintiran ayat dengan menyalahgunakan lafal shummmun bukmun yang sejatinya itu ayat kecaman untuk orang-orang munafik (mengaku Islam namun hatinya kafir atau benci Islam); namun oleh Ma’ruf Amin lafal budeg buta (shummum bukmun dari ayat itu) untuk mengecam orang yang tidak mlihat prestasi Jomowi. Dan bahkan Ma’ruf Amin memlesetkan ayat, jadi lana capresuna walakum capresukum (ayat, lana a’maluna walakum a’malukum)

(lihat Ma’ruf Amin Dua Kali Mempermainkan Ayat Al-Qur’an, Keturunan KH Wahab Hasbullah Jombang Marah).

Dibalik itu, Ma’ruf Amin justru Mengaku Terpaksa, Menyesal, Minta Maaf soal (kesaksiannya di pengadilan sehingga) Ahok Penista Agama divonis penjara 2 tahun karena terbukti menista agama, sebab mengatakan ‘jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah 51’.

Apakah Ma’ruf Amin kemudian sekalian ingin menolong Ahok penista Al-Qur’an yang menurut hukum tamatlah Ahok, tak bisa jadi presiden, wapres, bahkan Menteri.

Silakan simak berita tentang nasib ahok secara hukum berikut ini.

***

Tamat! Ahok Tak Bisa Menjadi Presiden, Wakil Presiden, Bahkan Menteri

Posted on 16 Mei 2017 – by Nahimunkar.com

[PORTAL-ISLAM] Vonis 2 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang dijatuhkan untuk Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada sidang yang digelar Selasa (9/5/2017) pekan lalu telah mengakhiri karir Ahok di dunia politik.

Walaupun para pendukung Ahok berharap walau kalah Pilkada DKI tapi Ahok masih bisa jadi Menterinya Jokowi, lalu dilanjut jadi Cawapresnya Jokowi 2019, dan akhirnya Capres 2024, tapi kenyataan pahit berdasar Undang Undang dan Peraturan KPU harus diterima.

Ahok telah divonis hakim dengan menggunakan pasal 156a KUHP tentang penistaan agama dengan ancaman maksimal 5 tahun.

Pasal 156a
Dipidana dengan pidana penjara selama-lumanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:
a. yang pada pokoknya bcrsifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.

TIDAK BISA JADI MENTERI

Bivitri Susanti, ahli hukum tata negara dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK), mengatakan pasal yang menjerat Ahok memastikan Ahok tidak bisa menjadi menteri sepanjang karier politiknya ke depan. Sebab, dalam pasal 22 ayat 2(f) Undang-Undang Nomor 39 tahun 2008 tentang Kementerian Negara menyebutkan seseorang yang “melakukan tindakan pidana yang diancam … penjara 5 tahun atau lebih” tidak boleh diangkat menjadi menteri oleh presiden.

Undang-Undang Nomor 39 tahun 2008

Pasal 22
f. tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.

href=”https://2.bp.blogspot.com/-f-FlPSjnk_w/WRpHOFrziPI/AAAAAAABy60/pUmWyEn07mMB5eje6W1i1I7oVT8XJLCZQCLcB/s1600/UU%2BNo%2B39%2B2008.jpg” imageanchor=”1″ style=”margin-left: 1em; margin-right: 1em;”>

***

Ambisi Kekuasaan-Kepemimpinan

Posted on 4 Desember 2015 – by Nahimunkar.com

– Senang berkuasa dan memimpin, tanpa memperdulikan tanggung jawab dan bahayanya. Yang seperti inilah yang diperingatkan oleh Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– dengan sabdanya:

«إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَةِ، فَنِعْمَ المُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الفَاطِمَةُ»   (رواه البخاري رقم 6729)

“Kalian akan tamak pada kekuasaan yang pada hari kiamat akan menjadi penyesalan. Nikmat permulaannya dan malapetaka pada akhirnya.

Maksud “nikmat permulaannya” karena perolehan harta, kehormatan dan kenikmatannya. Sedangkan “malapetaka pada akhirnya”karena terdapat pembunuhan, pelengseran, dan kepayahan pada hari kiamat.”[16]

Nabi –shalallahu alaihi wasalam– pun bersabda:

«إِنْ شِئْتُمْ أَنْبَأْتُكُمْ عَنِ الْإِمَارَةِ وَمَا هِيَ؟ أَوَّلُهَا مَلَامَةٌ، وَثَانِيهَا نَدَامَةٌ، وثَالِثُهَا عَذَابٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ عَدَلَ» (رواه الطبراني في الكبير 18/72 وهو في صحيح الجامع 1420)

“Jika kalian ingin, aku dapat menjelaskan apa kekuasaan itu; permulaannya celaan, keduanya penyesalan, ketiganya siksa pada hari kiamat, kecuali bagi yang adil.”[17]

Jika perkaranya adalah menjalankan kewajiban dan tanggung jawab, di mana tidak ada orang yang lebih baik darinya, seraya bersungguh-sungguh, saling menasihati dan adil sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Yusuf –alaihisalam-, kita katakan nikmat dan kemuliaan. Akan tetapi pada kebanyakannya adalah keinginan liar kekuasaan, ingin lebih, menindas para pemilik hak dan memonopoli perintah dan larangan.

—–

[16] HR. al-Bukhari no.6729.

[17] HR. at-Thabaroni dalam al-Kabir XVIII/72. Lihat Shahih al-Jami no.1420. (Fenomena Lemahnya Iman

Oleh: Syaikh Muhammad Soleh Al-Munajjid

Terjemah : Syafar Abu Difa

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad )

Sumber: www.islamhouse.com/faisalchoir.blogspot.co.id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.232 kali, 1 untuk hari ini)